
"Iya Mama cantik!! Izza berani kok di rumah sendirian." ucap Izza gemas sendiri. Sedari tadi Alice riweh sendiri hanya perkara pamit mau pergi jalan-jalan bersama teman-teman lamanya.
"Mmm ah ya udahlah mama ga jadi pergi, mau nemenin kamu aja di sini." pungkas Alice masih plin-plan.
"Haisss Mama pergi aja ga papa ma, Izza baik-baik aja kok di sini." kekeuh Izza tak mau mamanya mengorbankan waktu bersama teman-temannya hanya karena dirinya.
Lagipula Izza ini bukan sembarang perempuan, ia selalu bisa melakukan semuanya sendirian. Seperti saat seperti ini, Refan pergi ke Singapura sejak semalam bersama David. Dan Izza di boyong sementara oleh Refan untuk tinggal bersama Alice di rumah utama Dirgantara.
"Mama have fun aja sama bestie mama, nanti kalo misal ada apa-apa, Izza langsung nelfon mama. Oke?" ucap Izza meyakinkan Alice. Alice dilema. Di satu sisi, ia harus menjaga putri menantu kesayangannya dan juga menjaga kedua calon cucunya. Tapi di satu sisi juga ia ingin sekali bertemu dengan teman lamanya yang sekarang kebetulan pulang ke jakarta, sedangkan besok temannya itu akan kembali lagi ke Belanda.
"Kamu yakin ga papa kan? Mama tinggal dua jam tiga jam ga papa ya?"
"Iya mama!! Lagian juga Izza udah ada dua pengawal setia nih." jawab Izza mengelus perutnya sendiri. Alice tersenyum ikut mengelus perut membuncit milik Izza. Ya! Ada dua cucu keturunannya di dalam sana.
"Baby boy sama baby girl tunggal omma, jagain mama kalian baik-baik ya sayang? Omma pergi dulu boleh ga nih?"
"Bole dong omma." jawab Izza menirukan gaya bicara anak bayi. Alice beralih mengelus pipi Izza.
"Mama pergi sebentar ya sayang? Kalo ada apa-apa, kamu langsung nelfon mama. Oke?"
"Iya."
...****************...
"Itu paket kiriman dari siapa beb?" tanya Rafael sambil mendudukkan dirinya di sebelah Stella, istrinya. Stella sedang membawa kotak cokelat luamayan besar di tangannya.
"Dari Izza nih."
"Lah kok di paketin? Emang dia sama Refan ga jadi ke sini?" tanya Rafael heran. Pasalnya dua minggu lalu, setelah melakukan video call berempat dan mengabarkan jenis kelamin bayi Refan dan Izza. Keduanya itu bilang pada Rafael dan Stella kalau mereka akan ke New York sekalian menikmati baby moon.
"Enggak jadi. Refan ga jadi ngizinin Izza pergi jauh." jawab Stella cemberut. Padahal ia sudah menanti saat dimana ia dan Izza akan bertemu dan berada satu atap. Tapi pupus!
"Padahal pake jet pribadi, tetep ga di bolehin?"
"Kata Izza sih enggak."
"Wah emang kelewatan tuh anak satu!! Pengen gue arghhh." sungut Rafael tak habis pikir. Sekhawatir itu kembarannya. Over protektifnya sangat menyebalkan.
"Hmmm padahal aku kangen tau!! Udah lama ga ketemu Izza terus nyeloteh banyak hal sama dia." ucap Stella memelas. Rafael memeluk istrinya.
"Jangan sedih gitu dong sayang, nanti kalo baby boy twins kita udah lahir. Mama papa pasti kesini, nah tuh Izza pasti udah rewel banget tuh kekeuh pengen ikut ke sini nemuin bayi kita!!"
"Kalo nggak gitu, aku lahiran di jakarta ada deh. Gimana?"
"Lah kenapa tiba-tiba minta di jakarta? Kan kamu sendiri yang mau baby twins kita pake akta kelahiran New York?" tanya Rafael tak yakin.
"Ya nggak kenapa-napa sih, kan mama mama juga di sana. Biar ga usah bolak-balik aja gitu. Ga papa deh pake akta jakarta juga."
"Kamu yakin?"
"Iya sayang!!!"
"Ya udah kita pulang ke Indo, tapi nanti pas kamu udah H-sebulan aja ya?" pungkas Rafael menyanggupi keinginan istrinya. Stella mengangguk antusias.
"Aaaaa makasih sayangku!!" cicit Stella kembali memeluk tubuh tegap suaminya. Rafael mengangguk sambil memeluk erat istrinya.
"Iya sayang."
"Tapi kerjaan kamu gimana? Kan kantor butuh CEO nya?" tanya Stella mendongak. Rafael masih setia mengelus-elus rambut istrinya dengan lembut penuh kasih sayang.
"Ada Leon, dia mah ga bakal masalah kalo ditinggal sendirian di rumah ini. Asalkan ada Olive!" jawab Rafael santai. Selama di New York memang Leon diwajibkan oleh Rafael maupun Refan untuk tinggal di rumah bersama Rafael dan Stella saja. Bagaimanapun kedekatan hubungan Refan, Rafael, Leon dan Kevin itu sudah selayaknya saudara sendiri.
"Lagian juga aku kan bisa mantau dari laptop, yang penting Leon tetep ngawasin di lapangan. Aman!" sambung Rafael lagi. Stella manggut-manggut.
"Aaaaa so sweet banget suamiku!!" puji Stella mencium gemas pipi Rafael. Rafael tertawa kecil.
Cups.
Rafael memberi kecupan singkat di bibir istrinya.
"Apapun aku lakuin, asal itu demi kamu sama anak-anak kita."
"Gemes deh!!"
"Mmm beb?"
"Hm?"
"Nanti setelah sampai di jakarta, kita sempetin ke makam Nadia dulu ya sebelum pulang ke rumah? Aku mau ngasih tau kabar bahagia ini buat dia." pinta Rafael agak ragu, ia takut menyakiti perasaan istrinya. Bukan bermaksud apa-apa, tapi Rafael hanya ingin mengunjungi pusara seorang gadis yang menjadi cinta pertamanya. Sampai kapanpun, Nadia akan selalu hidup dalam ingatan seorang Rafael Alandra Dirgantara. Mungkin di hati Rafael sekarang hanya ada Stella, tapi saya ulangi!! Nama Nadia tak akan pernah hilang. Kalian masih ingat Nadia?
Stella mengangguk dengan mengukir senyum manis.
"Iya sayang. Kita temuin Nadia, dia pasti seneng banget deh." jawab Stella dewasa penuh pengertian.
"Makasih ya."
"Haha makasih buat apa heh?"
"Makasih udah selalu ngerti posisi aku ke Nadia." ucap Rafael lagi. Stella mengangguk.
"Ya udah sekarang kita buka paket dari Izza dulu. Buka gih!!" suruh Rafael sebelum Stella menjawabnya. Stella mengangguk setuju lalu membuka bingkisan paket dari adik iparnya itu.
"Ada suratnya beb." ucap Stella membuka surat itu.
...**Dear my lovely baby boy :...
...Aunty Izza ga bisa bikin surat bagus, enggak bakat jadi penulis!...
...Cuma mau bilang, nanti kalo udah gede jangan bandel kayak daddy kalian ya? Oke?😍...
...Mwahh Stellak i miss u♥**...
"Ahahahaha bener juga Izza, jangan sampek gedenya baby kita jangan bandel kek kamu." ucap Stella tertawa. Rafael memutar bola matanya malas.
"Emang sialan banget tuh adek ipar satu."
"Lah yang ini kok bajunya cuma tiga? Satunya lagi mana?" tanya Rafael membolak-balik baju lucu ini berulang kali. Menghitungnya berkali-kali dan jumlahnya tetap sama saja. Tak ada yang bertambah maupun berkurang.
"Yee udah di kasih mana pake protes pula!!" omel Stella geleng-geleng.
"Ya harus lah!! Anak kita kan dua, genap, jadi harus genap juga dong semua kadonya." protes Rafael ribet. Stella menghela nafas.
'Kenapa sekarang jadi dia sih yang riweh sendiri? Biasanya aku.' batin Stella geleng-geleng pasrah.
"Ga gitu juga konsepnya sayang!!"
"Nggak ah. Izza harus di protes nih!! Mumpung lakiknya lagi di Singapur haha." ucap Rafael langsung menelepon Izza. Stella mengangguk antusias karena ia akan segera bisa melihat wajah si adik ipar.
...****************...
📩Mama Alice
Sayang kamu dmn? Udh makan apa blm?
Mama masih lumayan lama nih.
Gpp kan?
📤Izzaalx
Iya ma gpp.
Izza ini ditemenin sama Darrel Ilham kok.
📩Mama Alice
Oh bagus deh kalo gt.
Hati2 ya sayang🥰
📤Izzaalx
Iya, mama have fun aja😗
📩Mama Alice
Ok sayang.
Read.
"Ditemenin sih ma, tapi di club hehe." lirih Izza tanpa memberitau kejadian sebenarnya pada mama mertuanya. Ia tak mau Alice khawatir kalau ia mengatakan ia berada di club bersama Ilham dan Darrel.
Club malam yang tak lain adalah milik Izza sendiri, yang ia beli dari seorang pengusaha yang bangkrut empat tahun lalu. Saat ia masih duduk di bangku SMA.
Bukan tanpa alasan ya! Izza datang karena kepepet, ada suatu masalah hingga ia harus turun tangan langsung. Sebenarnya Izza tadinya hanya mengajak Darrel, tapi setelah Izza meminta izin pada Refan yang berada di luar negeri. Refan meminta Ilham menemani Izza juga. Bukannya suudzon, tapi Refan jaga-jaga saja, siapa tau nanti Darrel mabuk. Kan harus ada lebih dari satu orang yang menjaga istrinya!
"Mertua?" tanya Darrel meneguk segelas brendi hingga tandas. Izza mengangguk.
"Iya. Lo jangan minum banyak-banyak woeee!! Si Ilham udah ilang mabok ga tau kemana, elu jangan ikut-ikutan. Gue aduin ke Refan juga lu entar." omel Izza sebal. Sebenarnya kalau bukan karena ia ingat sedang mengandung anaknya dan Refan, Izza sudah pasti akan ikut minum bersama Darrel dan Ilham.
Untung saja Izza sedang berada di mode halal! Terakhir kali ia mabuk adalah sejak 4 bulan yang lalu, sebelum ia dinyatakan positif hamil. Itupun hanya berdua dengan Refan di club kelas VVIP. Definisi mabuk halal ga tuh!
"Dikit doang, gue masih aman. Ilham tuh yang udah ga jelas arahnya kemana." jawab Darrel menuangkan segelas kecil brendi lagi. Izza menghela nafas, mencoba sabar. Emang cowok suka kek gini nih, ga tau diri kalo udah ketemu sama sekelas anggur merah.
Memang setelah urusan Izza dengan manager kepercayaannya di club, Ilham hilang membaur dengan para clubers yang lain.
Drtt drtt.
"Tulit tulit Hp lo bunyi bos!!" celetuk Darrel. Izza mengambil Hp nya di dalam tas.
📞Rafael is calling....
"Rafael." lirih Izza kemudian menarik tombol hijau di layarnya.
Stella : Aaaaaa halo Izza!!!
Izza : Wehh halo bumiltu!
Stella : Lah apaan bumiltu?
Izza : Ibu hamil tua haha. Huuuuu tuaaaa!! Stella tua.
Rafael : Woy bininya Refan!!
Izza : Paan lu? Nyari ribut? Ayok lah. Mumpung Refannya ga ada nih, bisa duel one by one langsung kita!!
Stella : Kek nya cuma gue doang yang waras disini.
Rafael : Baju kiriman lo kurang woe!!
Izza : Hah? Kurang gimana? Emang udah sampe?
Stella : Udah dong!! Nih semuanya cakep banget.
Rafael : Cakep sih cakep! Tapi minus satu.
Izza : Minus apaannya si? Kegedean? Ya udah pakein ke baby boy pas udah agak gedean aja.
Rafael : baju yang animal code itu loh. Kenapa cuma tiga? Satunya mana. Anak gue kan dua, yakali lo ngasih kadonya ganjil? Entar mereka berantem dong.
Izza : Itu kelupaan Fel!! Gitu doang ribet lu. Stel, kok lo betah sih sama nih anak?
Stella : Ya habis orangnya ngademin Za, meskipun kadang banyak ngeselinnya haha.
Izza : Gue tau lo pasti tertekan.
Stella : Lumayan si.
Izza : Ahahhaha.
Rafael : Heh itu lo dimana?
Izza : Dugem. (Ngawur bin ngelantur)
Rafael : Seriusan woee!!
Izza : Di RFN Club.
Rafael : Seriusan?
Izza : Seriusan woee!!
Rafael : Lah bukannya Refan sama papa masih di Singapura?
Izza : Lah emang iya.
Rafael : Lo diizinin sama Refan?
Izza : Diizinin dong!! Kan ada Darrel sama Ilham yang ngawal gue di sini, Refan sendiri yang nyuruh mereka.
Rafael : Oh gitu... Jangan ngamer lu! Kasian tuh keponakan gue, apalagi yang cewek. Ga lucu entar kalo lahir, hausnya nyari amer. Bukan susu!
Stella : (Mencubit pipi suaminya) Heh enggak gitu juga konsepnya jamal!!
Rafael : Ya habis si Izza ngadi-ngadi.
Stella : Izza biasa aja kok, kamunya aja yang ngelantur!
Rafael : Loh kok-
Izza : Woeeee banyak nyamuk!! Dahlah lakik gue baru pulang besok, males gue ngeliat yang uwwu-uwwu gini. Bye!!!
Tut tut tut.
Izza telah mematikan teleponnya, kini ia beralih menatap Darrel di sampingnya.
"Lo udah mabuk?" tanya Izza. Darrel menggeleng.
"Belum. Masih waras!!" jawab Darrel dengan mata yang masih normal, dan juga tidak sempoyongan sama sekali. Izza pun mengangguk percaya, setidaknya Darrel juga masih ada di sampingnya. Bukan seperti si psikopat ganteng itu! Ilham. Entah kemana perginya manusia berjuluk 'the king of amer' itu.
Satu sisi baik yang untung saja dimiliki oleh Ilham adalah ia tak pernah menyeracau membuka rahasia dan semua kedoknya saat mabuk. Kalau orang lain membongkar rahasia mereka saat mabuk dan kehilangan kesadaran, maka ilham tidak. Dia hanya sempoyongan dan bicara ngelantur, tapi tidak dengan membicarakan rahasia miliknya. Termasuk dalam urusan apapun. Definisi mabuk tapi enggak mabuk.
Pernah sekali dulu Ilham terpancing masuk ke dalam jebakan musuh gangster, salah satu mata-mata Black Snake waktu itu sebelum Noval mati. Mereka menjebak Ilham yang semua orang sudah tau kalau laki-laki satu itu doyan mabuk, mereka ingin mencoba mengorek informasi dari ceracauan tak sadar Ilham tapi keinginan mereka tak tercapai karena Ilham bisa menyimpan rapat rahasia gangsternya. Malah keburu ketahuan oleh Genta yang menyusul Ilham, dan berakhirlah mata-mata itu ditangkap dan jadi bahan percobaan Ilham keesokan harinya.
"Queen woy!!" pekik Ilham yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Paan lu malah mabuk gini heh?!! Elu disuruh Refan nemenin gue tuh biar bisa ngejaga gue, eh ini malah asik mabuk sendiri!!"
"Ngomel mulu sih bawel!! Lo mau ikut minum sekalian? Ayok!!" ceracau Ilham ngelantur. Izza memutar bola matanya malas.
"Ga dulu!!"
"Tuh ada kembaran lo!" ucap Ilham menunjukkan jari telunjuk ke arah sisi kiri club. Meja paling pojok dengan pencahayaan yang minim.
"Hah? Maksud lo Reza?"
"Emang kembaran lo ada siapa lagi? Raze? Rozi? Rosi? Rose? Ah bukan deh! Yang itukan member idol kesukaan gue. Cakep banget orangnya aaaa senyumnya 11 12 sama Salma si calon istri!!" cerocos Ilham tak tau arahnya lagi. Izza hanya bisa mendengus malas kemudian memantapkan arah pandangannya ke seberang sana, di tempat yang tadi di tunjuk oleh Ilham.
Jeng jeng jeng.
"Reza?!!" pekik Izza kaget. Reza nampaknya sendirian di sana, apa yang telah terjadi? Reza tak pernah pergi mabuk sendirian, dia biasanya selalu membawa pasukan untuk sama-sama menghilangkan stress. Tapi kalau sekali saja dia mabuk-mabukan sendirian, maka sesuatu pasti sedang terjadi. Cowok itu pasti sedang berada di dalam masalah yang membuatnya sefrustasi itu!
'Ngapain lagi tuh anak? Waras apa enggak? Udah tau istri di rumah lagi bunting, eh ini malah nangkring di sini.' gerutu Izza dalam hatinya.
'Ga mabuk ga asik lord!' celetuk Refi.
'*Dasar altar ego aliran sesat Ref.'
'Ahahaha bosen ah lu ga ada beraksinya, udah hampir 6 bulan gue nganggur ga di ajak baku hantam*!' keluh Refi protes. Si jahat telah gatal ingin cepat-cepat beraksi bersama si pemilik raga.
'Sabar dulu Refi!! Anak gue sekarang jadi prioritas keselamatan, ntar kalo udah lahiran kita cari mangsa haha.' jawab Izza.
'Oke gue doain anak lu lahir sebelum waktunya, biar baku hantamnya cepet!' ucap Refi sadis.
'Woeee ga gitu juga konsepnya jingan! Lo ngedoain anak gue prematur Ref?' pekik Izza tak terima.
'Biar ga kepanjangan durasi. Gue udah bosen!' sahut Refi tanpa dosa.
'Dahlah!'
Setelah dibuat sebal oleh separuh bagian dari dirinya sendiri, Izza kemudian beringsut turun dari kursi berkaki tinggi yang ia duduki.
"Eh eh lo mau kemana?" tanya Darrel mencekal lengan putih Izza yang turun dari kursi dan hendak pergi.
"Nyamperin Reza tuh!" tunjuk Izza. Darrel ikut turun dari kursi.
"Gue ikut!!"
"Lah? Udah kek bocil aja kemana-mana ngikut?" tanya Izza heran. Darrel menyempatkan diri untuk meneguk gelas brendi terakhirnya sebelum menjawab bos sekaligus mantan kekasihnya ini.
"Ntar kalo ada apa-apa gue bisa digeplak sama Refan. Ini kan tanggung jawab gue!"
"Ya udah ayo!!"
Kalau kalian mencari kemana perginya Ilham, cowok itu sudah kembali tertiup angin. Entah pergi kemana. Sementara Izza dan Darrel berjalan buru-buru menghampiri Reza karena dari kejauhan tampak ada seorang wanita yang sepertinya ingin menghampiri laki-laki setengah mabuk itu.
"Ekhemmm!! Maaf mba siapa ya?" sergah Izza cepat saat wanita malam itu hendak memaksa menyentuh Reza padahal Reza sudah menolaknya bahkan mendorong wanita itu untuk menjauh.
Tepat waktu! Untung pula Reza masih bisa mengontrol dirinya.
"Ini suami saya. Lebih baik lo pergi!!" usir Izza sengaja berjalan dan memisahkan jarak antara Reza dan wanita itu. Izza sedikit mendorong wanita itu agar menjauhkan diri darinya.
"Hey jangan sembarangan! Dari tadi gue lihat lelaki tampan ini sendirian, mana mungkin dia suamimu?"
"Kau buta? Lihat ini!" tunjuk Izza pada perutnya, ia sedikit membuka jaket kulit hitam yang menutupi dress putih miliknya.
"Ini bukti kalau dia suamiku!" ucap Izza lagi. Skakmat! Izza menang telak meskipun yang ia katakan tadi tidak benar haha.
"Pergi pergi husss!! Dia istrinya, apa kau tidak punya urat malu? Hingga berani menggoda lelaki yang sudah beristri bahkan akan segera memiliki anak." ketus Darrel pedas. Izza tersenyum penuh kemenangan mendengar kalimat jahat yang dilontarkan oleh asisten sekaligus mantan cinta pertamanya ini. Sementara Reza sudah teler, ia menyandarkan kepalanya di pundak Izza. Mungkin lelaki ini sudah kehilangan kesadarannya, mungkin.
Wanita itu tampak melotot kaget mendengar penuturan lelaki yang berdiri di sebelahnya, apalagi saat ia melihat Reza, lelaki yang tadi coba ia goda dengan susah payah itu malah terlihat sangat mudah nemplok pada wanita hamil yang mengaku sebagai istrinya itu.
Darah wanita itu mungkin juga sudah bercampur dengan rasa malu hingga ia langsung pergi tanpa membalas perkataan Darrel.
"Heh bodoh!! Lo ngapain di tempat kek begini?" tanya Izza menepuk-nepuk pipi Reza agar melek. Reza mengerjap kecil.
"Pusing!!"
"Gue nanya lo ngapain, bukannya lo kenapa!! Bangun ga lu?" omel Izza berusaha menggoyangkan wajah saudara kembaranya tapi susah, berat!
"Rel. Guna lo apaan berdiri di situ? Bantuin gue kek!!" omel Izza pada Darrel juga. Darrel yang tadi sudah hampir ngefly, malah jadi kembali sadar mendengar omelan Izza.
"Baru aja mau ilang kesadaran, langsung auto seger lagi deh denger lo ngomel!!" gerutu Darrel.
"Ah bawel!! Bantuin nih bangunin ni anak."
"Jangan dibangunin, kasihan tuh mukanya kusut banget!" tolak Darrel tak jadi menarik tubuh Reza karena melihat tampang lelaki itu yang benar-benar tidak karuan.
"Ya terus? Lo mau gendong dia sampek rumah gitu kah?" tanya Izza kesal. Darrel menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Izza ini memang benar-benar perempuan yang terpaling paling dalam semua hal! Izzaa dulu sudah membuat hatinya menjadi kacau, sekarang pula dia malah mengacaukan kadar mabuk dalam dirinya. Dasar Izza!!
"Ya gimana gitu kek, lo ga kasian apa kembaran lo loyo gitu kek ga dapet jatah seminggu aja." sahut Darrel masih tak tega. Izza mengeryitkan alis. Apa-apaan Darrel ini? Kenapa dia segala pake membahas jatah sedangkan dia sendiri masih single, mana ada dia dapat jatah?
"Lah emang lo udah pernah dapet jatah selama 23 tahun ini?" tanya Izza remeh. Oh tidak! Sepertinya Izza terlalu asyik menikmati waktu setelah berdamai dengan Darrel, hingga ia melupakan apa hal yang membuat masa lalunya seburuk itu. Cecill, Izza melupakan kisah Darrel dan Cecill.
"Lo lupa alasan kenapa kita putus?"
Izza terskakmat!
"Iya deh lupa! Kasian Valerrie dapat bekasannya cecill iwww eh astaghfirullah gue lagi hamil, ga boleh julid astaghfirullah maafkan hambamu ini. Hamba khilap." cicit Izza bergidik ngeri sendiri. Darrel tertawa.
"Yang penting Vallerie mau nerima masa lalu gue wlee!!" sahut Darrel melet. Izza berdecak.
"Vallerie musti ketemu sama gue! Biar gue kasih paham gimana brengseknya elu waktu itu."
"Weeee jangan gitu dong ngonsepinnya!! Gue udah H-minggu mau kawin. Jangan di ganggu!!" omel Darrel panik. Izza tertawa lalu melet, sangat mengejek dan menjengkelkan.
"Ejaaaa bangun!!! Ayo pulang woeeeee." teriak Izza lumayan keras di telinga Reza. Karena suasana club rumayan berisik.
"Ga mau! Males. Kepala gue pusing!!"
"Lah? Terus gimana? Lo mau ngemper tidur di sini apa gimana?"
"Bisa makin setress kalo gue pulang!" jawab Reza masih dengan mata setengah terpejam.
"Lo ini kenapa sih?" tanya Izza makin heran tak mengerti.
"Gue berantem sama Jeje."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰