I'M A WOLF MAN

I'M A WOLF MAN
BAB 92 . PERLU BERCERMIN



Jaman moderen ini sering kali kita lihat banyak sekali orang yang saling membuli dan menghina satu sama lain, Bila kita ingin berhasil fokus saja ke depan dengan tujuan masing - masing seperti yang di lakukan oleh seorang pelari yang fokus dengan garis finis tidak mungkin seorang pelari sibuk melihat pelari lain.


Begitu juga yang di lakukan oleh Robert yang fokus dengan tujuan nya untuk memulihkan negara nya dari serangan monster beberapa tahun terakhir yang hingga kini belum usai juga dan semua bersumber dari Robin adik kandung nya sendiri yang terobsesi untuk menaklukkan dunia dan ia lah yang berkuasa.


Namun Robert memiliki prinsip bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidup nya dan semua itu bisa berubah saat orang tersebut menyadari kesalahan nya dan mau bertaubat namun ternyata tidak dengan Robin yang hingga kini semakin menjadi ulah nya hingga Robert menyerahkan masalah ini kepada Tuhan agar rencana Tuhan lah yang terjadi.


Pagi ini Ine dan Mikael sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi tapi seperti nya Robert masih berada di kamar nya sambil duduk di depan meja kerja nya sambil berfikir apa yang harus di lakukan, Sedangkan Rebecca sedang berfikir apa yang terjadi kepada Ronald mengapa semalaman tidak pulang.


Kemana sebenar nya pergi nya Ronald mengapa dia tidak pulang, Apakah Ronald sedang dalam di sekap oleh Robin dan gerombolan nya di istana negara, Bila benar begitu tidak mungkin Ine, Mikael dan Robert kembali pulang begitu saja sebab aku paham betul dengan watak mereka bertiga, Aku harus mencari Ronald sampai dapat apa pun resiko nya.


Bergumam lah dalam hati Rebecca lalu bangkit dari duduk nya dan turun dari ranjang nya berjalan menuju lemari baju untuk mengganti baju nya dan mengenakan jaket yang tergantung di lemari, Di sisi lain Ine dan Mikael sedang membahas mengenai bagaimana cara menghabisi Robin dan Alonso yang sudah menduduki istana negara.


" Ibu mengapa Ayah belum keluar dari kamar apakah Ayah kurang sehat?"


Tanya Mikael sambil menata piring di meja makan.


" Ayah mu sedang berfikir bagaimana mengajak Paman mu bertaubat kembali ke jalan kebenaran pasti nya,"


Jawab Ine sambil tersenyum meletakkan mangkok kaca yang berisi sup merah.


" Mana mungkin monster bertaubat kecuali kepala nya di pisahkan dari tubuh nya,"


Ucap Mikael sambil berjalan mengambil gelas di rak.


" Kakek Felix bukti nya bertaubat sayang,"


Jawab Ine sambil mencuci panci bekas di gunakan memasak sup.


" Iya bertaubat sebab kebanyakan terkena pukulan kepala nya coba kalau tidak pasti sama saja Bu,"


Ucap Mikael sambil mengisi air kedalam gelas.


" Sudah sana panggil Ayah dan Bibi Rebecca ajak sarapan,"


Jawab Ine sambil mengelus pundak Mikael.


" Baik Bu,"


Ucap Mikael sambil berjalan menuju anak tangga.


Saat itu Ine hanya tersenyum melihat putra nya dari belakang sambil dalam hati kecil nya berkata bagaimana cara memberitahu Rebecca tentang meninggal nya Ronald yang tragis pasti Rebecca tidak bisa menerima kenyataan yang pahit itu sebab mereka sudah merencanakan pernikahan mereka 2 minggu lagi.


" Ayah mari kita sarapan, Ibu sudah menyiapkan sup nya spesial untuk Ayah,"


Ucap Mikael sambil tersenyum menghampiri Robert.


" Wah pasti banyak daging, kacang polong dan kacang merah yang melimpah bukan kah begitu sayang, emuach,"


Jawab Robert sambil memeluk putra nya dan mencium pipi nya dengan penuh kasih sayang.


" Ayah geli, Kumis mu sudah mulai tumbuh Ayah, Ampun Ayah lepaskan aku,"


Teriak Mikael diiringi dengan tawa lepas karena geli di cium Ayah nya.


Saat itu Ine duduk di bangku depan meja makan dan mendengar tawa putra nya dan mulailah penasaran apa yang di lakukan oleh Ayah dan anak nya itu di kamar bukan nya lekas turun tapi mereka berdua malah bercanda, Lalu Ine pun menyusul mereka sambil berniat untuk memanggil Rebecca juga yang masih berada di dalam kamar.


" Rebecca ayo lekas turun mari kita sarapan bersama,"


Ucap Ine sambil mengetuk pintu kamar Rebecca.


" Iya Ine sebentar aku sedang merapi kan kamar ku,"


Jawab Rebecca dari dalam kamar nya.


Kemudian Ine melanjutkan langkah nya menuju kamar nya di mana masih terdengar suara Mikael yang sedang tertawa lepas sebab sedang di cium Ayah nya yang kumis nya belum di cukur dan hal itu membuat Mikael merasa sangat geli saat tersentuh kulit nya.


" Harus berapa kali Ibu merapikan ranjang itu, Sedangkan tadi Ibu memerintahkan kan apa ke kamu Mikael?"


Tanya Ine sambil berdiri di depan pintu memperhatikan ulah Ayah dan anak nya.


" Iya Bu maaf tapi Ayah yang memulai nya Bu,"


Jawab Mikael dengan berwajah sedih.


" Sekarang juga lekas turun sebelum sup itu menjadi puding sebab kalian asik bermain ok,"


Ucap Ine diiringi senyum simpul.


" Baik Bu, Ayah ayo kita sarapan,"


Jawab Mikael sambil menarik tangan Robert.


" Baik lah ayo kita sarapan setelah itu kita bermain lagi dengan monster yang sudah menunggu kita di istana negara."


Kemudian mereka bertiga dan di ikuti oleh Rebecca menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang makan untuk sarapan, Sedangkan di istana negara ada Robin dan Alonso yang sedang membagi kedudukan mereka berdua siapa yang menjadi presiden dan wakil nya saat ini sebab mereka berdua berfikir saat ini mereka lah pemimpin negara itu sebab sudah menduduki istana negara yang sudah kosong tanpa ada presiden.


" Robin saat ini presiden negara ini sudah tidak ada lagi jadi siapa yang akan jadi presiden nya dari kita berdua?"


Tanya Alonso sambil duduk di sofa dengan tatapan bengis.


" Menurut ku kamu saja yang jadi presiden nya sebab aku sedang tidak berminat memimpin negara tapi aku sedang ingin memimpin dunia,"


Jawab Robin diiringi senyum sinis.


" Baik lah kalau begitu aku yang menjadi presiden dan kamu wakil nya, Lalu kita ubah negara ini untuk lebih menguntungkan bagi kita, Bagaimana menurut mu?"


Tanya Alonso diiringi senyum simpul.


" Kamu atur saja, Aku sedang memikirkan bagaimana mendapatkan kalung wasiat itu dari Robert agar aku bisa menguasai seluruh dunia ini,"


Jawab Robin sambil berdiri di depan jendela dan tatapan penuh dendam.


" Bukan kah dia saudara kandung mu dan pasti nya hal itu lebih mudah, Apalagi sekarang diri mu sudah menjadi mahkluk terpandang di negara ini?"


Tanya Alonso dengan senyum sinis.


" Mudah bila tidak ada istri dan anak nya juga kawanan srigala bodoh itu yang selalu menghalangi langkah ku selama ini,"


Jawab Robin dengan nada gusar.


" Tapi tetap saja kan kunci utama nya di saudara mu itu yang lemah dan sok suci tidak butuh harta dan kekayaan sedangkan semua mahkluk hidup pasti membutuhkan kedua hal itu, Bahkan seekor singa pun butuh di sebut raja hutan,"


Ucap Alonso dengan senyum licik.


" Benar dia sangat munafik dan bodoh selalu saja mau berkorban untuk orang lain sedangkan apa yang dia dapat dari pengorbanan nya itu hanya kekecewaan."


Jawab Robin sambil menghadapkan tubuh nya kepada Alonso yang sedang duduk di sofa.


Sedangkan saat itu posisi kota sudah hancur berantakan sebab terjadi nya pertarungan antara gerombolan monster dan kawanan srigala buas, Pasti nya banyak mengalami kerugian dan jatuh banyak korban jiwa belum lagi hingga kini satu kota tidak ada listrik sama sekali sebab gardu listrik penggerak listrik kota telah meledak beberapa hari yang lalu.


Jadi saat malam tiba kota itu gelap gulita sudah kembali seperti kota mati seperti sedia kala, Sepi, kosong tanpa penghuni, gelap gulita, berantakan dan hanya monster yang terlihat di sudut - sudut kota mati sedangkan masyarakat yang masih bertahan hidup hanya mampu bertahan di dalam rumah masing - masing dengan sisa makanan yang tersedia.


Setelah sarapan pagi Ine, Rebecca, Robert dan Mikael duduk di sofa ruang keluarga dengan niatan membahas bagaimana cara untuk menghabisi monster yang saat ini menduduki istana negara namun seperti nya moment itu lah Rebecca menanyakan keberadaan Ronald saat ini di mana sebab hingga detik ini Ronald belum terlihat juga berada di rumah.


" Menurut kalian apa yang harus kita lakukan untuk mengusir gerombolan monster itu dari istana negara?"


Tanya Robert sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


" Kalau menurut ku kita harus menghabisi Robin dan Alonso sebab mereka berdua lah akar masalah ini muncul lagi,"


Jawab Ine dengan serius memandang ke arah Robert.


" Tapi hal itu tidak mungkin Ayah lakukan, Sebab Paman Robin adalah saudara Ayah,"


Ucap Mikael diiringi senyum simpul melirik ke arah Robert.


" Tidak, Bagi ku saat ini apa pun itu yang kalian lakukan tidak masalah dan semua sudah aku serahkan kepada Tuhan dan bukan urusan ku lagi masalah Robin,"


Jawab Robert dengan ekspresi tidak peduli.


" Tunggu, Sejak kemaren malam aku tidak melihat Ronald dan bukan nya waktu itu Mikael berkata bahwa Ronald sudah berada di rumah, Lalu rumah mana lagi yang di maksud?"


Tanya Rebecca sambil bergantian melihat ke mereka bertiga yang juga saling pandang.


" Rebecca kamu tolong tenang ya, Ronald sebenar nya sudah meninggal terbunuh oleh Clark,"


Jawab Robert dengan tatapan sedih.


" Kalian sedang membohongi ku kan, Tolong kata kan sejujur nya di mana Ronald,"


Ucap Rebecca dengan tatapan bingung.


" Bibi kami serius dan jasad Paman Ronald masih tergantung di gardu listrik kota hingga kini sebab kemaren malam hujan deras jadi aku dan Ayah belum bisa menurunkan jasad nya yang dialiri tenaga listrik,"


Jawab Mikael dengan tatapan sedih.


Seketika Rebecca menangis histeris mendengar bahwa Ronald orang yang di sayangi nya meninggal dunia dengan cara tragis seperti itu bahkan sampai detik ini jasad nya pun belum bisa di kebumi kan sebab masih tergantung di gardu listrik lalu Ine pun mencoba menenangkan Rebecca yang sedang menangis histeris.


Lalu apakah tindakan mereka berempat untuk menghabisi Robin dan Alonso serta gerombolan monster yang menduduki istana negara dan mampukah mereka berempat memusnahkan kedua nya untuk selama nya apakah Rebecca yang akan menghabisi Robin dan Alonso?


Jangan beranjak dari kisah mereka semua dan temukan jawab nya hanya di I'M A WOLF MAN dan jangan pernah bosan untuk selalu beri dukungan author nya agar semangat nulis nya.