IZZALASKA

IZZALASKA
62. Janji Bima



Prang


"Sial! Kok bisa ilang? Maksudnya bagaimana!!!" seru seorang lelaki yang membanting semua barang di atas mejanya.


"M-maaf tuan, saya juga tidak tau bagaimana jelasnya. Yang jelas tadi CEO PSG Group mengatakan kalau mereka tidak bisa menemukan bahkan menghubungi mata-mata mereka di Rz Corp." jawab ajudan itu dengan takut. Raut wajah atasannya cukup mengguncang nyalinya.


Bima.


"Tapi saya curiga kalau ini adalah perbuatan pemilik perusahaan itu tuan-"


"Maksudmu Queen?" potong Bima cepat. Ajudannya mengangguk yakin.


"Bisa saja dia telah mengetahui rencana kita tuan dan menangkap mata-mata."


"Saya tidak mau tau, kamu cari Doddy sampai ketemu. Dalam keadaan hidup ataupun mati!! Cari di markas Blood Wolf." suruh Bima lantang. Ajudan beridentitas Fani itu mendongak, menatap sepasang mata elang bosnya.


"Anda ingin saya mencari keberadaan orang itu di markas Blood Wolf?"


"Ya."


"Tapi kan, kenapa tidak di markas Black Diamond Girl? Bukankah orang itu adalah karyawan di Rz Corp bukannya di RnAs Group?" tanya Fani heran. Bima menatapnya datar.


"Lakukan saja apa yang ku katakan, aku tau apa yang ingin aku lakukan! Izza sedang mengandung anak Refan, dan Refan tak akan membiarkan Izza melakukan hal seberbahaya ini." sahut Bima membuat Fani mengangguk mengerti.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi!"


Setelah Fani meninggalkan ruangan, Bima berjalan menuju jendela di ujung ruangan. Ia memandang jalanan lenggang ibu kota, ia saat ini tak berada di markas Bloody Dragon melainkan di kantor Yudhania Group karena ia adalah pewaris tunggal di keluarga besarnya.


"Tunggu gue ya Za, gue bakal bisa dapetin lo setelah gue berhasil nyingkirin Refan."


"Gue janji, kali ini gue ga bakal kalah dari Refan buat ngerebut lo! Gue bakal dateng ke elo dengan versi terbaik gue yang berbeda dari sebelumnya, Refiandra Izza Alexander." janji Bima bersimrik.


...****************...


"Mmm gabut."


"Ngapain ya enaknya?"


"Mana Refan baru aja pergi, tau gitu aku ngikutin dia aja tadi." keluh Izza bingung. Ia bosan berada di dalam kamarnya sendirian.


"Mau ke kantor, udah kesorean jam 5. eh ini bukan kesorean lagi kan ya? Udah pada pulang malah huh." sambungnya lagi. Izza baru saja diantar pulang oleh Refan setelah periksa kandungan di dokter langganannya. Tiga jam lalu mereka pulang dari 'makan ramen' dan baru sepuluh menit yang lalulah mereka sampai di rumah dan Refan pergi lagi.


"Refan ke markas, pasti bakal diceramahin kalo aku nyusul kesana."


"Ke rumah mama juga ga mungkin, yakali aku pulang ke rumah tapi ga ngajak Refan. Bisa ngamuk tuh bocil gede!"


Drtt drtt


"Apelobang gue mana? Bunyi bunyi oi." pekik Izza bangkit dari rebahan bosannya. Ia merogoh tas putih di sampingnya, tempat ia menyimpan handphone.


📞Bang Genta is calling....


Izza : Halo bang? Kenapa?


Genta : Udah pulang?


Izza : Udah nih baru aja balik dari dokter.


Genta : Loh kok? Kamu sakit dek?


Izza : Enggak bang, cuma pemeriksaan rutinnya si twins nih.


Genta : Oh gitu.


Izza : Abang ada apa nelpon? Ga mungkin nih abang nelpon cuma buat nanyain aku udah pulang atau belum.


Genta : Ada info lagi seputar PSG.


Izza : Info apaan? Siapa tuh nama kembar rese? Gue lupa lagi bang.


Genta : Yoga sama Arga.


Izza : Ah itu.


Genta : Mereka tadi dari kantor.


Izza : Kantor siapa?


Genta : Ya kantor lo dong, masa iya kantor gue?


Izza : Kata Andin ya? Coba mana si Andin bang, gue mau ngomong.


Genta : Lagi di kamar Glen.


Izza : Terus mereka ngapain ke kantor? Mereka ga tau aku lagi pergi kan? Kalo mereka tau, kemungkinan mereka punya mata-mata lain selain si Doddy HRD.


Genta : Enggak kok dek, mereka keknya ga tau kamu pergi. Mereka cuma nyari Doddy.


Izza : Ahahaha.


Genta : Lah ketawa?


Izza : Mereka mainnya lawak! Mata-mata mereka udah ketangkep dan mereka masih berani masuk kandang macan? Tunggu aja gue turun tangan, gue gilas tuh si Gaga.


Genta : Gaga teh saha oy?


Izza : Yoga Arga bang, disingkat kan jadi Gaga.


Genta : Bisa aja kang lawak!


Izza : Ini gitu doang laporannya?


Genta : Iya, ini titipan dari Andin doang sebenernya. Gue belum sempet nemuin Ilham di markas, seharian sibuk di kantor.


Izza : Its oke abang!! Tenang aja kali, si Mahli udah cukup buat ngontrol beginian.


Genta : Ya udah kalo gitu. Istirahat gih!


Izza : Yoi bang. See you!!


Genta : Iya.


Tut tut tut......


"Awas aja lu Gaga, gua abisin lu kelar gue lahiran nanti ye!!" gerutu Izza gemas. Ia hendak membanting tubuhnya lagi ke kasur, tapi terhenti karena suara ketukan di pintu kamarnya.


Tok tok


"Siapa lagi astagaaaaaaa."


"Sore-sore gini juga ah berisik amat." gerutu Izza lagi.


Tok tok


"Iya bentar!!!" sahut Izza setengah berteriak. Ia beringsut berjalan menuju pintu dengan malas.


Cklek


"STELLA?!!!"


"IZZAAAAAAA!!!"


Pekikan dua bumil itu menggema seantero rumah. Rupanya Stella yang datang berkunjung ke rumahnya di tengah petang seperti ini.


"Aaaaaa Jeruk... I miss you!!" cicit Izza masih dalam pelukan eratnya dengan Stella. Stella terkekeh.


"Miss you to babe....."


"Eh lo sendirian aja nih?" tanya Izza celingukan. Stella mengangguk.


"Tadi sama Rafa kok cuman dia-"


"Dengerin gue selesai ngomong duluuuuuuu." ucap Stella jengah. Memang seperti ini kebiasaan menyebalkan Izza, suka memancing emosi orang dengan cara memotong asal perkataannya.


"Ehhehe lanjot mang!!" seru Izza dengan cengiran tanpa dosanya.


"Tapi dia ga jadi masuk."


"Kenapa?"


"Karena dia tau kembarannya ga ada. Tadi anak buah kamu di bawah ada yang ngasih tau Rafa kalo si Refan lagi pergi ke markas Blood Wolf gitu." jawab Stella menjelaskan. Izza manggut-manggut.


"Syalan si Pael, baru balik dari AS bukannya sungkem dulu sama gue malah puter balik nyari kembarannya. Awas aje lu berdua nanti!!" gerutu Izza sebal. Stella tertawa, melihat Rafael dan Izza bertengkar rusuh sudah menjadi pemandangan wajib baginya saat mereka semua bertemu.


"Lo ga mau nyuruh gue duduk nih? Udah mulai capek nih." sindir Stella mengelus perutnya yang kian membesar. Izza terkekeh.


"Hehe kan sampek lupa gegara bahas Fael, ya udah yuk masuk kamar gue aja Ruk." ajak Izza. Ruk itu maksudnya jeruk ya, kepanjangannya Stella jeruk.


Wkwk.


...****************...


"Dodot masih belum buka suara?" tanya Refan sambil mengotak-atik isi laptop di depannya. Ada sedikit pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan sore ini juga.


"Ya belum lah." jawab Leon enteng. Refan meliriknya intens.


"Kok bisa belum? Jadi sejak kemarin lo sama Kevin belum dapet apa-apa gitu?" tanya Refan lagi. Leon berdecak sebal.


"Ya belum lah bege! Kan elu yang ngelarang gue kemarin. Lo juga yang bilang gue ga boleh nyentuh dua dulu, jadi ya cuma gue sandera doang lah." jawab Leon ngegas. Refan berjingkat kecil, ia kaget.


Pletak


Sebuah bolpoin hitam melayang dan mendarat bebas di jidat berponi Leon.


"Ga usah ngegas MONYET!!" ketus Refan menekankan kata monyet, Leon meringis.


"YA MAAP!!" Leon meminta maaf, tapi dia tetap ngegas. Refan menghela nafas berat.


"Sabar banget gue punya temen kek elu Yoniiii!!" gerutu Refan malas. Ia kembali ke laptopnya.


"Gue juga hebat banget ya bisa sabar punya bos modelan kek elu, ga jelas, pelupa, psikopat tapi bucin akut!" balas Leon tak mau kalah. Refan meliriknya lagi dari celah laptop.


"Bucin sama orang yang tepat itu menyehatkan jasmani dan rohani bro! Makanya lu buruan kawinin sono si Olive, biar lu tau enaknya jadi lu ga irian lagi." suruh Refan enteng. Ia jengah pada Leon yang selalu mengeluh LDR, padahal ia bisa memboyong Olive ke Jakarta asal ia menikahinya terlebih dahulu.


"Gue ga Irian kok bos, gue asli betawi sunda." jawab Leon cengoh. Refan memutar bola matanya malas.


"Maksud gue iri tolol bukan Irian Jaya!!" makinya kesal. Leon tertawa puas.


"Ahahaha lo pikir gue bodoh beneran heh? Gue ngejokes doang kali ah." jawab Leon tanpa dosa.


"Jokes lu kegelapan anj-"


"Lagian juga gue udah tau rasa mantap enaknya sebelum sah. Santai aja brader!!" ucapnya kemudian. Mata Refan melebar.


Kali ini Refan benar-benar menutup laptopnya, matanya menatap fokus ke arah seorang lelaki bersandang sahabat sekaligus tangan kanannya itu.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Refan connect.


"Sial!! Lo udah nyoblos? Serius?" tanya Refan ngegas 45. Leon mengangguk polos.


"Kelepasan, gegara kebanyakan minum. Dia juga sama mabuknya, tapi gue masih inget enaknya kek gimana Fan-"


Plak


"Bukan temen gue lu, wah parah parah parah." pekik Refan refleks melempar sebuah buku tebal pada Leon. Untung Leon bisa menangkapnya.


"Ya elah kan gue udah bilang ga sengaja Repaaaaannn!! Ga sadar gue." sungut Leon membela diri. Refan geleng-geleng kepala.


"Namanya juga rem blong." sambungnya lagi.


"Lagian kapan sih lo ketemu dia? Bukannya lo udah lama ya di Jakarta, dianya di New York?" tanya Refan heran.


"Ye lu pikir lu doang yang bisa ngebucin sampek lompat-lompat negara? Gue juga bisa kali loncat ke New York dalam satu malam." jawab Leon setengah ngegas. Refan menatapnya malas.


"Tau gitu ngapa lu ngatain gue bucin Mahliiiiii? Ga ngaca lo hah?" tanya Refan kesal.


"Ya ngaca sih, cuman gue suka aja ngatain lo bucin haha." jawab Ilham dengan wajah tanpa dosa.


"Tau ah. Btw emaknya kagak marah Yon? Olive kan anak kesayangannya emak-emak cerewet?" tanya Refan kepo. Semasa ia di New York dulu, ia sangat mengenal mamanya Olive karena Leon sering mengajaknya ke rumah Olive. Leon menggeleng.


"Ya enggak lah! Kalo dia tau, bisa gagal kawin sama Olive dong gue."


"Ck. Pantes aja waktu itu lo bilang mau nikah sama dia di NY, ternyata gara-gara skandal itu lo buru-buru nyari tanggalnya hah?" tanya Refan setelah mengingat-ingat kejadian beberapa hari lalu. Leon mengangguk bersama dengan cengiran khas.


"Hehe kan gue emang males gerak cepet kalo enggak kepepet bos."


"Astaghfirullah, berdosa banget lu!"


"Kalo ngomong-ngomong soal dosa, ga usah nunggu gue kebablasan juga emang dari dulu gue banyak dosa kali."


Prok prok


"Akhirnya pintu kesadaran lo terbuka Leoni!!" seru Kevin bertepuk tangan sambil bersandar di tembok dekat pintu. Entah sejak kapan ia berdiri di situ.


"Ye Kepin sialan!" gerutu Leon. Kevin tertawa kecil.


"Lo dari mana Vin?" tanya Refan.


"Dari bawah." jawabnya singkat.


"Bawah apaan?" tanya Leon polos.


"Bawah alam sadar! Ya dari ruang bawah tanah lah bodoh!!" sahut Kevin ngegas. Leon bergidik.


"Ngapain lu?" sekarang gantian Refan yang melayangkan pertanyaan polos. Kevin memutar bola matanya malas, ketika mereka bertiga bertemu memang hanya ia yang bisa serius.


"Ngasih makan ayam! Ya ngasih makan tahanan kita lah." jawab Kevin ngegas lagi dan lagi. Emang dia paling suka ngegas, apalagi ke Leon.


"Ah iya sebelum gue lupa lagi, kita ke tempat Doddy sekarang!" pungkas Refan karena pekerjaannya dalam laptop juga sudah hampir selesai.


"ASIYAPPPPPPP!! Ah gue udah ga sabar mau main sama barang baru gue uhuyyy." seru Leon bersemangat. Kevin menonyor kepala Leon.


"Main matamu! Racun lu kata mainan."


"Ya kan emang itu mainan gue, yakali gue main boneka? Ga lucu malah." jawab Leon membela diri.


"Lucu kok, asal lo mainnya pake boneka santet!" suruh Kevin. Oke, perdebatan ini memang tak akan ada habisnya.


"Sini lu gue santet!!" balas Leon nyolot. Refan mendengus malas.


"Ntar kalo udah kelas main santet-satetannya langsung nyusul. Gue duluan!!" ketus Refan berlalu pergi. Telinganya terlalu berharga untuk mendengar ocehan mereka.


"Eh eh bos tunggu lah woy!" seru Leon buru-buru ngibrit.


"Eh Pin?" panggil Refan berbalik, satu alis Kevin terangkat sebagai tanda tanya.


"Jangan lupa coba bobol terus keamanan informasi Bloody Dragon, secepatnya kita harus tau siapa pemimpin baru mereka."


"Lah kan kita bisa nanya ke Dodot?" tanya Ilham.


"Gue rasa Doddy ga tau apa-apa soal Bloody Dragon, dia cuma kerja sama dengan Yoga Arga di PSG, ga lebih."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰