
Tap tap tap
Bunyi tapak kaki yang melewati lorong gelap itu menggema di seluruh tempat. Dua orang laki-laki sedang berjalan beriringan menuju ruang paling pojok di sisi kanan lorong.
Sebenarnya tidak segelap itu, hanya saja lorong ini sangat minim pencahayaan. Bayangkan saja di lorong panjang yang hampir mencapai angka 500 meter itu, hanya ada satu bohlam redup yang dipasang di tengah ruangan. Pastinya hanya orang-orang yang sudah hafal tempat ini sajalah yang akan terhindar dari kata 'nyasar'.
Dingin dan pengap. Hanya dua hal yang bisa dirasakan oleh Dandy, sementara Niko yang mengajaknya ini tampak biasa saja tanpa ekspresi. Pastilah karena ia sudah lama dan terbiasa dengan kondisi buruk seperti ini.
"Lo mau ngajak gua kemana sih?" tanya Dandy menggeruru karena Niko tak memberitahunya sejak tadi.
"Ujung." jawab Niko singkat. Dandy berdecak malas.
"Ck."
"Udah sampe!" ucap Niko sambil membuka kunci pintu. Sepersekian detikpun pintu terbuka lebar.
"Ayo masuk!!" ajak Niko menyeret tangan Dandy buru-buru, seolah ia sedang tergesa-gesa.
Dandy bingung. Di ruangan ini benar-benar gelap, jangankan lampu? Setitik cahaya pun tak ada. Segera fikiran-fikiran negatif mengerubungi isi kepalanya.
'Gila! Ni orang dari kemarin kek udah tau kedok penyamaran gua, terus sekarang ngebawa gua ketempat kek begini? Untung aja gua selalu bawa pistol di jaket, jaga-jaga aja kalo ni orang mau ngebantai gua disini.' batin Dandy waspada. Seperti yang selalu dikatakan Queen, "selalu hati-hati dan waspada dalam keadaan apapun. Bahkan air yang tenang pun tak menjamin buaya tiada." itulah yang membuatnya berjaga-jaga dalam hal apapun.
"Tempat apaan nih gelap begini?" tanyanya dalam kewaspadaan.
"Penyimpanan senjata." jawab Niko yang suaranya seperti menjauh, hal ini membuat Dandy memasang indra pendengarannya dengan semakin kuat. Siapa tau kalau Niko diam-diam telah membidiknya dari jauh?
Ctek.
Lampu dengan cahaya putih terang itu segera mengusir seluruh kegelapan tadi. Dandy mengerjap dengan susah payah.
"Kok gue ga pernah tau?" tanya Dandy memutar pandangannya ke seluruh ruangan setelah matanya berhasil beradaptasi.
"Cuma orang berpangkat tinggi yang bisa masuk sini." jawab Niko enteng.
"Gua liat, pangkat lo juga ga setinggi itu." ucap Dandy seenak jidat. Jiwa ceplas-ceplos yang biasanya hanya aktif saat bersama Ilham itu tiba-tiba menyeruak keluar.
Niko berdecak.
"Lo mau gua tembak?" ketusnya. Dandy mendengus.
"Skip baperan! Dahlah to the point aja maksud lo bawa gue kesini tuh apaan?"
"Simpan ini!" ucap Niko menyerahkan sebuah cutter hitam kecil di telapak tangan Dandy. Ia mengambilnya dari dalam bangkar besi tadi.
"Cutter? Buat apaan?" tanya Dandy tak mengerti. Niko benar-benar penuh dengan teka-teki yang membingungkan!
"Ini bukan sembarang cutter, ada racun berbahaya di ujung mata pisaunya. Lo bisa make ini disaat terdesak! Tapi cutter ini cuma bisa dipakai sekali doang." jelas Niko panjang lebar tapi masih tak cukup untuk membuat Dandy mengerti.
"Tapi kenapa lo kasih ke gue?"
"Gue tau lo sebenarnya ada di kubu mana."
Deg.
Dandy tercekat kaget. Apa dia benar-benar tau?
"Jiwa lo itu nggak bener-bener ada di gangster ini. Lo kesini karena tugas lo kan? Gue tau lo tangan kanan BDG." sambung Niko enteng. Ia berdiri dengan menyandarkan punggungnya di bangkar besi tadi.
"Tugas gue tuh sebenarnya bukan buat mata-matain lo disini Don, atau lebih asik gue panggil Dandy?"
Dandy masih tak bergeming, tak berminat sedikitpun untung menanggapi cerocosan Niko.
"Tapi karena lo terlalu terampil mainin senjata sejak pertama masuk kesini, akhirnya gue penasaran dan nyari tau tentang lo. Lagipula aura lo terlalu kuat untuk disebut pemula di dunia bawah yang kejam ini!" pungkas Niko lagi.
Dandy berdecih.
"Terus mau lo apa sekarang? Lo mau lapor ke bos lo hah?" tanya Dandy dingin. Sorot mata elangnya fokus menatap Niko.
Niko menggeleng dengan senyum tipis, ia tak merasa punya bos karena dirinya yang sebenarnya juga adalah seorang bos.
"Tapi tenang aja, meskipun kita nggak berasa di bawah kubu yang sama, tapi gue di kubu Refan kok. Kami pernah jadi sekutu dulu waktu-"
"Meragukan!" sahut Dandy dingin dengan tangan yang sudah terampil menodongkan pistol, tepat di pelipis Niko.
Niko tersenyum miring menatap senjata api yang terasa dingin saat bersentuhan dengan kulitnya.
"Lo ga percaya?" tanyanya.
"Ga ada alasan buat gue percaya!" jawab Dandy.
"Lo bisa tanya sendiri ke Refan."
"Kalo lo mau bohong, ga mempan Nik!"
"Ck. Seenggaknya lo pikir dulu lah, kalo gue ga satu tujuan sama lo... Gue pasti udah ngebocorin soal ini ke yang lain. Gue ngelindungin lo selama ini karena gue juga butuh bantuan lo demi misi ini!" jelas Niko mencoba membuat Dandy percaya.
📞Calling Genta....
"Gue nyuruh lo nanya Refan! Kenapa nelfon orang lain?" tanya Niko mengintip layar iPhone milik Dandy. Dandy memutar bola matanya malas.
"Gue ga punya nomor Refan."
"Lah? Aneh."
Genta : Halo Dan? Kenapa? Ada masalah?
Dandy : Ga ada, bagi nomornya Refan bos!
Genta : Buat apaan?
Dandy : Ck. Udah kirim aja buruan! Urgent.
Genta : Oke bentar!!
Tut tut tut....
"Suami bosnya tapi ga punya nomornya." cibir Niko. Dandy menatapnya malas.
"Cerewet lo!"
Drtt drtt
📩Genta
Send 1 kontak
👤Refan
Tak basa-basi, Dandy langsung menelepon nomor itu.
📞Calling Refan....
...****************...
"Rosa, saya mau kamu segera kerjakan semua modul yang dirombak ulang tadi ya. Saya mau semuanya selesai besok!" ucap Refan sambil merapikan bolpoin dan laptopnya yang masih berserakan di ruang meeting.
Meeting baru saja selesai, kedua klien pulang bersamaan tadi.
Merasa tak ada jawaban dari sang sekertaris, Refan pun mendongakkan pandangannya. Ia kemudian mendengus malas, wanita berambut hitam itu tampak sangat jelas dan vulgar sekali dalam memperhatikan wajahnya.
'Kalo bukan karena rekomendasi dari Shella dan sepupunya, udah gue lempar ni orang keluar gedung.' gerutu Refan kesal dalam hati.
"Rosa kamu tidak dengar saya bicara?" tanya Refan masih mencoba bersabar.
Nihil! Tetap tak ada jawaban. Rosa masih terus memperhatikannya dengan lamat. Sudah cukup! Kesabaran setipis kertas yang dimiliki Refan sudah koyak.
BRAK!!
"Eh eh..." cicit Rosa terkejut hingga refleks membereskan berkas-berkas yang berserakan di depannya.
"Usahakan jangan melamun saat kerja! Saya tidak suka berkerja dengan orang yang susah fokus." ucap Refan dingin. Rosa mengangguk takut-takut.
"Maaf tuan-"
"Saya mau kamu merevisi semua yang sudah disepakati ulang tadi. Jangan sampai ada kekeliruan dan selesaikan hari ini juga! Saya mau besok terima beres." tegas Refan yang langsung berdiri dan segera meninggalkan ruangan meeting setelah Rosa mengangguki perintahnya tadi.
"Sampai kapan dia terus bersikap dingin dan acuh seperti ini? Ah bahkan aku masih tetap menyukainya meski dengan sifat menyebalkan seperti ini." lirih Rosa menatap punggung lebar Refan yang kini menghilang dibalik pintu kaca.
Senyum lebar terbit di bibir merahnya.
"Apa aku harus mengikuti cara yang diajarkan oleh bu Yona waktu itu?" tanyanya bermonolog. Ia mengingat kejadian sebulan yang lalu saat seorang wanita cantik menghampirinya dan memberinya beberapa trik dan cara licik untuk menarik perhatian laki-laki.
(Yang lupa sama Yona, dia adalah istri dari mendiang Noval (Black Snake) yang masih menyimpan dendam pada keluarga Refan dan Izza.)
"Meskipun sedikit ekstrem, tapi sepertinya aku bisa mencobanya. Hm apapun akan aku lakukan untuk merebut perhatian tuan Refan! Tak masalah jika aku tak bisa menyingkirkan istrinya, aku bersedia menjadi simpanannya sekalipun."
"Tunggu saja tanggal mainnya, tuan tampan..." monolognya tersenyum penuh arti. Fikirannya dipenuhi oleh hayalan akan mendapatkan perhatian dan cinta dari seorang Refan Alaska Dirgantara.
Cih ga tau aja pawangnya Refan ganasnya kek gimana yagesya.
Sementara di tempat lain....
"Huh udah kelewat sejam aja meeting tadi... Izza pasti sekarang udah makan. Ck ngerasa gagal gue ga bisa nurutin maunya dia." gerutu Refan menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Drtt drtt
"Nomor baru? Angkat ga ya? Ga usah deh." monolog Refan hendak memasukan kembali handphonenya ke saku celana tapi tak jadi. Ia menimang-nimang ulang, berfikir siapa kira-kira orang yang menghubunginya dengan nomor baru ini.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰