I'M A WOLF MAN

I'M A WOLF MAN
BAB 22 . DI BUTUHKAN KERENDAHAN HATI UNTUK BERSATU



Dalam membangun sesuatu yang paling berat adalah saat merintis kita merasa sendiri, membangun sendiri, merintis sendiri, menangis sendiri, jatuh sendiri dan saat berhasil banyak orang yang ingin duduk menikmati hasil nya dan saya yakin semua orang butuh dan meminta pengakuan berharap penghargaan di setiap usaha nya namun untuk berhasil kita tidak bisa mendahulukan ego dan kesombongan yang di butuhkan adalah kerendahan hati dalam bersatu hingga tercapai nya sebuah tujuan.


Begitu juga yang saat ini sedang terjadi antara Komandan Williams dan Mayor Hendrik mereka bersatu demi mendapat kan wilayah utara dan pasti di hasil akhir nya mereka lah yang ingin duduk sebagai pemimpin begitu juga dengan Kolonel Mateow yang kini bergabung dengan team ujung tombak pasti nya ada tujuan untuk mendapat nama lalu apa yang di cari dengan bersatu nya Robert dan Ine masih kah mereka saling mengunggulkan diri saat sudah bersatu mari kita tilik bersama kisah mereka saat ini yang sudah bersatu.


Waktu terus berjalan matahari pun telah kembali di ganti kan oleh sinar bulan yang begitu indah nya serta taburan bintang - bintang mempercantik langit yang sedang begitu cerah saat ini dan di rumah nya Robert mulai sibuk mengadakan persiapan untuk acara nikah adat yang akan di laksanakan besok malam dan semua orang terlihat bahagia menyambut acara pernikahan mereka berdua serta ada beberapa tetangga yang hadir untuk membantu persiapan tersebut.


Malam ini team ujung tombak akan beserta Rowdi akan menemui Kolonel Mateow di bukit sebelum memasuki desa dan hal itu di sampaikan Robert kepada Ine agar di saat diri nya tidak berada di rumah Ine tidak mencari nya.


" Sayang aku akan ke perbatasan desa bersama Ayah dan kawan - kawan ku sebentar kamu di sini saja dengan Ibu."


Ucap Robert sambil mengenakan kaos nya.


" Untuk apa kamu pergi kesana di saat malam seperti ini bukan kah di tempat yang kamu sebut itu hutan?"


Jawab Ine dengan sedikit bingung.


" Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan bersama Ayah dan team ku."


Ucap Robert sambil menuangkan air minum ke gelas.


" Apakah selama nya kamu akan seperti itu selalu meninggal kan aku sendiri di saat malam tiba sayang?"


Tanya Ine dengan nada sedih.


" Hei ada apa dengan mu sayang bukan kah kini kamu sudah tau siapa diri ku dan apa pekerjaan ku mengapa bertanya demikian kepada ku?"


Jawab Robert sambil tersenyum memandang calon istri nya.


" Iya memang aku tau siapa kamu dan apa pekerjaan mu tapi untuk saat ini aku merasa canggung dengan semua ini tanpa ada kamu sayang."


Ucap Ine yang mencoba menjelaskan perasaan nya.


" Belajar lah rendah hati agar kamu bisa terbiasa berada di sini dan mereka semua adalah keluarga mu juga."


Jawab Robert sambil mencium pipi kanan Ine dan berlalu dari hadapan Ine.


Ya Tuhan akan kah seumur hidup ku selalu merasa sendiri meski nanti aku sudah berdua dengan nya apakah dia tidak memikirkan ku apakah yang ada di dalam benak nya hanyalah pekerjaan nya yang utama Tuhan ubah hati agar aku mampu rendah hati di saat emosi, kecemburuan, kesombongan dan ego menguasai hati ku.


Bergumam lah dalam hati Ine yang tanpa terasa menetes lah air mata di pipi nya karena di siksa oleh perasaan nya sendiri dan saat ini Robert sedang menemui kedelapan kawan nya serta Ayah nya yang sedang berdiri di sisi pagar pembatas di mana para domba di gembala kan.


" Bagaimana Robert sekarang kah kita menuju ke bukit itu atau kah menunggu isyarat dari Kolonel Mateow?"


Tanya Bobbi sambil menikmati buah apel di tangan nya.


" Menurut ku sekarang saja kita menuju ke sana agar saat ada isyarat dari Kolonel Mateow kita lebih cepat menemui nya."


Jawab Robert dan di dukung oleh beberapa kawan nya yang lain.


" Robert izin kan Ayah menemani kalian agar tidak terjadi kesalah pahaman saat kalian berjumpa Mateow sebab Ayah tau betul watak dia."


Ucap Rowdi sambil menepuk pundak Robert.


Saat itu Robert hanya membalas nya dengan mengangguk dan senyum yang menghiasi wajah nya kemudian mereka semua melangkah kan kaki nya menuju bukit dan saat tiga langkah mereka merubah wujud nya menjadi seekor srigala di saat seperti itu Ine melihat nya dari jendela dapur rumah Robert dengan pandangan sedih dan hal itu di ketahui oleh Winda Ibu nya Robert kemudian Winda. pun menghampiri Ine untuk menghibur nya agar tidak bersedih hati menerima sebuah kenyataan bahwa suami nya adalah manusia srigala.


" Sedang melihat apakah diri mu Nak?"


Tanya Winda sambil tersenyum dan melihat ke arah yang di lihat oleh Ine.


" Aku hanya sedang melihat mereka pergi Bu."


Jawab Ine dengan nada sedih.


" Jangan bersedih Nak setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan dalam diri nya dan lihat lah hal itu sebagai kelebihan mereka dan harus nya kamu bangga mendapat kan manusia srigala seperti anak ku sebab kesetiaan mereka tidak perlu di ragu kan."


Ucap Winda sambil mengelus rambut Ine yang terurai menambah anggun paras nya.


" Aku tau tentang itu Bu tapi aku juga tidak mampu hidup sendiri tanpa dia menemani belum lagi saat aku melihat dia terluka itu yang membuat ku khawatir Bu."


Jawab Ine dengan nada khawatir.


" Bicarakan lah hal itu dengan Robert baik - baik dia pasti bisa mengambil sikap."


Ucap Winda sambil tersenyum lembut.


" Pernah dulu ku membicarakan nya namun yang terjadi kita adu argumen dan berakhir aku lah yang sakit hati."


Jawab Ine sambil merubah raut muka nya.


" Nak saat kita bersatu dengan jiwa yang lain di butuh kan kerendahan hati dan kita sebagai wanita di tuntut untuk mengerti posisi kita di mana dan pasangan kita di mana jangan dahulukan ego kalian bila ingin hidup kalian bahagia dan tenang."


Ucap Winda sambil memegang pundak Ine.


" Terimakasih Bu atas nasehat nya kini Ibu lah yang menjadi Ibu sebab Ibu kandung ku telah tiada semoga Ibu mau menganggap aku anak mu juga."


Jawab Ine sambil memeluk Winda penuh kehangatan.


Saat itu tanpa terasa meleleh lah air mata dari kedua nya saling merasakan kesedihan masing - masing di sisi lain ada Rowdi, Robert dan beberapa kawan Robert yang tergabung dalam team ujung tombak di pertengahan perjalanan mereka menuju puncak bukit terdengar lah suatu suara lolongan seekor srigala dan itu sebuah isyarat bagi kaum srigala untuk berkumpul saat itu mereka semua segera menuju ke asal suara berada.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka semua pun menemukan keberadaan Kolonel Mateow yang berwujud srigala hitam sedang berdiri di atas batu hitam besar menghadap ke pedesaan di mana Rowdi dan Robert tinggal dan saat itu tiba - tiba muncul lah mereka dari belakang Kolonel Mateow dan Rowdi pun menyapa nya.


" Aku berpikir diri mu tidak akan datang kali ini Teow?"


Ucap Rowdi dengan berjalan mendekat.


" Mana mungkin aku tidak datang di saat sahabat karib ku dalam kesusahan."


Jawab Mateow sambil membalik kan badan nya menghadap Rowdi dan lain nya.


" Paman salam hormat dari ku dan aku mohon maaf bila selama ini tidak mengenal mu."


Ucap Robert yang berwujud srigala sambil menundukkan kepala nya.


Tanya Mateow sambil merubah wujud nya menjadi seorang lelaki yang tegap dan gagah.


" Benar Paman salam hormat dari ku."


Jawab Robert sambil merubah wujud nya menjadi manusia yang di ikuti oleh beberapa kawan nya.


" Sudah besar dan tampan kamu Nak sekarang ceritakan masalah apa yang terjadi di utara sesungguhnya hingga Ayah mu bingung dalam mengambil keputusan lalu memanggil ku kemari."


Ucap Mateow dengan senyum menghiasi wajah nya.


Saat itu Rowdi menceritakan semua yang terjadi mulai dari awal hingga yang di alami Robert dan beberapa kawan nya di utara dan apa niat dari Robert pun sudah di ceritakan Rowdi kepada Mateow dan saat itu Mateow mendengarkan semua yang di sampaikan oleh Rowdi kepada nya kemudian Mateow diam sejenak sambil melihat bulan purnama.


" Tuan apakah anda memiliki solusi nya?"


Tanya Simon dengan nada bingung.


" Jangan memanggil ku Tuan tapi panggil saja aku dengan sebutan Paman sebab kita bersaudara."


Jawab Mateow lalu terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Baik terimakasih Paman."


Serempak ucap team ujung tombak.


" Aku sedari awal sudah mencurigai Mayor Hendrik dan Kolonel Williams namun selama ini aku tidak memiliki cukup bukti untuk menjebloskan mereka ke jeruji besi dan saat ini mungkin sudah saat nya mereka berdua mendekam dalam jeruji besi dengan bukti yang ada."


Ucap Mateow dengan pandangan sadis.


" Dan kami juga sudah mengumpulkan bukti - bukti mengenai pergerakan mereka yang membuat suatu komunitas yang bertujuan untuk menumbangkan pemeritah daerah dan pusat Paman."


Ucap Samuel sambil memberikan sebuah disk kepada Mateow.


" Bagus dengan bukti ini kita bisa mengembangkan kasus ini agar bisa menangkap mereka dan negara menjadi aman besok malam kita menuju wilayah utara."


Ucap Mateow dengan tegas sambil memasukkan disk kedalam jaket nya.


" Maaf Paman bisa kah di tunda hingga dua hari lagi?"


Tanya Robert dengan pandangan panik.


" Kenapa harus menunda pekerjaan apakah ada hal yang lebih penting dari menyelamatkan negara?"


Jawab Mateow dan berbalik bertanya.


" Teow besok malam datang lah kerumah ku sebab besok malam Robert akan menikah maka dari itu dia mengajukan penundaan pergi menuju wilayah utara."


Ucap Rowdi sambil tersenyum melihat ekspresi wajah Mateow.


" Baik lah kalian masih membutuhkan berkembang biak tidak seperti kita yang sudah tua."


Ucap Mateow sambil tersenyum merangkul Rowdi sahabat karib nya.


Saat itu suasana menjadi lebih akrab dan rasa kekeluargaan semakin erat setelah mereka berbincang sesaat seperti nya matahari akan segera terbit dan suara ayam pun mulai bersaut an saat nya mereka semua kembali ke rumah dengan hati yang tenang sebab sudah mendapatkan sebuah solusi sedangkan di wilayah utara sudah tiba Mayor Hendrik dan Elisa dengan tujuan melihat perkembangan bisnis nya yang sedang di ambang kehancuran sebab mendapat tekanan dari gang rubah merah yang didalangi oleh Komandan Williams.


" Ayah aku akan memperkenalkan kekasih ku yang pernah ku katakan waktu itu."


Ucap Elisa sambil tersenyum bahagia.


" Siapa lelaki yang kau maksud Elisa apakah dia setara dengan kita status ekonomi nya?"


Tanya Hendrik dengan nada meremehkan.


" Tentu Ayah aku tidak akan sembrono dalam memilih."


Jawab Elisa sambil senyum mencoba menghubungi Robin melalui ponsel nya.


" Hallo Robin aku sudah sampai di apartemen dengan Ayah ku kapan kamu datang kemari?"


Tanya Elisa sambil memainkan tali rambut di tangan nya.


" Emmm ... iya sayang satu jam oh tidak dua jam lagi aku sampai di sana ok."


Jawab Robin dengan nada seperti sedang melakukan sebuah rutinitas ranjang.


" Sedang apa kamu seperti nya berisik sekali dan apakah kamu bersama wanita di situ?"


Tanya Elisa dengan nada penasaran.


" Tidak ada wanita di sini itu suara televisi sudah ya aku harus segera mandi dan menemui Ayah mu ok by sayang emuach."


Jawab Robin yang seperti nya tergesa - gesa dan menyembunyikan sesuatu dari Elisa.


" Orang aneh main matikan saja telepon nya memang sedang apa si dia atau jangan - jangan dia sedang ...."


Ucap Elisa dengan lirih dengan raut muka yang masam.


Di sisi ruangan lain Mayor Hendrik sedang menghubungi orang kepercayaan nya untuk menanyakan apa yang sebenar nya terjadi hingga pasokan daging sapi untuk pusat kota hingga tertunda dan mengalami kekosongan di beberapa kolega Mayor Hendrik dan saat ini Mayor Hendrik ingin menemui dan bertanya langsung kepada para peternak apa yang sebenar nya terjadi dengan ternak mereka atau kah ada pesaing bisnis yang lebih kuat dari diri nya.


Saat itu para orang kepercayaan Mayor Hendrik tidak mengetahui bahwa sebenar nya di balik gang rubah merah ada Komandan Williams yang sudah mengajak nya bekerja sama pikir Mayor Hendrik bahwa gang rubah merah hanya lah gang kecil yang baru ingin belajar masuk kedalam dunia bisnis yang lumayan kejam tidak memandang siapa kawan dan siapa lawan siapa yang kuat dia lah yang menang dan pasti nya menghalalkan semua cara demi sebuah kata sukses.


Sedangkan Robin sendiri sudah menyusun rencana dengan ketua rubah merah bukan lain Paman Felix adik dari Ayah nya Ine yang pernah berbuat curang kepada Ayah nya Ine sehingga saat itu mengalami kebangkrutan dan seperti nya dendam Paman Felix tidak hanya sampai di situ dan menginginkan seluruh wilayah utara di bawah kepemimpinan nya dan keluarga Baraq harus di habis kan semua agar tidak ada yang menuntut Paman Felix di kemudian hari sebab sebagian besar wilayah utara masih milik keluarga Baraq.


Wah seperti nya kisah ini semakin mengajak kita terbawa oleh emosi melihat watak licik, serakah, sombong dan munafik dari mereka semua lalu bisakah Robert dan kawan - kawan nya membawa perdamaian di wilayah utara agar semua masyarakat nya hidup tenang dan apakah sikap Mayor Hendrik saat diri nya menyadari bahwa sudah terjebak oleh Komandan Williams?


Ikuti terus kisah perjuangan mereka semua demi menggapai impian nya masing - masing dan petik hikmah nya dalam setiap kisah nya hanya di I'M A WOLF MAN dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar rajin update nya.