
🎶Takkan ada yang bisa mengganti
Semua rasa ini padamu
Ku mulai merasa-
Kriet
Mendengar suara decitan pintu. Nyanyian Izza langsung berhenti dan ia menoleh.
"Loh kamu juga udah pulang ay?" tanya suara berat yang tak lain berasal dari 'maksud' lirik lagu yang dinyanyikan olehnya tadi.
"Lah kamu juga tumben jam segini udah pulang?" tanya Izza balik. Keduanya melirik jam besar di tengah dinding ruangan, masih pukul 3 sore. Tumben-tumbenan dua bos besar ini sudah pulang di jam setengah siang seperti ini.
Refan kemudian mengangguk dan berjalan mendekat ke arah Izza yang juga menghampirinya. Pertama, Izza mencium punggung tangan suaminya terlebih dahulu sebagai prosesi awal. Kemudian Izza dengan cekatan, seperti biasa mengambil alih tas kerja Refan dan meletakkannya di sofa kemudian membantu Refan melepaskan jas kerja dan mengendurkan dasinya.
Huffttt
Terdengar helaan nafas panjang dari Refan sembari tangannya fokus melepas kancing tangan di kemejanya. Izza yang baru saja meletakkan jas kerja suaminya di punggung sofa pun mendongak, menatap lamat wajah Refan yang masih saja tampan mempesona seperti biasa.
Biasalah!
"Ay?" panggil Izza. Refan mengarahkan sorot bola matanya kepada sang istri.
"Hm?"
"Kamu ga ada masalah kan?" tanya Izza mulai khawatir. Awalnya Refan hanya mengeryit heran, tapi setelah itu ia malah terkekeh.
"Enggak papa kok. Emang kenapa?" tanya Refan balik.
"Ya kamu tadi hela napas udah kek orang ketiban masalah. Kan aku jadi mikir!" sahut Izza penuh teori. Refan tertawa renyah sambil mengelus-elus rambut Izza, setelah itu ia mengecup puncak kepala itu beberapa kali.
"Aku ga ada masalah sayangku! Cuma pengen hela nafas doang." jawab Refan menenangkan. Izza memicingkan matanya tajam, masih curiga.
"Yakin? Kamu ga lagi nyembunyiin sesuatu kan?" tanya Izza masih mengintrogasi. Refan menggeleng lalu menangkup kedua pipi chubby istrinya dengan gemas, menatap dalam ke arah dua bola matanya.
"Emang aku pernah nyembunyiin apa dari kamu? Semua yang aku punya, semua yang aku rasain, semua hal, apapun itu. Aku selalu share ke kamu tanpa terkecuali! Mana ada aku nyimpen apa-apa sendiri hm? Ga pernah kan?" cerocos Refan panjang lebar. Izza masih tak yakin, tapi anehnya ia malah mengangguk refleks.
"Tuh bahasa tubuh emang ga bisa bohong! Mau logika kamu pengennya curiga ke aku, kalau hati sama tubuh kamu percaya ya pasti itu yang valid." sambung Refan lagi. Ia tau kalau istrinya ini sedang bimbang dengan arah logika dan perasaannya yang kontras tak sejalan.
"Mmm tapi kamu ga lagi bohong kan?" tanya Izza sekali lagi. Refan menghembuskan nafas pasrah.
"Enggak bohong sayang!!"
"Oh. Oke!"
"Dih?" cicit Refan heran dengan perubahan mood dan komuk Izza. Yang awalnya curiga dengan wajah serius, kini sudah berubah menjadi tampang santai cool hanya dalam hitungan detik.
"Kenapa?" tanya Izza dengan wajah tanpa dosanya. Refan menggeleng.
"Ga papa ay." jawab Refan geleng-geleng. Refan sudah terbiasa dengan mood Izza yang memang seringnya berubah-ubah hampir tiap menit semenjak hamil besar. Jadi masalah seperti ini sudah tak menjadi masalah lagi baginya.
Refan beringsut duduk di tepian ranjang, melepas sepatunya satu persatu. Sementara Izza masih berdiri di tempat semulanya tadi.
"Eh mmm ay?" panggil Izza. Refan mendongak, kedua kakinya sekarang sudah polos dan terbebas dari sepatunya.
"Apa hm?" tanya Refan dengan satu alis terangkat.
"Pengen makan yang asem-asem." ucap Izza enteng. Seolah keinginan itu muncul dan keluar begitu saja dari pikirannya.
Refan mengerutkan dahi, sementara Izza memasang wajah imut dan tak lupa dengan puppy eyes andalannya. Percayalah! Ia sedang merayu Refan agar menuruti kemauannya.
'Ini pasti ngidam lagi nih. Ngidam gelombang ketiga ya?' batin Refan menebak. Terhitung dari sejak masuk bulan ketiga, ini adalah permintaan ketiga dari sang istri.
-Flashback on-
Pertama, Izza ngidam ice cream coklat. Masalahnya bukan di jenis dan rasa ice creamnya, tapi di lokasi yang dipilih oleh Izza. Bayangkan saja! Hanya untuk makan satu porsi ice cream coklat saja, Refan harus pergi ke Paris terlebih dahulu. Hanya makan ice cream dan berada di kedai itu selama kurang dari satu jam. Dan setelah merasa puas dengan keinginannya yang dipenuhi oleh sang suami, Izza langsung mengajak Refan pulang ke Indonesia. Meskipun sebenarnya lelah dan ingin mengajak Izza check in hotel setidaknya untuk istirahat semalam saja, Refan tetap mengiyakan keinginan perdana bin aneh dari istrinya itu. Jadi kesimpulannya adalah, Refan telah membuang 17 jam 25 menit didalam pesawat (perjalanan ke paris), satu jam di kedai ice crem (menuruti ngidamnya bumil), dan langsung kembali lagi ke bandara dan pulang ke Jakarta dengan menempuh 17 jam 25 menit, lagi. Total 34 jam lebih 50 menit mereka habiskan di dalam pesawat dan hanya satu jam menghirup udara bebas.
Kurang idaman gimana lagi si Refan?
Ini draf foto lama di Izza, cuma ya baru dipost sekarang. Soalnya gabutnya baru sekarang wkwk.
Dan untuk kali keduanya, ini jauh lebih absurd dari TRAGEDI ICE CREAM COKELAT! Bisa kalian tebak? Minta beli barang mahal? Oh tidak. Kalau saja hanya itu, Refan tak akan pusing. Masalahnya adalah ngidamnya Izza benar-benar aneh dan berada di luar nalar Refan. Izza ingin cosplay jadi driver g*car. Catat! Jadi driver, padahal mertuanya adalah pemilik saham dari salah satu badan usaha penyewaan jasa itu juga. Aneh kan? Ya emang.
Mau heran, tapi dia anak emasnya Alexander dan kesayangannya tuan muda Alaska.
Kerandoman ini bermula saat Izza dan Refan keluar dari lobby kantor Rz Corp untuk mencari salah seorang bodyguard khusus yang ia ambil dari BDG. Bukannya menemukan orang yang ia cari, Izza justru malah bertemu dengan seorang bapak-bapak tua pengemudi salah satu layanan sewa jasa itu. Bapak tua yang nampak kelelahan di mata Izza, dan tak tau terkena hembusan angin dari mana, Izza langsung berlari kecil menuju mobil putih yang akan segera tancap gas itu.
Setelah merayu si bapak agar mau bertukar posisi, Izza pun sempat berdebat kecil dengan Refan yang kekeuh menolak keinginan Izza. Tapi karena keras kepalanya dan terus menyebut-nyebut kata 'ngidam' akhirnya Refan berhasil dibungkam oleh Izza yang tak kenal kata 'tidak boleh' itu.
'Kamu mau anak kamu nanti ileran kalo papanya ga mau nurutin mamanya hah? Masa iya Alaska junior ga bisa mingkem? Apa kata dunia dong!'
Ucapan itulah yang akhirnya membuat Refan mengalah dan mengizinkan Izza menjadi sopir g*car untuk satu orderan pertama dan terakhir baginya, tapi dengan syarat Izza harus menyalakan terus GPS Hp nya dan terhubung dengan Refan. Tujuannya tentu cuma satu, agar Refan bisa terus memantau istrinya karena bumil rese ini menolak Refan untuk ikut di dalam mobil.
Mo nangis!
Kalau kalian fikir drama ngidam itu berakhir disini, oh salah! Tak berhenti disini saja. Setelah Izza kembali ke kantornya dengan mobil g*car milik bapak tadi, telepon dari si bapak berdering kencang. Nomornya sama dengan pemesan yang tadi selesai diantar oleh Izza. Anehnya, bukannya berterimakasih karena diantar ke tempat tujuan dengan cepat dan selamat, penumpang itu malah marah-marah.
"Kenapa pak?" tanya Refan waktu itu. Ia heran melihat raut wajah bingung dari si sopir 'asli'. Sementara Izza dengan santainya hanya nyimak sambil memainkan kunci mobil yang masih ia pegang.
"Penumpangnya marah-marah pak." jawab sopir itu sopan.
"Tapi kenapa? Bukannya udah sampai tujuan ya? Atau salah alamat?" tanya Refan tak mengerti. Izza menyenggol lengan Refan dengan kesal.
"Ngawur aja! Kamu fikir aku buta map?"
"Ya kali aja kan ay?"
"Bukan karena itu pak, bu." lerai pak sopir. Keduanya serempak menoleh dan bertanya.
"Terus?"
"Karena anaknya nangis dan ibu-ibunya trauma. Mereka ketakutan selama perjalanan tadi!" jawab pak sopir itu, masih dengan nada sopannya.
"Kok bisa pak?" tanya Refan.
"Katanya sih terlalu ngebut, terus nyalip banyak mobil gede gitu pake jalan zig zag. Ibunya bilang, naik g*car berasa ikut final moto GP."
"Btw, emang jadi pembalap itu adalah cita-cita saya pas masih TK pak. Pengen banget bisa balapan di sirkuit, tapi tiga abang saya semuanya ngelarang. Jadi ya hanya tinggal kenangan dan harapan yang terpendam pak!" sahut Izza jujur dan memasang wajah miris. Pak sopir itu manggut-manggut.
'Pantes aja penumpang takut, ternyata dia punya jiwa pembalap dalam darahnya.' batin bapak itu.
"Kamu apain aja penumpangnya tadi ay? Jangan sembarangan kamu ya. Kalo penumpang tadi ngerate buruk, itu sama aja kamu memperburuk reputasi sopir ini tau!" omel Refan beralih ke sang istri yang mengeryit, masih tak merasa bersalah.
"Dih? Emang aku ngapain? Aku cuma nurutin request dari ibu-ibu itu doang kok!" jawab Izza dengan watadosnya.
"Maksudnya request?"
"Tadi ibunya gugupin aku mulu! Dia bilang, minta harus cepet sampai ke tempat les privat, dia ngancam kalo anaknya telat nanti rate di g*car bakal dikasih bintang satu. Ya udah aku ngebut aja biar cepet sampai, tapi tenang ay! Masih ditaraf wajar kok, cuma sekitar 140an Kmh doang tadi." jelas Izza panjang lebar. Refan melotot, sama kagetnya dengan pak sopir.
'Ini mba-mba pengen jadi pembalap atau emang udah jadi sih sebenernya? Udah hamil aja masih bisa mikir ngebut.' batin sopir ngeri.
"14 kamu bilang doang? Ay itu bahaya loh. Kamu lupa ya sekarang udah ada anak-anak kita heh?!" omel Refan geleng-geleng kepala. Izza mengendikkan bahunya acuh.
"Yang penting kan cepat, akurat dan selamat! Ini buktinya aku masih bisa berdiri nemuin kamu." jawab Izza kemudian berjalan menuju si bapak, enggan memperdulikan Refan yang ngamuk.
"Pak makasih ya udah bantuin ngidam saya hehe? Uang bayarannya tadi saya tinggal di dalam mobil ya. Sekali lagi terimakasih, saya permisi!" pamit Izza dan pergi begitu saja. Refan melongo, menatap kepergian punggung sang istri yang makin menjauh masuk ke dalam kantor.
"Iya pak, ga masalah kok. Lagipula ibu-ibu tadi tetap memberi rate tinggi. Hanya saja ibunya berpesan untuk tidak mengulangi kesalahan yang tadi."
"Kalau begitu ini untuk bapak ya, tolong diterima!" ucap Refan mengeluarkan cek dari dalam kantong, ia merobek satu lembar dan diberikan kepada sopir itu. Refan selalu menyediakan cek yang sudah tertulis rapi untuk ia bawa kemana-mana dengan jumlah yang sama. Alasannya agar ia tak perlu bersusah payah menulisnya lagi.
"Eh waduh tidak usah pak, untuk apa uang sebanyak ini? Istri bapak tadi kan sudah bilang meletakkan uang bayarannya di dalam mobil?" tanya sopir itu menolak. Refan menggeleng tak kekeuh ingin orang itu menerima cek darinya.
"Saya ikhlas pak, anggap saja ini sebagai permohonan maaf karena ulang rese istri saya ya? Sekali lagi terimakasih, saya permisi." pamit Refan menyusul Izza, pergi dengan begitu saja meninggalkan pak sopit yang masih ngebug sambil menimangi cek bernominal fantastis itu.
"50 juta ini akan saya apakan ya?"
-Flashback off-
"Ih ayang! Malah ngelamun. Mulutku pahit nih, pengen makan yang kecut-kecut!" protes Izza menggoyang-goyangkan pundak Refan. Refan tersadar dari wisata masa lalunya itu.
"Eh hah?"
"Pengen makan yang asem-asem kecut!" ulang Izza penuh penekanan. Refan auto tersenyum tengil.
"Makan aku aja gimana?" tanya Refan menaik turunkan alis. Izza menatapnya malas.
"Ih seriusan ay ah!"
Greb
"Hehe iya iya, mau makan apaan hm?" tanya Refan setelah berhasil menarik Izza dan membawanya ke dalam dekapan. Izza duduk diatas pangkuan kaki Refan.
"Manga muda." jawab Izza spontan. Matanya berkedip-kedip, sok imut tapi emang imut. Refan menggertakkan giginya karena gemas.
"Oke mangga muda, aku catet! Mau berapa bungkus? Berapa kardus? Atau berapa kebun hm? Bilang aja cepet!" tanya Refan penuh tawaran menggiurkan. Sayangnya bukan kemewahan dan banyaknya jumlah yang Izza mau, tapi sesuatu sensasi yang lain.
"Ih ngapain banyak-banyak? Kamu mau bikin aku mati keaseman?" tanya Izza geleng-geleng kepala.
"Ya terus mau berapa dong?" tanya Refan, tangannya menyelipkan anak rambut Izza dengan penuh lembut dan kasih sayang
"Satu biji aja lah, tapi yang gede."
"Punyaku juga cuma satu, gede juga kan? Biasanya juga itu yang jadi mau kam-"
"Ay! Serious mode please!" sentak Izza jengah. Tatapannya datar dan dingin, benar-benar ingin menerkam habis otak ambigu dari suaminya ini. Refan nyengir dan menatapnya ngilu.
"Hehe iya iya lanjut!!"
"Mau satu buah aja mangganya, tapi yang gede dan setengah mateng." ulang Izza menegaskan. Refan mendelik.
"Lah? Masa iya aku beli cuma sebiji doang? Apa kata orang nanti kalo tau, Refan Alaska Dirgantara beli mangga sebiji doang? Kamu yang serius dong ay ah!" sahut Refan geleng-geleng tak percaya.
"Lah? Siapa juga yang suruh kamu beli?" tanya Izza mengeryit heran. Refan ikut mengeryit.
"Lah terus?"
"Ambil ay bukan beli, aku mau mangga yang ada di samping pos satpam komplek." ucap Izza meluruskan kesalahpahaman Refan. Refan makin mendelik, melongo, mengkaget dan mengheran karena request ini. Ngidam yang makin harinya makin ngawur! Is real.
"Hah?" tanya Refan cengoh, Izza justru mengangguk dengan sangat mantap. Tanpa beban dan ragu sedikitpun!
"Iya! Aku mau mangga yang baru dipetik dari pohon di samping pos komplek, bukan mangga lama yang di toko-toko itu!" jawab Izza penuh harap. Memasang puppy eyes lagi, Refan pun mengangguk sanggup.
"Ya udah bentar, biar aku suruh Ujang." ucap Refan merogoh iPhonenya, Izza mencekal tangan itu. Mencegah Refan agar tak menghubungi Ujang yang saat ini pasti sedang bertugas menjaga halaman belakang.
"Haiss ngapain nyuruh Ujang?" tanya Izza mengerutkan kening.
"Lah kan kamu minta mangga kan? Aku mau suruh Ujang ke sana terus manjat pohonnya dan bawa mangga itu ke sini lah." jawab Refan enteng karena memang itulah kenyataannya.
"Emang anak yang aku kandung ini dari Ujang hah?!!" tanya Izza ngegas. Refan menggeleng cepat, menatapnya tajam.
"Ngawur!! Ini anak dari kecebong aku lah! Mana ada Ujang segala heh." omel Refan.
"Terus kenapa nyuruh Ujang? Ini anak kamu, yang bikin kamu, yang menginginkannya juga kamu, berarti ya harus kamu dong yang usaha!! Jangan nyuruh orang lain, emang kamu pikir ini anak hasil iuran bersama apa gimana? Atau kamu pengen anak ini nanti malah miripnya sama Ujang, bukan mirip kamu?" tanya Izza nyerocos.
Refan mendelik tak terima. Enak aja! Anak yang dikandung Izza jelas adalah hasil percocokan tanam antara dirinya dan Izza, benihnya unggul dari mereka berdua. Ya jelas harus mirip sama Refan lah. Ujang, kick out!
"Anak aku ya harus mirip aku lah!" sahut Refan ikutan ngegas karena terbawa suasana Izza.
"Makanya harus kamu yang usaha buat anak kamu! Ga ada nyuruh orang lain." sungut Izza lagi. Refan menunjuk dirinya sendiri menggunakan telunjuk kanan.
"M-maksud kamu? Aku manjat sendiri gitu?" tanya Refan melongo tak percaya. Izza mengangguk.
"Manjat gedung markas tiga tingkat aja bisa, masa manjat pohon mangga yang ga sampek empat meter doang ga bisa?" tanya Izza savage! Refan menggaruk tengkuknya gusar. Bukan masalah bisanya, tapi masalah image nya. Ini Izza ngidam atau sedang menguji ketahanan tahta dan kehormatan Refan sebagai ketua gangster terkenal sih? Bisa-bisanya orang yang disebut-sebut sebagau pencabut nyawa, malah diminta memanjat pohon. Pray for Refan!
'Kenapa ngidamnya ga yang berbau duit aja sih? Bisa-bisanya gue disuruh cosplay jadi monyet.' batin Refan melas.
"Mau ga? Kalo ga mau ya ud-"
"Eh eh siapa bilang aku ga mau?" sergah Refan cepat sebelum ibu negara ngamuk dan berakhir ngambek.
"Ya itu lama banget mikirnya!"
"Aku mau sayang!! Ya udah aku ke depan dulu ya?" ucap Refan dengan jarum pengendali kesabarannya yang berada di puncak tertingginya.
"Aaa makasih ayang!!" ucap Izza langsung nyosor mengecup bibir suaminya dua kali.
Cups cups
Refan mengangguk pasrah, berdiri bersama dengan Izza.
"Ya udah aku ambil barang emasnya tuan putri dulu ya?" pamit Refan. Izza mengangguk.
Tapi saat sampai di depan pintu, Izza berteriak kencang.
"EH SAYANG!!" panggil Izza dengan suara toa. Refan menoleh dengan satu alis terangkat dan satu tangan memegang knop pintu.
"Ada tambahan lagi?"
"Hehe iya. Mangganya aku mau yang asem tapi ga asem ya!!" pesan Izza. Refan auto ngebug.
"Hah? Gimana gimana? Asem tapi ga asem itu kek gimana maksudnya ay?" tanya Refan berkacak pinggang, berfikir keras tentang maksud istrinya ini. Izza berdecak malas, masa iya sih permintaan semudah dan sesimpel ini saja Refan tak bisa memahaminya?
Simple? What the hell Izza?!!
"Ya yang asem tapi ada manisnya gitu, jangan manis yang terlalu asem. Eh gimana si maksudku? Ah pokoknya yang gitu lah... See you sayangku. hati-hati ya manjatnya!!"
"Iya sayang iyaaaaa!!"
Cklek
"Huftt untung aja gue sayang bini sayang jabang bayi, kalo enggak sih mending gue gantung diri aja di pohon cabe." gerutu Refan lirih setelah menutup pintu. Baru beberapa langkah dan ada suara decitan pintu bersamaan dengan teriakan melengking khas milik wanita kesayangannya itu.
Kriet
"AYANG HATI-HATI YA JANGAN SAMPEK DI GIGIT SEMUT RANGRANG!! NANTI AKU CEMBURU LOH AHHAHAH." teriak Izza tertawa meledek. Refan memutar bola matanya malas.
Sekarang ia tau, kalau aksi ngidam ini bercampur dengan pembalasan dendam sekaligus ajang perjulidan bagi Izza.
"Istri prik!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰