IZZALASKA

IZZALASKA
83. Is the last?



(Buat bab ini dan seterusnya, author saranin kalian baca ulang bab 79 sama 82 dulu ya! Sorry karena kalian lupa alur karena author lama update hehe:<3 jadi karena author bakal mulai lanjutin IZZALASKA ini sampe tamat, kalian harus baca 2 bab itu dulu ya biar bisa nyambung)


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Keesokan paginya, Refan yang tak berangkat ke kantor hari ini pun tetap menuruni tangga seperti biasa di jam tujuh tepat untuk sarapan. Ia tak menemukan keberadaan sang istri di kamarnya, jadi kemungkinan besar istrinya itu sudah menunggunya di meja makan.


"Ay?" panggil Refan celingukan saat sampai di ruang makan. Nihil! Izza tak ada di meja makan, ia melangkahkan kaki masuk kedalam dapur.


"Ayang?!" panggilnya lagi, namun tetap nihil.


"Eh tuan sudah turun?" sapa ART kesayangan Izza yang merawatnya dari bayi, bi Ina.


"Iya bi."


"Pasti tuan lagi nyariin non Izza ya?" tebak bi Ina, Refan tentu saja langsung mengangguk antusias.


"Iya, bibi tau Izza kemana?" tanya Refan, bi Ina mengangguk sambil menunjuk ke samping.


"Tadi ke taman samping sama peliharaannya."


"Oh, oke." pungkas Refan yang langsung pergi dari ruang makan dan menuju ke taman samping.


.........................


"Ututututuuuu cantik banget Ralu gue...." puji Izza gemas melempar-lempar snack untuk ular peliharaannya yang ada di dalam kandang hitam bernuansa merah kertas.


"Ay kamu- LOH KOK?!!" kaget Refan saat Izza menoleh dan menenteng kandang mini milik ular kobranya yang dipenuhi dengan lembaran uang merah sebagai alas.


"Itu uang asli ay?" cicit Refan masih tak percaya. Izza mengangguk.


"Kan semalem kamu yang ngasih saran ay... Aku lakuin sesuai arahan dari kamu nih! Cakep juga kandang item campur merah uang."


"Tapi aku bercanda...."


"Oalah kamu cuma bercanda?" tanya Izza ikutan kaget.


"Iya, yakali ada ular tidur di atas duit."


"Ya aku kira kamu serius buat Ralu hehe, sorry...." kekeh Izza nyengir.


"Ya udah nggak papa, ayo sarapan. Aku mau keluar habis ini." ajak Refan menggandeng jemari tangan wanita kesayangannnya.


"Mau kemana lagi?"


"Transaksi-"


"Masih?" potong Izza memicingkan mata. Refan menaikan sebelah alis, heran melihat ekspresi tak suka yang ditunjukan oleh istrinya ini.


"Hah? Ya maksud kamu? Kan emang udah kerjaan aku itu dari dulu sayang...."


"Dulu kan belum ada ini!!" sungut Izza menunjuk perutnya yang sudah sangat besar, wajar saya karena HPL juga sudah semakin dekat. Hanya sekitar kurang dari dua minggu.


"M-maksud kamu?"


"Ya aku takut kamu kenapa-kenapa lah! Bukan cuma buat aku ya, kamu sekarang juga punya tanggung jawab sama calon bayi kita kalo kamu lupa." omel Izza cemberut.


"Aku ga bakal terluka sayang, janji deh!!" rayu Refan mengacungkan dua jari peacenya. Izza masih tak merubah ekspresi.


"Dih kenapa masih cemberut sih? Kamu ga percaya sama kemampuan suami kamu ini?"


"Percaya, tapi takdir ga ada yang tau ay-" lirih Izza seolah mendapat firasat aneh.


"Ssstt udah! Takdir ga akan misahin kita sebelum kita punya anak cucu. Ga usah mikir aneh-aneh gitu ah, serem banget haha." ledek Refan di akhir kata yang akhirnya membuat Izza tertawa meski dengan nada kesal.


"Tau ah ngomong sama kamu mah gitu mulu!!"


"Biar ga kaku lah...." jawab Refan santai sambil merangkul pundak sang istri menuju meja makan untuk sarapan.


'Andai aku bisa kasih tau kamu soal rencana penyerangan besar-besaran ini ay, tapi nggak. Aku ga akan pernah ngasih tau kamu karena aku tau kamu ga bakal diem aja ngebiarin aku sama yang lain perang sendiri. Kamu sama debay kembar kita adalah prioritas aku sekarang ini!'


****************


Bergeser ke ketua sementara dari kubu sekutu, Genta sendirian berjalan menyusuri lorong apartemen untuk menemui Dandy yang semalam memintanya datang.


Ting tung.


"Ni orang ngilang kemana sih? Semalem dia yang nyuruh gue kesini, sekarang malah ngilang." gerutu Genta di depan pintu. Dandy menghubunginya semalam karena ada yang ingin disampaikan, tapi yang meminta tak kunjung membuka pintu.


Drtt drtt. Handphone di saku jas Genta berdering.


[Dandy is calling....]


Genta : Dimana? Gue udah didepan.


Dandy : Masuk aja bang, passwordnya 121314


Genta : Oke.


Cklek. Genta segera memasuki apartemen setelah memasukan enam digit password dan pandangannya langsung tertuju pada punggung Dandy yang membelakanginya di ruang tengah.


"Lo kenapa kek banyak beban gitu?" tanya Genta memperhatikan tampang Dandy yang tak karuan.


"Hufftt bingung banget gua bang."


"Bingung gimana maksud lo?"


"Ya soal Bima yang ngira Queen udah kelar lahiran itu lah! Gue sama Niko udah ga bisa ngulur waktu lagi." ucap Dandy mengacak kasar rambutnya.


"HPL Queen jatuh di minggu-minggu ini sih Dan, tapi lo tenang aja soal itu.... Refan udah nyiapin tempat aman buat keluarga besarnya termasuk Queen juga kok." ucap Genta menepuk-nepuk pundak rekannya ini.


"Tapi yang paling gue khawatirin bukan itu bang...." cicit Dandy lesu.


"Terus?"


"Kalo untuk masalah Queen kayaknya kita ga perlu seprotect itu. Gue lebih khawatir sama perang ini apalagi Refan..."


"Bentar! Soal Queen, kok lo bisa bilang gitu?"


"Ya karena targetnya Bima itu si Refan, tujuannya emang buat ngerebut Queen tapi yang diincar cuma nyawa Refan. Kata Niko, Bima itu cinta mati sama Queen. Dia ga bakal nyelakain Queen apalagi nyentuh dia, berarti masalahnya ada di kita semua dong? Terutama Refan sendiri." jelas Dandy, Genta manggut-manggut santai dengan senyum tipis.


"Lah ya malah bagus dong kalo gitu! Kita jadi bisa lebih fokus ngalahin Bima kalo kita udah tau Queen bakal tetep aman."


"Nanti bis-"


Drtt drtt. Satu pesan masuk, Genta segera mengecek aplikasi ijo di hp nya.


[Message from Leon]


Bang lo dmn? Gw sm Repan udh deket sm pelabuhan.


"Gue ada transaksi barang bareng Leon sama Refan, lo atur gimana baiknya aja sama si Niko. Asal kita jangan sampe lost kontak, semuanya bakal tetep aman terkendali Dan." pamit Genta langsung setelah mendapat kabar posisi dari Leon, mereka bertiga langsung yang menangani transaksi barang itu hari ini.


"Gue nyuruh lo kesini bukan cuma buat tau lo mau transaksi kali bang." dengus Dandy.


"Lah iya gue sampe lupa, terus ada apaan lagi lo nyuruh gue kesini?"


"Nih." ucap Dandy sambil menyodorkan sebuah flashdisk. Satu alis Genta terangkat naik.


"Buat?"


"Niko nyalin banyak banget file berisi info dari komputer Black Dragon termasuk strategi mereka di perang nanti." ucap Dandy saat Genta memperhatikan bentuk fisik flashdisk itu dengan cermat.


"Ini bisa dipercaya beneran kan?"


"Bisa lah, Refan sendiri yang bilang kalo Niko itu temen lamanya."


"Bagus deh kalo gitu."


"Lo rundingin masalah ini sama yang lain secepatnya deh, tentuin juga kalian mau nunggu musuh dateng atau kalian yang datengin musuh ke sarangnya. Gue sama Niko ikut keputusan kalian aja." tutur Dandy mengangguk, Genta mengangguk.


"Kita kayaknya bakal nunggu aja Dan, lagian gue sama yang lain udah atur posisi penyerangan. Lo sama Niko harus tetep jadi gengnya Bima sampai lo berhasil bawa dia masuk ketemu Refan sama Rafael...."


"Gue ga bakal ditebas sama kubu sendiri kan?" tanya Dandy bergidik, Genta tertawa kecil.


"Ya ga bakal lah ege, mereka kan tau siapa lo dan Niko. Asal lo berdua juga jangan asal nyerang orang dari kubu kita."


"Sip deh." jawab Dandy lega."


"Dan untuk rencana selanjutnya dan kode rahasia yang bakal di pake tim kita, gue bakal kabarin kalian berdua lagi besok!"


"Oke bang."


"Ya udah gitu aja dulu, gue mau cabut."


"Ya."


.........................


"Mahli...."


"Nama gue Ilham plis!!"


"Iya ya Ham...."


"Paan Jah?"


"Hah?!"


"Refiandra Ijah Alexander kan?"


"Pala lo njeng! Panggil nama gue yang bener sat." dumel Izza melotot galak, Ilham meringis ngeri melihat kedua tangan Izza mengerikkan pisau dan garpu di piring.


"Udah udah iye gue salah...." cicit Ilham meraih tangan Izza agar dengung ngeri dari piring itu hilang. Ia dan Izza sedang makan siang di sebuah cafe di dekat perumahan Izza, awalnya Izza ingin pergi sendiri tapi entah feeling atau apa, Ilham menawari Izza untuk makan siang bersama karena Salma sedang di Bogor. Akhirnya mereka sepakat untuk lunch bareng saat itu juga.


"Ck."


"Ada gerangan apa kanjeng ratu?" tanya Ilham mode merayu. Izza menghela nafas panjang.


"Kenapa gitu?" tanya Ilham lagi.


"Gue khawatir...."


"Sama?"


"Refan."


"Aelah lu kek ga pernah ditinggal dia kek gitu aja, ntar sorean juga pasti udah balik."


"Ya tetep aja...."


Sementara di sudut Jakarta yang lain....


Dor dor dor.... Dua kubu saling melepaskan peluru panas dari senjata masing-masing, berusaha saling membunuh. Transaksi itu ternyata tidak berjalan mulus seperti dugaan awal, setelah senjata berpindah tangan kepada Refan dan Ilham, tiba-tiba ada musuh yang langsung membidik mereka dari belakang. Beruntung Genta yang saat itu mengawasi kedua rekannya dari sudut lain bisa menepis timah panas itu hingga akhirnya meleset.


Sudah banyak yang tertembak, tapi sialnya mereka terus berdatangan. Mereka bahkan tidak sempat meminta bantuan karena harus menembak lawan yang terus menekan pergerakan mereka hingga terpojok.


"Sial, mereka datang dari mana sih?!" kesal Genta mengisi ulang pistol yang sudah kehabisan peluru itu.


"Dari kanan bang, untungnya sisi kiri buntu jalan." jawab Leon sambil terus menembak, kedua orang itu sama-sama berlindung dibalik kontainer berkarat di sisi utara.


"Maksud gue anak geng mana sialan." ketus Genta sebal setelah ia juga kembali ke posisi menembak.


"Oh kagak tau, eh Refan mana?" tanya Leon celingukan. Ia baru ingat kalau saat melarikan diri bersama senjatanya, mereka berdua berpisah arah.


"Ga usah panikan, noh di depan dia." tunjuk Genta ke tempat Refan yang berada tak jauh dari tempat mereka.


Dor dor dor... Baku tembak terus terjadi tanpa ada tanda-tanda akan selesai. Hingga puncak ketegangannya terjadi saat Refan kehabisan amunisi, untungnya ia memiliki peluru lain di jaketnya. Segera saat itu ia mengalihkan perhatiannya dari musuh ke senjatanya yang kosong.


"Refan kehabisan peluru." bisik Genta disela tembakan, Leon mendelik lalu segera mengalihkan pandangannya ke sang bos. Benar feelingnya saat itu, pasti akan ada musuh yang memanfaatkan lengahnya seorang Refan.


Seorang lelaki bermasker hitam dengan topi dan senjata di tangannya tengah berdiri di atas mobil box yang menghalangi tubuh Refan dari serangan samping. Lelaki itu berada tepat di atas Refan yang tambah lemot dalam mengisi ulang senapannya, aneh?


"FAN REFAN WOY AWAS!!!" teriak Leon nyaring. Refan menoleh kaget, sepertinya ia tersadar dari lamunannya saat itu.


Saat menoleh, barulah Refan melihat ada pantulan bayangan seseorang di atas mobil. Refan mendongak terkejut melihat sepasang mata elang tengah menatapnya tajam, tangannya siap diatas pelatuk, siap menembak tanpa mengizinkan Refan mempersiapkan diri.


Dan.... DORRR!!!


****************


GUYS KITA AKTIF LAGI YA!!! JANGAN LUPA NYALAIN NOTIF UPDATENYA.🖤🖤