
Sering kali kita di tempat kan pada situasi yang sulit namun pernah kah kita berfikir bahwa hal yang sulit di hadapan kita itu akan menghasilkan sebuah kebaikan bagi diri kita bahkan mungkin juga baik untuk orang sekitar kita, Jadi cobalah merubah sudut pandang kita di saat menghadapi masalah sesulit apa pun dan selalu yakin bahwa Tuhan selalu berserta kita.
Begitu juga saat ini yang sedang di alami oleh Robert dan Ina yang harus terbuang di wilayah timur dengan membawa tanggung jawab seorang bayi dalam kondisi sangat sulit namun mereka berdua memiliki keyakinan yang luar biasa sehingga mampu melalui segala rintangan yang bertubi - tubi menghadang mereka.
Kali ini Ina benar - benar di uji kesabaran nya dan Ina di tuntut untuk memahami sebuah kondisi yang sebenar nya Ina sendiri juga bingung dengan kondisi yang di alami nya saat ini, Sebenar nya perasaan apa yang telah bersarang dalam hati dan pikiran Ina kepada Robert apakah Robert memiliki rasa yang sama atau kah itu hanya Ina saja yang merasakan.
Sebab semenjak tiba di wilayah timur sikap Robert berbeda diri nya lebih banyak diam dan mudah tersinggung, Hanya masalah kecil pun Robert bisa marah dan berteriak sedang kan Ina bila ada seseorang yang membuat nya terkejut refleks akan menampar nya siapa pun itu orang nya, Lalu apa yang terjadi dengan mereka berdua malam ini di kamar tidur.
" Robert apakah kamu sudah akan tidur?"
Tanya Ina sambil meletakkan baby Scudetto di ranjang.
" Belum, Ada apa?"
Jawab Robert sambil memandang ke luar kamar melalui jendela.
" Ada apa dengan mu sebenar nya mengapa aku lihat akhir - akhir ini kamu lebih banyak murung, teringat ...."
Tanya Ina yang belum menyelesaikan kalimat nya.
" Sampai kapan kamu akan selalu mengungkit hal itu dan kamu selalu menuduh aku selalu ingat masa lalu ku, Apakah kamu tidak memiliki masa lalu!"
Jawab Robert dengan nada marah.
" Hei ada apa dengan mu Robert, Semua orang pasti punya masa lalu tapi mau sampai kapan kamu hidup di masa lalu mu sedang kan saat ini lah kamu hidup bukan di masa lalu!"
Ucap Ina yang tersulut emosi nya.
" AKU TIDAK SEDANG MEMIKIRKAN MASA LALU PAHAM KAMU!"
Teriak Robert yang semakin emosi dan saat itu baby Scudetto pun menangis sebab terkejut.
" PLAK, Jangan pernah berteriak di depan ku paham kamu!"
Ucap Ina dengan nada geram menampar wajah Robert.
Setelah itu Robert pun keluar kamar sambil membanting pintu dan yang mampu Ina lakukan di kamar hanyalah menangis sambil memeluk baby Scudetto yang juga sedang menangis, Sedangkan Vico baru saja masuk rumah dengan membawa beberapa bahan makanan yang mereka butuhkan.
" Ada apa dengan mu Robert, ada yang bisa ku bantu?"
Tanya Vico sambil berjalan menuju dapur untuk meletakkan belanjaan nya.
" Aku bingung harus bagaimana berbicara dengan Ina."
Jawab Robert sambil menuangkan air minum di gelas.
" Berbicara mengenai hal apa, Bila mengenai hal rumah tangga maaf aku tidak bisa membantu sebab aku belum pernah berumah tangga."
Ucap Vico sambil meletakkan sayur ke dalam kulkas.
" Masalah Ayah mu Vico."
Ucap Robert sambil memandang ke arah Vico.
" Oh masalah itu, apa perlu aku yang mengatakan agar kamu lebih tenang?"
Tanya Vico sambil senyum mendekat kepada Robert.
Saat itu Robert hanya mampu diam dan memandang ke Vico dengan berfikir apakah Vico tidak takut bila Ayah nya akan jadi incaran diri nya dan Ina sebab Ayah nya Vico lah yang telah menghabisi keluarga dan teman - teman seperjuangan Robert dan Ina.
" Apa yang sebenar nya kalian sembunyikan dari ku selama ini?"
Tanya Ina yang tiba - tiba sudah berdiri di sisi pintu dapur.
" Kak apakah Scudetto sudah tidur, aku ingin bermain dengan nya."
Jawab Vico yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Tolong jawab pertanyaan ku dan jangan mengalihkan pembicaraan."
Ucap Ina dengan tegas dengan tatapan curiga.
" Baik lah bila itu mau mu Ina mari kita berbicara di ruang tamu."
Ucap Robert sambil memegang pundak Ina namun ditepis oleh Ina.
Kemudian mereka bertiga duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu dan saling diam sebab bingung mengawali percakapan dari mana dan Ina mulai berkutat dengan pikiran nya mengenai masa lalu Robert yang bagi Ina itu sangat mengganggu.
" Kata kan ada apa sebenar nya atau kah kalian tidak menginginkan aku berada di rumah ini lagi?"
Tanya Ina sambil bergantian memandang ke arah Robert dan Vico.
" Bukan seperti itu Ina kamu sudah salah sangka."
Jawab Robert dengan nada rendah.
" Maka dari itu kata kan ada apa agar aku tidak salah sangka Robert."
Ucap Ina sambil menyeka air mata nya yang tidak mampu terbendung.
" Jadi begini Kak, Ayah ku adalah sumber terjadi nya masalah di wilayah utara dan di pusat kota dan Ayah ku lah yang menciptakan para monster itu, Bila Kakak ingin membunuh ku sekarang aku sudah siap untuk menebus kesalahan Ayah ku."
Ucap Vico dengan serius.
" Sudah hanya itu atau ada yang lain lagi yang kalian sembunyikan kepada ku?"
Ucap Ina sambil menangis.
" Sudah hanya itu Ina tidak ada yang lain dan aku takut kamu lepas kendali jadi kami mencoba tidak memberi tahu mu."
Ucap Robert sambil memegang tangan Ina.
" Kalian salah menilai ku selama ini, Untuk apa aku melampiaskan marah ku kepada Vico apakah dengan cara seperti itu lalu kedua orang tua ku hidup lagi begitu pun dengan mu Robert apakah semua orang yang kamu sayangi akan kembali tentu nya tidak kan?"
Ucap Ina mencoba tenang meski sesungguhnya Ina menahan emosi.
" Benar Kak, Aku siap membantu kalian apa pun selama itu demi kebaikan semua orang bukan hanya untuk sekedar balas dendam sebab hal itu akan menyiksa kalian sendiri dan berarti kalian sama saja dengan Ayah ku."
Imbuh Vico dengan menghiasi wajah nya.
" Lalu apa yang harus kita laku kan agar para monster itu tidak semakin meluas?"
Tanya Robert dengan tatapan panik.
" Datangi lah rumah orang tua Vico ajak berbicara baik - baik dan usahakan dapat kan zat yang bertulisan RF - 36 dan DV - 18, Apakah kalian siap?"
Jawab Ina dengan tegas dan mata yang sembab.
" Zat apa itu Ina?"
Tanya Robert dengan tatapan penuh curiga.
" Itu zat untuk menetralisir zat kimia berbahaya yang mampu membuat manusia menjadi monster dan bila kalian bisa mendapat kan itu maka kita bisa menyelamatkan ribuan manusia yang kini terbelenggu menjadi monster."
Jawab Ina dengan serius.
" Maaf apa pekerjaan kalian sebenar nya apakah kalian berdua seorang dokter?"
Tanya Vico dengan tatapan polos.
Jawab Robert dengan tegas.
Saat itu Vico terkagum mendengar pekerjaan mereka dan suasana pun mulai tenang dan saat ini Ina mohon izin untuk beristirahat terlebih dahulu meski sebenar nya di dalam kamar nya Ina menangis sepuas nya merasakan sakit hati nya kepada pencipta para monster itu yang ternyata saat ini putra nya sedang bersama dan yang telah menolong diri nya.
Sedangkan saat itu Robert dan Vico masih berbincang di ruang tamu membahas tentang bagaimana cara mengambil cairan itu sedangkan yang lebih mengetahui bagian rumah itu Vico dan ternyata Felix pun berencana menemui Vico di kantor stasiun di wilayah timur dengan harapan Vico mau di ajak pulang dan bergabung dengan nya.
" Ronald apakah Vico masih bertugas di stasiun kereta di wilayah timur itu atau kah sudah berpindah lagi dia?"
Tanya Felix sambil menikmati wien.
" Seperti nya masih apakah Ayah akan berbicara dengan nya sekarang?"
Jawab Ronald sambil menuangkan wien ke gelas.
" Apakah kamu menyimpan kontak nya Ronald?"
Tanya Felix dengan tatapan sinis.
" Masih aku simpan tapi semoga saja dia belum pindah dari rumah kumuh itu Ayah."
Jawab Ronald dengan nada menghina.
" Baik lah coba kamu hubungi nomor kontak nya dan semoga saja bisa terhubung."
Ucap Felix dengan senyum licik.
Kemudian Ronald pun menghubungi nomor telepon milik Vico dan ternyata terhubung saat itu Vico dan Robert saling pandang saat mendengar dering telepon saling berpikir siapa yang menelpon semalam ini pikir Vico dan Robert.
" Tumben ada telepon masuk apakah dari kantor?"
Tanya Vico sambil memandang ke arah Robert.
" Terima saja dulu siapa tau stasiun kedatangan para monster."
Jawab Robert dengan nada khawatir.
Kemudian Vico bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju meja telepon yang sedang berdering kemudian segera mengangkat nya dengan penuh khawatir.
" Hallo ada yang bisa di bantu?"
Tanya Vico sambil memandang ke arah Robert.
" Abang ku yang tampan masih ingat kah diri mu dengan adik mu yang telah lama kamu tinggal kan ini?"
Jawab Ronald dengan diiringi tawa lepas.
" Ronald yang menelpon bagaimana ini?"
Tanya Vico sambil menutup salah satu ujung telepon.
" Lospeker."
Jawab Robert sambil mendekat ke Vico.
" Hallo Abang apakah kamu baik - baik saja di sana?"
Tanya Ronald yang tidak mendengar suara Vico.
" Iya aku baik - baik saja, ada apa kamu menghubungi ku semalam ini?"
Jawab Vico dengan nada datar.
" Aku hanya ingin memberi tahu mu bahwa saat ini Ayah bersama ku di Villa dan Ayah berharap kamu mau pulang besok."
Ucap Ronald dengan nada berharap.
" Baik aku akan pulang besok tapi aku tidak bisa tinggal di sana sebab aku harus bekerja."
Ucap Vico dengan nada tegang dan di arah kan oleh Robert harus menjawab apa.
" Ok tidak masalah yang terpenting kamu bisa pulang dan menemui Ayah, Aku tunggu kedatangan mu Bang."
Ucap Ronald kemudian menutup telepon.
Saat itu Robert dan Vico semakin mematangkan rencana dan jangan sampai rencana mereka gagal di lain sisi ternyata Felix dan Ronald juga sudah membuat rencana untuk Vico bila menolak untuk bekerja sama dengan mereka dan pasti nya Felix akan mengorbankan siapa pun demi tercapai nya keinginan nya.
" Ronald ingat apa yang Ayah perintah kan bila Vico menolak bekerja sama."
Ucap Felix dengan sorot mata kejam.
" Siap Ayah sudah aku siap kan dosis yang tepat dan pasti nya Ayah akan melihat hasil riset ku lebih hebat."
Jawab Ronald dengan bangga.
" Lalu apakah kamu juga sudah menemukan penawar nya Ronald?"
Tanya Felix dengan senyum licik.
" Aku tidak hanya menemukan penawar nya tapi untuk memusnahkan mereka dalam waktu singkat sudah aku siap kan Ayah."
Jawab Ronald dengan bangga.
Kemudian mereka berdua pun tertawa lepas berfikir sebentar lagi Vico akan menjadi target mereka berdua di jadikan monster juga dan akan di lepaskan di wilayah timur agar pemerintah pusat merasa kewalahan dan menyerah kepada Felix dan saat itu Felix lah yang akan mengendalikan sebuah negara sesuai keinginan nya.
Malam pun semakin larut maka Robert dan Vico hendak beristirahat dan masuk ke kamar masing - masing dan pasti nya pikir Vico wajar bila Robert tidur dengan Ina sebab mereka berdua suami istri pikir Vico yang belum mengetahui bahwa mereka berdua belum menikah bahkan tidak ada komitmen antara mereka berdua.
Dan terjadi lah malam yang membuat Vico tertawa setelah mengetahui kebenaran nya dan hal itu karena lagi dan lagi Ina di buat terkejut oleh Robert sehingga reflek Ina menampar wajah Robert yang sedang berebah di sisi nya.
" PLAK, siapa kamu!"
Ucap Ina sambil membuka mata lebar - lebar.
" Ya Tuhan harus berapa kali aku harus menerima tamparan dari mu Ina?"
Tanya Robert dengan pandangan sebal.
" Untuk apa kamu tidur di sini sana tidur di sofa, Ini bantal dan selimut mu!"
Jawab Ina sambil memberikan bantal dan selimut ke Robert.
" Hei apa - apaan ini Ina mengapa kamu menyuruh ku keluar, INA BUKA PINTU NYA!"
Teriak Robert sambil menggedor pintu yang membuat Vico terkejut.
" Ada apa lagi dengan kalian kenapa kamu membawa bantal dan selimut Robert?"
Tanya Vico dengan tatapan bingung.
Di situlah Robert menceritakan semua nya dan memberitahu kepada Vico apa status sebenar nya mereka berdua dan baby Scudetto itu sebenar nya putra siapa dan saat itulah Vico tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi Robert yang pasti sangat menggelikan di mata Vico dan akhir nya Robert malam itu tidur bersama Vico dan Ina tidur dengan baby Scudetto.
Malam semakin larut udara pun semakin dingin saat itu Robert hati nya sedang gelisah sebab Robert sangat paham saat bulan purnama diri nya pasti akan berubah menjadi srigala dan Robert tidak ingin Vico mengetahui wujud srigala nya agar Vico tidak ketakutan akhir nya setelah Vico sudah benar - benar tertidur lelap Robert pergi keluar kamar dan merubah wujud nya menjadi srigala buas.
Seperti nya Felix tidak pernah berhenti dari obsesi nya untuk menguasai dunia dengan menggunakan teror monster ke setiap wilayah - wilayah bahkan kini putra nya sendiri yang akan di jadi kan monster lalu apakah niat Felix dan Ronald akan berhasil merubah Vico menjadi monster ciptaan Ronald yang akan di lepaskan di wilayah timur?
Jangan pernah beranjak dari I'M A WOLF MAN dan ikuti perjalanan mereka jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semakin semangat nulis nya.