I'M A WOLF MAN

I'M A WOLF MAN
BAB 56 . MENABUR GARAM



Dalam hidup ini kita akan menemukan karma kita masing - masing yang akan kita terima dari setiap akibat nya dengan kata lain siapa yang menabur dia lah yang menuai dan pasti di bayar dengan lunas, Begitu juga dengan Felix yang selama ini menabur garam di atas penderitaan maka Felix akan menuai badai di hidup nya.


Merasa aman untuk sesaat, bahagia hanya sesaat, senyuman dalam kepedihan seperti nya itu lah yang di rasakan Felix malam itu sebab diri nya terlepas dari gerombolan srigala namun kini masuk kedalam sarang srigala buas yang pernah diusik oleh nya ketenangan mereka maka hal yang wajar bila mereka berbalik menyerang Felix dengan bertubi - tubi.


Malam itu Felix di gelandang menuju rumah Robert bersama Vico dengan wajah tanpa dosa Felix mencoba mengajak berbicara dengan mereka berdua namun mereka berdua hanya senyum simpul dengan sorot mata sinis menandakan mereka berdua tidak respek sama sekali dengan Felix dan tidak lama kemudian sampailah Felix di rumah Robert.


" Masuk lah dan duduk lah,"


Ucap Robert dengan tenang dan senyum menghiasi wajah nya.


" Wah tenang juga di sini tidak bising seperti di kota,"


Kelakar Felix sambil duduk di sofa.


" Kami akan segera mengantar mu ke tempat yang lebih tenang lagi, Maka nikmatilah makanan ini."


Ucap Vico dengan senyuman dan sorot mata sinis.


" Vico aku akan memanggil yang lain untuk menyambut tamu kita malam ini, Pasti nya mereka juga bahagia melihat nya."


Ucap Robert sambil senyum kepada Vico yang duduk di sofa berseberangan dengan Felix.


" Pasti nya mereka bahagia sebab tamu kita malam ini sangat spesial bagi yang lain."


Timpal Vico dengan sorot mata geram melirik ke arah Felix.


Kemudian Robert melangkahkan kaki nya keluar rumah untuk menuju bekas kandang domba di sana ada Rebecca, Ina dan Ronald yang sedang sibuk membuat busur panah dan juga tombak untuk melakukan penyerangan ke wilayah utara dan pusat kota yang kini tengah di duduki oleh para kawanan monster yang berwujud manusia yang sangat sadis.


" Kak mengapa mereka belum kembali, Apakah perlu aku menyusul mereka?"


Tanya Ronald kepada Ina sambil merapikan busur yang sudah jadi.


" Tidak perlu sebentar lagi juga mereka akan kembali dan aku yakin mereka akan baik - baik saja,"


Jawab Ina sambil mengayun baby Scudetto yang terbangun dan menangis.


" Iya aku juga yakin mereka berdua pasti bisa menjaga diri tidak akan ada masalah,"


Timpal Rebecca sambil merapikan beberapa kayu potongan bekas membuat busur panah.


" Mari lah ke rumah ada tamu spesial yang datang ke rumah kita malam ini,"


Ucap Robert yang tiba - tiba muncul di pintu dengan senyum khas nya.


" Siapa tamu nya, Apakah spesial sekali hingga raut wajah mu bahagia sekali sayang?"


Tanya Ina sambil memandang ke arah Robert.


" Yap maka marilah kita sambut tamu kita agar kita bisa tertawa bersama,"


Jawab Robert sambil mendekati Ina yang sedang mengayun baby Scudetto.


" Baik lah, Mari kita lihat siapa tamu kita dan semoga bukan salah satu dari monster itu,"


Ucap Rebecca sambil membersihkan baju nya.


" Perasaan ku tidak enak seperti nya akan ada yang terjadi malam ini?"


Ucap Ronald berkata lirih di samping Rebecca.


" Kalau tidak enak buang saja repot sekali dengan perasaan mu."


Jawab Rebecca sambil berjalan mengikuti Ina dan Robert.


Kemudian mereka berempat keluar dari bekas kandang domba dan berjalan menuju rumah dan saat itu Vico sedang duduk di hadapan Felix tanpa bicara hanya sorot mata yang penuh dendam yang tersirat andai saja saat itu Vico tidak menghargai Robert dan Ina seperti nya Vico sudah di cincang tubuh Felix oleh Vico.


" Siapa tamu nya?"


Tanya Ina sambil melangkah masuk ke ruang tamu.


" Dia tamu nya Kak, Apakah Kakak tidak ingin menyambut tamu kita malam Ini?"


Jawab Vico sambil bangkit dari duduk nya.


" Hei Ine keponakan ku yang cantik seperti nya kamu sudah memiliki putra, Mari bawalah putra mu kemari agar aku bisa menggendong nya,"


Ucap Felix dengan nada sok ramah menyapa Ina yang di dalam tubuh nya adalah roh Ine.


" Oh kamu tamu nya, Tidak perlu putra ku kamu gendong sebab sebentar lagi putra ku yang akan menggendong jasad mu Paman,"


Jawab Ina dengan sorot mata penuh dendam.


" Ine semua ini hanyalah kesalah pahaman saja dan aku bisa menjelaskan kepada mu dan kepada yang lain,"


Ucap Felix yang mencoba membuat pembelaan.


" Benar kan kata ku pasti ada sesuatu,"


Ucap Ronald lirih di samping Rebecca.


" Sudah diam saja jangan ikut bicara kamu Ronald kecuali kamu ingin merasakan tamparan ku."


Jawab Rebecca dengan nada lirih dengan tatapan fokus ke Felix.


Saat itu seketika ruangan menjadi terasa menegangkan dan Ina menyerahkan baby Scudetto kepada Rebecca agar membawanya ke kamar dan meminta Rebecca dan Ronald untuk menemani baby Scudetto di kamar, Sedangkan Ina ingin menginterogasi Felix.


" Baik lah sekarang kata kan bagaimana kamu menjelaskan atas semua perlakuan mu kepada kedua orang tua ku dan kedua saudara ku serta apa tujuan mu memisahkan aku dan Ina?"


Tanya Ina dengan nada datar sambil duduk di sofa di mana tadi Vico duduk.


" Robert apa maksud Kak Ina aku kurang paham?"


Tanya Vico lirih sambil berbisik kepada Robert.


" Nanti saja ku jelaskan apa yang sebenar nya terjadi, Saat ini waktu nya tidak tepat."


Jawab Robert dengan nada lirih dan tatapan sinis kepada Felix.


Saat itu Felix seperti nya kebingungan untuk membuat alasan dengan wajah gugup Felix mencoba mengalihkan pembicaraan dan saat itu seperti nya kesabaran Ine sudah semakin habis saat mendengar ucapan Felix yang semakin berbelit - belit hingga Ine pun berteriak kepada Felix sambil melemparkan fas bunga ke arah kepala Felix.


" Ine sudah lah semua sudah terjadi dan ikhlas kan lah kepergian kedua orang tua dan saudara mu dan mengenai Ina, Bukan aku tapi itu permintaan dari Ayah mu sendiri dan aku hanya menjalankan perintah Ayah mu saja,"


Pembelaan diri Felix sambil mencoba mendekati Ina.


Teriak Ina sambil melemparkan fas bunga yang terbuat dari kaca tepat di kepala Felix.


" Ine aku sudah mengatakan sejujurnya kepada mu!"


Ucap Felix sambil memegang kening nya.


" Seperti itu kamu kata kan jujur lalu bohong nya seperti apa, BRAKK!"


Ucap Vico sambil memukul wajah Felix hingga terjatuh ke lantai.


" Felix berkata lah yang sesungguhnya agar kami bisa memikirkan bagaimana nasib mu selanjutnya,"


Ucap Robert sambil membantu bangkit berdiri Felix.


" SUDAH MAU MATI SAJA SUSAH SEKALI BERKATA JUJUR KAMU MANUSIA BIADAB!"


Teriak Ina sambil memukul wajah Felix yang baru saja di bantu berdiri oleh Robert.


" Kak orang seperti dia tidak akan pernah berkata - kata jujur jadi segera kita antar saja ke tempat yang lebih tenang,"


Ucap Vico sambil menginjak tengkuk Felix.


" Vico tidak baik bersikap seperti itu kepada orang yang lebih tua, Singkirkan kaki mu,"


Ucap Robert sambil menepuk kaki Vico sambil tersenyum.


" Apa yang akan kamu laku kan pada nya Sayang?"


Tanya Ina dengan tatapan curiga.


" Akan aku lakukan apa yang dia lakukan kepada kedua orang tua mu dan kedua saudara mu dan juga seperti kepada Ibu mu Vico, Agar dia juga merasakan apa yang mereka rasakan saat itu!"


Jawab Robert sambil memapah Felix berdiri.


" Benar aku setuju dengan mu Robert, Dia harus merasakan apa yang di rasakan Ibu ku saat itu!"


Ucap Vico dengan nada geram.


" Baik lah, Tapi dia harus mengatakan di mana sarang Robin dan para monster biadab itu."


Ucap Ina dengan sorot mata kejam.


" JANGAN ... JANGAN ... LAKU KAN HAL ITU PADA KU, AKU HANYA KORBAN AKU TIDAK TAHU APA - APA!"


Teriak Felix meronta ingin lepas dari pegangan Robert dan Vico.


Namun mereka berdua tidak menghiraukan ucapan Felix yang mereka lakukan menggelandang Felix ke sebuah tanah lapang dan mengikat nya di sebuah kayu kemudian di sekeliling nya di berikan ranting - ranting kering yang di siram dengan bensin dan pasti nya saat itu Felix berfikir tidak ada harapan untuk hidup lagi.


" Sekarang aku bertanya sekali lagi kepada mu bila kamu berkata jujur mungkin aku bisa merubah keputusan ku?"


Tanya Ina sambil memegang korek api di tangan nya.


Kemudian dengan air mata bercucuran Felix menceritakan kejadian saat itu yang membuat diri nya melakukan hal bodoh dan menghabisi banyak nyawa, Dia mengatakan saat itu perekonomian nya sangat tidak baik dan dia menyukai Ibu nya Vico yang saat itu sudah menjadi istri saudagar kaya dan dulu sebelum Ibu nya Vico menikah pernah Felix melamar nya namun di tolak oleh keluarga Ibu nya Vico.


Maka dari itu Felix melakukan berbagai macam cara bahkan membuat saksi dusta mengatakan bahwa Ayah nya Ine melakukan pencucian uang di perusahaan nya yang saat itu bekerjasama dengan Ayah nya Vico sehingga saat itu Ayah nya Ina menanggung kerugian yang sangat besar bahkan sampai perusahaan nya pun tidak terselamatkan lagi harus berpindah tangan ke Ayah nya Vico yang saat itu partner kerja nya.


Hingga akhir nya Ayah nya Vico mempercayakan perusahaan itu di kelola oleh Felix namun ternyata Felix memiliki tujuan tertentu agar Ayah nya Vico meninggal dunia maka Felix melakukan rencana yang lebih kejam lagi untuk menghabisi Ayah nya Vico saat kelahiran Ronald saat itu.


Namun seperti nya Felix belum puas juga akhir nya Felix menghabisi keluarga nya Ine dengan harapan semua aset kepemilikan tanah berpindah tangan kepada nya dan bisa menikahi Ibu nya Vico dengan tujuan menguasai harta peninggalan Ayah nya Vico.


Saat mendengar semua pengakuan Felix saat itu Vico sudah tidak mampu lagi menahan amarah nya dan ingin segera melenyapkan Felix namun di tahan oleh Robert sebab Felix belum mengatakan di mana Robin berada saat ini dan bagi Robert itu misi utama Robert untuk menemukan Robin.


" Kendalikan emosi mu Vico."


Ucap Robert sambil merangkul Vico yang terbawa emosi.


" Aku sudah tidak tahan dengan semua kata - kata nya maka lepaskan aku Robert!"


Jawab Vico yang akan berubah menjadi srigala.


" Lalu di mana Robin berada saat ini dan juga di mana kamu letak kan beberapa surat berharga kepemilikan keluarga ku?"


Tanya Ina sambil berjalan mengitari Felix yang sudah terikat di kayu.


" Semua surat - surat itu masih tersimpan rapi di brankas di rumah Ibu nya Vico dan mengenai Robin dia menduduki rumah ku yang berada di pusat kota."


Jawab Felix dengan nada terbata - bata sebab sudah banyak luka di wajah nya.


" Anak pintar mengapa tidak dari tadi kamu kata kan agar tidak perlu aku menghajar mu manusia bebal, PLAAK!"


Ucap Ina sambil menampar wajah Felix.


Saat itu Ina membalikkan badan nya dan mendekati Robert dan Vico dengan harapan mempertimbangkan tindakan selanjutnya yang akan di lakukan kepada Felix sedangkan Vico masih menangis mengenang Ayah dan Ibu nya yang ternyata Felix lah yang membunuh nya dan saat itu Ina membantu Robert untuk menenangkan Vico.


" Vico kuasai diri mu ingat misi kita untuk menghabisi para monster itu jadi jangan ikuti emosi mu!"


Ucap Robert dengan nada sedikit penekanan.


" Kamu harus tenang Vico balaskan sakit hati kedua orang tua mu dengan cara yang baik bukan dengan amarah, Apakah dengan menghabisi dia saat ini lalu kedua orang tua kita akan hidup kembali tentu tidak kan segeralah sadar Vico!"


Ucap Ina yang mencoba memberi pengertian kepada Vico yang sedang terbawa emosi.


" Anak mana yang akan ikhlas kedua orang tua nya meninggal karena di bunuh oleh orang yang serakah seperti dia, Pasti nya tidak akan rela!"


Ucap Vico dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi nya.


" Aku pun begitu bahkan semua anak - anak di luar sana pun pasti berfikir yang sama tapi ingat Vico ini baru awal perjuangan kita membasmi para monster itu."


Ucap Ina sambil mengelus punggung Vico agar lebih tenang menerima sebuah kenyataan.


Akhir nya Vico pun bisa di tenangkan oleh Robert dan Ina sebab Vico berpikir saat ini siapa lagi keluarga nya selain mereka berdua dan Ronald adik kandung nya, Kemudian mereka bertiga membicarakan tindakan apa yang terbaik untuk menghukum Felix bila harus di bunuh begitu saja itu sangat lah meringankan penderitaan nya.


Dan saat itu Ronald dan Rebecca hanya bisa menyaksikan semua itu dari balik jendela di kamar dan pasti nya saat itu Ronald pun merasa terpukul mendengar pernyataan Felix dan sebisa mungkin Rebecca menenangkan Ronald yang saat itu bersama nya di kamar, Sedangkan baby Scudetto yang awal nya tertidur di ranjang tiba - tiba berubah menjadi seekor srigala yang berukuran besar.


Pasti nya roh leluhur Robert tidak akan bisa terima mendengar dan melihat hal seperti itu lalu apakah yang akan di lakukan oleh roh leluhur Robert yang sudah menguasai tubuh baby Scudetto dan keputusan apa yang akan mereka ambil untuk menghukum Felix yang begitu serakah dan berambisi menjadi orang yang di hormati?


Jangan pernah beranjak dari kisah ini dan ikuti perjuangan mereka hanya di I'M A WOLF MAN dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.