
Bukan kah hidup itu sebuah perjuangan dan kita harus memperjuangkan apa pun agar keluar menjadi seorang pemenang namun di saat kita berjuang hendak nya kita tahu apa yang kita perjuangkan dengan kata lain kita harus tau tujuan kita berjuang dan setelah kita tau apa tujuan kita maka jangan mudah menyerah di saat rintangan menghadang di hadapan kita.
Selama kita berdiri di pihak kebenaran maka jangan pernah gentar menghadapi segala rintangan sebab ada peribahasa mengatakan bahwa lebih baik mati karena mencoba dari pada hidup tidak pernah berbuat apa - apa sebab sesungguhnya hidup itu adalah masalah yang harus mampu kita pecah kan dan kita lah yang menjadi pemenang dalam hidup ini.
Sama hal nya dalam kehidupan Robert sejak kecil Robert mengalami hinaan dari sekitar nya dan dia harus berjuang melawan semua amarah di dalam hati nya hingga saat ini dia harus memecahkan kasus mengenai monster yang semakin bertambah banyak tidak hanya di wilayah utara namun sudah masuk ke pusat kota.
Malam semakin larut namun Robert dan Ina terjebak di ruang farmasi sebab di luar ruangan itu kini semua orang yang berada di sana sudah menjadi monster yang ganas di sisi lain Robert dan Ina harus berfikir dengan cepat bagaimana cara nya segera keluar dari gedung rumah sakit yang kini sudah menjadi sarang monster.
" Robert sampai kapan kita bertahan di sini?"
Tanya Ina sambil menggendong seorang bayi.
" Sampai kita menemukan jalan keluar yang aman."
Jawab Robert sambil duduk di lantai sebab kelelahan.
" Kalau hal itu aku juga tau tapi apakah kamu tidak memikirkan tentang bayi ini?"
Tanya Ina sambil duduk di hadapan Robert dengan tatapan serius.
" Lalu apa yang harus kita perbuat tidak mungkin kan kita lompat dari jendela sedangkan kita sedang berada di ketinggian 150 kaki?"
Jawab Robert dengan nada rendah.
" OH MY GOOD, Robert bayi ini menangis apa yang harus ku laku kan?"
Tanya Ina dengan panik segera bangkit dari duduk nya.
Saat mendengar tangisan bayi tiba - tiba para monster bergerak mencoba merobohkan pintu dan saat itu segera Robert bangkit berdiri dan berlari menuju pintu untuk menahan pintu agar tidak bisa di roboh kan para monster.
" Ina beri bayi itu susu cepat aku tidak bisa menahan lebih lama pintu ini!"
Teriak Robert sambil menyandarkan tubuh nya di pintu.
" Di sini ada nya vaksin mana ada susu Robert!"
Ucap Ina dengan nada tinggi.
" Kamu kan perempuan pasti bisa memberi dia susu tidak mungkin aku yang memberi susu!"
Ucap Robert sambil mencoba menahan pintu.
" Tapi aku belum pernah melahirkan dan aku juga tidak sedang hamil jadi dari mana ada susu, Jangan memanfaatkan situasi ok alihkan pandangan mu!"
Ucap Ina dengan nada panik.
" Sudah lekas coba saja dulu yang terpenting bayi itu diam!"
Teriak Robert yang seperti nya semakin terdesak.
" Ok, Baik lah tutup mata mu aku akan mencoba semoga berhasil."
Ucap Ina dengan panik memandang bayi di gendongan nya.
Saat itu Robert memejamkan mata sambil terus menahan pintu yang terus di dorong oleh kawanan monster saat itu bayi pun berhenti menangis dan Robert masih memejamkan mata nya sesuai perintah Ina dan para monster itu pun berhenti mendorong pintu dan suasana kembali hening namun beberapa menit kemudian,
" AAAOOOO, Apa yang kamu lakukan mengapa melempar ku?"
Tanya Robert dengan posisi mata masih terpejam.
" Sakit sekali bisa putus bila ku tarik."
Jawab Ina sambil meringis menahan sakit.
" Ina jangan bilang bayi itu terkontaminasi dan mengigit mu saat ini!"
Ucap Robert dengan nada khawatir.
" Bukan masalah itu tapi saat ini bagaimana cara nya agar di lepas gigitan nya?"
Tanya Ina sambil duduk di samping Robert.
" Apa yang sebenar nya di gigit bayi itu Ina?"
Jawab Robert yang berbalik bertanya.
" Buka mata mu dan bantu aku Robert."
Ucap Ina dengan merendahkan suara nya.
" Tadi kata nya di suruh tutup mata sekarang di suruh buka bagaimana si kamu ini Ina."
Ucap Robert sambil membuka mata nya perlahan.
Saat itu Robert hanya mampu menahan tawa sebab melihat ulah Ina yang memasukkan jari telunjuknya ke mulut bayi itu agar diam tidak menangis lagi padahal dalam pikiran Robert saat mendengar bayi itu tenang Ina pasti memberikan ASI ternyata jari telunjuk nya yang di berikan dan pantas saja di gigit dengan bayi itu.
Beda hal nya dengan yang di alami oleh Saulus, Samuel, Bobbi dan Mateow yang kini sedang berada di suku Mante bersama Simon sebagai kepala suku nya dan mereka tinggal di tenda - tenda yang di dirikan di hamparan gurun pasir yang sangat luas.
Karena malam semakin larut maka mereka berempat pun di persilah kan beristirahat agar keesokan hari nya bisa melanjutkan perjalanan menuju pusat kota yang jarak nya lumayan jauh kemudian mereka masuk ke masing - masing tenda Saulus satu tenda dengan Bobbi sedangkan Samuel satu tenda dengan Mateow.
Setelah itu mereka segeralah merebahkan tubuh nya dalam hitungan menit mereka sudah tertidur lelap karena mereka kelelahan harus bertarung dengan monster selama berhari - hari demi menyelamatkan nyawa dari santapan para monster buas.
Namun belum puas mereka terlelap tiba - tiba sayup - sayup terdengar suara pekik teriakan dari arah luar tenda dan keributan serta suara meminta tolong yang sangat jelas saat itu Samuel segera membangunkan Mateow yang tidur di samping nya dan saat Mateow terbangun dari tidur nya suasana di luar tenda semakin tidak kondusif dan Simon menghampiri tenda Samuel dan Mateow yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
" LEKAS KALIAN PERGI, GUNAKAN KUDA PERGI KE ARAH SELATAN AAAAA!"
Teriak Simon dengan tatapan panik sambil membuka penutup tenda.
Saat itu di depan Samuel dan Mateow para monster menerkam tubuh Simon tanpa di beri ampun dan saat itu di tenda tempat Saulus dan Bobbi pun yang terlihat hanyalah segerombolan monster yang sedang berpesta melahap tubuh Saulus dan Bobbi, Dengan keadaan panik Samuel hanya mampu tertegun menyaksikan perlakuan para monster itu ke suku mante.
" Samuel lekas naik kuda mu waktu kita tidak banyak!"
Teriak Mateow menyadarkan lamunan Samuel.
" Paman mengapa para monster itu bisa sampai di sini bukan nya mereka sudah mati semua kemaren malam?"
Tanya Samuel sambil memacu kuda nya mengikuti Mateow.
" Tentu saja mereka bisa sampai di daerah ini sebab kemaren malam kita tidak menyalakan arus listrik nya lagi ini kesalahan paling fatal Muel."
" Sial mengapa aku bisa lupa kemaren, Semua ini salah ku hingga kawan ku habis di makan oleh monster laknat itu!"
Ucap Samuel dengan berlinang air mata mengenang sahabat nya yang telah tiada.
" Muel bukan salah mu inilah perjuangan dan semoga saja mereka yang di kota mampu menemukan penangkal virus berbahaya itu."
Ucap Mateow sambil menyeka air mata nya.
Sedangkan Felix dan Williams sedang panik sebab hingga larut malam profesor Leon belum juga kembali saat itu mereka baru saja mengadakan negosiasi dengan pihak pemerintah dan menemui jalan buntu tidak membuahkan hasil sebab pemerintahan meminta bukti produk yang di tawarkan mereka berdua namun mereka berdua tidak mampu menunjukkan.
" Kemana sebenar nya pergi nya Leon, Temukan Leon tarik kemari sekarang juga!"
Ucap Felix dengan nada geram sebab tidak menemukan profesor Leon.
" Seperti nya kita terlalu baik kepada prof tua bangka itu Tuan sehingga diri nya berani melarikan diri sekarang!"
Imbuh Williams dengan tatapan kejam.
" Jangan harap bisa lolos dari cengkeraman ku kamu Leon pasti anak buah ku mampu menyeret mu kembali kemari!"
Ucap Felix sambil mengepalkan tangan nya.
" Nanti berikan saja kepada dua monster itu kalau si tua bangka itu sudah di temukan Tuan!"
Ucap Williams dengan nada emosi.
Namun belum usai mereka menggerutu salah satu anak buah Felix yang menjaga pagar depan rumah nya datang menghadap Felix dan Williams dengan tubuh yang tercabik - cabik dan jalan yang terhuyung memberi informasi kepada Felix bahwa saat ini di depan rumah nya sudah di penuhi dengan para monster.
" TUAN RUMAH DI SERANG PARA MONSTER KAMI SEMUA BERUSAHA MELAWAN NAMUN JUMLAH MEREKA LEBIH BANYAK!"
Teriak seorang lelaki yang sudah penuh dengan luka dan nafas yang tersengal - sengal.
" APA! TIDAK BISA DI BIARKAN TUAN LEPASKAN KEDUA MONSTER KITA UNTUK MELAWAN MONSTER YANG MENYERANG RUMAH TUAN!"
Teriak Williams dengan nada panik.
" Benar kita harus lepaskan mereka berdua dan kita harus segera pergi dari kota ini, Bantu aku mendorong kandang para monster bodoh ini!"
Ucap Felix sambil mendorong tempat di mana Robin di rantai.
Setelah mereka berdua melepaskan Robin dan Hendrik kemudian Felix dan Williams pun berlari menuju ke atap rumah Felix untuk melarikan diri dengan menggunakan helikopter pribadi milik Felix dan saat itu terjadi adu argumentasi antara Felix dan Williams di landasan helikopter sebab pasti nya Felix tidak bodoh mau di manfaatkan Williams begitu saja.
" Seperti nya kamu lebih baik di saja bersatu dengan para monster bodoh itu Williams sebab aku sudah tidak membutuhkan mu lagi sekarang!"
Ucap Felix sambil menendang dada Williams yang akan masuk kedalam helikopter.
" Tuan apa yang anda lakukan? Selama ini saya sudah setia dan selalu mendukung Tuan apakah ini balasan kesetiaan saya Tuan?"
Tanya Williams dengan wajah mengiba.
" Simpan drama mu Williams, Kamu sama bodoh nya dengan para monster itu maka pergi lah bersama mereka, Jalankan helikopter nya CEPAT!"
Jawab Felix sambil menutup pintu helikopter.
Saat itu antara dendam dan penyesalan juga bingung menjadi satu dalam hati dan pikiran Williams saat ini bila harus kembali masuk maka diri nya pasti mati menjadi santapan para monster itu bila harus pergi dari rumah ini jalan satu - satu nya hanyalah melalui cerobong asap yang paling aman pikir Williams.
Malam yang seakan panjang ini bagi Williams yang mencoba menyelamatkan diri dari buruan para monster yang sedang mengincar nyawa nya begitu juga dengan yang sedang di alami oleh Samuel dan Mateow yang memburu waktu agar secepat sampai di perbatasan pusat kota namun tidak dengan Robert dan Ina yang kelelahan dan mereka pun tertidur sambil terduduk menyandarkan tubuh nya di sebuah lemari pendingin vaksin.
Saat ini posisi yang memangku bayi itu adalah Robert dan Ina tertidur sambil memeluk tas ransel yang berisi beberapa obat - obatan yang di perlukan mereka benar - benar terlelap hingga Robert terbangun sebab merasakan ada cairan hangat yang menembus ke paha nya kemudian Robert pun segera membangunkan Ina sebab Robert berfikir cairan zat berbahaya itu telah membasahi paha nya saat itu.
" Ina lekas bangun aku terkontaminasi virus itu!"
Ucap Robert dengan panik mengangkat tinggi - tinggi bayi di pangkuan nya.
" Bagaimana bisa bayi itu mati memang nya kamu apakan Robert!"
Jawab Ina sambil membuka mata nya lebar - lebar.
" Bukan bayi nya yang mati tapi aku yang akan menjadi monster Ina!"
Ucap Robert dengan penekanan namun suara nya tertahan.
" Bagaimana mungkin kamu jadi monster apa yang terjadi pada mu Robert?"
Tanya Ina yang merasa bingung dan pandangan aneh melihat sikap Robert.
" Kamu lihat paha ku basah dan hangat pasti itu cairan zat biadab itu dan sebentar lagi aku akan menjadi monster, Segera kamu bawa bayi ini pergi sejauh mungkin selamatkan diri mu Ina."
Jawab Robert sambil bangkit berdiri dan menyerahkan bayi nya kepada Ina.
" STOP ROBERT KAMU TENANG OK!"
Ucap Ina sambil menahan tawa melihat wajah Robert yang lumayan panik.
" Bagaimana aku bisa tenang memang kamu pikir aku sedang bercanda, Aku serius Ina!"
Ucap Robert yang mulai sibuk mencari tali untuk mengikat kaki nya.
" Kamu lucu sekali Robert yang membasahi paha mu bukan lah virus itu tetapi bayi ini sedang buang air kecil jadi stop over thinking ok."
Ucap Ina sambil mengganti popok bayi itu dengan papers yang baru.
" Benarkah yang kamu kata kan Ina?"
Tanya Robert dengan tatapan panik.
Saat itu Ina hanya mampu mengangguk sambil menahan tawa melihat ulah Robert yang sibuk dengan celana nya yang basah dan Ina hanya mampu menertawakan sebab dalam kondisi seperti ini tidak ada yang bisa mereka lakukan lebih untuk membantu Robert yang celana nya basah karena pipis sang bayi.
Seperti nya sebentar lagi matahari akan tersenyum menyapa bumi dan saat ini lah yang paling tepat bagi Robert dan Ina keluar dari ruang farmasi melalui kotak pembuangan sampah yang akan membawa mereka keluar dan akan berakhir di pusat pembuangan sampah yang letak nya di luar gedung tersebut.
Lalu bagaimana dengan nasib Samuel dan Mateow bisakah mencapai pusat kota dan berjumpa dengan Ina dan Robert yang saat ini juga sedang bertarung menghadapi para monster, Kemudian bagaimana nasib Williams berhasil kah lolos dari kejaran para monster dan bisakah diri nya menyelamatkan diri, Bagaimana dengan Robert dan Ina kemana mereka akan bersembunyi setelah lepas dari gedung rumah sakit itu?
Jangan pernah beranjak dari I'M A WOLF MAN agar mengetahui bagaimana nasib mereka semua dalam menghadapi para monster yang semakin bertambah banyak jumlah nya dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semakin semangat nulis nya.