
Pletak
Suara ketapel batu yang menubruk tembok abu-abu itu menggema di seluruh ruangan yang memang didesain sebagai ruang kedap suara itu.
"Gue bosen banget njir...." keluh Leon mendengus sebal.
"Ck. Kalo bosen minggat aja! Jangan berisik. Gue lagi kerja, YONIIIII...." omel Kevin menggerutu. Ia memang sedang bergelut serius dengan laptop dan beberapa dokumen di meja kerjanya sejak tadi. Oh ralat! Bukan meja Kevin melainkan meja leader milik Refan.
Yap! Kevin dan Leon memang sedang berada di ruangan Refan yang terletak di lantai tiga bangunan kokoh bernama markas Blood Wolf itu.
Berbeda dari Kevin yang tampak sibuk dan pusing, Leon malah membaling-mbalingkan bolpoin dengan sangat bosan dan berulang-ulang.
"Salah lu Kepin! Siapa suruh ngerjain tugas kantor disini?" tanya Leon jengah.
"Ya terserah gue lah! Gue kesini juga gegara elo yang minta, kalo nggak juga pasti udah gue kerjain lembur di kantor." jawab Kevin menatap Leon tajam.
"Ck. Masalahnya gue nyuruh lo kesini tuh buat nemenin gue main atau apa kek biar ga gabut begini.... Ini malah asik kerja sendiri lu!"
"Ya udah kalo gitu bantuin sini biar lo ga gabut."
"Nggak ah, otak dan jiwa sikopat gue ini terlalu berharga untuk memikirkan ekonomi sama politik." tolak Leon mentah-mentah.
Kevin memutar bola matanya malas.
"Iya deh yang paling sikopet!"
"Refan masih belum ada pergerakan nih? Gue udah gatel banget pengen mutilasi orang." tanya Leon mengadu.
"Kalo gatel tuh digaruk, bukan ngebunuh orang!" jawab Kevin santai tanpa memperhatikan wajah kesal Leon yang seperti sudah siap melahapnya.
"Ck. Lama-lama gue sedot juga sumber kehidupan lo KLEPON!"
...****************...
Disebuah rooftop bangunan tua yang tampak mengerikan di setiap sudutnya itu, seorang lelaki berjaket hitam polos itu menyembulkan asap rokok dari mulutnya.
Raganya ditempat tapi jiwa dan fikirannya melayang entah kemana. Di hisapan terakhir, ia membuang puntung rokoknya ke bawah lalu menginjaknya dengan sepatu putih air jordan yang ia kenakan.
Dandy Csanno, lelaki cerdik yang jago memainkan samurai, yang disegani sebagai tangan kanan gangster terkenal Black Diamond Girl itu masih menikmati alur penyamarannya menjadi anak buah Bloody Dragon untuk mengungkap dan mencari tau siapa leader baru dari geng itu atau yang lebih akrab disapa dengan Tuan YH.
Dandy menghembuskan nafas panjang. Sudah banyak cara yang ia lakukan agar bisa mendapatkan identitas dari YH, tapi tak satupun yang berhasil.
"Udah hampir sebulan gue disini dan gue masih belum dapet clue apapun!" ucapnya mengadu pada langit malam. Ia memang sering menyendiri di atas sini untuk menenangkan emosi serta fikirannya.
"Gak! Gue ga bisa nyerah disini. Gue udah terlanjur masuk, jadi gimanapun caranya gue harus dapetin apa yang gue cari."
"Haram hukumnya kalo gue sampai gagal ngejalanin tugas buat BDG!" pungkasnya menemukan semangat baru untuk bangkit. Caranya boleh gagal tapi misi ini harus tetap berhasil meskipun itu artinya ia membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk bertahan di markas Bloody Dragon.
"Oke, Dandy come on! Lo belum pernah gagal dan ga boleh gagal. Lo pasti bisa nemuin leader geng ini, lo cuma butuh waktu sedikit lebih lama lagi." ucapnya bermonolog.
Kriet
Pintu Rooftop terbuka. Dandy menoleh dan menemukan sesosok laki-laki tinggi kurus sedang berjalan ke arahnya. Satu-satunya orang kepercayaan YH yang ia dekati demi mengungkap sosok leader itu.
"Lo ngapain disini sendirian?" tanya Niko berdiri tepat di depan Dandy yang sedang duduk di sebuah kursi kayu panjang.
Masih ingat Niko? Tangan kanan kepercayaan YH yang pernah dimintai tolong oleh Dandy saat drama penyerangannya dengan Kevin dan Leon di kediaman Doddy.
Dandy mengendikkan bahu.
"Lagi suntuk doang." jawabnya membuat Niko manggut-manggut mengerti.
"Lo ga pake jaket BD lagi?" tanya Niko memperhatikan jaket hitam polos yang dikenakan oleh lelaki beralis tebal ini.
Dandy menggeleng.
"Kecuci sama pembokat tadi." jawabnya berbohong. Sebenarnya jaket itu ada dan tidak tercuci, tapi Dandy memang malas memakainya karena bagaimanapun jaket kebanggaan miliknya beserta identitasnya yang asli hanyalah satu. Black Diamond Girl!
'Ck. Udah kebaca! Lo pikir gue orang bodoh yang gampang ketipu Dan?' batin Niko tersenyum tipis.
"Lo- ngapain kesini?" tanya Dandy mengeryit aneh. Baru kali ini Niko menghampirinya di rooftop.
"Lah? Emang ga boleh?"
"Yang bilang ga boleh siapa?" tanya Dandy balik. Niko tertawa kecil.
"Gue juga suntuk, sama kayak lo!" jawab Niko penuh arti. Nada bicaranya seolah menyiratkan sesuatu yang membuat Dandy sedikit berfikir.
'Sama persis kayak gue? Maksudnya apa ya? Gue rasa ni orang punya maksud tertentu dibalik ucapannya. Tapi apa?' batin Dandy menebak-nebak.
Dandy cukup lihai dalam membaca keadaan dan bahasa tubuh. Sedikit banyak ia memahami kalau Niko sedang berusaha memberi isyarat lain yang sedikit sulit diterjemahkan.
"Ga usah dipikirin! Santai aja..." ucap Niko kemudian. Dandy menaikkan sebelah alis aneh, ada sesuatu lagi dibalik kata 'ga usah dipikirin'?
"Kelihatannya sih emang sepele, tapi nyatanya terlalu susah buat ditembus kan? Ck. Semesta memang suka bermain-main dengan waktu." ucap Niko menatap kedua mata Dandy dengan penuh arti.
"Kadang kita juga diharusin untuk mengingkari jati diri dan menipu dunia hanya demi mencapai keberhasilan. That right?" ucap Niko lagi. Dandy diam seribu bahasa. Apakah penyamarannya telah diketahui oleh Niko?
'Apa dia tau ya?' batin Dandy memutar otak.
"Ngomong apa sih lo? Ga jelas ngoceh mulu." sungut Dandy bertopeng. Niko menggelengkan kepala pelan.
"Gue rasa lo ga sebodoh itu sampe ga bisa nerjemahin semua yang lo denger hari ini." sergah Dandy tersenyum miring.
Dandy memilih untuk diam dan hanya memberi tatapan datar pada lelaki di depannya ini. Duel tatapan pun terjadi! Dandy yang setia dengan tatapan datarnya sedangkan Niko masih setia dengan senyum miringnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini kalau tak ada seseorangpun yang memisah mereka berdua.
Drtt drtt
Handphone di saku celana Niko bergetar. Lelaki itu segera menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari atasannya di Bloody Dragon itu.
📞Bima is calling....
"Bos YH nelfon gue." ucap Niko intro. Dandy memutar bola matanya malas.
"Gue ga nanya."
"Haha, sensi banget!"
Niko : Halo bos?
Bima : Lo dimana?
Niko : Di markas. Kenapa?
Bima : Gue disini, lo cepet ke ruangan gue. Ada yang mau gue omongin!
Niko : Siap!!
Tut tut tut....
"Dia nyuruh gue ke ruangannya, barangkali lo pengen ikut?" tawar Niko menaik turunkan alis. Dandy masih bertahan dengan muka datarnya dan masih tak ingin merespond.
"Ya udah kalo ga mau. Gue duluan ya?" pungkas Niko kemudian pergi meninggalkan Dandu dengan sejuta tanda tanya yang berputar di kepalanya.
"Bisa gawat kalo dia beneran udah tau soal penyamaran gue! Bisa mati konyol gue disini." ucap Dandy sedikit panik. Jiwa santainya cukup terganggu oleh ucapan-ucapan penuh kode yang dilontarkan oleh Niko tadi.
"Tapi gue tetep ga bisa mundur apalagi pergi dari sini. Susah payah gue masuk, masa iya gue mau keluar gitu aja tanpa info dan hasil apapun?"
...****************...
Ting tung....
"Siapa tuh?" tanya Leon saat mendengar suara bel berbunyi. Kevin yang tadinya tak peduli dan hanya fokus ke laptop pun sampai ikut menoleh.
Mereka berdua saling tatap lalu kembali melihat Pintu yang masih tertutup rapat itu.
"Itu suara bel ruangan ini kan Yon?" tanya Kevin memastikan. Leon mengangguk perlahan.
"Tapi seinget gue, bel itu udah rusak deh dari setahun yang lalu. Tapi kok ini bisa bunyi lagi ya?" tanya Leon balik.
Glek
Dua lelaki yang biasanya tampak garang menakutkan itu malah kini menjadi ketakutan sendiri hanya karena suara bel yang berbunyi tiba-tiba.
"Lu serius apa enggak si? Jangan nakutin gue lu, ga lucu nih!" sungut Kevin menuntut kebenaran. Leon berdecak.
"Menurut lo gimana hah? Emang gue pernah bercanda disaat genting kek gini?" balas Leon sengit.
"Ya terus itu apaan dong? Masa iya ada setan di markas ini? Duh mana ini udah malem lagi ah." cicit Kevin mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
"Bisa aja itu arwah dari sandera-sandera kita yang mati di ruang penyiksaan Pin? Jangan-jangan mereka mau balas dendam ke kita. Mau nakut-nakutin leader tapi dia salah sasaran ke kita karena kita make ruangannya Refan nih!" ucap Leon makin ngelantur.
Ketakutan memang bisa membuat orang gila setengah setress, that right?
"Yon lu apa si jangan makin nakutin gu-"
Ting tung
Lagi dan lagi Bel itu berbunyi.
"WAAAAAAAAA....." teriak Leon dan Kevin bersamaan. Keduanya sama-sama kompak menaikkan kakinya ke atas sofa karena terkejut, bahkan mereka saling berpelukan karenanya.
"Ya tuhan sumpah tolong...."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰