
Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi aku akan mencoba untuk memperbaiki semuanya.
Kalimat yang Keanu ucapakan sebelum pergi ke luar kota masih terngiang di benak Bella. Kalimat itu membuat Bella merasa bingung. Apa yang coba Keanu perbaiki. Mungkinkah hubungan mereka?
Kenapa di saat aku mencoba mendekat dia malah menjauh. Dan di saat aku mencoba menjauh dia justru mendekat.
“Cie, yang lagi ditinggal keluar kota. Kangen tuh,” ledek Anna.
Bella tersadar dari lamunannya karena ledekkan Anna.
“Kalau kangen susul saja ke sana,” ucap Anna.
Bella membalik tubuhnya pandangannya melihat ke langit-langit kamarnya.
“Tidak semudah itu, Anna,” tolak Bella.
“Kenapa? Kau tinggal pesan tiket pesawat kalau tidak minta pada mertuamu untuk mengantarmu ke sana dengan privat jet mereka,” ucap Anna.
“Tidak ... aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjannya. Lagipula lusa dia akan pulang,” jelas Bella.
“Baiklah, terserah kau saja,” ucap Anna. “Daripada kau melamun terus di sini, ayo kita pergi,” ajak Anna.
“Ke mana?” tanya Bella.
“Belanja. Bukankah satu minggu lagi kita akan harus menghadiri sebuah pesta. Kita harus tampil spektakuler nantinya,” jawab Anna.
“Baiklah, ayo. Aku juga merasa bosan berdiam diri di rumah,” ucap Bella.
Bella mengambil tas lalu mengajak Anna pergi. Mereka berjalan ke garasi dan masuk ke satu mobil yang sama.
Pusat perbelanjaan elite menjadi pilihan mereka. Selain untuk berbelanja, mereka bisa cuci mata dengan melihat pria tampan seperti oppa-oppa Korea.
“Kau tidak ada niatan untuk berselingkuh, Bella?” gurau Anna.
“Aku ingin, tapi aku belum menemukan pria yang mau menjadi selingkuhanku,” jawab Bella diikuti tawanya.
“Ck, sungguh kasihan,” ejek Anna yang membangkitkan tawa mereka.
Beberapa pengunjung melihat kedua sahabat itulah dengan tatapan aneh. Menyadari itu Bella dan Anna segera menghentikan tawa mereka.
“Kita ke sini saja. Sepertinya ada banyak model terbaru,” ajak Bella dianggukki setuju oleh Anna.
Bella masuk ke dalam salah satu butik ternama bersama Anna. Mereka disambut ramah oleh pegawai toko tersebut. Bukan hanya itu saja Bella dan Anna mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa di tempat itu. Pasalnya hampir semua orang di tempat itu tahu jika Bella adalah bagian dari keluarga Pramuja dan Ferdinand yang memiliki separuh saham dari pusat perbelanjaan itu.
“Wah, Bella kau sangat beruntung bisa menjadi menantu dari dua keluarga yang sangat kaya raya itu,” seru Anna.
“Kau pikir begitu? Aku merasa tidak.” Bella merasa risih dengan perlakuan istimewa terhadap dirinya.
“Kenapa?” tanya Anna heran. “Banyak wanita yang menginginkan berada di posisimu,” lanjut Anna.
“Aku merasa tidak bebas, Anna. Setiap aku melangkah aku seperti diikuti oleh kamera. Dan apa kau tahu, Anna. Perbuatan yang aku lakukan, sekecil apapun itu mereka akan menjadikannya sebagai berita,” ucap Bella. “Kau mengerti maksudku, 'kan?” tanya Bella disambut anggukkan kepala oleh Anna.
“Sudahlah jangan bahas tentang statusku lagi. Kita harus bergegas mencari gaun yang akan kita kenakan ke acara itu,” ucap Bella.
Bella menjelajahi toko melihat-lihat pakaian mana yang akan ia pilih. Matanya menemukan gaun yang memikat hatinya. Gaun panjang berwarna merah maroon, dengan belahan sampai atas lutut dan lebar di bagian pundaknya.
“Mba, aku mau gaun ini,” ucap Bella. “Dan di toko ini apa ada stok jas dengan warna yang sama dengan gaun ini?” tanya Bella.
“Sepetinya masih ada, Mba. Biar saya ambilkan.” Pegawai toko tersebut pergi mencari jas yang Bella minta.
Tidak lama pegawai toko tersebut kembali dengan membawa beberapa model jas dengan warna merah maroon. “Ini, Mba. Silahkan dilihat-lihat modelnya.”
Bella melihat-lihat berapa dari model jas. Pilihannya jatuh pada jas yang terakhir Bella lihat.
“Ini saja, Mba. Tolong bungkus dengan gaun ini dan sepatu yang tadi sudah saya pilih,” ucap Bella.
“Baik, Mba,” ucap pegawai toko tersebut.
Bella berjalan menghampiri Anna yang juga sudah menemukan pakaian yang akan dibelinya. Setelah itu mereka sama-sama berjalan ke kasir untuk membayar barang-barang yang mereka beli.
Selesai berbelanja Bella dan Anna kembali ke tempat parkir mobil. Mereka memutuskan untuk langsung pulang karena hari sudah gelap. Saat akan masuk ke mobil, Bella terkejut ada yang tiba-tiba menariknya dan menampar wajahnya. Jelas Bella tidak bisa menghindar, kejadian itu terlalu tiba-tiba.
“Bella.” Anna terkejut saat ada yang menampar Bella. Anna melangkah cepat untuk menghampiri Bella. “Siapa kau? Berani sekali menampar sahabatku.”
“Diam kau! Ini tidak ada urusannya denganmu. Ini urusanku dengan perempuan ini. Jadi kau jangan ikut campur!” Amel bicara dengan suara yang tinggi.
“Dia sahabatku. Urusan Bella juga menjadi urusanku,” tegas Anna.
“Anna, tenanglah! Aku akan mengurus wanita ini,” ucap Bella.
“Bagaimana aku bisa tenang? Dia menyakitimu,” ucap Anna.
“Kalian sudah selesai bicara? Kalau sudah sekarang kau harus menjawab pertanyaan dariku, Bella. Katakan yang sejujurnya kau sengaja membuat mas Keanu untuk menjauhiku, 'kan?” tuduh Amel.
“Sayangnya kau salah, Amel!” tepis Bella.
“Tunggu, Bella! Ini ada apa sebenarnya? Dan wanita ini bukannya wanita yang pernah bertabrakan denganmu waktu itu,” tanya Anna yang langsung dianggukki oleh Bella.
“Iya, aku wanita itu! Dan kau ingin tahu siapa aku? Baiklah akan aku katakan. Aku ini kekasih dan wanita yang sangat dicintai oleh mas Keanu. Pria yang merupakan suami dari sahabatmu ini." Amel menunjuk Bella dengan aura kebencian yang terpancar dari wajahnya.
Anna sangat terkejut mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Amel. Anna memandang ke arah Bella. Raut wajahnya mengisyaratkan kepada Bella jika ia meminta penjelasan tentang semua itu.
“Bella, kenapa wanita ini mengaku sebagai kekasih suamimu?” tanya Anna, tetapi Bella tidak menjawabnya. “Aku menunggu penjelasan darimu, Bella,” lanjut Anna.
“Akan aku jelaskan nanti, Anna,” ucap Bella dengan suaranya yang lirih.
“Aku mau sekarang, Bella,” desak Ana.
“Sudah cukup! Aku tidak ingin menonton drama kalian berdua. Sekarang suruh mas Keanu menghubungiku, Bella,” sela Amel.
“Kenapa kau tidak mencoba menghubunginya sendiri,” tolak Bella.
“Jangan berbohong, Bella. Aku tahu kau yang membuat dia tidak mau menerima panggilan dariku.” Lagi-lagi Amel menuduh Bella.
“Kenapa kau menuduhku? Apakah kau tidak sadar kau sendiri yang membuat dia menjauh darimu,” ucap Bella.
“Jangan mencoba untuk menguji kesabaranku, Bella! Kalau kau tidak mau melakukannya, terpaksa aku akan menemui papamu dan mengatakan segalanya. Dan aku tahu jelas apa yang akan terjadi dengan papamu, Bella,” ancam Amel.
Bella meradang setelah mendengar ancaman Amel. Wanita itu memang tidak bisa diajak untuk bicara baik-baik.
“Jika kau berani melakukan itu aku tidak akan pernah memaafkanmu! Apalagi sampai terjadi sesuatu dengan ayahku.” Bella mulai meninggikan suaranya. “Kau memiliki batas kesabaran, aku juga memilikinya, Amel.”
“Ya sudah sekarang hubungi mas Keanu dan katakan padanya untuk datang ke tempatku sekarang juga!” perintah Amel.
“Dia tidak bisa melakukan itu. Sekarang mas Keanu ada di luar kota. Lusa baru dia kembali,” jelas Bella.
“Kau pasti bohong!” tuduh Amel.
“Terserah jika kau tidak mempercayaiku! Itu masalahmu sendiri,” balas Bella. “Ayo Anna kita pergi dari sini. Aku tidak ingin menjadi gila dengan mengurusi wanita ini.”
Setelah mengatakan kalimat itu Bella mengajak Anna pergi. Bella kembali ke mobil begitu juga dengan Anna.
Sepanjang perjalanan Bella terdiam. Wajahnya jelas menunjukkan kemarahan dan kekecewaan. Anna pun menyadari itu.
“Bella, aku menunggu penjelasan darimu. Apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan suamimu?” Anna membuka obrolan.
“Dia memang kekasih mas Kean, Anna,” jawab Bella.
“Apa? bagiamana bisa suamimu mengkhianatimu? Dan kau membiarkan mereka berhubungan?” Anna tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bella.
Bella menghentikan laju mobilnya di tempat yang sepi. Setelah itu ia menempelkan keningnya pada setir mobil. Tubuhnya mulai bergetar dan isak tangisnya mulai terdengar.
“Apa yang bisa aku lakukan, Anna?” tanya Bella di sela isak tangisnya.
Bella menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya kepada Anna. Termasuk masa lalu dari suaminya. Sebenarnya Bella malu mengakui semuanya, tetapi ia merasa tidak tahan dengan semua itu.
“Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku, Bella.” Anna mengusap pundak Bella untuk menenangkannya.
“Aku malu, Anna,” jawab Bella dengan suaranya yang bergetar.
“Aku ini sahabatmu. Apakah kau tidak percaya padaku?” tanya Anna.
“Bukan begitu, Anna ...,” ucap Bella.
“Sudahlah jangan dipikirkan. Aku mengerti kenapa kau menyembunyikan ini dariku,” ucap Anna.
“Thank you, Anna.” Bella memeluk Anna. Menumpahkan semua kesedihannya di pundak sahabatnya.
“Sabar ya, Bell. Aku yakin semua ini akan berakhir baik. Aku bisa melihat suamimu itu sangat mencintaimu.” Anna mengusap punggung Bella berusaha memberikan semangat untuk sahabatnya.
“Aku sebenarnya tidak yakin dengan itu.” Bela menarik diri dari pelukan itu lalu mengusap jejak air matanya. “Aku tidak bisa menahan mas Keanu. Dia mencintai wanita itu.”
“Kalau begitu buat dirimu yakin. Sekarang kau harus berusaha untuk mempertahankan rumah tanggamu. Bersikaplah egois, Bella. Kau jangan selalu mementingkan kebahagiaan orang lain. Kau juga harus berusaha membuat dirimu sendiri bahagia,” ucap Anna.