I Love You

I Love You
Chapter 51



Seharian bersama Azka tidak membuat Bella melupakan Keanu. Akan terasa sangat menyenangkan jika pergi bersama Keanu. Bella tidak tahu jika seharian sang suami mengikutinya. Lain halnya dengan Azka, pria itu tahu jika Keanu mengikuti mereka ke manapun mereka pergi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah lewat 2 jam dari batas waktu yang Keanu berikan. Pria itu merasa kesal kepada Azka. Seharunya sepupunya itu mengantar Bella pulang, tetapi justru membawa Bella jauh dari kota.


“Ke mana meraka akan pergi?” Keanu menggenggam erat kemudi mobil untuk menahan amarahnya.


Keanu memberhentikan laju mobilnya di tempat yang lumayan jauh dari kota. Ternyata Azka membawa Bella ke pasar malam. Keanu turun setelah memarkirkan mobilnya lalu berjalan mengikuti Bella dan Azka yang sudah lebih dulu masuk ke pasar malam.


Seharian mengikuti Bella membuat Keanu lupa makan. Melihat stand makanan Keanu memutuskan untuk membeli sesuatu untuk mengganjal rasa laparnya. Saat sedang membayar makanan yang dibelinya Keanu justru kehilangan jejak Bella.


“Ke mana mereka?” batin Keanu.


Rasa laparnya kembali menghilang melihat Bella menghilang di balik kerumunan.


Sementara Keanu sedang pusing mencari Bella di tengah kerumunan, Azka justru sedang tertawa puas di dalam hatinya melihat Keanu sedang melangkah ke sana-sini. Azka yakin Keanu sedang mencari dirinya.


“Memang enak aku kerjain,” ucap Azka dalam hatinya.


Azka membiarkan Keanu kelimpungan. Anggap saja itu ujian untuk Keanu. Ia kembali fokus pada Bella yang masih nampak sedih. Dengan memberitahukan kepada Bella akan keberadaan Keanu mungkin bisa mengembalikan keceriaan Bella, tetapi itu terlalu mudah untuk Keanu.


“Ck, Bella. Aku sudah mengajakmu jalan-jalan tapi kenapa kau masih sedih?” keluh Azka.


Ucapan Azka berhasil membuyarkan lamunan Bella.


“Maaf, aku sedikit lelah,” ucap Bella.


“Kita duduk.” Azka menunjuk kursi tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Ayo.” Bella menganggukkan kepalanya.


Keduanya berjalan ke tempat yang ditunjuk oleh Azka. Bella duduk sedangkan Azka pergi untuk mencari minum dan makanan kecil setelah itu ia kembali ke tempat Bella.


“Ini minumlah!” Azka memberikan air mineral kepada Bella. “Dan ini gula kapas. Makanlah! Rasa manisnya akan membuat suasana hatimu lebih manis,” lanjut Azka.


“Thank you.” Bella menerima air mineral dan gula kapas yang Azka berikan.


Azka duduk di samping Bella meminum air yang dibelinya. Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Terasa sepi padahal mereka berada di tempat ramai. Azka mulai bosan dengan suasana sepi di antara mereka. Azka membuka suaranya untuk memecah keheningan itu.


“Sudah merasa lebih baik?” tanya Azka.


“Lumayan,” jawab Bella. “Terima kasih untuk gula kapasnya,” imbuh Bella.


“Sama-sama,” ucap Azka.


Bella melahap gula kapas itu sampai tidak menyadari jika gula kapas itu sudah habis.


“Sepertinya kau sangat lapar,” ejek Azka.


“Ini sangat enak.” Bella menjilati jari-jari tangannya.


“Iuh, jorok.” Azka bergidik melihat kelakuan Bella, tetapi justru membuat Bella tertawa.


“Aku ingin membelinya lagi,” rengek Bella.


“Baiklah, aku akan membelinya,” ucap Azka.


“Aku mau dua gula kapas,” pinta Bella.


“Iya, iya.” Azka beranjak pergi untuk membeli kapas. Tidak lama Azka kembali dengan membawa dua gulungan gula kapas di tangannya.


“Ini untukmu. Jangan terlalu banyak makan ini, kau bisa sakit perut nanti,” ucap Azka dianggukki oleh Bella.


Keduanya kembali diam sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Bella sibuk dengan gula kapas dan Azka sibuk memandangi Bella dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Ada sesuatu yang membuat Azka terus memandangi wajah cantik Bella.


“Azka,” panggil Bella.


“Ya.” Azka tersadar dari lamunannya.


“Boleh aku hanya sesuatu?” tanya Bella sambil memakan gula kapas.


“Kau boleh bertanya banyak hal kepadaku,” jawab Azka.


“Apa kau memiliki wanita yang kau cintai?” tanya Bella. “Maksudku kau sering bergonta-ganti pasangan. Apakah kau belum memikirkan untuk setia pada satu wanita saja?” imbuh Bella.


“Sebenarnya aku sudah menemukan wanita itu. Tapi ....” Azka menghentikan ucapannya.


“Tapi apa?” Bella menunggu ucapan Azka selanjutnya dengan tidak sabar.


“Dia sudah menikah,” jawab Azka.


“Ya, aku sangat tidak beruntung,” imbuh Azka.


“Oh iya, apa kedua orangtuamu tidak mencarikan jodoh untukmu. Seperti anggota keluargamu yang hampir semua menikah atas dasar perjodohan,” tanya Bella.


“Aku tidak berminat menikah karena dijodohkan,” jawab Azka.


“Kau tahu alasan aku menerima perjodohan ini karena aku melihat latar belakang keluargamu. Mereka dijodohkan tetapi tetap bisa hidup bahagia sampai saat ini,” jelas Bella. “Tapi ... aku tidak tahu apakah nasib pernikahanku, apakah bisa bahagia seperti keluargamu atau tidak?”


“Bella ... aku akan berdoa agar kau selalu bahagia bersama kakak sepupuku yang dingin itu,” ucap Azka.


“Terima kasih, Azka. Kau memang adik ipar yang sangat baik,” ucap Bella.


“Sama-sama. Tapi aku ingin protes,” ucap Azka.


“Protes? Kenapa?” Bella merasa bingung.


“Kau janji akan berkencan denganku, tapi sepertinya kau tidak ikhlas. Seharian ini kau tetap saja murung. Aku merasa tidak kau pedulikan,” protes Azka.


“Maaf, tidak tahu kenapa, aku merasa moodku sedang buruk,” ucap Bella.


“Ya, aku tahu. Kau masih memikirkan suamimu yang payah itu, 'kan?” ucap Azka yang langsung dianggukki oleh Bella.


“Sekali lagi aku minta maaf,” ucap Bella.


“Tidak masalah. Karena kau sudah mau menemaniku hari ini, meskipun kau mengecewakan aku, aku tetap memiliki kejutan untukmu,” ucap Azka.


“Kejutan?” tanya Bella.


“Ya.” Azka menganggukkan kepalanya. “Ayo ikut aku.” Azka menarik tangan Bella membawanya pergi dari tempat itu.


Azka menggenggam tangan Bella agar ia tidak terpisah di tempat yang sangat ramai itu. Azka melangkah kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.


“Azka, kau sedang mencari apa?” tanya Bella.


“Kejutan untukmu,” jawab Azka.


“Apa yang sebenarnya ingin kau berikan padaku.” Bella menahan langkahnya saat ia merasa lelah.


“Jika aku memberitahu dirimu itu namanya bukan kejutan,” ucap Azka. “Ck, ke mana si bodoh itu?”


“Tapi aku lelah berlarian ke sana sini. Aku menunggumu di mobil saja,” ucap Bella.


“Mobil?” Azka mendapat pencerahan mendengar kata mobil. “Baiklah ayo kita ke parkiran saja.”


Azka menarik Bella membawanya ke parkiran mobil. Sambil melangkah Azka tetap mengedarkan pandangannya mencari sosok Keanu.


“Tidak mungkin si bodoh itu pulang begitu saja,” batin Azka.


Azka bingung mencari sosok Keanu, sedangkan Bella bingung karena Azka menariknya dengan melangkah cepat membuat Bella kewalahan.


“Azka, berhenti!” Bella menahan langkahnya yang membuat Azka berhenti melangkah.


“Ada apa, Bella?” tanya Azka.


Bella menarik napas dalam-dalam menetralkan tarikan napasnya yang tersengal-sengal.


“Kau ini kenapa? Kau menarikku seperti sedang menarik seekor sapi?” tanya Bella dengan napas yang masih tersengal-sengal.


“Maafkan aku, Bella. Aku sedang mencari ....” Azka menghentikan ucapannya saat melihat Keanu berdiri di depan mobilnya.


“Mencari apa?” tanya Bella penasaran.


“Kejutan untukmu.” Azka menunjuk Keanu.


Bella melihat ke arah yang Azka tunjuk. Bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman saat melihat sosok Keanu.


“Ma-s Keanu? Di sini?” Bella merasa sangat bahagia sampai tidak bisa mengatakan apapun.


”Yes. Dan sebenarnya dia sudah mengikuti kita seharian ini,” jawab Azka.


“Apa? Kenapa kau tidak memberitahu aku?” tanya Bella.


“Ini tidak akan seru jika aku mengatakan ini padamu. Lagipula jika aku memberitahukan ini padamu kau pasti akan langsung meninggalkan aku karena tidak sabar bertemu dengan Keanu,” ledek Azka. “Tadinya aku tidak ingin memberitahukan ini padamu. Tapi aku tidak tega melihatmu bersedih,” imbuh Azka.


“Terimakasih banyak, Azka,” ucap Bella.


“Bella, berhentilah untuk berterimakasih padaku. Dan ayo kita pergi. Kita berikan kejutan untuk si payah itu,” ajak Azka yang langsung dianggukki oleh Bella.