
Bella dan kedua mertuanya terkejut mendengar jika ada keretakan di lengan Keanu yang membuat rasa sakitnya begitu terasa. Bagaimana bisa itu terjadi? Apa mungkin saking kerasnya Keanu memukul Aska membuat lengannya sampai retak? Akan tetapi dokter mengatakan jika keretakan itu sudah cukup lama, itu membuat tanda tanya bagi Bella serta kedua mertuanya.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang sudah terjadi dengan Keanu yang tidak kita ketahui?" Felicia syok mendengar penjelasan Dokter.
"Aku juga tidak tahu, Mam. Tolong maafkan aku." Bella menundukkan wajahnya, ia merasa malu kepada kedua mertuanya karena sebagai istri tidak mengetahui luka yang dialami oleh suaminya sendiri. "Tunggu, Mam mungkin Rangga mengetahui hal ini. Dia adalah orang yang sering bersama mas Keanu."
"Kalau begitu cepat panggil dia!" suruh Felicia.
"Baik, Mam."
Satu jam kemudian Rangga sampai di rumah sakit. Setibanya di sana Bella dan kedua orang tua Keanu langsung memberikan begitu banyak pertanyaan, mereka bahkan tidak memberikan Rangga sekedar untuk menarik napasnya.
Rangga berdiri dengan wajah yang menunduk. Sesekali ia melihat tatapan Bella yang seolah sedang mengintimidasinya. Rangga merasa dirinya berada dalam bahaya.
"Sekarang katakan pada kami Rangga kau pasti tahu mengenai luka di lengan mas Keanu, 'kan?"
Rangga menarik napasnya dalam-dalam, ia merasa sudah tidak bisa menyembunyikan mengenai kecelakaan itu pada keluarga atasannya. "Sebelumnya tolong maafkan saya karena tidak memberitahukan ini sebelumnya. Sebenarnya luka di lengan pak Keanu sudah ada sebelumnya, tetapi beliau menolak untuk ditangani."
"Tapi apa yang membuat dia terluka?" tanya Felicia.
"Sebenarnya bapak Keanu pernah mengalami kecelakaan," jawab Rangga.
"Apa? Kecelakaan?"
Bella dan kedua mertuanya sangat terkejut mendengar penjelasan Rangga. Hal sepenting itu bisa Keanu tutupi dari mereka.
"Iya."
"Kapan kecelakaan itu terjadi?"
Mata Bella sudah dipenuhi oleh air mata. Bisa dipastikan dalam satu kali kedipan saja air mata itu bisa tumpah.
"Malam saat ibu Bella dirawat di rumah sakit. Bapak berniat ke sini, tapi dalam perjalanan mobilnya tergelincir."
"Rangga ... kau?" Air mata yang sudah susah payah Bella tahan akhirnya tumpah juga. "Jadi waktu itu kau berbohong padaku?"
"Iya, Bu. Sebenarnya saat Ibu telepon saya sedang bersama bapak Keanu. Tapi beliau membuat saya bersumpah untuk tidak memberitahu siapapun termasuk kedua orangtuanya. Beliau bilang tidak mau membuat semua orang merasa cemas."
"Dia memang bodoh selalu saja menyimpan masalahnya sendiri."
"Sekali lagi saya minta maaf."
"Tidak apa-apa Rangga. Saya sangat mengenal anak saya. Dia bisa membuat semua orang tunduk dengan perintahnya."
"Maafin aku Mami, Papi ini semua salahku. Aku tidak becus menjadi istri."
"Bella, jangan salahkan dirimu. Ini semua kecelakaan. Lagipula kata Dokter dia baik-baik saja."
Felicia memeluk sang menantu agar menantunya lebih tenang dan tidak menyalakan dirinya sendiri.
"Baiklah kami pergi dulu. Tolong jaga Keanu. Jika dia bertindak macam-macam pukul saja dia," ucap Felicia bermaksud untuk mencairkan suasana.
"Baik, Mam. Kalian hati-hati di jalan."
"Kamu juga jaga dirimu baik-baik."
Setelah kedua mertuanya pulang, Bella hanya berdua dengan Rangga. Mereka berada di depan ruang perawatan Keanu.
"Ibu tolong jangan cemas. Bapak Keanu adalah laki-laki yang kuat."
"Hmmm."
"Kau pulanglah, Rangga!"
"Tidak, Bu. Saya akan berjaga di sini kali-kali saja Anda membutuhkan bantuan saya."
Rangga tahu Bella masih marah padanya, ia juga merasa tidak enak hati padanya. Demi menebus kesalahannya Rangga akan tetap berjaga di rumah sakit.
"Baiklah terserah kau saja."
Meskipun kesal kepada Rangga, tetapi Bella mengerti akan posisi Rangga yang merupakan asisten pribadi Keanu, maka dari itu Rangga pasti akan selalu menuruti perintah Keanu.
Bella masuk ke ruang rawat suaminya ternyata Keanu sudah bangun. Bella berjalan sambil terus menatap ke arah Keanu dengan tatapan penuh arti membuat Keanu mengerutkan keningnya.
"Hai."
"Hai."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja."
Bella duduk di hadapan Keanu masih dengan memandang Keanu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak. Hanya ... sedang memikirkan sesuatu."
"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat cemas?"
"Mas, di mana mobil yang biasa dulu sering dipakai olehmu. Aku sudah lama tidak melihatnya?"
Bella terus melihat ke arah Keanu, ia tidak sabar menunggu jawaban dari Keanu. Apakah suaminya akan jujur dan mengatakan tentang kecelakaannya atau tidak.
"Oh mobil itu ...."
Bella memperhatikan raut wajah suaminya, terlihat sekali jika sang suami sedang mencari alasan.
"Kenapa Mas dengan mobil itu?"
"Aku lupa mengatakan padamu. Mobil itu sedang diperbaiki. Di body-nya ada sedikit goresan dan juga sering mogok."
"Tapi kenapa lama sekali?"
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa se lama ini?"
Bella menarik napas dalam-dalam ia tidak tahu kenapa suaminya masih saja membohongi dirinya.
"Kenapa kau terus saja membohongiku?"
"Bohong tentang apa?"
"Tentang kecelakaan malam itu. Saat aku dirawat kau kecelakaan, 'kan? Dan itu yang membuat kau datang terlambat."
"Ck, pasti Rangga sudah memberitahumu. Kenapa dia tidak bisa menjaga rahasia?"
"Diam! Jangan berani menyalahkan orang lain. Sekarang jawab saja pertanyaanku! Kenapa kau tidak memberitahuku tentang kecelakaan itu?"
"Cemas kau bilang? Siapa yang akan mencemaskanmu. Aku dan semua orang tidak akan mencemaskan dirimu. Ingat itu." Bella berucap dengan diikuti oleh air matanya.
Bibir Keanu melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Meskipun Bella mengatakan tidak mencemaskannya dan tidak peduli, tetapi Keanu bisa melihat kecemasan dan rasa peduli yang begitu besar di wajah sang istri.
"Maaf, aku tidak bermaksud membohongimu." Keanu mengusap air mata yang jatuh di pipi Bella.
"Aku tidak akan memaafkanmu. Ingat itu!"
"Baiklah terserah padamu saja. Tapi tolong jangan menangis. Hatiku akan sakit melihat air matamu."
Bella makin terisak, tidak kuat menahan perasaannya Bella memeluk Keanu menumpahkan segala perasaannya di dada sang suami.
"Maafkan aku. Aku egois karena tidak mau mendengarkan penjelasan darimu. Jika saja malam itu kau terluka bahkan sampai kehilangan nyawamu aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
"Ssstt, diamlah, Bella." Keanu balas memeluk Bella serta mencium ujung kepala wanita yang sangat dicintainya.
"Berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkan aku. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan dirimu. Sekarang berhentilah menangis."
Meskipun tidak melihat secara langsung, Keanu bisa merasakan Bella menganggukkan kepalanya.
Bella menarik dirinya lalu melihat tangan Keanu yang memakai alat penyangga. Ia menyentuhnya perlahan.
"Apa ini sakit?"
"Tadinya sangat sakit. Tapi kau sudah menyentuhnya dan rasa sakitnya sudah hilang."
"Menyebalkan! Kenapa dalam situasi seperti ini kau masih saja bisa bercanda."
"Aku bersungguh-sungguh."
"Sudah diam! Sekarang istirahatlah. Aku akan menemanimu di sini."
"Baiklah, Nyonya."
Setelah Keanu merebahkan tubuhnya, Bella menarik selimut menutupi tubuh Keanu sampai batas perutnya.
"Tidurlah di sampingku, Bella," pinta Keanu yang langsung dianggukki oleh Bella.
Bella merebahkan tubuhnya di samping Keanu. Tempat tidur yang kecil membuat mereka sangat dekat. Jarak mereka hanya dibatasi oleh kain yang menempel di tubuh mereka.
"I love you, Bella."
"I love you too, Mas."
*****
Keesokan harinya Bella dalam perjalanan pulang dari kantornya. Rencananya ia akan langsung pergi ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan ia teringat akan sesuatu.
"Rangga."
"Ya, Bu."
"Di mana wanita itu tinggal sekarang?"
"Wanita itu? Apa yang Ibu maksud itu ... Amel?"
"Siapa lagi wanita yang ingin merusak rumah tanggaku. Dan saya minta tolong jangan sebut namanya di hadapanku!"
"Oh saya minta maaf."
"Kamu pasti tahu di mana dia, bukan? Bawa saya ke sana!"
"Tapi, Bu —"
"Kau takut suamiku akan marah?"
"Benar, Bu. Bapak melarang saya mendekatkan Ibu dengan wanita itu."
"Tapi saya harus bertemu dengannya. Ada hal yang harus aku lakukan?"
"Tapi —"
"Rangga, tolong jangan banyak tapi-tapian. Aku harus bertemu dengannya. Ini masalah wanita, kalian para laki-laki tidak akan mengerti."
Rangga menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, ia bingung apa yang harus dilakukannya. Ingin menolak perintah ibu bosnya, tetapi tidak akan bisa, dan jika ia nekat mempertemukan ibu bosnya dengan Amel ia akan mendapatkan masalah dari suami ibu bosnya. Urusan perempuan memanglah sangat membingungkan dan menyusahkan.
Lamunan Rangga buyar saat mendengar ponselnya berdering. Rangga mengambil ponselnya di saku jasnya dan melihat nama Amel muncul di layar ponselnya.
"Wanita ini panjang umur sekali. Kami sedang membicarakannya dan sekarang dia menghubungiku."
"Siapa yang telepon dan kenapa tidak dianggat?"
"Anu ... itu, Bu. Wanita itu yang menghubungiku."
"Sekarang angkat teleponnya dan aktifkan pengeras suara! Saya ingin mendengar apa yang wanita itu ingin katakan."
"Baik, Bu."
Rangga segara menepikan mobilnya lalu menerima telepon dari Amel. Rangga juga mengaktifkan pengeras suara seperti yang diperintahkan oleh ibu bosnya.
"Halo."
"Rangga di mana mas Keanu? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?"
Rangga ingin menjawabnya tetapi ia melihat isyarat dari Bella untuk tidak mengatakan kondisi Keanu pada Amel.
"Bapak sedang sibuk. Ada yang kau inginkan?"
"Ya, aku mau Keanu datang ke tempatku malam ini juga."
Rangga kembali melihat ke Bella yang kembali memberikan isyarat padanya.
"Halo, Rangga kenapa kau diam saja?"
"Baiklah, saya akan menyampaikan ini pada bapak Keanu."
Setelah itu panggilanku berakhir.
"Dia ingin suamiku datang ke sana? Lihat saja, aku ingin tahu bagaimana reaksimu ketika melihat aku yang datang."
Rangga merinding melihat kelicikan yang terpancar dari senyum yang diperlihatkan oleh Bella.
"Wah, bahaya ini. Perang dunia ke tiga akan terjadi."