
Bella kembali ke ruangan kerjanya menarik napas panjang dan duduk bersandar di kursinya. Pandangannya menghadap ke atas kemudian memejamkan matanya.
Beberapa derik kemudian Bella membuka matanya, ia memikirkan kata-kata sang sekertaris. Benarkah jika dirinya hamil?
Memang benar dirinya terlambat datang bulan akan tetapi itu sudah biasa. Bella mengusap perutnya yang Rata berharap benih sang suami tumbuh di rahimnya. Akan tetap?
Bella mengela napas dan tidak lagi memikirkan hal itu. Ia takut jika diirnya terpengaruh dan bagaimana jika kenyataannya tidak? Maka itu pasti akan sangat menyakiti hatinya.
Bella memperbaiki posisi duduknya dan kembali fokus bekerja. Saat baru membuka berkasnya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
"Masuk!" suruh Bella.
Pintu terbuka dari luar memunculkan seorang laki-laki yang ia kenal. Dia Dani adalah asisten pribadi sang ayah yang datang berkunjung dari Singapura.
"Dani?" Bella menyambut kedatangan Dani. "Apa kabar?"
"Saya sangat baik. Maaf saya bru bisa berkunjung ke sini," ucap Dani.
"Tidak masalah. Ayo silahkan duduk." Bella mengajak Dani duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu. "Mau minum apa. kopi, teh, atau minuman dingin?"
"Apa saja," jawab Dani.
"Baiklah, cuaca panas jadi paling cocok minuman dingin." Bella membuat lemari pendingin dan menusng jus kemasan ke dalam gelas lalu menghidangkan ke Dani. "Silahkan diminum."
"Terima kasih, Bu." Dani meminum jus yang berikan oleh Bella.
"Apa aku sudah pantas dipanggil ibu?" gurau Bella. "Panggil aku dengan nama saja."
"Maafkan saya, tapi saya merasa canggung untuk memanggil Anda dengan nama saja," ucap Dani.
"Baiklah, terserah padamu saja," ucap Bella. "Oh iya, ada apa datang kemari? Apa semuanya baik-baik saja di sana?" tanya Bella.
"Perusahaan mendiang bapak di sana baik-baik saja. Saya ingin memberikan laporan tahunan kepada Anda. Sekaligus saya ingin memberikan barang bapak yang masih tertinggal di apartemennya." Dani mengeluarkan ponsel pintar milik mendiang Prayoga lalu memberikannya kepada Bella
"Ini ponsel papa, 'kan? Bagaima bisa da sama kamu? Aku bahkan lupa dengan ini," tanya Bella.
"Saat seorang OB sedang membereskan ruangan kerja bapak. Dia tidak sengaja menemukan ponsel ini di bawah rak buku. Saya tidak tahu bagaimana bisa ponsel itu ada di sana," jelas Dani.
Bella juga merasa penasaran dengan keberadaan ponsel itu. Kenapa bisa ada di bawah rak buku? Apa ayahnya menjatuhkannya?
Bella membuka ponsel itu, ternyata baterai ponsel itu sudah habis. Bella mengambil charger untuk mengisi daya ponsel.
Ponsel itu langsung terisi. Saat ada sedikit daya pada ponsel, Bella menyalakan benda pipi itu. Saat menyala foto dirinya dan sang ayah terlihat lebih dulu. Bella membuka kunci dari layar handphone. Ada kata sandi yang harus ia masukkan. Jujur Bella tidak tahu kata sandi ponsel mendiang sang ayah. Bella mencoba memasukkan tanggal lahirnya dan ponsel sang ayah pun terbuka.
Bella tersenyum sambil menahan tangis saat melihat wallpaper di ponsel itu. Foto dirinya bersama mendiang sang ayah. Tidak terasa air mata Bella menetes, ia merasa rindu dengan mendiang ayahnya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Dani.
"Ya, saya baik-baik saja. Hanya saja saya merasa rindu dengan papa," jawab Bella sersya mengusap cairan bening yang jatuh di pipinya.
Bella membuka galeri ponsel sang ayah ingin melihat kenangan yang ditinggalkan oleh sang ayah. Tidak sengaja Bella melihat sebuah video yang masuk yang berada di Galeri sang ayah sehari sebelum sang ayah meninggal.
Bella mengerutkan keningnya merasa aneh dengan video. Pasalnya ada gambar seseorang tengah telanjang bulat terlihat di awal video itu.
"Papa nonton film dewasa?" batin Bella.
Bella kembali ke bagian video, ia merasa curiga jika film dewasa itu adalah video antara Keanu dan Amel. Benar saja saat Bella membuka video itu dan ternyata video itu adalah video Keanu dan Amel. Cairan bening kembali menetes dari mata Bella dan kaki ini Bella terisak itu membuat Dani terkejut.
"Ibu Bella, ada apa?" tanya Dani.
Tidak ada respon apapun dari Bella. Wanita itu diam seraya fokus dengan ponsel milik mendiang ayahnya. Bella mengusap air matanya dengan kasar lalu memeriksa salah satu aplikasi chat. Feeling Bella ada sesuatu yang buruk di balik kematian sang ayah.
Benar saja ada nomor yang tidak di kenal mengirimkan beberapa foto dan video Keanu dan Amel. Terjawab sudah, alasan ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung.
"Papa." Bella terisak sambil memeluk ponsel sang ayah.
"Ibu Bella," panggil Dani. "Ada apa?"
"Aku tahu kenapa papa mendadak terkena serangan jantung. Ternyata ada seseorang yang mengirimkan video mas Keanu dan perempuan itu," ucap Bella.
"Siapa orangnya? Kita harus mendapatkan orang itu," ucap Dani.
"Tidak ada nama pengirimnya," jawab Bella.
Bella meminta kepada Dani untuk menyelidiki nomor tidak dikenal itu. Setelah itu Dani pun pergi untuk melaksanakan tugas dari Bella.
Setelah Dani pergi, Bella kembali terisak. Rasa belum rela kehilangan sang ayah kembali. Tidak kuat menahan rasa sedih itu sendiri, ia menghubungi Keanu dan menceritakan semuanya.
Berselang satu jam kemudian Keanu datang. Raut wajahnya sangat cemas apalagi saat melihat wajah Bella sangat pucat juga terlihat lemas.
"Bella," panggil Keanu.
"Mas." Bella mencoba untuk bangun, tetapi kepalanya yang sakit dan tubuhnya yang lemah membuat Bella tifak bisa melakukan itu.
Keanu langsung menghampiri Bella yang sedang merebahkan dirinya di sofa. Ia duduk di hadapan Bella lalu menempelkan punggung tangannya di kening Bella untuk mengecek suhu tubuh snag istri.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Keanu.
"Ya, aku hanya merasa lemas dan kepalaku pusing," jawab Bella lirih tapi masih bisa di dengar oleh Keanu.
"Jawab jujur, tadi pagi kamu pasti mual lagi. Kamu tidak tersedak, 'kan?" tanya Keanu.
"Maaf." Bella menundukkan wajahnya.
Keanu menggenggam tangan Bella lalu mencium punggung tangannya.
"Maafkan aku. Karena aku … papa kamu …." Keanu tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aku hanya sedang berpikir siapa orang yang sangat jahat itu," ucap Bella seraya mengusap jejak air mata di pipinya.
"Apa mungkin perempuan itu?" tanya Keanu.
"Aku belum dapatkan buktinya. Aku sudah menyuruh Dani mencari tahu pemilik nomor itu. Jika benar perempuan itu, aku tidak akan mengampuninya," ucap Bella.
"Lupakan itu dulu. Sekarang aku tidak akan mendengarkanmu, ayo ke dokter," ajak Keanu.
Kali ini Bella tidak menolak, karena ia sudah merasakan tubuhnya sangat tidak enak.
Keanu membantu Bella berdiri. kemudian melingkarkan tangannya di sepanjang pundak Bella. Saat akan melangkah tiba-tiba Bella merasa sangat pusing sebelum semuanya menjadi gelap. Bella tidak sadarkan diri.