
Dalam menghadapi hidup kita harus berani, Yang menjadi pertanyaan berani untuk apa dan mengenai hal apa itu yang terpenting, Berani yang di maksud adalah berani mencoba, berani belajar, berani menghadapi kegagalan, berani di tertawa kan, Semua itu adalah serangkaian untuk menjadi sukses dalam hidup ini.
Pilihan ada di tangan kita mau menjadi orang biasa atau orang luar biasa bila yang di pilih menjadi orang luar biasa maka kalahkan berfikir negatif kepada diri sendiri sebab hal itu lah yang membuat gagal, Berfikir lah bahwa diri mu hebat dan sangat berharga tumbuh kan lah pikiran positif pada diri sendiri.
Sama hal nya dengan yang di alami oleh Ine dan Mikael yang merasa tidak sempurna dan alhasil mereka merasa tidak berharga di saat Robert mencoba membuka pola pikir Ine maka bergesekan lah sudut pandang mereka berdua dan menimbulkan pertengkaran yang sebenar nya hal itu tidak lah perlu dalam kondisi seperti ini.
" Apa yang sedang Ayah dan Ibu perebut kan mengapa mereka berdua saling berebut panah?"
Ucap Mikael sambil bertolak pinggang melihat Ine dan Robert.
" Cukup Ine, Tugas kita hanya mengingatkan mereka kembali ke jalan kebenaran bukan menghukum mereka dengan cara seperti ini ada yang lebih berkuasa untuk menghukum mereka dan itu bukan tugas kita!"
Ucap Robert dengan nada emosi.
" Sampai kapan pola pikir mu selalu memaafkan mereka sedangkan mereka sudah menghabisi kedua orang tua mu bahkan istri dan anak kandung mu, Apakah kamu ingin di anggap orang luar biasa?"
Jawab Ine yang berbalik bertanya dengan nada geram dan tatapan sinis kepada Robert.
" Hei apa yang Ayah dan Ibu permasalah kan sebenar nya?"
Tanya Mikael yang berjalan menghampiri mereka berdua.
" Ine kembali lah ke alam mu dan renungkan perkataan ku, Masalah di sini serahkan kepada ku,"
Ucap Robert setelah menghela nafas panjang.
" Oh ... ok baik lah mungkin aku sudah tidak di butuhkan lagi di sini dan memang sudah tidak berguna lagi keberadaan ku, Tapi ingat Robert bila Ina sampai mengalami hal yang pernah aku alami maka tidak hanya Robin yang aku musnah kan tapi diri mu juga akan aku musnah kan, CAM KAN KATA - KATA KU!"
Jawab Ine dengan emosi lalu berlalu pergi dari hadapan Robert.
" INE TUNGGU APA MAKSUD MU!"
Teriak Robert kepada Ine yang tidak di hirau kan.
" Ayah tenang lah, Biar aku yang berbicara kepada Ibu dan segera selamat kan Scudetto."
Ucap Mikael sambil menepuk pundak Robert kemudian berlari dengan wujud srigala mengejar Ine.
Saat itu Robert hanya mampu mematung menyaksikan Ine wanita yang dia sayang dan cintai sedang marah besar kepada nya di sisi lain Robert juga merasa bingung dengan perkataan Mikael yang memanggil diri nya dengan sebutan Ayah dan memanggil Ine dengan sebutan Ibu dan dengan cepat Robert teringat dengan Scudetto.
Siapa lelaki muda itu mengapa memanggil ku Ayah dan memanggil Ine dengan sebutan Ibu, Apakah dia putra ku juga tapi putra ku yang mana lagi selama ini yang aku tahu putra ku Scudetto yang terlihat nyata di hadapan ku, Oh iya Scudetto di mana putra ku!
Bergumam lah dalam hati Robert kemudian bergegas lah ia masuk kedalam rumah tersebut sambil mencari di mana Scudetto berada dan bersama siapa, Dengan tatapan mata panik serta tangan memegang dada nya yang terasa nyeri Robert membuka satu persatu pintu sebuah ruangan yang ada di hadapan nya.
" SCUDETTO DI MANA DIRI MU!"
Teriak Robert sambil sesekali menahan tubuh nya yang hampir jatuh.
" Robert,"
Ucap Ronald sambil menepuk pundak Robert dari arah belakang.
" Di mana putra ku!"
Ucap Robert sambil membalikkan tubuh nya dan satu tangan menarik baju Ronald dan kepalan tangan Robert siap bersarang ke wajah Ronald.
" Robert ini aku Ronald, Tenang lah Scudetto aman bersama kami,"
Ucap Ronald dengan sedikit memundurkan tubuh nya dengan kedua tangan terangkat dan tatapan terkejut.
" Antarkan aku kepada putra ku,"
Jawab Robert sambil berjalan dibopong Ronald menuju di mana Scudetto terbaring lemas.
Kemudian Ronald pun mengantarkan Robert menuju di mana Scudetto terkulai lemas di atas sebuah ranjang dengan kondisi yang lumayan memprihatinkan, Setiba nya mereka berdua di kamar tersebut segeralah Robert mendekati tubuh Scudetto yang sedang tidak sadarkan diri kemudian sambil menangis Robert memeluk erat tubuh Scudetto sambil menciumi wajah Scudetto.
" Siapa yang melakukan ini pada putra ku!"
Ucap Robert dengan nada geram.
Saat itu Ronald dan Rebecca hanya mampu terdiam sebab mengetahui Robert sedang marah besar melihat kondisi Scudetto saat ini, Tidak lama kemudian datang lah Ina dan Rowdi seketika Ina berlari menuju ranjang di mana saat itu Robert sedang memeluk Scudetto.
" Ina tenang lah semua akan baik - baik saja,"
" Bagaimana mungkin aku dan Ina bisa tenang melihat putra kami sedang sekarat dengan luka seperti ini, Aku sebagai Ayah nya tidak bisa terima!"
Ucap Robert sambil menangis dan nada emosi.
" Robert ingat lah Scudetto bukan manusia biasa dia manusia luar biasa tidak akan semudah itu dia mati, Berikan darah mu pada liontin kalung itu!"
Bentak Rowdi sambil menarik tubuh Robert yang berada di ranjang agar Robert segera sadar.
Kemudian segeralah Robert menggigit jari telunjuknya dan meneteskan darah nya tepat di liontin kalung wasiat leluhur yang menggantung di leher Scudetto tanpa menunggu waktu lama liontin itu pun mengeluarkan cahaya berwarna putih dan terang membungkus tubuh Scudetto yang terluka parah dan mengangkat nya kurang lebih setinggi satu meter dari ranjang.
Sekitar 15 menit kemudian tubuh Scudetto yang awal nya terluka parah namun saat ini tidak ada luka sedikit pun bahkan tidak ada bekas luka sama sekali di tubuh nya dan saat ini baby Scudetto sudah duduk di atas ranjang dengan gelak tawa khas yang membuat semua orang yang melihat nya turut bahagia.
" Putra ku Scudetto kamu sudah sembuh nak,"
Ucap Ina yang masih menangis bahagia melihat Scudetto sudah tertawa kembali.
Saat itu semua menangis terharu menyaksikan kejadian itu namun tiba - tiba Ronald teringat kepada Robin yang tadi sudah di ikat oleh Ine di sebuah pohon untuk di panah, Kemudian Ronald menarik tangan Rebecca untuk keluar dari kamar tersebut dan berlari menuju taman untuk memastikan keberadaan Robin.
" Ronald apa yang kamu lakukan?"
Tanya Rebecca sambil mengikuti Ronald berlari menuju teras rumah itu.
" Robin, Apakah Robin sudah mati di tangan Kak Ine atau bagaimana lalu kemana Kak Ine dan Mikael pergi nya?"
Jawab Ronald sambil melangkahkan kaki nya dengan cepat menuju teras.
" Iya benar juga kemana mereka lalu bagaimana nasib Robin saat ini."
Ucap Rebecca dengan pandangan bingung.
Namun setiba nya di teras mereka tidak menemukan Robin di sebuah pohon yang awal nya terikat di situ bahkan rantai nya pun sudah tergeletak di tanah tanpa ada jejak sedikit pun, Dan mereka berdua juga tidak menemukan Mikael dan Ine akhir nya mereka berdua berfikir bahwa Robin telah di bawah oleh mereka berdua di suatu tempat untuk di eksekusi.
Kemudian mereka semua kembali menuju rumah camp yang berada di pusat kota untuk beristirahat dan memikirkan apa rencana selanjutnya, Di sisi lain ada Felix, Hendrik, Robin dan Clark putra Defonz kepala suku Giant yang masih hidup, Mereka berempat kini tinggal lah di sebuah goa tanpa pengikut satu pun sebab pengikut mereka semua sudah di babat habis oleh Mikael dan Scudetto waktu itu.
" Terimakasih kalian berdua masih mau menolong ku,"
Ucap Robin sambil duduk di sebuah batu besar di dalam goa dengan nada gemetar menahan sakit.
" Sudah jangan di pikir kan hal itu Robin beristirahat lah agar lekas membaik kondisi mu,"
Jawab Hendrik sambil duduk di samping Robin.
" Dan ingat kalau sudah sehat jangan lempar muka ku lagi dengan pot bunga dan jangan pukul kepala ku dengan kayu lagi sebab sudah mengalami migren akut aku,"
Ucap Felix dengan nada tanpa bersalah sambil mencoba membuat api unggun.
" PLAK, Bagaimana aku tidak memukul kepala mu Felix sedangkan bicara mu tidak masuk akal mana ada monster migren!"
Jawab Hendrik setelah memukul kepala Felix dengan keras.
" Kenapa tidak amnesia sekalian kamu Felix?"
Ucap Clark sambil senyum sambil menahan sakit di perut nya.
" Siapa dia Hendrik?"
Tanya Robin dengan nada sinis.
" Itu Clark putra dari Defonz kepala suku Giant, Kami hanya menemukan dia yang hidup,"
Jawab Hendrik sambil membantu Robin duduk.
Mereka berempat sat ini tinggal di sebuah goa tanpa ada pengikut satu pun dan saat ini mereka berempat tidak mengincar wilayah mana pun namun mereka berempat lebih fokus untuk mendapatkan kalung wasiat leluhur yang pernah di ceritakan Defonz kepada Robin dan sepengetahuan Defonz dan Robin kalung tersebut di gunakan oleh Robert.
Sedangkan nyata nya kalung tersebut kini sudah berpindah tangan dan yang menggunakan kalung wasiat leluhur adalah baby Scudetto, Apakah rencana mereka berempat untuk merebut kalung wasiat tersebut sedangkan saat ini mereka sudah tidak memiliki anak buah lagi untuk menyerang Robert dan kawan - kawan nya serta kawanan srigala buas yang berjumlah ratusan ribu.
Dan apa rencana Robert, Ina, Rebecca dan Ronald kedepan nya untuk membangun kembali setiap wilayah yang sempat terbengkalai karena ulah para monster buatan Felix dan Robin, Mampukah mereka berempat menata ulang dan menstabilkan perekonomian negara kembali dan apakah Robin tetap dengan ambisi nya?
Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan selalu ikuti kisah mereka hanya di I'M A WOLF MAN dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.