
Hoam
Izza terbangun, silauan mentari pagi yang menembus masuk melewati celah jendela itu membuat mimpinya terusik pagi ini.
Badannya susah bergerak. Bukan karena perutnya yang makin membesar, tapi karena sepasang lengan kekar yang melingkarinya dengan sangat erat. Refan memang sudah kebiasaan tidur dengan posisi seperti ini sejak pertama menikah dulu.
Bahkan setelah malam pertama waktu itu, saat mereka bangun juga tangan Refan terus melingkar posesif di lingkar pinggang Izza. Benar-benar tak ingin membiarkan wanita itu lepas dari dirinya!
"Ganteng banget calon ayah." lirih Izza mengelus-elus pipi Refan dengan lembut, penuh kasih sayang.
Wajah tampan berdarah campuran itu tampak tenang dan teduh dalam tidurnya. Rasanya masih seperti mimpi setiap Izza mengingat awal perjalanannya dulu bersama Refan. Izza memang selalu mengharapkan ending cerita seindah ini, tapi jujur saja ia tak pernah menyangka kalau akhirnya mereka berdua benar-benar akan bersama.
Apalagi kalau mengingat empat hari terberatnya saat berusaha mati-matian melupakan Refan. Sudah jauh-jauh ke Belanda buat self healing, eh pas balik ke Jakarta malah hatinya balik stuck di Refan lagi.
Definisi sejauh apapun kamu pergi, rumah ternyaman untukmu pulang adalah dia yang membawa hatimu.
"Rasanya aku ga mau tambah tua Fan, maunya gini terus. Aku takut kalo kita nanti tua, terus saling kehilangan karena maut dan takdir. Kayaknya aku ga akan pernah siap untuk kemungkinan itu deh!" ucap Izza yang tiba-tiba punya fikiran sejauh itu.
"Aku mau sama kamu terus sampai kapanpun. Aku ga yakin kalo aku bakal bisa hidup tanpa kamu! Kalau boleh request ke tuhan, aku mau ikut mati kalau waktumu udah tiba. Aku mau kita kemana-mana berdua terus!!" sambungnya lagi.
"Janji ya Fan? Kamu mau nemenin aku dan harus ngajak aku kemanapun kamu pergi!" pungkas Izza penuh penekanan. Tangan mulus lentiknya masih mengelus pipi suaminya yang masih setia memejamkan mata.
"Iya, aku bakal ngajak kamu kemanapun aku pergi!" sahut Refan tiba-tiba. Matanya masih tertutup rapat tapi bibirnya sudah bergerak dan bisa menjawab pertanyaannya.
"Eh?!"
Izza memekik kaget, tangannya refleks ia tarik ke belakang tapi Refan mencekalnya dan kembali menempelkan tangan mulus istrinya ke wajahnya.
"Tapi jangan ngelantur kek gitu lagi! Jalan kita dan anak-anak kita masih panjang kok sayang, kenapa jadi melow banget sih hm?" tanya Refan mulai membuka matanya.
Rupanya Refan sudah terbangun sejak Izza pertama kali mengelus wajahnya, ia hanya sengaja berpura-pura tidur dan menikmati sentuhan kasih sayang yang diberikan dengan tulus oleh istrinya ini.
"Ya kan realistis ayanggg!!" jawab Izza manyun. Refan menoel hidungnya dengan gemas.
"Ini sih lebih condong ke pesimis. Sejak kapan istri tercintaku ini jadi wanita pesimis dan gampang pasrah gini heh? Yang kek tadi itu kayak bukan kamu tau." ucap Refan gemas sendiri. Izza masih ngeyel.
"Pokoknya janji ya! Kemanapun kamu pergi, kamu harus bawa aku juga. Bahkan kalau nanti ajal udah men-"
"Ssstt iya iya aku ga bakal ninggalin kamu sendirian! Sekarang diem, jangan bahas itu lagi." desis Refan meletakan jari telunjuknya di bibir Izza agar diam dan berhenti membahas hal sensitif ini.
Cups cups
"Good morning jagoan dan princess kecilnya papa!!" sapa Refan setelah memberikan dua kecupan manis di perut Izza yang hanya tertutup oleh kain baju tidur tipis. Izza terkekeh karena geli.
"Good morning juga papa hebat!!" balas Izza menirukan logat bicara anak kecil. Refan melirik Izza, mereka masih di posisi tiduran. Hanya saja Refan tadi sedikit membangkitkan kepalanya untuk menjangkau anak-anaknya yang masih bersangkar di perut mamanya.
"Aku udah ngasih morning kiss buat anak-anak loh ay." ucap Refan ngode. Izza mengeryit, tak peka.
"Ya terus kenapa?"
"Ck." Refan berdecak karena Izza tak mengerti maksud kode kecilnya ini.
"Kenapa sih heh? Aku beneran ga ngerti." tanya Izza kepo. Redan menghela nafas dengan santai, berusaha sabar karena menghadapi bumil harus pakai dua hati dan beribu-ribu logika. Biar ga terjadi perang dunia dadakan!
"Morning kiss ku mana?" tagih Refan menaik turunkan alis. Izza memicingkan mata, ternyata ada misi terselubung!
"Aku laper ay!!" rengek Izza mengalihkan perhatian Refan. Tapi sepertinya percuma saja karena Refan masih bersikukuh meminta jatah pagi ini.
"Cium dulu!"
"Anak kamu yang minta makan nih. Pada demo kelaparan di dalem!!" omel Izza. Refan masih ngeyel menggeleng.
"Iya nanti kita kasih baby-nya makan, sekarang kasih aku asupan dulu! Baru kita ngisi asupan buat kamu sama anak-anak nanti." sahut Refan santai.
"Ya udah itu nanti setelah kita sarapan beneran." jawab Izza yang juga tak mau kalah. Refan tetap menggeleng.
"Nggak mau. Sekarang aja!"
"Ayyyyyy."
"Makin lama ngulur waktu, makin lama keroncongannya loh." sindir Refan mengancam tipis. Izza mengehembuskan nafasnya pasrah, dan disaat seperti inilah Refan tersenyum miring.
Untuk pertama kalinya, Refan bisa menang melawan ego si bumilnya ini.
Cups
Izza mencium pipi kanan Refan. Refan tersenyum tapi sebenarnya ia menyimpan rencana licik dan rese di dalamnya.
"Udah kan? Sekarang ayo turun! Laper!!" rengek Izza melas. Tak disangka-sangka, Refan justru menggeleng.
"Kok cium pipi doang?"
"Lah tadi katanya morning kiss?" tanya Izza balik.
"Yang namanya kiss ya bibir dong! Kalo pipi mah receh. Emangnya kamu kira aku bocil dua tahunan yang lagi ikut emaknya arisan apa gimana?" sahut Refan request seenak jidat.
"Kamu ga nyebut secara spesifik. Berarti salah kamu!" sembur Izza geram. Refan sepertinya benar-benar ingin membuarnya mati kelaparan.
"Sssstt ga usah alasan sayang! Udah sini cep-"
Cups
Tak mau kelaparan lebih lama, Izza langsung membungkam bibir rese itu dengan bibir merah ranumnya.
Sama halnya dengan istrinya. Refan pun tak mau membuang kesempatan emas ini begitu saja. Waktu indah dan menyenangkan yang terhitung singkat dan tak boleh terlewatkan sedikitipun.
Refan menarik tengkuk Izza untuk memperdalam ci*man mereka, padahal Izza awalnya sudah akan menyudahi aktivitas bibirnya. Izza selalu kalah gercep dalam hal seperti ini.
Pagutan lembut penuh cinta, dan gairah pastinya. Refan tak pernah melakukannya dengan tergesa, ia selalu menikmati tiap detik dan kelembutan mereka dengan santai penuh kenikmatan dan tentunya tanpa paksaan dan tuntutan.
Tak perlu menunggu lama dan usaha ekstra bagi Refan untuk membuat istrinya terlena dan terbuai manis dalam permainannya. Refan selalu bisa mengontrol Izza dan begitupun Izza yang selalu bisa diandalkan untuk mengendalikan Refan. Saling membutuhkan namun juga saling melengkapi!
Definisi Titik kelemahan dan titik kekuatan itu ada. Sehebat apapun seseorang, ia tetap membutuhkan someone special untuk menjadi dermaga berlabuhnya dari letihnya perjalanan hidup.
...****************...
"Kita jadi ke Jakarta Rend?" tanya Beby pada suaminya. Rendy mengangguk.
"Jadi beb."
Ga usah heran sama nama panggilan mereka yang terkesan santai dan kurang etis untuk sepasang suami istri yang apalagi sudah memiliki anak. Ya itu wajar saja kalau mereka lebih sering panggil memanggil menggunakan nama masing-masing, karena dulunya keduanya sangat dekat sebagai sahabat. Biasalah!
"Ga sekalian nunggu dua bulan lagi aja? Jeje kan masih dua bulanan. Terus baru di susul Izza sekitar satu minggu kemudian?" tanya Beby memastikan. Rendy mengepak tumpukan berkas di tangannya.
Rendy tidak ke kantor hari ini karena Max melarangnya, Max sekarang ini masih tidur. Tapi anak tampan itu sudah berpesan pada daddy-nya semalam untuk mau mengajaknya pulang ke Indonesia. Katanya, Max sudah rindu berat kepada aunty kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Izza.
"Emang kamu bisa nolak kemauan Max? Kamu kan tau sendiri susahnya boongin dia tuh kek gimana. Dia udah terbiasa dapetin semua yang dia mau sejak kecil, jadi kebawa deh sampai sekarang. Kalo udah minta sesuatu, harus langsung di turutin maunya."
"Kamu sama mama Lita sih terlalu manjain Max dari dulu, apa-apa diturutin kan jadi kesenangan kan bocahnya!" sahut Beby menghela nafas.
"Ya namanya juga keturunan pertama sayang!! Udah yuk mending kamu beberes yang perlu dibawa aja gih. Aku mau ngurus berkas yang harus aku bawa dulu!" suruh Rendy memberikan pekerjaab pada Beby dari pada ia bawel di sini dan memecah konsentrasinya.
"Terus lahiran Jeje sama Izza gimana dong?" tanya Beby sebelum berbalik pergi.
"Ya dua bulan lagi kita ke Jakarta lagi lah. Yang penting sekarang ini kita ngajakin Max ke Indo dulu, biar ga rewel anaknya."
...****************...
"Iya tapi-"
"Kalo kamu masih ngeles lagi, aku aduin ke bang Rendy nih! Aku bilang kalau kamu ngelarang adik emasnya ini buat makan." ancam Izza sebal. Mendengar nama keramat disebut, Refan langsung mengangguk tanpa pikir panjang lalu segera beringsut dari ranjang.
"Oke! Kamu mau makan apa? Aku masakin ya?" tawar Refan dengan sikap berbeda dari tadi. Dari yang sangat menyebalkan, jadi menggemaskan penuh tipu rayuan.
"Kamu beneran ga ngantor kan?" tanya Izza memastikan kalau ia tak akan jadi obat nyamuk cap setan di rumahnya hari ini. Ogah!
Refan mengangguk-angguk.
"Iya enggak, kan Reza Jeje mau datang. Aku ya nemenin kamu di rumah lah! Sekalian reunian tipis-tipis berempat." jawab Refan santai. Izza mengangguk dengan senyum puas.
'Yes ga jadi obat ngamuk eyeyyy!!'
"Hehe pinter banget suami gue!!" puji Izza menoel rahang tegas Refan dengan disertai satu wink.
"Ya udah mau makan apa? Aku masakin khusus buat kamu nih!" tanya Refan lagi. Kini ia juga bisa merasakan lapar, maka dari itu dia gugup. Setelah dapat asupan amunisi dari Izza, sekarang Refan baru merasa membutuhkan asupan dari makanan pokok.
"Mmm aku mau makan bubur ayam." ucap bumil mulai request random.
"Yah ay seriusan dong! Aku kan ga bisa masak benda lembek kek gitu." jawab Refan mengibaskan tangan, bermaksud untuk menolak.
"Emang aku nyuruh kamu yang masak?"
"Lah terus?"
"Beli di mamang yang di depan pos komplek. Itu buburnya enak banget! Aku pernah minta dibeliin Ujang pas kamu ke kantor dulu." jawab Izza dengan santainya. Refan mengangguk.
"Itu doang? Ada lagi nggak?"
"Mmm sekalian deh, susu bumil keknya udah mau habis deh ay. Tinggal dua kemasan doang!" tambah Izza. Refan mengangguk, mengeluarkan benda pipihnya dari bawah bantal.
"Merk susunya masih yang lama itu kan?" tanya Refan memastikan. Terakhir kali ia dan Izza beli susu untuk bumil itu sudah lama sekali, sekitar lima bulan yang lalu. Dan baru habis sekarang.
📞Calling Ujang....
Refan : Jang dimana?
Ujang : ......
Refan : Lo ke depan pos komplek sekarang! Cari mamang bubur ayam yang dulu pernah lo beliin buat istri gue.
Ujang : ......
Refan : Ga usah jumlah-jumlahan! Lo bawa aja setukangnya kemari, gue beli segerobak semuanya.
Ujang : ......
Refan : Oke.
Tut tut
"Woah segerobaknya?!!" pekik Izza yang harusbya sudah tak perlu sekaget itu lagi karena hal-hal serba lebih dan mewah seperti ini sudah biasa ia nikmati sejak dulu. Bahkan rasanya makin serba wow saat bersama Refan.
"Harus banget segerbaknya? Buat apa nanti pasti ga habis. Mubadzir kan dosa!" tanya Izza heran.
"Nanti dibagiin ke orang lewat." jawab Refan enteng. Ia kembali menempelkan iPhonenya ke daun telinga.
"Itu telpon siapa lagi?"
"Kevin."
📞Calling Kepin....
Kevin : Apa bos?
Refan : Vin gue ada kerjaan buat lo!
Kevin : Apaan tuh?
Refan : Cari info tantang pabrik dan induk perusahaan yang mengeluarkan produk 'asimama milk' buat bumil.
Kevin : Buat apaan? Gue kan ga lagi hamil.
Refan : Buat istri gue lah!
Kevin : Terus setelah ketemu, harus gue apain?
Refan : Nyari solar sama korek api, terus bakar!!
Kevin : Lo seriusan?
Refan : Ya enggak lah bodoh!
Kevin : Seriusan dong woy!
Refan : Gue mau lo ambil sahamnya. 30% buat atas nama Izza langsung!
Kevin : Sekarang?
Refan : Besok.
Kevin : Ck Fan serius!!
Refan : Ya iya lah sekarang! Pake nanya lagi lu.
Kevin : Ye kan gu-
Tut tut.....
"Udah beres kan?" tanya Refan menghela nafas lega. Izza sampai geleng-geleng kepala karena menguping percakapan Refan dan Kevin.
"Buset!! Ngapain beli saham perusahaan susu itu? Aku kan minta beliin susu doang. Lagian juga tinggal tiga bulan doang minum susu bumilnya!" pekik Izza syok.
"Ya buat kamu lah. Biar nanti kalo butuh lagi, ga usah repot beli. Pas susunya habis, tinggal telpon orang buat ngantar. Simple kan? Enak kan?"
Izza melotot mendengar alasan Refan. Ini jelas alasan yang menjerumuskannya pada sesuatu yang bersifat 'berulang kali'.
"Emang kamu fikir aku mau hamil lagi kah? Ini aja udah dapet dua." semprot Izza. Refan malah terkekeh dengan watadosnya.
"Iya lah, kan rencananya mau bikin grup sepak bola. Mau aku latihin ke Ronaldo sama Messi nantinya! Kurang 10 cowok lagi nih." jawab Refan dengan sangat polosnya. Izza melotot makin lebar. Gila! Idenya kelewat gila. Bisa jebol kalo sampai sebanyak itu.
"Udah lah ay, cukup!" cicit Izza menarik nafas dalam.
"Cukup apanya? Mulai aja belum loh, udah berapa hari aja coba." tanya Refan ambigu. Izza menatapnya datar, jengah dan sebal dalam satu pahatan lurus dan tajam. Menyebalkan sekali arghh!!
"Ah dahlah jangan ngadi-ngadi!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰