IZZALASKA

IZZALASKA
54. Old twins comeback!



"Enak?" tanya Refan pada istrinya yang tampak asyik dengan semangkuk bubur ayamnya. Izza mengangguk antusias.


"Enakeun!!" jawab Izza senang, Refan membalasnya dengan tersenyum. Ada aura aneh penuh tanda tanya yang tersimpan dalam senyum itu.


Izza sudah bisa menebak apa isi fikiran Refan hanya dengan melihat ekspresia suaminya ini. Satu-satunya alasan adalah karena Refan tidak menyukai makanan lembek dan halus yang bernama bubur.


Disaat Izza, para ART, body guard, satpam dan beberapa tetangga komplek yang kebetulan lewat itu sedang melahap bubur ayam dengan nikmat, Refan si bandar uangnya malah bergidik ngeri melihat lahapnya semua orang.


Gerobak bubur ayam itu masuk tepat di depan pagar, jadi tiap ada tetangga komplek yang lewat mereka dipanggil untuk sarapan gratis bersama.


"Mau ngicip gak?" tanya Izza menawarkan sesuap bubur. Refan menggeleng cepat.


'Tidak akan kusentuh benda lembek menjijikkan itu!' batin Refan berteriak histeris.


"Nggak."


"Mau dong please!!" pinta Izza ngeyel. Refan juga tetap ngeyel menolak.


"Nggak mau ay."


"Ayo dong Refaaaaaannn!! Kamu udah beli bubur sebanyak ini loh, ya kali kamu ga mau ngicip sedikitpun?" kekeuh Izza merengek manja. Sesendok bubur sudah siap meluncur, tapi Refan tak kunjung mau buka mulut.


"Kan tadi kamu yang minta." jawab Refan ngeles, tapi emang bener sih.


"Tapi aku ga nyuruh beli segerobak! Ayo pokoknya harus tanggung jawab. Bantuin aku habisin ini!!" jawab Izza garang. Ia menyodorkan sendoknya dengan garang penuh paksaan, sepertinya alumni cewek bar-bar itu sedang simulasi menyuapi anak-anaknya kelak.


"Ga mau ay..... Kan kamu tau sendiri aku paling ogah sama lembek-lembek begituan hiiiii." cicit Refan bergidik ngeri.


"Ayyyyy ayolah!!"


"Nggak mau!"


"Ay."


"Enggak."


"Gimana kalo aku pake pleaseeee?"


"No mean no. Enggak ya tetep enggak ay." jawab Refan masih ngeyel. Kali ini ia tak menuruti kemauan istrinya dengan seenteng biasanya.


"Ay ayo dong!!"


"Enggak mau."


"Ay."


"Gak!"


"Tapi ini anak kamu loh yang minta? Kamu tega nolak keinginan anak-anak kita? Katanya bakal jadi ayah yang baik, masa kek gini aja ga mau nurutin." rayu Izza mengeluarkan jurus pamungkas. Menggunakan anak-anaknya sebagai senjata dan memasang puppy eyes.


Refan menghela nafas panjang, istrinya ini selalu bisa merayu dan menjebaknya dalam satu titik paling pojok untuk kemudian membalikkan semua penolakan Refan agar menjadi apa saja yang ia mau


"Mau ya? Please!! Nanti anak kamu jadi-"


"Iya iya aku mau. Satu suap doang tapi!" potong Refan mengalah dengan terpaksa. Catat! Terpaksa.


"YEAYYYYY!!!" sorak Izza merasa senang karena perang ini dimenangkan olehnya, lagi dan lagi.


"Ini ayang.... Aaaaaaaaa." tutur Izza ikut memeragakan membuka mulut agar Refan mengizinkan sesendok bubur itu masuk ke dalam rongga mulutnya.


'Ayo Fan lo pasti bisa, daripada istri lo ngambek nanti malah bahaya! Bisa roboh ini rumah lo.' sorak Aska heboh.


'Ck. Diem!'


Aaaaa glek.


'Sumpah demi apapun! Rasanya sekarang gue pengen jadi presiden aja. Gue buat aturan keras buat seluruh penjual bubur, gue larang ini makanan ada di sini. Hueekkk!!' umpat Refan menyumpahi makanan terlaknat versi dirinya itu.


Tapi demi Izza, Refan tetap harus happy kiyowo. Karena kalau mood Izza sampai rusak karenanya, tembok gerbang yang tinggi kokoh ini bisa saja dihancurkan oleh Izza dengan satu gertakan saja.


Sabar Refan sabar!


"Gimana rasanya? Enak kan? Ga seburuk yang kamu bayangin kan?" tanya Izza memasang tampang imutnya. Biasanya Izza selalu bisa membaca bahasa tubuh Refan dan bisa memahaminya, tapi untuk masalah ini sepertinya dia sangat noob. Izza percaya begitu saja dengan senyum palsu Refan yang sedang menahan mual.


"Not bad but not good." jawab Refan dengan raut wajah yang sudah menjadi datar.


"Krik krik."


"Seriusan ayangggg... Ini biasa aja, kek ga ada ngerasain apa-apa. Hambar! Rasanta kayak hidupku selama lima hari dulu setelah putus dari kamu." jawab Refan mencoba meyakinkan Izza bahwa sekuat apapun ia berusaha membuat Refan menyukai bubur, usahanya akan tetap sia-sia tanpa hasil.


"Hidupku waktu itu tuh bener-bener hambae ay, sama kek rasa bubur ini di lidahku. Makanya aku ga pernah doyan! Kenapa? Karena rasa ga enaknya selalu ngingetin aku ke hari-hari itu." jelas Refan lagi. Izza memicingkan mata curiga, mencoba mencari kebohongan di mata suaminya.


Tin tin


"BUCIN TEROSSSSSSS!!!" celetuk suara memekik keras dari balik kaca mobil yang terbuka. Reza!


Saking sibuknya mendebatkan bubur, pasangan gangster itu sampai tak menyadari kehadiran mobil Reza yang memasuki gerbang rumah mereka.


Reza datang bersama Ajeng sesuai ucapannya semalam. Reza turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk istrinya yang sedang bunting hampir tujuh bulan itu.


"Aaaaa Izzaaaaaaa kangennnnn!!" pekik Ajeng berlari kecil menuju Izza yang masih duduk santai di kursi dengan semangkok bubur dipangkuannya.


"Aaaa Jejeku sayangggg!!" balas Izza tak kalah memekik. Ia melengserkan mangkoknya ke pangkuan Refan kemudian saling peluk menyamping dengan Ajeng. Tau sendiri lah ya, kalau peluk dari depan udah pasti susah! Ada dua baby bump diantara mereka.


"Mas Jajang! Parkirin mobil gue ya?" ucap Reza sambil melempar kunci mobilnya kepada orang kepercayaan Refan di rumah itu. Bukan hanya akrab dengan Refan dan Izza, tapi Ujang alias mas Jajang itu juga lumayan dekat dengan Reza dan Rayhan. Karena dua kakak Izza itu adalah yang sering main ke rumah majikannya.


"Oke mas!" sahut Jajang yang kebetulan sudah selesai sarapan dengan bubur ayam tadi.


"Ihhh jeje makin gemoy aja!! Calon ponakan ketiga gue ini udah mau masuk tujuh bulan kan?" tanya Izza yang sebenarnya sudah tau tanggalnya. Maklum lah, usia kehamilannya dan Ajeng kan hanya beda satu sampai dua minggu saja.


Izza sudah tau, tapi ia sok berlagak tidak tau untuk basa-basi doang. Wkwk.


"Iya, minggu depan acara tujuh bulanannya. Ini aku sama Reza kesini buat sekalian ngasih tau itu! Pokoknya calon aunty anak gue harus datang sama calon om-nya juga." ucap Ajeng memberitahu. Izza mengacungkan jempol. Gas pol buat calon keponakan mah!


"Om-om sugar haha." celetuk Reza tertawa meledek. Targetnya jelas adalah Refan. Refan menatapnya datar.


"Ga ngaca lo? Lo juga bakal jadi sugar Daddy lol!" sahut Refan tak kalah menye. Reza bergidik remeh.


"Dih? Sugar daddy matamu! Sugar uncle bege."


"Sama aja sugar itu mah."


"Krik krik." ucap Izza dan Ajeng bersamaan tanpa janjian. Keduanya tampak sama-sama sebal dan jengah dengan topik persugaran diantara suami-suaminya ini.


Perdebatan seputar daddy pun berhenti. Kedua laki-laki tak sadar umur dewasa setiap kali. bertemu itupun nyengir polos.


Hehe


"Pokoknya Refan lo harus datang ya! Ga ada alasan sibuk kerja ya, awas aja lu kalo berani bolos di acara nanti." tutur Ajeng menegaskan. Ia tau seberapa sibuknya Refan yang menghandle dua perusahaan sekaligus, makanya dia berpesan sejak jauh-jauh hari.


"Oke siap je, gue akan selalu datang ke tempat yang menyediakan makanan gratis untuk tamu!!" seru Refan tak sadar diri. Dengan pedenya ia mengatakan hal itu ditengah keramaian orang-orang yang sedang menikmati makan gratis darinya.


Kalau saja ada wartawan diantara mereka, pasti dalam hitungan jam nanti akan segera launching tayang perdana sebuah berita besar menggemparkan.


Breaking news!


Seorang Refan Alaska Dirgantara, pengusaha muda sekaligus CEO dari dua perusahaan ternama, ternyata adalah pemburu makanan gratis.


Wkwk.


"Lo masih setia jadi pemburu makan gratis Fan? Gue yakin ini mamang bubur pasti jadi korban pemborongan lo kan? Ini orang-orang pasti makan gratis dari lo kan?" tanya Reza mengeryit aneh. Sebenarnya apa sih yang ada di otak iparnya ini?


"Emang iya."


"Ck. Bisa-bisanya ada ya, orang kaya elu. Tukang ngasih makan gratis ke orang-orang eh malah masih aja seneng denger barang gratisan." pekik Reza hampir serangan jantung. Gak deh! Bercanda.


"Nyari sensasi berbeda itu penting broh!" jawab Refan seenak jidat.


Oke, kita tinggalkan saja drama perbapak-bapakan itu. Kita kembali lagi ke duo bumil cantik yang sama-sama menggemaskan karena baby bumb mereka.


"Jeje, kok perut lo sama gue gedean punya gue banget anjir!!" cicit Izza membandingkan besar perutnya dengan Ajeng. Ajeng terkekeh kecil.


"Ya namanya juga lo dapet kembar, gue kan ini cuma sat-"


"Makan mulu sih lu! Mamp*s lu jadi melebar, entar Refan bisa kejepit tuh." ledek Reza membody shaming. Izza melotot tajam.


"Gii cimbik li ji." jawab Reza menye. Izza mengeram kesal, kuku tajamnya meronta ingin diaktifkan.


Hm sepertinya Reza belum pernah dicakar oleh jelmaan serigala yang sedang menyamar menjadi bumil.


"Dijepit enak sih Re, gue mah ikhlas lair batin kalo buat yang itu." celetuk Refan ambigu.


Dan lihatlah mereka, bahasanya terlalu ambigu dan bar-bar untuk diperbincangkan diluar rumah. Apalagi suasana yang masih ramai dengan pemakan bubur gratis.


"Astaghfirullah mesum sekali brodi! Otak gue jadi hilang kesucian nih." cicit Reza bergidik ngeri.


Pletak


Refan menjitak keras kepala Reza.


"Halah sok suci lu! Anak aja udah otw satu. Itu berarti lo udah nyobain banyak celupan, banyak jepitan, banyak kenikmat-"


"EKHEMMMMM!!!" deheman keras itu berasal dari Izza yang sudah malu sendiri karena semua orang menjadikannya pusat perhatian. Karena mulut Refan yang blong tanpa rem!


"Bisa diem ga mulutnya? Ada banyak orang nih." omel Izza geleng-geleng.


"Ehehe maap ay, keceplosan."


"Lo juga Re! Ga usah sok suci. Lo bukan bayik lagi!!" sungut Izza berganti sasaran. Reza melet, bodoamat.


"Lah yang penting gue ga ikut melebar wleeee." ledeknya keluar topik. Izza melotot lagi dengan kepalan tangan.


"Lo mau gue geprek hah?!!"


"Huu gendut kan lu? Refi tambah gendut wle wleeee!!" seru Reza makin gencar meledek adik kembarnya. Izza langsung menoleh pada Refan dan merangkul lengannya dengan sangat manja, tak lupa dengan wajah cantiknya yang dibuat seimut mungkin.


"Aaaa Epaaaannn aku diledekin!!" adu Izza mengerucutkan bibir. Refan mencubit pipi istrinya dengan sangat gemas. Awalnya tadi dia mau nyosor, tapi tak jadi karena mengingat keramaian disekitar mereka.


"Gue aduin ke bang Rendy lu Re!" ancam Refan. Cara balas dendam dengan cara yang sangat tak terduga! Reza langsung kalang kabut, sementara Refan tersenyum miring penuh kemenangan.


Ia tau kelemahan Reza. Ia tau kalau laki-laki bernama lengkap Rendy Mahaputra Alexander itu bukan hanya pantangan dan nama keramat bagi Refan. Tapi itu juga berlaku bagi Reza. Karena sampai sekarang pun, Rendy masih menjadi si galak pemegang tahta tertinggi di keluarga besar Alexander, tentunya setelah Izza.


Bagaimanapun, Izza adalah satu-satunya bunga mekar diantara lima Alexander yang lain. Satu putri mahkota dengan lima pangeran disekelilingnya. Siapa juga yang ga bakal iri dengan takdir hidup Izza yang sangat-sangat sempurna ini?


Gue iri, gue bilang.


-Author2021


Ajeng dan Izza hanya bisa saling memandang heran. Setelah debat masalah sugar dan makanan gratis, kedua lelaki itu malah jadi main ancam-mengancam.


"Ga seru lu! Baperan. Bawa-bawanya langsung ke abang gue." ucap Reza memutar bola matanya malas.


"Dih siapa suruh lu ngatain istri gue."


"Ya kan-"


Drtt drtt


Reza buru-buru merogoh saku jaketnya yang tidak bergetar. Mengeluarkan iPhonenya lalu memasukkannya lagi.


"Ternyata emang bukan hp gue yang bunyi, Fan tuh Hp lo tuh!!" ucap Reza dengan watadosnya. Ia menunjuk benda pipih menyala yang diletakan di kursi plastik milik abang-abang penjual bubur.


"Kalo udah tau ngapain lo ngeluarin Hp?" tanya Izza heran. Ia curiga kalau otak kembarannya ini makin geser.


"Ya iseng doang sih. Mau coba ngeluarin bisa racun juga kan ga bisa? Gue bukan ular cobra." jawab Reza ngawur. Oke, Izza tersenyum paksa. Rupanya saudara kembarnya ini benar-benar kehilangan setengah akal warasnya.


"Sakit lu!" semprot Izza. Reza nyengir polos. Bersamaan dengan itu, Refan menyenggol lengan Izza sebagai kode.


"Aku angkat telfon dari Rafael dulu ya?" pamit Refan yang kemudian berjalan agak menjauh setelah dapat anggukan setuju dari istrinya.


"Jeje?" panggil Izza setelahnya .


"Apa?"


"Suami lo sakit. Anterin berobat gih sebelum makin parah!" suruh Izza. Ajeng malah tertawa.


"Emang dari dulunya udah kek gini Za, ga bisa di otak-atik lagi."


"Depresot berat gue punya sodara macam ini." cicit Izza geleng-geleng kepala. Reza mengacak-acak rambut Izza dengan gemas kemudian menariknya ke dalam dekapan hangat, ada rindu yang tersalurkan didalamnya.


"Dari tadi marah mulu! Lo ga punya inisiatif buat meluk gue apa?" tanya Reza memeluk Izza dengan erat. Dua bersaudara kembar yang sejak dalam rahim sudah hidup bersama dan akhirnya kebersamaan itu harus berakhir karena proses dewasa. Ya! Itu adalah definisi rindu bagi seorang Reza kepada adik kesayangannya, Izza.


"Tadinya mau, tapi elu rese main body shaming. Kan gue jadi mood breakdown!" sungut Izza sebal. Reza tertawa.


"Bercanda doang elah! Hormon hamil lu serem amat sih? Gitu doang baperan."


"Baperan matamu!"


"Galak amat lu nyet!"


"Bodoamata wleeee!!" pekik Izza melepaskan pelukannya sebentar hanya untuk memeletkan lidah. Reza tertawa kecil kemudian kini Izza yang berinisiatif memeluk Reza lebih dulu.


"Aaaa kangen Ejaaaaaaa!!" pekik Izza menenggelamkan wajahnya di pundak kakak kembarnya ini. Reza mengelus puncak kepala Izza dengan penuh kasih sayang yang sangat lembut. Si jahil yang selalu jadi soft boy tiap menghadapi adiknya ini bahkan tak pernah merubah perilaku manisnya meskipun ia sudah punya istri.


Tak masalah! Karena Ajeng sudah bisa memahami semuanya, wanita itu malah senang melihat kedekatan suami dan iparnya yang tak pernah keropos digerogoti waktu.


"Gue kangen nempokin bantal ke muka lu biar bangun tidur haha." ucap Reza tertawa mencibir. Izza tertawa kecil.


"Iya sama! Gue juga kangen ngelempar kepala lo pake guling karena berisik mulu pagi-pagi."


...****************...


Oke, dari keuwuan kembar Alexander itu kini kini bergulir ke kembar Dirgantara ya!


📞Rafael is calling....


Refan : Apaan pagi-pagi nelpon? Nyari temen jogging lu? Ga dulu deh. Jauh Fel!


Rafael : Nyerocos mulu. Dengerin dulu b*ngke!


Refan : Haha. Apaan?


Rafael : Gue udah sampek di rumah nih.


Refan : Hah? Lo baru pulang kerja? Terus ngapain lo ngabarin gue? Lo mau gue terbang ke NY buat bikinin lo kopi gitu?


Rafael : Bukan gitu loh bodoh!


Refan : Ya terus?


Rafael : Gue udah sampek di rumah papa. Gue di Jakarta sekarang!


Refan : HAH?!!


Rafael : Ga usah lebay lu!


Refan : Lo seriusan nih?


Rafael : Iya lah.


Refan : Lah bukannya kemarin udah gue larang? Lo bandel banget jadi om-om.


Rafael : Kan gue udah bilang, gue cuma ngasih tau bukannya minta izin! Pas gue nelpon kemarin, gue udah di dalam pesawat.


Refan : Astaghfirullah akhi. Berdosa sekali kamu!


Rafael : Gue abangnya, jadi ya terserah gue!


Refan : Lo ga bohong beneran nih? Kok gue masih ga percaya ya?


Rafael : Lo daripada bacot mulu, mending buruan kesini bawa si Izza juga sekalian. Stella pengen ketemu! Mau gue ajak ke rumah lo tapi dilarang sama mama, mama maunya lo yang bawa Izza kesini sekalian dinner nanti malam.


Refan : Ok-


Tut tut....


"Sialan! Emang laknat banget nih abang-abang satu. Punya sodara cuma satu, kelakuannya suka seenak jidat gini pula!!" gerutu Refan kesal. Rupanya ada yang sedang tidak sadar diri! Refan tak punya kaca untuk melihat dan menyadari kalau sifatnya sendiri 11-12 dengan Rafael.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰