
Sering kali kita berfikir sudah terlambat, nasi sudah jadi bubur, tidak ada kesempatan lagi dan masih banyak lagi namun sesungguhnya semua kalimat itu hanyalah suatu keadaan yang membuat kita semakin terpuruk dan jatuh dan kesempatan itu kita sendiri yang menciptakan bukan dari orang lain sebab orang lain tidak akan tahu apa peluang yang ada di hadapan kita.
Begitu pun dalam benak Ine yang saat ini sedang berada di dalam tubuh Ina yang selalu melihat peluang di hadapan nya sekecil apa pun dan bagi Ine tidak ada yang tidak mungkin atau pun terlambat berbeda dengan pribadi Ina sendiri yang sering kali merasa putus asa dan berfikir semua sudah terlambat dan tidak akan bisa di rubah lagi keadaan nya.
Namun kini Ine yang menggunakan tubuh Ina yang menguasai semua pola pikir nya dan tidak akan menyerah kepada apa pun meski badai menghadang nya, Tekad Ine untuk menuntut balas kepada Felix dan Robin sangat besar meski Robert, Robin, Vico dan Rebecca meragukan namun Ina tidak pernah menyerah.
Hingga sore ini terjadilah perdebatan antara mereka sebab bagi Robert, Ronald, Rebecca dan Vico semua sudah terlambat semua wilayah sudah di duduki oleh para monster yang beringas sedangkan mereka hanya berlima tidak mungkin mampu melawan para monster yang berjumlah ribuan.
" Adakah ide yang lebih bagus dari pada kita mendatangi wilayah utara atau pun pusat kota Kak?"
Tanya Vico sambil mengaduk sup di hadapan nya.
" Ada ide lain kalian diam saja di sini menunggu ajal kalian tiba di tangan monster biadab itu,"
Ucap Ina dengan sorot mata penuh dendam.
" Kak kita kalah jumlah dengan mereka jadi bagi ku ide itu sangat konyol sama saja kita menyerahkan nyawa kepada mereka,"
Timpal Ronald dengan tatapan penuh tanya.
" Bagi ku kalian lebih konyol bila belum mencoba nya, Berperang saja belum bagaimana kalian akan tau hasil nya halu kalian,"
Jawab Ina sambil menikmati kuah sup di hadapan nya.
" Aku setuju dengan mu Ina, Apa pun hasil nya nanti kita harus mencoba lebih baik gagal dari pada tidak mencoba nya sama sekali,"
Imbuh Rebecca sambil menikmati roti di tangan nya.
" Yang kita butuhkan persenjataan dan mobil yang kuat dari serangan para monster itu,"
Ucap Robert sambil bergantian memandang mereka.
" Itu hal yang mudah, Aku dan Rebecca akan membuat busur panah dan kalian para lelaki mencari mobil dan rubah menjadi lebih kuat mobil itu,"
Ucap Ina dengan tatapan serius.
" Ya benar busur panah dan kalau bisa busur panah nya kita beri api sebab para monster itu bukan nya takut dengan api?"
Ucap Rebecca dengan diiringi senyum simpul.
" Siapa yang mau ikut dengan ku dan yang takut silahkan tinggal di rumah ini saja menunggu ajal menjemput."
Ucap Ina sambil bangkit berdiri dan mengambil baby Scudetto dari pangkuan Robert kemudian berjalan meninggalkan meja makan.
" Pola pikir wanita sungguh membingungkan."
Ucap Ronald dengan nada lirih sambil membanting kain di atas meja makan.
" Pola pikir para lelaki lebih menyebalkan bagi wanita."
Balas Rebecca dengan senyum sinis lalu meninggalkan meja makan mengikuti Ina.
" Hai apa maksud mu Rebecca!"
Teriak Ronald kepada Rebecca namun diacuhkan.
" Simpan tenaga mu untuk berperang besok ok."
Ucap Vico sambil menepuk pundak Ronald dan berlalu pergi.
" Aku setuju dengan Vico, Simpan tenaga mu untuk menghadapi para monster."
Imbuh Robert sambil mengelap bibir nya lalu menunjuk ke arah Ronald dan berlalu pergi meninggal kan Ronald sendiri di meja makan.
" Hei ada apa dengan kalian, Baru kali ini kita bisa menikmati sup daging yang lezat mengapa kalian meninggalkan nya, Baik lah aku pun akan meninggal kan sup nikmat ini tapi sayang habis kan dulu ah."
Celoteh Ronald yang melanjutkan menikmati sup daging di hadapan nya.
Saat itu Ina, Rebecca, Robert dan Vico berada di bekas kandang milik Ayah nya Robert sedangkan baby Scudetto di gendong belakang oleh Ina agar lebih leluasa gerak Ina dalam membuat busur panah, Sedangkan Robert paham betul Ina tidak pernah memiliki ide membuat busur panah namun bila Ine pernah di ajarkan membuat busur panah oleh Ayah nya Robert semasa hidup nya.
Di sisi lain ada Felix yang penuh semangat untuk menghabisi Robert dan Ina juga beberapa kawan - kawan nya dalam benak Felix saat malam hari pasti nya mereka semua sedang tertidur lelap dan saat itu lah waktu yang tepat untuk menghabisi mereka semua pikir Felix rencana nya sudah tepat dan tidak akan gagal kali ini.
Namun seperti nya Felix salah prediksi ternyata mereka semua sedang berada di kandang domba membuat persenjataan untuk menyerang wilayah utara dan pusat kota dan saat ini mereka berlima tanpa lelah terus mempersiapkan persenjataan sedangkan Robert, Ronald dan Vico menyiapkan mobil yang di rancang sedemikian rupa agar para monster tidak bisa menyerang mereka.
Kali ini kalian tidak akan bisa lepas dari cengkeraman ku jangan harap kalian bisa kabur lagi, Selama ini aku sudah cukup berbaik hati kepada kalian tapi kali ini akan ku remuk kan tulang kalian!
Bergumam lah Felix dalam hati sambil fokus pandangan nya ke depan menelusuri jalanan yang gelap dan berkabut namun di tengah perjalanan Felix di kejut kan oleh segerombolan srigala buas yang menghadang jalan mobil nya menuju kampung di mana Robert dan yang lain tinggal, Pasti nya Felix sangat terkejut melihat segerombolan srigala yang tengah berdiri menghadang.
" Dari mana asal mereka, Lekas usir mereka!"
Teriak Felix kepada para monster yang berwujud manusia.
" Siapa kamu berani memerintah kami, Bila kamu berniat mengusir nya maka turun lah dan lenyap kan mereka,"
Ucap salah satu monster sambil senyum licik kepada Felix.
" Sungguh tidak berguna kalian, Tunggu saja nanti saat nya tiba akan ku balas perlakuan kalian semua!"
Ucap Felix dengan nada gusar lalu turun dari mobil.
Sebenar nya saat itu Felix pun gemetar melihat segerombolan srigala dengan bertubuh besar, taring yang tajam dan sorot mata yang menakut kan namun mau tidak mau Felix harus menghadapi para srigala itu sendirian sebab saat ini diri nya bukan lah siapa - siapa lagi dan bagi para monster itu Robin dan Hendrik lah pimpinan mereka semua bukan lah Felix.
Kemudian Felix pun mencoba menakuti para srigala dengan suara tembakan agar menyingkir dan suara tembakan itu sayup - sayup terdengar hingga ke tempat Robert sebab suasana begitu hening hingga suara mampu terdengar dan saat itu Robert dan kawan - kawan nya terdiam sejenak.
" Apakah kamu mendengar nya Vico?"
Tanya Robert sambil menghentikan aktivitas nya.
" Iya aku mendengar nya, Dari mana asal suara itu?"
Jawab Vico yang berbalik bertanya.
" Seperti nya dari arah perbatasan hutan di arah selatan,"
Ucap Ina sambil bangkit dari duduk nya.
" Kita harus melihat apa yang terjadi di sana mengapa ada suara senapan di waktu seperti ini,"
Ucap Rebecca sambil memegang busur panah.
" Baik lah biar aku dan Vico yang melihat ke sana kalian waspada lah di sini,"
Kemudian Robert dan Vico pun merubah diri menjadi seekor srigala besar berlari menuju hutan yang letak nya tidak jauh dari rumah nya untuk menuju tempat asal suara, Sedang kan Felix masih mencoba mengusir kawanan srigala buas yang menghadang nya sambil di tertawa kan oleh para monster di belakang nya.
" Coba perhatikan ulah manusia bebal itu sangat lucu bukan,"
Ucap monster yang berwujud manusia sambil terbahak - bahak melihat ulah Felix.
" Benar - benar bodoh dia, Mengapa tidak menembak srigala itu apa yang ada di dalam otak nya?"
Tanya salah satu dari mereka sambil menertawakan Felix yang semakin ketakutan.
" KALIAN JANGAN HANYA BISA TERTAWA SEGERA BANTU AKU!"
Teriak Felix sambil berjalan mundur ke arah mobil.
" Bagaimana kamu bisa di sebut pemimpin bila mengusir srigala saja tidak mampu, Dasar manusia bodoh!"
Ucap mereka dengan nada sinis.
Di saat seperti itu Robert dan Vico yang sudah berwujud srigala besar sedang memperhatikan mereka dari atas bukit sambil sesekali tersenyum simpul menyaksikan Felix di kejar kawanan srigala hingga mengitari mobil sedang kan saat itu Felix di tangan nya memegang senapan namun Felix memilih berlari bukan nya menembak srigala itu.
" Ada apa dengan Ayah tiri mu itu Vico?"
Tanya Robert dengan nada meledek.
" Dia bukan Ayah tiri ku, Dia adalah monster berwujud manusia yang sangat bebal,"
Jawab Vico dengan senyum sinis.
" Benar - benar bodoh dia, Lalu akan berlari kemana dia dan lagi mengapa kawanan para monster itu tidak membantu nya bukan kah mereka satu golongan?"
Tanya Robert dengan pandangan tertuju kepada para monster.
" Mungkin para monster itu sudah mulai bosan membantu manusia bodoh itu maka dari itu mereka hanya menertawakan ulah nya yang konyol,"
Jawab Vico dengan nada tidak peduli.
" Apakah kita harus turun dan melenyapkan para monster dan manusia bebal itu di sini?"
Tanya Robert sambil mengawasi tingkah Felix.
" Menurut mu bagaimana, Bila menurut ku lebih baik kita lenyap kan mereka sebelum sampai di kampung."
Jawab Vico dengan nada geram melihat para monster dan Felix.
Kemudian mereka berdua pun menuruni bukit tersebut dan saat sampai di hadapan mobil para monster Robert dan Vico pun berteriak untuk menghentikan para srigala buas yang sedang mengejar Felix mengelilingi mobil, Hanya dengan sekali berteriak semua para srigala itu pun berhenti mengejar Felix dan berjalan mendekati Robert dan Vico yang berwujud srigala besar.
" Seperti nya itu pimpinan para srigala itu,"
Ucap salah satu monster sambil melihat ke arah Robert dan Vico yang berwujud srigala besar.
" Bisa jadi, Lalu apa yang harus kita perbuat apakah kita harus membantu Felix si bodoh itu?"
Tanya monster di belakang nya.
" Tidak perlu biarkan saja dia di makan dengan para srigala itu lebih baik kita tinggalkan dia bersama kawanan srigala itu,"
Jawab mereka dengan sepakat meninggalkan Felix.
Kemudian dengan perlahan mobil mereka di nyalakan mesin nya lalu berjalan mundur perlahan dan memutar arah berjalan menjauh meninggalkan Felix sendiri berhadapan dengan para srigala buas dan saat itu Felix berteriak sekuat tenaga dan semua sumpah serapah di ucap kan Felix untuk para monster namun para monster itu tidak menghiraukan sama sekali.
Saat itu Robert dan Vico hanya mampu tersenyum simpul melihat ulah Felix yang sangat konyol dan mereka berdua pun merubah wujud nya kembali menjadi wujud manusia sedang berdiri dengan sekeliling nya srigala buas yang siap menerkam Felix kapan pun juga.
" Sedang apa kamu berteriak seperti orang gila di situ!"
Ucap Vico dengan nada lantang.
" Manusia itu suara manusia selamat lah aku,"
Ucap Felix sambil segera membalikkan badan ke arah asal suara.
Saat itu Felix segera memainkan drama nya agar bisa terselamatkan dari para kawanan srigala buas namun saat diri nya melihat ternyata yang berkata - kata adalah Vico anak tiri nya diri nya semakin yakin bahwa Vico mau menolong nya lepas dari kawanan srigala buas.
" Vico anak ku ternyata kamu masih hidup Ayah pikir diri mu sudah di makan oleh para monster biadab itu,"
Ucap Felix yang berlagak baik dan perhatian kepada Vico.
" Sejak kapan aku menjadi putra mu dan kamu menjadi Ayah ku?"
Tanya Vico dengan nada geram.
" Vico maafkan Ayah yang mungkin selama ini tidak memperhatikan mu tapi sesungguhnya Ayah sangat menyayangi mu dan adik mu Ronald,"
Jawab Felix dengan nada memelas.
" Wajah mu semakin konyol tua bangka tidak tau diri!"
Ucap Vico yang semakin tersulut emosi nya.
" Vico kendalikan emosi mu, Lebih baik kita bawa dia kerumah agar masalah keluarga ini dapat di selesaikan dengan baik,"
Ucap Robert dengan tatapan sadis ke arah Felix.
" Benar kata mu Robert sebab dia harus mempertanggung jawab kan prilaku nya kepada Kak Ina dan keluarga nya."
Jawab Vico dengan nada geram.
" Hai tua bangka bodoh mari ikut dengan kami agar tidak di mangsa dengan kawanan srigala tubuh mu yang penuh virus itu!"
Teriak Vico kepada Felix dengan tatapan sebal.
Untung lah anak sialan ini masih bisa ku rayu dan selamat lah aku dari incaran para srigala bodoh ini nanti bisa lah aku rayu dia agar bisa menerima ku sebagai Ayah sambung dia meski sebenarnya aku hanya membutuhkan perlindungan sesaat dan di waktu yang tepat aku akan menghabisi nya agar dia bisa berkumpul dengan Ibu nya.
Bergumam lah Felix dalam hati sambil berjalan mendekati Vico dan Robert kemudian mereka bertiga berjalan menuju kampung dan membawa Felix pulang ke rumah Robert, Pasti nya Felix sudah merasa aman saat ini dan bisa lepas dari para srigala namun diri nya tidak mengetahui bahwa telah di nanti oleh malaikat maut di rumah nya Robert.
Lalu apakah yang akan di lakukan Ina kepada Felix musuh besar nya apakah Ina tanpa bertanya akan melenyapkan Felix atau kah Felix akan di hajar terlebih dahulu oleh mereka baru di jadikan pakan para srigala ataukah Felix akan diperalat Robert agar menunjukkan di mana Robin berada?
Ikuti terus perjuangan mereka dan jangan pernah beranjak dari I'M A WOLF MAN dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.