
Tawa riang masih menemani Bella dan Keanu dari saat mereka pulang dari restoran sampai mereka tiba di apartemen. Mereka masih bercanda dan saling mengejek, tetapi justru membuat mereka semakin bahagia.
Tawa itu terdengar oleh Amel membuatnya semakin kesal. Tidak tahan mendengar itu, Amel beranjak dari meja makan menghadang langkah Bella dan Keanu. Seketika tawa keduanya terhenti. Bella dan Keanu heran saat melihat kemarahan di wajah Amel.
“Amel, ada apa?” tanya Keanu.
“Kau masih bisa bertanya kenapa?” tanya balik Amel.
Melihat akan terjadi peperangan, Bella memilih untuk mundur.
“Maaf, aku tidak ingin terlibat. Kalian bicara saja berdua,” ucap Bella.
Bella berniat untuk pergi ke kamar. Ia tahu Amel marah karena menyadari dirinya telah dibohongi. Namun, saat Bella akan melangkah, Amel mencegahnya.
“Jangan pergi, perempuan munafik!” cegah Amel.
“Amel, ada apa? Kenapa kau marah pada Bella?” tanya Keanu.
“Kau ingin tahu?” Tarikan napas Amel naik turun tidak beraturan. Terlihat sekali jika Amel sangat marah.
“Kau mengatakan jika istrimu ini tidak akan melarang kita untuk berhubungan. Tapi asal kau tahu saja perempuan ini sangat munafik. Dia berniat untuk menjauhkan kita,” maki Amel.
Setelah itu Amel menceritakan apa yang tengah dilakukan oleh Bella dan juga Felicia.
Bella terdiam, tetapi ia masih santai saja saat Amel menceritakan apa yang sudah dilakukannya bersama ibu mertuanya.
“Apa itu benar, Bella? Kau dan Mami melakukan apa yang dikatakan oleh Amel?” tanya Keanu.
“Iya.” Bella menganggukkan kepalanya. “Aku tidak bisa menahan Mami saat beliau melihat keberadaan Amel di sini.”
Keanu mengela napasnya sambil berkata, “Jadi mami sudah tahu tentang keberadaan Amel di sini?”
“Tentu saja, pasti istrimu ini yang mengatakannya,” sela Amel.
“Jangan asal menuduhku!” ucap Bella. “Aku bahkan tidak tahu Mami akan datang ke sini.”
“Jangan bohong!” ucap Amel.
“Kau tidak berhak menuduhku!” ucap Bella.
“Cukup! Diam kalian!” bentak Keanu.
“Tidak, Mas. Sekarang kau harus memilih antara aku dan wanita ini!” pinta Amel.
Keanu membeku, sekarang ia dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Keanu masih merasa bingung mana yang harus ia pilih. Bella melihat kebingungan di wajah Keanu, ia menjadi tidak tega. Bella melangkah mundur kemudian berbalik dan pergi. Bella memilih untuk mengalah dari pada melihat kesedihan dan kebingungan di wajah Keanu.
Sampai di kamar Bella menaruh tasnya di sembarang tempat lalu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Pandangannya menatap ke atas melihat langit-langit kamarnya. Matanya mulai digenangi oleh air mata dan akan tumpah dalam satu kali kedipan saja.
Sampai pukul 12 malam Bella masih terjaga. Kegelisahan dalam dirinya membuat Bella tidak bisa tidur. Bella memilih berdiri di balkon yang terhubung dengan kamarnya. Melihat pemandangan malam yang sangat indah membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Angin malam mulai terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Bella memutuskan untuk masuk ke kamar. Bersamaan dengan itu Bella mendengar suara ketukan pintu dari depan kamarnya.
“Siapa yang mengetuk pintu malam-malam?” gumam Bella. “Apa wanita menyebalkan itu?”
Dari pada terus menebak-nebak, Bella memutuskan untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, Bella melihat Keanu berdiri di hadapannya.
“Mas Kean?” Kening Bella mengerut melihat Keanu datang ke kamarnya malam-malam.
“Tidak, kebetulan aku belum tidur,” jawab Bella. “Ada apa? Sepertinya ada yang penting?”
“Memang ada sesuatu yang penting yang mau aku bicarakan denganmu,” jawab Keanu.
“Kalau begitu masuklah! Kita ngobrol di dalam saja.” Bella bergeser memberikan jalan pada Keanu untuk masuk.
Keanu masuk ke kamar Bella. Pandangan melihat ke segala arah. Ada rasa canggung dalam dirinya setiap kali masuk ke kamar Bella. Padahal wanita itu adalah istrinya.
“Silahkan duduk, Mas,” ucap Bella yang langsung dianggukki oleh Keanu.
Keduanya duduk bersebelahan di satu sofa yang sama yang ada di dekat jendela. Dari tempat itu keduanya bisa melihat pemandangan malam hampir seluruh kota. Beberapa saat keduanya saling diam, sampai pada akhirnya Bella membuka suaranya memecah keheningan di antara mereka.
“Apa yang ingin Mas bicarakan?” tanya Bella.
“Tentang hubungan kita,” jawab Keanu ragu.
“Hubungan kita?” Bella mengerutkan keningnya karena bingung.
“Kau tahu, bukan? Pernikahan kita terjadi karena perjodohan?” tanya Keanu yang langsung dianggukki oleh Bella.
Dari awal juga Bella tahu jika pernikahannya terjadi atas dasar perjodohan, tetapi saat itu Bella masih belum tahu arah pembicaraan mereka.
“Bella ... jujur aku masih sangat mencintai Amel,” aku Keanu.
Dari saat itu Bella mulai tahu arah pembicaraan Keanu. Bella menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan air matanya. Dengan segera Bella menghapus air mata itu agar supaya Keanu tidak tahu jika ia sedang menangis.
“Aku tahu kau dan Amel masih saling mencintai. Dan kau juga ingin kembali padanya,” ucap Bella. “Jika kau lebih bahagia bersamanya, maka kembalilah padanya.”
“Mami dan papi pasti tidak akan mengizinkan hal itu,” ucap Keanu. “Mereka hanya ingin kau yang menjadi istriku.”
“Aku akan coba bicara dengan mereka,” ucap Bella.
“Lalu kau bagaimana?” tanya Keanu.
“Aku ... tidak apa-apa?” Bella berucap dengan wajah yang tertunduk. “Pernikahan itu akan terasa indah jika suami dan istri saling mencintai. Tapi hal itu tidak terjadi kepada kita. Kau mencintai wanita lain. Jadi ... untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini?”
“Kau yakin?” tanya Keanu.
“Ya.” Bella mengangguk dengan wajah yang masih tertunduk.
“Terima kasih, Bella. Kau mengurangi beban di hatiku.” Keanu menarik Bella membawanya ke dalam pelukannya.
Keanu merasa sangat bahagia, tetapi tidak dengan Bella. Di balik tubuh Keanu, Bella menitihkan air matanya. Namun, ia mencoba untuk tersenyum saat Keanu merasa bahagia.
“Terima kasih, Bella karena kau mau mengerti diriku. Kau memang sahabat terbaikku. Meskipun umurmu jauh lebih muda dariku, tapi kau lebih bijaksana daripada aku,” ucap Keanu.
Bella mengangguk sambil terus mengusap air matanya. “Akhirnya aku mendengar kau bicara manis padaku selama kita menikah.”
Setelah itu Bella menarik dirinya lebih dulu dan meminta Keanu untuk pergi. Saat Keanu pergi Bella berdiri di balik pintu. Tubuhnya merosot membuatnya terduduk di lantai.
Bella menekuk kedua lututnya lalu memeluknya, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Isakkan tangis Bella makin terdengar keras. Bella menutup mulutnya menggunakan telapak tangan agar tidak ada yang mendengar tangisannya. Rasa sakit yang tidak tertahankan membuat Bella menangis hingga sesenggukan.
Dadanya Bella pukul saat rasa sekak terasa di dadanya. Pertama kali ia jatuh cinta dan harus merasakan rasa sakit karena cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan. Jika ia tahu saat mencintai seseorang dan harus merasakan rasa sakit itu, Bella akan memilih untuk tidak jatuh cinta.