
Doa bagaikan nafas kita maka dari itu berdoa lah setiap hari dan temukan passion kita meski kita sering merasa kan putus asa, kecewa dan lelah tapi ingat jangan pernah menyerah sebab Tuhan akan memelihara kita dengan baik dan tidak mungkin saat kita meminta akan langsung diberi semua butuh proses dan Tuhan ingin melihat kesetiaan kita dalam proses itu.
Tugas kita hanya lah percaya bahwa Tuhan itu maha memberi, maha pengasih dan maha penyayang sebab di balik keberhasilan tidak hanya berbicara tentang kemampuan saja tetapi juga ada keberuntungan dengan kata lain ada campur tangan Tuhan jadi lakukan saja apa yang sudah menjadi passion mu dan hasil nya serahkan kepada Tuhan sebab Tuhan tidak akan mengecewakan umat nya yang setia dan fokus dalam proses.
Saat ini Robert, Ina, Vico dan Ronald sedang dalam proses untuk mencapai cita - cita mereka untuk membasmi para monster yang sudah menghancurkan beberapa wilayah dan pasti nya semua itu membutuhkan pengorbanan dan itulah yang di sebut perjuangan pasti ada yang di korban kan bila tidak ada pengorbanan bukan lah perjuangan.
Setelah makan siang Robert menghampiri Ina, Ronald dn Vico di ruang laboratorium untuk memberikan keputusan nya dan pasti nya Robert siap mengambil konsekuensi nya bila diri nya mengatakan keputusan nya.
" Maaf kan aku tapi semua ini aku lakukan demi semua nya bukan hanya kepentingan pribadi ku."
Ucap Robert dengan menatap mereka bertiga bergantian.
" Robert apa yang ada dalam benak mu?"
Tanya Ronald dengan tatapan serius.
" Seperti nya sudah mati akal dia!"
Imbuh Ina sambil membalik kan badan dan memegang kening nya.
" Robert tolong kamu pertimbangkan lagi dengan keputusan mu lihat Scudetto yang masih membutuhkan mu!"
Timpal Vico dengan nada serius.
" Aku tau dengan maksud kalian dan tolong yakin dan percayalah kepada Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuk kita semua."
Jawab Robert dengan senyum tenang memegang pundak Vico.
" Aku tidak terima bila kamu memaksa aku akan menyuntik kan zat ini ke tubuh ku juga!"
Ucap Ina yang sudah kehabisan kata untuk melarang Robert.
" Ina berdoa lah kepada Tuhan apakah itu yang di inginkan Tuhan dalam hidup mu, Ingat lah kita punya punya rencana namun yang terjadi biarlah rencana Tuhan."
Jawab Robert sambil memegang pundak Ina.
" Robert mengapa kamu begitu bodoh selalu membuat ku khawatir, Aku belum siap kehilangan mu Robert."
Ucap Ina sambil menangis memeluk Robert dengan erat.
Saat itu mereka bertiga memeluk Robert dan menangis sebab mereka berpikir saat ini lah terakhir kali nya mereka bisa memeluk Robert sebab setelah zat itu di suntik kan maka Robert tidak akan mengenali siapa mereka lagi sebab Robert akan menjadi monster yang lebih ganas lagi dari pada monster - monster yang sudah berada di wilayah utara dan pusat kota.
Namun mereka tidak tahu pasti nya rencana Tuhan apa dan bahkan mereka juga tidak tahu akan di bawa kemana oleh Tuhan dan nanti pada saat nya tiba mereka hanya mampu terheran - heran melihat kuasa Tuhan yang mampu merubah apa pun dalam sekejap mata asal mereka mau setia dalam proses dan fokus kepada cita - cita mereka dengan passion masing - masing.
Sebelum Robert masuk kedalam ruangan kaca saat itu Robert mengajak Ina, Ronald dan Vico untuk berdoa dengan cara berserah kepada Tuhan lah hati kita bisa menjadi tenang asal jangan menyerah dalam kondisi apa pun saat itu mereka benar - benar sedih dengan keputusan yang di ambil Robert namun mereka tetap harus menghargai keputusan Robert.
Di sisi lain semua petinggi pejabat negara sudah bersiap menyaksikan hasil dari reaksi temuan zat yang sudah di gadang - gadang mampu menyelesaikan kerusuhan yang terjadi sebab mereka berfikir hanya dengan cara itu lah yang bisa menyelesaikan semua nya dan setelah mereka berdoa saat itu Robert membuka baju nya dan menyerahkan kepada Ina.
" Yakin dan percayalah aku pasti kembali dan bila aku tidak kembali berikan ini kepada putra ku."
Ucap Robert sambil menyerahkan kalung liontin kepala srigala bermata merah.
Saat itu Ina hanya mampu mengangguk sambil masih menangis menerima baju dan kalung milik Robert setelah itu Robert membalikkan tubuh nya dan berjalan menuju ruangan kaca yang di dalam ruangan kaca itu sudah ada Ronald dan Vico di dalam untuk memasang semua peralatan yang di perlukan.
" ROBERT ... I LOVE YOU, Segera lah kembali!"
Teriak Ina yang mencoba tersenyum melepas Robert.
" I love you to."
Jawab Robert sambil tersenyum kemudian melanjutkan langkah nya menuju ruang kaca.
" Robert apakah kamu benar - benar yakin?"
Tanya Vico sambil berlinang air mata.
" Robert masih ada waktu bila kamu ingin membatalkan niat mu yang gila ini."
Imbuh Ronald sambil menyeka air mata nya.
" Aku tidak pernah merubah keputusan ku dan semua ku lakukan karena Tuhan jadi kalian jangan jadi batu sandungan ku."
Jawab Robert dengan tegas sambil merebahkan tubuh nya di sebuah tempat yang sudah di sediakan.
Mereka berdua pun tidak mampu berkata - kata lagi yang mampu mereka laku kan hanyalah menjalan kan prosedur di laboratorium sedangkan semua para pejabat juga merasa sedih bila hal ini sampai gagal sebab mereka semua akan merasa bersalah dan kehilangan sosok Robert seorang anggota militer yang berdedikasi.
Setelah semua peralatan di pasang dan mengikat kaki, tangan dan tubuh Robert dengan kencang mereka berdua keluar dari ruangan itu dan segera di rantai pintu nya agar bila terjadi sesuatu tidak sampai fatal dan saat itu Ina tidak kuasa untuk melepaskan zat temuan nya itu kedalam ruangan kaca di mana Robert berada.
" Kak sudah kami pasang semua sesuai prosedur."
Ucap Vico dengan nada lesu.
" Dan pintu juga sudah di rantai Kak."
Imbuh Ronald sambil menyeka air mata nya.
" Iya aku tahu, Tapi aku tidak kuasa menekan tombol on."
Jawab Ina sambil pandangan kosong ke arah ruang kaca.
Mereka bertiga tidak ada yang sanggup untuk mengaktifkan mesin untuk melepas zat temuan baru itu dan saat itu Jendral Jacob mulai gusar melihat mereka bertiga tidak segera menjalankan perintah nya.
" Apa yang kalian tunggu lagi segera aktifkan mesin nya!"
Ucap Jendral Jacob dari atas dengan menggunakan pengeras suara.
Ucap Vico dengan nada rendah.
" Tidak aku tidak sanggup membunuh orang yang sudah aku anggap saudara ku."
Jawab Ronald sambil membuang muka menahan sesak di dada nya.
" Lambat sekali mereka apakah perlu aku yang melakukan nya!"
Ucap Jendral Jacob dengan nada gusar.
" Mungkin itu yang lebih baik Tuan."
Jawab Mayor Zein dengan nada gugup.
" Baik lah biar aku yang melakukan nya bila mereka tidak mau melakukan nya!"
Ucap Jendral Jacob sambil melangkahkan kaki menuju ruang bawah.
Dengan langkah pasti Jendral Jacob melangkah menuruni tiap - tiap anak tangga dan sampailah Jendral Jacob di ruangan di mana semua mesin sudah siap untuk di aktif kan dan tanpa menunggu waktu lama segera Jendral Jacob menekan sebuah tombol pengaktifan untuk melepaskan zat dengan dosis yang sangat tinggi ke dalam ruangan kaca di mana Robert ada di dalam situ.
Saat mesin di aktifkan oleh Jendral Jacob saat itu Ina terjatuh terduduk lemas menyaksikan kepulan asap mulai memenuhi ruang kaca dan saat itu Ina tidak kuasa menyaksikan semua itu dan segera Ina bangkit dari duduk nya dan berlari keluar dari ruangan itu menuju ruang penitipan bayi sambil menangis.
Putra ku sekarang kita hanya berdua dan kamu harus tahu bahwa Ayah mu adalah seorang pahlawan kamu harus bangga kepada Ayah mu yang rela mengorbankan diri nya demi kedamaian dunia, Ini pesan Ayah mu sudah ku sampaikan kepada mu dan jangan sampai terlepas dari leher mu kalung ini kamu harus menjaga nya seperti kamu menjaga dan menyayangi Ayah mu ya Nak.
Ucap Ina sambil menangis memasangkan kalung yang di berikan Robert kepada Ina sambil memeluk erat tubuh baby Scudetto yang ikut menangis saat itu namun Ina tidak menyadari bahwa jari nya tergores liontin kalung itu hingga meneteskan darah tepat di liontin itu dan hal itu mampu membangkitkan roh leluhur yang berada di dalam liontin tersebut.
Seketika lampu yang berada di seluruh ruangan itu berkedip dan ruang laboratorium pun semua orang merasa bingung apa yang terjadi dan mereka berfikir percobaan kali ini gagal dan entah apa yang akan terjadi kepada Robert semua yang berada di ruangan itu mulai panik dan berlarian meninggal kan ruang laboratorium sebab berfikir Robert pasti menjadi monster saat ini.
Yang tertinggal di ruangan itu hanyalah Ronald dan Vico sebab mereka memiliki keyakinan Robert pasti mampu melalui semua ini dan semua akan baik - baik saja meski sesungguhnya jantung mereka berdetak dengan kencang menantikan semua asap yang memenuhi ruangan kaca itu lenyap dan dengan sedikit takut mereka berdua mendekati ruangan kaca di hadapan nya.
Perlahan mereka memastikan apa yang telah terjadi kepada Robert dan berangsur - angsur asap dalam ruang kaca itu menghilang perlahan dan saat itu Ronald dan Vico melihat tubuh Robert tergeletak di lantai dan tidak menujukkan perubahan diri nya menjadi monster.
" Ronald benarkah yang aku lihat?"
Tanya Vico dengan nada serius sambil mencoba mendekati kaca di mana tubuh Robert tergeletak.
" OH MY GOOD, Ini benar - benar di luar dugaan Robert tidak menjadi monster!"
Jawab Ronald dengan terkejut dengan kejadian di luar nalar itu.
" Berarti tubuh Robert tidak berpengaruh dengan zat kimia itu atau bagaimana apa yang terjadi sebenar nya?"
Tanya Vico sambil masih mengamati tubuh Robert dari luar ruangan kaca.
" Aku tidak bisa memastikan apa yang terjadi namun saat ini yang kita lihat Robert tidak berubah wujud menjadi monster tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi."
Ucap Ronald yang masih terheran - heran menyaksikan semua itu.
Sedangkan Ina sambil memeluk baby Scudetto merasa putus asa dan lelah sebab sudah tidak ada lagi orang yang mampu menjadi sandaran hidup nya semua orang yang di kasihi dan di sayangi Ina semua sudah menjadi monster pikir Ina dan saat itu Ina hanya mendengar semua orang berlarian keluar dari gedung itu pasti nya Ina berfikir bahwa saat ini Robert sudah menjadi monster dan entah bagaimana nasib Ronald dan Vico saat ini.
Beberapa saat kemudian tiba - tiba Robert tersadar lalu bangkit dari tidur nya seperti nya Robert pun merasa bingung sebab mengapa diri nya baik - baik saja dan tidak menjadi monster saat itu Robert melihat kedua tangan dan kaki nya lalu memegang wajah nya yang tidak ada perubahan sama sekali yang berubah pada Robert hanyalah bola mata nya menjadi berwarna coklat pekat.
Saat itu Robert tertawa lepas melihat karunia yang Tuhan berikan kepada nya dan saat itu segera Ronald dan Vico membuka rantai di pintu dan membawa Robert ke ruang periksa sebab mereka merasa ada yang aneh pada tubuh Robert mengapa bisa tidak berpengaruh zat yang berdosis tinggi itu.
" Robert apa yang kamu rasakan, Apakah kamu masih mengenali kami?"
Tanya Vico dengan tatapan ragu.
" Pertanyaan apa itu, Pastilah aku mengenal kalian berdua sahabat sejati ku."
Jawab Robert sambil tertawa lepas sambil masih melihat tubuh nya tidak berubah.
" Robert apa yang terjadi pada mu mengapa kamu tidak berubah menjadi monster hanya bola mata mu yang berubah warna menjadi coklat pekat semua."
Ucap Ronald yang sibuk meneliti tubuh Robert.
" Tadi awal nya dada ku terasa sesak namun tiba - tiba aku melihat Kakek dan Ayah ku datang dan memberi ku mana tadi ...."
Ucap Robert sambil mencari sesuatu dan berlari menuju ruang kaca itu lagi.
" Sedang mencari apa dia rupa nya?"
Tanya Vico sambil melihat ke arah Robert.
" Ini aku menemukan, Aku di beri ini oleh Kakek dan Ayah ku yang sudah meninggal kan bahkan mereka yang melepaskan ikatan di kaki dan tangan ku."
Ucap Robert sambil menunjukkan sebuah gelang yang terbuat dari kulit domba.
" Baik lah tapi kami harus tetap memeriksa mu apa yang sebenar nya terjadi pada mu bukan hanya sekedar hal yang di luar logika, Kamu paham kan maksud ku Robert?"
Ucap Vico sambil mencoba tenang meski sebenar nya Vico masih merasa khawatir.
" Sudah apa kata mu saja Vico, Kemana Ina apakah terjadi sesuatu kepada Ina?"
Tanya Robert sambil memegang pundak Ronald.
Dan ternyata di saat Robert panik diri nya mulai berubah wajah nya mulai memerah, kuku jari tangan mulai memanjang, gigi yang mengeluarkan taring dan nafas yang tidak teratur saat itu Vico mulai paham ternyata tubuh Robert mampu mengendalikan zat yang berdosis tinggi itu namun seperti nya Robert belum menyadari hal tersebut.
Wah seperti nya semakin menegangkan saja kisah mereka semua lalu apakah yang akan terjadi dengan Ronald dan Vico apakah mereka mereka berdua terkena amukan Robert yang melihat Ina tidak bersama mereka ataukah mereka mampu mengatasi perubahan Robert yang belum di sadari oleh Robert sendiri dan bagaimana respon Ina bila mengetahui Robert baik - baik saja?
Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua selalu ikuti kisah nya hanya di I'M A WOLF MAN dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semakin semangat nulis nya.