IZZALASKA

IZZALASKA
59. Cash



"Tapi saya mau saat ini juga mba! Masa ga bisa sih? Nambah dua orang doang loh." ucap Refan ngeyel.


Hari ini ia mengawal dua bumil ke sebuah tempat kursus yoga khusus untuk ibu-ibu hamil.


Izza dan Ajeng. Keduanya dikawal langsung oleh Refan siang ini satu tempat yoga terkenal di Jakarta. Alasannya adalah karena Reza sedang ada meeting penting bersama Rayhan di Bandung yang tak bisa di tinggal. Karena saat ini Refan adalah yang paling memungkinkan untuk menemani mereka, jadilah ia yang mengantar duo bumil yang level gabutnya di atas rata-rata normal ini.


Izza adalah pencetus ide ini dengan alasan untuk mengusir bosan. Ia menghasut Ajeng dalam kegabutannya ini, dan seperti biasa Ajeng sebagai kawan sejalannya pun langsung mau. Dan akhirnya, Refan lagi yang kena imbasnya. Wkwk.


Beberapa menit yang lalu Refan adalah seorang pebisnis yang sedang sibuk bergelut dengan banyak berkas dengan Kevin, sampai akhirnya sang istri merengek untuk datang ke tempat ini. Ya, tempat dimana seorang Refan meminta untuk pertama kalinya dalam hidupnya.


'Ck ribet amat ni tukang absen, gue beli gedungnya aja kali ya?' batin Refan mengeram kesal.


"Maaf pak tapi untuk sekarang memang tidak bisa, slot kosong hanya tersedia untuk besok pagi. Untuk siang dan sore ini sudah full semua." jawab staff itu sopan. Refan berdecak. Ia kemudian menoleh ke arah Izza.


"Gimana ay?"


"Ya udah mau gimana lagi." jawab Izza pasrah. Tumben!


"Terus gimana?" tanya Refan lagi. Izza mengendikan bahunya kecewa.


"Ga tau."


"Besok aja?" tawar Refan ragu, raut wajah istrinya jelas sangat meragukan. Izza mengangguk tapi kemudian menggeleng cepat.


"Jadinya ngangguk apa geleng nih?" tanya Refan frustasi. Mood Izza sangat sulit ditebak hari ini. Izza memonyongkan bibirnya dan bergelayut di lengan sang suami.


"Harusnya sih bisa aja, t-tapi....."


"Tapi apa?"


"Tapi kan besok aku ada jadwal ke dokter kandungan sayangggggg... Terus besoknya lagi aku bisa aja mager, apalagi besoknya besok lagi dan besok dari besoknya lagi! Ah masa ga bisa hari ini aja si?" rengek Izza manja mode on.


"Kita cari tempat lain aja deh. Gimana?" ucap Refan memberi jalan tengah. Izza menggeleng dengan mata berbinar.


"Tapi aku maunya di sini." cicit Izza mengedipkan matanya beberapa kali, Refan menghela nafas.


'Yakali gue ga bisa nurutin maunya istri gue? Gak! Bukan Refan namanya kalo ga sanggup ngabulin maunya Izza!' batin Refan memutar otak. Bagaimana caranya ia bisa?


'Tapi gimana caranya? Yakali gue ngemis-ngemis lagi. Ogah amat!!' gerutu Refan lagi.


"Ay!! Malah bengong." omel Izza mengibaskan tangan. Refan terhenyak dari lamunan, ia lalu mengalihkan pandangannya kembali ke resepsionis.


"Mbak?" panggil Refan. Resepsionis itu merespond.


"Iya pak?"


"Beneran ga ada nih?" tanya Refan dengan pose tangan bersandar santai di meja tinggi resepsionis dan kakinya bersilang santai di bawah.


"Psssstttt Ipin!!" panggil Ajeng berbisik. Izza menoleh dengan satu alis terangkat.


"Apaan je?"


"Suami lo mau nego atau ngajak nongki? Gayanya tengil amat." tanya Ajeng menahan tawa. Izza melirik posisi suaminya dan memperhatikannya dari atas sampai bawah. Ia ikut menahan tawa.


"Ahaha tau ah, serah dia aja. Yang penting kegabutan kita dapet pelampiasan."


"Sekali lagi maaf pak, ini sudah full bookingan semua." ucap resepsionis itu sopan. Refan menghela nafas panjang.


"Btw nilai saham FE Yoga Center ini tinggi nggak mbak? Terus persentase pendapatan pertahunnya gimana? Terus pen-"


Plak


"Heh kenapa jadi nanya sampek akar?!" omel Izza yang refleks menggeplak punggung Refan. Refan yang sudah tahan banting hanya bisa menoleh dengan helaan nafas.


"Kamu jadinya mau disini atau enggak hm?" tanya Refan balik. Izza mengangguk.


"Ya mau lah!"


"Ya udah diem dulu ay, kamu sama Jeje tinggal terima jadinya aja nanti." ucap Refan setengah sebal. Izza nyengir lalu diam senyap bersama Ajeng.


Refan kembali ke Resepsionis di depannya.


"Jadi gimana mbak?" tanya Refan ulang, resepsionis itu tampak kelagapan mengingat rentetan pertanyaan Refan yang jelas ia tidak tau sedikitpun itu.


"Aduh kalo masalah seperti itu maaf pak saya kurang tau." jawab resepsionis gusar. Refan manggut-manggut sambil merogoh isi saku jas kerja yang ia kenakan.


"Ya udah, kalo gitu saya minta nomor manager atau direktur tempat ini aja deh." ucap Refan santai. Resepsionis itu melotot terkejut.


"Tapi buat apa pak?"


"Ck. Ga usah cerewet! Kasih aja nomornya direktur anda, cepetan!!" omel Refan kesal. Kesabarannya tadi hilang tiba-tiba. Resepsionis itu gelagapan takut melihat perbedaan raut wajah Refan saat bernego tadi dan saat meminta nomor direktur.


"I-iya pak, sebentar saya carikan dulu." jawabnya tergagap.


"Heh kamu mau ngapain lagi? Kamu kenal sama orangnya?" tanya Izza menarik lengan Refan hingga mundur beberapa langkah.


"Ya enggak juga sih ay." jawab Redan nyengir polos. Izza mengeryit heran.


"Ya terus?"


"Udah, kamu lihat aja nanti."


...****************...


"Udah tua, ga good looking, ga good rekening, ga punya hati sama otak, tukang nyusahin hidup orang, bogrek mana pake hidup lagi lu!" cerocos Leon berkacak pinggang. Mata elang dan smriknya menatap remeh ke arah seorang lelaki separuh baya yang duduk terikat di sebuah kursi kayu.


Wajah tuanya tampak semakin buruk dengan banyaknya luka memar hampir di seluruh permukaan wajahnya. Bekas luka merah kebiruan, maha karya dari seorang Refan. Lelaki tua itu tak lain adalah Doddy.


Refan bersama Leon dan Kevin tadi pagi sempat meringkus paksa Doddy dari kantor Izza dan menyeretnya ke markas Blood Wolf. Awalnya Refan yang sudah kesal dan marah karena Doddy melakukan kesalahan fatal yang sangat berpotensi mengancam keselamatan Izza-nya itu ingin langsung memberi hukuman nyawa. Tapi Refan mengurungkan niatnya karena mendengarkan apa kata Kevin, yang mengingatkannya tentang larangan-larangan turun-temurun dari keluarga besar Dirgantara. Lagipula Doddy bisa saja berguna untuk mereka bukan?


-Flashback on-


"Kenapa ga di bunuh aja sih? Clear kan?" tanya Leon kurang setuju dengan keputusan Refan atas usulan Kevin.


"Pamali Leoniiiii.... Lo lupa? Queen kita kan lagi hamil, mana boleh asal bunuh orang. Ga boleh banyak tingkah jadi suaminya bumil tuh!" jawab Kevin menonyor kepala si polos dan tukang grasa-grusu, alias Leon.


"Lah kok lo tau? Kan lo belum kawin?" tanya Leon polos. wajahnya tampak polos tapi sejurus kemudian matanya menyiratkan arti lain.


Julid dan mengejek.


Disaat seperti ini, ia lebih pantas dipanggil sebagai Leoni Almenye, bukan Leonal Albert.


"Leoni sialan!" umpat Kevin.


"Kata mama, ga boleh ngebunuh hewan kalo istri lagi hamil." celetuk Refan menatap datar ke arah depan. Tepat kepada Doddy yang terbatuk-batuk sesak, pasti karena pukulan telak Refan di bagian dadanya.


"Lah? Terus apa hubungannya sama Dodot?" tanya Leon berbisik pada Kevin. Kevin memutar bola matanya malas.


"Makanya jangan kebanyakan julid! Jadi lola kan otak lo." semprot Kevin menonyor kepala Leon hingga sedikit tergoyang.


"Kelakuannya ga lebih baik dari anjing liar!" sahut Refan berdecih kemudian pergi keluar ruang serba hitam itu karena handphone dalam saku jasnya bergetar.


Sebuah dering panggilan dari seseorang dibalik alasannya bertahan sejauh ini, Izza.


-Flashback off-


Alhasil, untuk melampiaskan semua emosi dan rasa dendamnya, Refan memberi beberapa hadiah perkenalan kecil. Kenapa di sebut hadiah perkenalan? Karena semua yang terjadi pada Doddy, yang ia nikmati sensasinya tadi, bukan apa-apa! Masih ada banyak sakit dan perih yang akan ia dapatkan nanti.


"Kita apain dia Vin?" tanya Leon. Kevin dan Leon sebenarnya tadi juga langsung ikut keluar ruangan saat Refan bilang ia harus pergi sebentar untuk menemani Izza dan Ajeng, tapi mereka kembali masuk ke ruangan minim ventilasi itu karena Refan yang meminta mereka mengawasi Doddy selama ia pergi.


"Tangan gue udah gatel nih." sambungnya lagi.


"Ah bos lama banget si, dah ga sabar nih gua!!" gerutu Leon kesal sendiri. Kevin berdecak.


"Mending lo tunggu sambil duduk sini, jangan sampek gue beneran emosi terus gue patahin kaki-kaki lo biar ga semriweh di depan gue!!" semprot Kevin ikut kesal. Leon langsung duduk menuruti apa kata Kevin, tumben! Tumben nurut tanpa perdebatan.


"Iya iya, pak Kepin sensi amat!"


...****************...


"Udah?" tanya Izza. Refan mengangguk, ia baru saja kembali sejak mengangkat teleponnya tadi.


Lumayan lama Refan berbicara di ujung ruangan dengan seseorang di ujung telepon itu, seperti orang yang sedang bernegosiasi bisnis. Entahlah, Izza pun tak tahu. Ia hanya menunggu di sofa sambil berghibahria dengan Ajeng.


"Udah." jawab Refan, ia memasukan kembali iPhonenya ke saku jas.


"Lo nelpon siapa Fan?" tanya Ajeng kepo.


"Lo liat aja impact-nya bentar lagi." jawab Refan santai.


Kring kring


Telepon di meja resepsionis itu bergetar. Refan tersenyum miring, ia sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini.


"Its time!" monolog Refan sendirian. Izza dan Ajeng saling pandang tak mengerti. Keduanya sama-sama menggeleng dan mengendikan bahu.


Setelah resepsionis itu selesai dengan teleponnya, ia melirik Refan yang tersenyum miring. Tak mau berlama-lama menatap wajah sangar itu, ia kemudian kembali menelepon seseorang.


"Mbaknya sih ngeyel ga mau ngasih tempat. Jadi sekarang tugas mbak lebih ribet kan? Harus nyiapin banyak hal untuk pemindahan aset dan perhantian direktur?" ucap Refan dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas. Resepsionis itu mengangguk kikuk.


"M-maaf pak-bos."


"BOS?!!!" pekik Izza dan Ajeng bersamaan. Kedua manusia berbadan dua itu kemudian berdiri dari sofa dan menyusul Refan di meja resepsionis.


"Kenapa ay?" tanya Refan bingung melihat ekspresi yang ditunjukan oleh istri dan iparnya ini.


"Bos? Kok jadi bos?" tanya Izza lebih bingung. Refan ber-oh ria.


"Oh itu-"


"Loh loh ini kenapa pada keluar semua? Bukannya tadi mbaknya bilang kalo ini selesai jam 2 ya? Kan ini masih jam 1 kurang?" pekik Ajeng heboh melihat puluhan ibu-ibu hamil yang berbondong-bondong keluar melewati mereka. Mereka semua tampak menggerutu sebal, pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Aneh banget." sahut Izza menatap satu persatu wajah kesal yang melewatinya begitu saja.


"Pasti ini kerjaan kamu kan?" tebak Izza memicingkan mata curiga. Tatapan penuh intimidasi itu tentu ditujukan kepada Refan yang malah dengan polosnya cuma nyengir dengan dua jari peace terangkat.


"Hehe yang penting kan kalian dapet kelasnya ay."


"Tapi kok bisa secepat ini Fan? Lo apain telfon dari direktur tadi?" tanya Ajeng nyerobot karena sudah terlanjur kepo. Refan lagi-lagi nyengir.


"Ga gue apa-apain, cuma gue beli doang nih asetnya satu." jawab Refan santai.


"WHAT THE HELL?!!" pekik Izza kaget. Mata hitam bulatnya semakin membulat karena jawaban enteng dari suaminya itu. Di beli? Semudah itu?


"Gila sih! Sampek dibeli cuma buat acara gabut kek gini?" cicit Ajeng geleng-geleng.


"Sampek ga bisa berword-word lagi gue." sahut Izza. Refan terkekeh lalu merangkul pundak sang istri.


"Ga papa kali ay, kan buat nyenengin kamu juga... Biar kamu sama Jeje bisa kesini setiap saat kalian mau tanpa ribet. Dan ya, aset ini udah aku atas namain kamu juga." ucap Refan mengelus pundak istrinya.


"Ekhemmmmmm... Mon maap gue disini sendirian loh, ga peka amat lu berdua sialan." sindir Ajeng jengah. Keduanya tertawa.


"Mmm-maaf pak, kelas VVIP yang anda minta sudah sepenuhnya kosong seperti perintah anda. Silahkan langsung menuju ke tempat, lift khusus ada di sebelah kanan." potong resepsionis memberitahu. Refan mengangguk kemudian membawa Izza dan Ajeng pergi ke tempat tujuan mereka.


...****************...


"Iya, ganti namanya jadi RR Yoga Center pak. Saya mau proposalnya besok siang sudah sampai di kantor saya, RnAs Group. Terimakasih!"


"Buset!! Ngomong di telpon udah kek tukang obral. Berisik amat!!" gerutu Izza geleng-geleng kepala. Refan berada di ujung balkon tapi suara beratnya itu masih sangat menganggu pendengaran Izza yang sedang fokus menonton youtube, lebih tepatnya MV terbaru dari sebuah boy group Korea kesayangan Izza.


Pause. Merasa aneh dan sepi di ruang kamarnya, Izza kemudian menekan tombol pause di laptopnya. Ia memutar pandangannya ke seluruh ruangan.


"Lah kemana si tukang obral?" tanya Izza pada Jaemin di layar laptopnya.


"Kemana Na?" tanya Izza lagi.


"Na? Jawab woi diem mulu lu dari tadi." gerutu Izza tak sabaran.


"Ah tau ah sombong amat lu! Diem mulu dari tadi sariawan lu?"


"Elu yang sariawan atau gua yang ga waras?"


"Ah tau ah!! Sinting gue lama-lama." ucap Izza frustasi sendiri. Tak mau ambil pusing dengan dialog anehnya dengan sang idola, ia kembali menekan tombol play youtube.


"Ay!" panggil suara berat yang tiba-tiba muncul lagi. Izza jelas sudah tau siapa pemilik suara itu meskipun tanpa menoleh.


"Hm." sahutnya masih fokus pada laptop.


"Kamu dari mana?" tanyanya sejurus kemudian.


"Kamar mandi."


"Ngapain?"


"Ga tau juga, aku tadi masuk doang terus bingung mau ngapain, jadi ya udah deh aku keluar lagi." jawab Refan panjang lebar. Izza meliriknya sekilas dengan tatapan malas.


"Sudah kuduga."


"Ay!" panggil Refan lagi setelah senyap. Izza kembali berdehem.


"Hmmmm."


"Cari makan yuk?" ajak Refan. Lelaki berkaos putih polos itu duduk di tepian ranjang, tepat di samping sang istri yang sedang asyik dengan hobi lamanya yang kambuh ini.


"Mau makan apa?" tanya Izza.


"Makan Ramen aja gimana? Di deket plaza baru itu tuh yang dulu jaman SMA sering kita datengin." jawab Refan bersemangat. Ngidam?


"Yakin mau makan ramen?" tanya Izza menoleh, kedua pasang mata mereka bertemu. Refan mengangguk yakin.


"Yakin!"


"Ga mau makan aku aja?" goda Izza menaik turunkan alis, ia juga menoel dagu sang suami dengan jahil. Refan membulatkan matanya sempurna.


"Ya mau lah! Tapi itu nanti setelah kita ngisi bahan bakar dulu, cari energi dulu lah kita." jawab Refan ambigu. Izza tertawa renyah.


"Ya udah oke kita makan ramen, tapi aku yang nentuin tempatnya. Deal?" tawar Izza mengulurkan tangan. Refan si ceroboh pun langsung menjabat tangan istrinya tanpa pikir panjang.


"Deal!!"


Izza tersenyum miring mendengar kata 'Deal' yang keluar dari mulut sang suami.


"Ya udah ayo berangkat!!" ajak Refan berdiri. Izza menarik tangan Refan hingga terduduk lagi di sebelahnya.


"Bentar dong! Aku kan belum bilang tempatnya di mana." ucap Izza sebal. Refan terkekeh sambil mengacak gemas rambut sang istri.


"Hehe ya udah iya, emangnya kamu maunya di resto yang mana hm?" tanya Refan si suamiable. Izza melebarkan sayap senyumnya.


"Di Seoul, Korea Selatan."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰