IZZALASKA

IZZALASKA
63. Di ruang penyekapan



Jdug


"Siapa itu?!!" teriak Rafael menggema di depan pintu gelap. Ia baru saja akan pergi dan mendengar suara barang tersenggol jatuh.


"Ada orang?"


Nihil tak ada sahutan.


"Keluar lo!" pekiknya lagi. Sementara itu seseorang berpakaian serba hitam tanpa logo di jaketnya itu tampak sedikit panik bersembunyi di belakang tumpukan balok kubus.


"Sial! Bisa mati konyol kalo gue ketangkep." lirih orang itu memutar otak, ia harus mencari cara untuk bisa terlepas dari leader musuhnya itu.


Tap tap tap


"Ada siapa si? Mau keluar sendiri atau gue temuin hah?!!" gertak suara berat itu lagi.


Suara derap kakinya terdengar makin keras dan mendekat. Fani, ya orang suruhan Bima di Bloody Dragon itu tadi sempat mengintip dan mengutit pembicaraan leader lawannya di sebuah ruangan gelap dan pengap. Dan karena ia tergesa-gesa untuk keluar sebelum orang itu, ia malah dengan tidak sengaja menabrak balok kubus di dekat pintu.


"Gue harus gimana nih?" cicitnya memutar pandangan kesana kemari, dan ketemu!


Cit cit cit....


Fani mengambil tikus di sebelahnya dan mengarahkannya keluar dari belakang tumpukan balok. Tikus itu berlari secepat kilat.


"Ck. Cuma tikus!" maki orang bertubuh tinggi tegap itu. Merasa tak ada yang aneh, ia pun pergi.


"Gue kebelet buang air lagi ah." setelah itu, suara serta langkah kakinya menjauh pergi. Fani menghembuskan nafas lega.


"Huffttt masih untung gue selamat! Gue udah tau Doddy ada di sini sama mereka, sekarang gue harus keluar dari sini sebelum ada orang lain lagi yang masuk ke sini." gumam Fani bermonolog. Setelahnya ia langsung bergegas pergi dari ruang bawah tanah milik Blood Wolf.


...****************...


"Kok mereka lama ya Za?" tanya Stella bosan. Ia dan Izza sedang duduk santai di sofa tepatnya di atas rooftop rumah Izza, di lantai tiga. Izza tampak memejamkan matanya santai.


"Alah udah biasa kali Stell, elu mah kek baru kenal mereka setahun dua tahun aja ah."


"Ya iya sih tapi kan biasanya Rafa ngabarin, ini kok enggak?" tanya Stella lagi. Izza tertawa.


"Oalah jadi ceritanya kangen toh?" ledek Izza. Stella berdecak.


"Ya ga gitu juga, takut dia kenapa-napa tau! Emangnya lo ga khawatir? Kan Refan juga sama aja ga ada kabar dari tadi." sahut Stella.


"Gue ga pernah khawatir atau takut soal kerjaan Refan di gangster, asal dia izin pamit dulu. Gue malah lebih takut kalo Refan pergi tanpa ngasih kabar kemana tujuannya. Ya seenggaknya kalo firasat gue tiba-tiba ga enak, gue bisa langsung nyusul buat mastiin." tutur Izza menatap Stella. Stella manggut-manggut.


"Kata-kata lo cukup nenangin tapi gue tetep khawatir. Telpon siapa gitu kek?" rengek Stella.


"Oke, gue telponin Leon."


📞Calling Leon.....


Leon : Hallo bu bos? Ada apa?


Izza : Disana aman kan?


Leon : Aman terkendali Queen, kenapa emang?


Izza : Ga ada apa-apa si, iseng doang mo gangguin lu haha.


Leon : Dih ye gabut amat.


Izza : Haha emang!! Yodah ye makasih infonya, bye.


Leon : Hm.


Tut tut tut...


"Aman terkendali Stell, lo tenang aja oke? Udah gelap gini mending kita masuk rumah aja yuk? Gue khawatir lo masuk angin. Bukannya gimana ye, tapi gue kasian sama calon ponakan gue nih!" ucap Izza beranjak dari sofa. Stella menatapnya malas.


"Helleh bilang aja you ini khawatir sama gue." sindir Stella. Izza tertawa.


"Ya udah apapun terserah lo deh asal lu seneng aja ruk jeruk!!"


"Ahaha sialan."


...****************...


"Dari siapa Yon?" tanya Refan sambil masih terus berjalan ke depan. Leon tadi memang mengangkat teleponnya sambil berjalan tapi ia agak pelan agar tak terlalu berisik dengan suara langkah Refan dan Leon.


Mereka berjalan menuju ruang bawah tanah bersamaan.


"Dari bu bos, telinga lu ga denger heh?" sahut Leon tak santai. Kevin memutar bola matanya jengah,


'bakal ada percekcokan lagi nih.' batin Kevin malas.


"Dari istri gue? Kalo gitu ngapa lu bawa ngejauh?" tanya Refan memicingkan mata. Leon bersimrik.


'Ahha! Godain pak bos seru nih.' batin Leon tercetus sebuah ide. Karena prinsip hidupnya dari dulu adalah menggoda Refan dan membuatnya ngamuk.


"Iye, gue emang sengaja karena gue ada rencana mau nikung lo bos! Ya lumayan lah gue dapet paket komplit plus sugar mommy kayak si Queen." cerocos Leon enteng.


"Ngapa lu kagak terima hah?!!" sambung Leon lagi setelah melihat ekspresi cengoh Refan. Refan melemaskan tiap jemari tangannya satu persatu.


"Wah ngajak ribut dia Fan!!" kompor Kevin.


"Emang minta ajalnya dipercepat ni anak!" gerutu Refan sebal. Leon berlari cepat dengan sangat tengilnya.


"Aaaaa kabor!! Ada gorila ngamuk. AAHAHHAHAHAA." teriak Leon lebay penuh tawa meninggalkan duo Dirgantara di belakang.


"Temen lu obatnya habis Vin, beliin sono!" suruh Refan bergidik ngeri. Kevin geleng-geleng cepat.


"Dih temen lo juga tuh! Ambil aja sono, ga usah dibalikin juga ga papa."


Sesampainya di ruang penyekapan Doddy.


Kriet


"Cepat sekali dia kembali?" lirih Doddy pelan. Baru beberapa saat yang lalu 'Refan' keluar dari ruangan, lalu kenapa ia sudah kembali lagi bersama dua orang lainnya?


"Apa kabar pak tua?" sapa Refan pertama kali. Ia berjalan menghampiri Doddy yang masih duduk terikat di kursi. Doddy hanya menatapnya lurus, enggan menjawab.


"Ck. Sombong amat!" ketus Leon.


"Tak usah basa-basi." balas Doddy. Kevin terkikik kecil, akhirnya ada yang bisa meng-skakmat manusia tengil bernama Leon.


"Mamp*s lu Yoni!" sembur Kevin. Leon menatapnya malas, Kevin memang menyebalkan.


"Tak perlu banyak bertele-tele, cukup jelaskan secara singkat, lengkap dan jelas!!" tambahnya lagi.


"Mengapa kau masih bertanya lagi? Bukankah kau sudah mendapatkan jawaban dari semua yang kau butuhkan?" balas Doddy bertanya balik.


"Aku bertanya dan kau harusnya menjawab! Bukan malah bertanya balik sialan." ketus Refan mendekatkan wajah mengerikannya pada Doddy. Doddy menelan ludahnya kasar, ia merasa ajalnya seperti akan datang sebentar lagi.


"K-karena aku sudah menjawabnya tadi, aku tak akan mengulanginya! Kau pasti sedang menjebakku lagi kan?" ucap Doddy memberanikan diri. Refan diam sejenak, apa maksudnya ia 'sudah menjawabnya tadi'?


"Kalian udah nginterogasi dia?" tanya Refan menoleh tajam kepada Leon dan Kevin. Dua orang yang tadinya juga bingung dengan jawaban Doddy pun langsung menggeleng kaget.


"Eh eh enggak kok bos!! Serius deh." pekik Leon duluan.


"Sumpah bukan gue juga Fan!!" sahut Kevin ikutan panik. Raut wajah Refan terlalu ekstrem saat ini, siapa saja bisa jadi korban amukannya. Apalagi pawangnya tak ada di sini, bisa habis Leon dan Kevin kalau mereka melakukan kesalahan.


'Bener juga sih, sejak tadi Leon sama Kevin sama gue. Terus siapa yang berani mendahuluiku?' batin Refan bingung.


"Sebanarnya apa maksudmu? Kalau kau berani bermain api denganku, kupastikan kau yang akan terbakar habis!" ancam Refan kembali pada Doddy. Doddy menggeleng.


"Aku tidak sedang bermain. Kenyataannya memang kau sendiri yang tadi mengajukan banyak sekali pertanyaan, kau mengancamku dan aku sudah menjawab semuanya sesuai dengan apa yang aku ketahui. Lalu mengapa sekarang kau kembali mengulangi pertanyaan yang sama dan malah menyebutku memainkan api?" jawab Doddy panjang lebar. Refan berusaha mencerna dan mencari jawaban atas pertanyaan ini.


'Aku? Kenapa jadi aku? Apa aku yang lupa?'


"Lah kok bisa dia bilang gitu ya Pin? Perasaan sejak Refan datang, dia ada di ruangan atas bareng gue deh." bisik Leon pada Kevin di sampingnya. Kevin mengangguk.


"Tadi gue sempet ke bawah, gue juga ga liat ada Refan tuh." balasnya juga berbisik. Refan mendengar bisikan mereka, berarti bukan dia yang lupa tapi Doddy yang sudah gila!


"Aku baru kembali kemari sejak kemarin, dan kau bilang aku sudah menemuimu tadi? Cih apa kau masih waras?" gertak Refan. Ia mengira kalau Doddy sedang benar-benar mempermainkannya.


"Tentu saja masih. Kau yang aneh! Kau baru saja pergi dengan jawaban dan kau malah kembali lagi dengan pertanyaan yang sama dan ingatan pendek." balas Doddy membela diri.


"Apa kau tadi pergi untuk mengganti bajumu?" tanyanya tiba-tiba. Doddy seperti menyadari sesuatu yang berbeda dari orang dihadapannya ini.


"Hah? Apa maksudmu?"


"Kenapa bajumu bisa berbeda dari sejak kau datang tadi? Tadi kau memakai kemeja merah, sekarang kau kembali dengan kaos berjaket hitam?" jelas Doddy yang justru membuat Refan makin bingung.


'Sebenarnya apa yang terjadi sebelum ini?' batin Refan heran.


"Sstt lu kasih minum apaan nih orang? Kok ngomongnya bisa ngelantur kek orang mabok?" tanya Kevin menyenggol lengan Leon. Leon mendelik lalu menggeleng cepet.


"Bukan gue! Gue nggak ngasih apa-apa Pin. Sumpah dah!!" jawab Leon dengan dua jari peace terangkat. Kevin memicingkan mata curiga, curiga kalau Leon meracuni minuman Doddy dengan ramuan-ramuan gila miliknya.


"Awas aja kalo lu boong, gue racunin balik lu!" ancam Kevin. Leon berdecak lesu.


"Astaga terdzolimi mulu gue di sini, punya dosa apa gue dapet temen kek elu Pin. Gue gegabah salah, gue diem juga tetep aja disalahin." keluh Leon melas. Kevin masih menatapnya penuh curiga. Tangannya terulur untuk menonyor kepala Leon.


"Ga usah sok suci! Dosa lo emang banyak. Malaikat aja sampek geleng-geleng ngeliat catetan dosa lu monyet!!"


Kriet


"Mungkin yang dia maksud itu gue." celetuk suara berat yang sangat familiar di ambang pintu. Ketiganya menoleh bersamaan.


"RAFAEL?!!!"


'Sejak kapan kembaran gue pulang?' batin Refan cengoh.


"Ck. Pantes aja Doddy ngeyel Refan habis nanyain dia, ternyata dalangnya si Fael." lirih Kevin mengerti.


"Tuh makan sono racun gue! Nuduh gue mulu kerjaan lu." sahut Leon malas.


"Ya maap! Biasanya lo kan emang suka ngawur duluan."


"Orang yang tadi kesini itu gue, bukan dia." ucap Rafael pada Doddy. Doddy melongo kaget, matanya membulat sempurna. Pandangannya beralih ke kanan dan ke kiri, menatap Rafael dan Refan secara bergantian.


"L-loh? Kok ada dua?" tanya Doddy bingung. Tadi ia yang membuat Refan bingung, sekarang dia yang dibuat bingung oleh kehadiran Rafael.


"Dia sodara kembarnya lah bodoh! Gitu aja ga ngerti." celetuk Leon tak sabaran.


"Lo udah nginterogasi semuanya Bang?" tanya Refan. Rafael mengangguk.


Pletak


"Kenapa ga nunggu gue dulu MONYETTT!!!" semprot Refan menjitak kepala kakak kembarnya. Rafael mengelus bekas jitakan itu.


"Sialan! Sakit tolol!!" balas Rafael tak kalah galak.


"Elu juga kapan datengnya si? Baru dateng bukan nemuin sodaranya dulu malah main bertindak aja." omel Refan lagi. Rafael berdecak.


"Ck. Ya udah sih yang penting gue udah dapet semua jawabannya." jawab Rafael membela diri.


"Termasuk siapa leader baru Bloody Dragon?"


"Kalo itu belum, ini akik-akik rese kagak tau apa-apa soal gangster itu. Dia cuma berurusan sama PSG doang." jawab Rafael santai. Refan percaya, ini sesuai dengan dugaannya kalau Doddy tidak ada sangkut pautnya dengan Bloody Dragon.


"Hey bocah kembar!!" panggil Doddy.


"WUIHHHHH MENGERIKAN!! Udah bonyok gini masih punya nyali juga dia." puji Leon heboh.


"Berani-beraninya manggil lo berdua pake bocah Fel Fan." sahut Kevin kompor, biasalah.


"Kalo gue si ga terima nih." Leon tambah kompor.


"Ada apaan hah?" sahut Refan pada tersangka utama.


"Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau? Sekarang lepaskan aku!" suruh Doddy.


"Dih siapa lu nyuruh-nyuruh bos gua?" tanya Leon.


"Ssttt diem lo berisik!" omel Kevin. Leon auto kicep.


"Aku memang sudah mendapatkannya. Tapi apa kau yakin ingin keluar dari sini?" tanya Refan. Rafael menatap heran kearah saudaranya itu.


'Lagi mainin apaan lagi nih bocah?' batin Rafael berusaha menebak isi otak Refan.


"Tentu saja. Aku punya kehidupan juga diluar sana. Keluargaku pasti menungguku!" jawab Doddy.


"Aku memang akan melepaskanmu kali ini, tapi apa kau yakin kau bisa selamat dan tetap hidup setelah aku membiarkanmu pergi dari markasku?" tanya Refan dengan sudut bibir kiri yang tertarik.


"Apa maksudmu?"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰