
Meskipun Bella dan Keanu tidak mengurungkan niatnya pergi ke puncak, tetapi mood mereka sedikit memburuk setelah bertemu dengan Amel. Kini perjalanan mereka diisi oleh keheningan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka tenggelam dalam diam dan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
“Mas ... jika kau ingin kembali, kita bisa kembali,” ucap Bella memecah keheningan di antara mereka.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Keanu masih fokus mengendari mobil.
“Aku sempat melihat Amel kesal tadi,” jawab Bella.
“Biarkan saja dia seperti itu,” ucap Keanu.
Eh?
“Kenapa? Apa kau sedang ada masalah dengan Amel?” tanya Bella.
“Ada banyak perbedaan pendapat di antara kami. Aku meminta sementara ini untuk saling instrospeksi diri,” jawab Keanu.
“Kalau boleh tahu, apa masalah yang sedang terjadi di antara kalian?” tanya Bella.
“Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskannya padamu, Bella,” jawab Keanu. “Aku akan menceritakannya padamu saat kita sampai di villa nanti,” imbuh Keanu.
“Baiklah. Tapi jika kau belum siap tidak apa. Kau tidak perlu menceritakannya,” ucap Bella.
Keanu melihat sekilas ke arah Bella dengan memberikan senyuman. Bersama Bella ia merasa nyaman. Wanita di sampingnya jarang memaksanya.
Susana kembali sunyi. Keanu masih berkonsentrasi mengemudi, sedangkan Bella duduk memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Tidak lama setelah itu kelopak matanya mulai menutup.
Keanu sesekali melirik ke arah Bella, senyumnya mengembang saat melihat Bella ternyata sudah tertidur.
Hari sudah menjelang sore. Kemacetan sudah mulai terjadi. Beruntung saat kemacetan mereka sudah hampir sampai. Setengah jam terjebak oleh kemacetan mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan.
“Akhirnya sampai juga.” Bella merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
“Eh, kau sudah bangun rupanya,” ucap Keanu yang langsung dianggukki oleh Bella.
Bella keluar dari mobil disusul oleh Keanu. Mereka melihat sekeliling. Pemandangan villa itu sangat asri, udaranya juga sangat segar. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari udara di ibu kota.
“Segar sekali di sini,” ucap Anna. “Kalian setuju, 'kan?” tanya Anna.
“Iya, Ann. Thank banget kau sudah mengajakku ke sini,” ucap Bella.
“Terima kasihnya sama tunangan aku dong,” ucap Anna.
“Iya, iya. Terima kasih ya, Kak Beni,” ucap Bella.
“Sama-sama. Ayo masuk! Kalian pasti lelah,” ajak Beni.
Bella dan Keanu mengikuti langkah Beni serta Anna. Sampai di dalam mereka mengedarkan pandangan melihat seisi ruangan itu. Memang tidak sebesar villa milik keluarga Pramuja, tetapi tempat itu tidak kalah nyaman.
“Di sini ada empat kamar. Di atas dua dan di bawah juga dua. Kalian bisa pilih kamar mana saja yang mau kalian tempati. Kecuali kamar di bawah sebelah kiri itu karena kamar itu biasa aku tempati,” jelas Beni.
“Kalai begitu aku pilih kamar yang ada di atas boleh tidak?” tanya Bella.
“Boleh,” jawab Beni.
“Ann, kita satu kamar ya,” ajak Bella.
“Kita satu kamar?” tanya Anna yang langsung dianggukki oleh Bella. “Kau tidak salah bicara, 'kan?”
“Tidak, memang kenapa?” tanya balik Bella.
“Kalau kita satu kamar, lalu apa kau akan menyuruh suamimu untuk satu kamar dengan Beni?” ledek Anna.
Bella baru sadar dengan ucapannya. Bagaimana dirinya bisa lupa Anna dan Beni tidak tahu mengenai rumah tangganya.
“Uluh, uluh, jangan malu. Aku tahu kalian ini sudah menikah. Jadi kalian bebas mau melakukan apapun,” ledek Anna.
“Apaan sih?” Bella menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Setelah memilih kamar, keempatnya pergi ke kamar masing-masing, terkecuali Keanu yang memang satu kamar dengan Bella. Sampai di kamar Keanu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dengan menjadikan lengan tangannya sebagai bantal.
“Kau mau mandi dulu?” tanya Bella.
“Kau saja duluan. Aku ingin beristirahat sebentar,” jawab Keanu.
“Baiklah.” Setelah Bella mengambil handuk dan pakaian ganti, ia masuk ke kamar mandi.
Setengah jam Bella menghabiskan waktu untuk mandi. Selesai dengan itu, Bella keluar dan melihat Keanu tertidur.
“Dia mungkin sangat lelah,” gumam Bella.
Bella memilih keluar kamar karena tidak ingin mengganggu tidur suaminya. Ternyata hari sudah gelap. Bella memilih pergi ke balkon menikmati angin malam.
Dari tempatnya berdiri Bella merasakan hembusan udara yang sangat segar yang menenangkan pikirannya. Dari tempatnya berdiri juga Bella bisa melihat pemandangan malam yang begitu indah. Lampu-lampu jalan yang berwarna-warni bagai bintang yang bertaburan di bumi.
Sangat indah!
“Apa yang kau lakukan di sini sendiri?”
Bella menoleh saat mendengar suara Keanu. Mata Bella berbinar melihat Keanu. Dengan kaos ketat berwarna hitam sangat kontras di kulitnya yang putih menjadikan Keanu makin terlihat tampan. “Kau sudah bangun dan mandi?”
Keanu menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan dari Bella.
“Kau belum menjawab pertanyaan dariku,” ucap Keanu.
“Aku sedang melihat pemandangan saja. Lihat itu!” Bella menunjuk ke arah belakangnya.
Keanu melihat ke arah yang Bella tunjuk. Pemandangannya memang sangat indah. Keduanya betah berada di balkon. Apalagi disuguhkan dengan pemandangan yang memanjakan mata.
“Masuklah! Di sini sangat dingin,” suruh Keanu.
“Tidak, di sini sangat menyenangkan,” tolak Bella.
Keduanya berbalik bersandar pada besi pembatas balkon. Mereka mulai mengobrol untuk memecah suasana sunyi di antara mereka.
“Kau suka tempat ini?” tanya Keanu.
“Ya, di sini tempatnya indah dan udaranya juga sangat bersih,” jawab Bella.
“Ya, itu benar,” imbuh Keanu.
“Mas, kau tidak apa-apa, 'kan?” tanya Bella saat Keanu menarik napas berat.
“Ya, aku tidak apa-apa,” kilah Keanu.
“Tapi aku melihat sepertinya ada yang sedang kau tutup-tutupi,” tebak Bella. “Kau tidak ingin berbagi denganku?”
“Sejujurnya aku memang sedang ada masalah dengan Amel,” aku Keanu.
“Kalau begitu ceritakan padaku. Mungkin aku bisa memberimu solusi,” ucap Bella.
Sebelum bicara Keanu lebih dulu menarik napasnya dalam-dalam. Namun, saat Keanu ingin bicara, Anna lebih dulu datang membuat Keanu mengurungkan niatnya.
“Rupanya kalian di sini. Aku mencari kalian dari tadi,” ucap Anna.
“Kami sedang melihat pemandangan di sini,” ucap Keanu.
“Baiklah kalian bisa melakukannya nanti. Ayo kita mulai acara barbeque-nya,” seru Anna.
“Baiklah, ayo,” ucap Keanu. “Ayo, Bella, kita pergi.”
Keanu menggerakkan tangannya menyatukannya dengan tangan Bella mengisi setiap ruang di sela-sela jari mereka. Ketiganya. berjalan ke samping vila itu. Di sana ada taman yang luas.
Acara barbeque malam itu terasa begitu menyenangkan. Apalagi dengan disuguhi pemandangan malam yang begitu indah. Namun, acara malam itu harus terhenti saat hujan tiba-tiba saja turun. Mereka langsung berlari ke dalam rumah.
“Ck, kenapa tiba-tiba hujan turun?” Bella terlihat kecewa.
“Sangat menyebalkan!” imbuh Anna.
“Dan hanya ini yang bisa aku selamatkan.” Keanu memperlihatkan dua piring berisi daging yang sudah matang.
“Baiklah, kita makan ini saja. Setelah itu kita beristirahat,” usul Beni.
“Ya, lagi pula acaranya sudah tidak menyenangkan karena hujan ini,” ucap Anna dianggukki setuju oleh semuanya.
Setelah dua piring daging mereka habiskan, keempatnya pergi ke kamar masing-masing. Bella masuk ke kamarnya bersama Keanu. Mereka bergantian masuk ke kamar mandi, sekedar untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu mereka duduk di sofa yang ada di dekat jendela melihat hujan yang semakin deras.
“Sebaiknya kita tidur. Kelihatannya hujan akan terjadi semalam,” ucap Keanu.
“Syukurlah, tidak jatuh.” Bella menarik napas lega.
“Astaga, kenapa kau ceroboh sekali. Kau bukan anak kecil yang baru belajar berjalan, 'kan. Selalu saja jatuh,” omel Keanu.
“Mana aku tahu kalau mau jatuh. Namanya juga musibah,” ucap Bella.
Bella memperbaiki posisi berdirinya dengan di bantu oleh Keanu. Secara tidak sengaja pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama membuat Keanu kembali merasakan hawa panas dalam dirinya.
“Ck, Bella kau benar-benar menyiksaku.” Keanu menjatuhkan kepalanya di pundak Bella.
Bella merasa kasihan melihat Keanu. Wajahnya menunjukkan jika dia sangat tersiksa. Bella bimbang, haruskah ia memberikan hak itu kepada Keanu?
Setelah memikirkannya Bella sadar sampai detik itu Keanu masih berstatus suaminya. Akan sangat berdosa jika dirinya sampai menolak Keanu yang ingin menyentuhnya.
“Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi, Bella,” ucap Keanu.
“Jika kau menginginkannya ... maka lakukan saja,” ucap Bella lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Keanu.
Keanu langsung menjauhkan kepalanya agar bisa melihat wajah Bella secara langsung.
“Apa yang kau katakan?” tanya Keanu.
Bella mendongakkan kepalanya menatap Keanu lekat-lekat.
“Iya, jika kau mau maka kita lakukan saja malam ini.” Bella berucap dengan tergagap.
“Kau yakin?” tanya Keanu.
“Ya.” Bella mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau suamiku, kau berhak atas tubuhku.”
Bibir Keanu melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. “Aku tanya sekali lagi, Bella. Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Aku mungkin tidak akan bisa menghentikannya nanti.”
“Ya, aku yakin,” jawab Bella.
Keanu menarik pinggang Bella. Mengikis jarak di antara mereka. Kini jarak mereka hanya dibatasi oleh kain yang melekat di tubuh mereka. Wajah mereka juga sangat dekat hanya tinggal beberapa centimeter saja untuk berciuman.
“Mana dulu yang harus aku sentuh?” bisik Keanu yang membuat tubuh Bella merinding seketika.
“Terserah kau saja.” Bella tergagap karena merasa gugup.
“Baiklah,” ucap Keanu.
Keanu memulai dari mengecup bibir Bella, bibir yang selalu menggodanya. Keanu mengecup Bella dengan sangat lembut, seolah tidak ingin merusaknya.
“Balas aku, Bella,” bisik Keanu.
Bella tidak tahu caranya karena belum berpengalaman dalam hal itu. Akan tetapi Bella akan mencobanya. Keanu menyeringai, Bella memang tidak lihai berciuman seperti Amel, tetapi Keanu tidak masalah.
Ciuman Keanu mulai turun, ia menjelajahi leher Bella. Tangannya mulai masuk ke balik baju Bella. Keanu terbuai saat menyentuh kulit Bella yang halus.
“Aku suka wangi ini,” bisik Keanu.
“Mas ....” Bella mencengkram pundak Keanu. Ia merasakan sensasi yang membuat dirinya kehilangan akal.
Bella terkejut saat ia merasakan tubuhnya melayang, ternyata Keanu mengangkat tubuhnya membawanya ke atas tempat tidur. Jantung Bella berdegup tidak karuan saat Keanu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ditambah lagi saat Keanu menanggalkan pakaiannya.
“Mas ....” Bella tidak lagi bisa menahan rasa malunya saat Keanu menindih tubuhnya.
“Kau siap, Bella?” tanya Keanu dengan suaranya yang serak.
“Iya.” Bella menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang penurut.
Keduanya kembali bercumbu. Bella mulai kehilangan akalnya saat Keanu memberikan pijatan di salah satu gundukan yang ada di dadanya. Sensasi nikmat dari sentuhan Keanu membuat Bella tidak bisa menahan diri untuk mendesah.
Suara ******* Bella membuat Keanu makin menggila. Suasana mulai memanas, Ciuman yang awalnya lembut berubah lebih menuntut. Namun, tiba-tiba Bella merasakan sakit pada bagian perutnya. Bella merintih kesakitan membuat Keanu menghentikan semuanya.
“Aww, sakit,” rintih Bella.
“Bella, kau kenapa?” tanya Keanu dengan khawatir.
“Perutku sakit,” jawab Bella.
“Apa? Kenapa tiba-tiba? Aku akan cari Dokter untukmu.” Keanu mengambil pakaiannya dan kembali memakainya.
“Jangan, Mas,” cegah Bella.
Bella bangun mengambil posisi duduk. Ia meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya.
“Kenapa jangan? Aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini,” ucap Bella.
“Tidak apa-apa. Nanti juga sembuh sendiri,” ucap Bella.
“Baiklah, terserah kau saja.” Keanu duduk di samping Bella lalu mengusap kepalanya. “Apa sangat sakit.”
“Iya,” jawab Bella lirih.
“Aku belum melakukan apapun lalu kenapa kau bisa kesakitan?” tanya Keanu disambut gelengan kepala oleh Bella.
Ck, gagal. Padahal tinggal sebentar lagi.
“Kau mau ke mana?” tanya Keanu saat melihat Bella berdiri.
“Aku mau ke kamar mandi,” jawab Bella.
“Mau aku bantu?” tawar Keanu.
“Tidak, aku bisa sendiri,” tolak Bella.
Bella melangkah ke kamar mandi. Berjalan sambil membungkukkan badannya. Keanu tidak tega melihat itu. Saat sampai sepuluh menit Bella tidak keluar Keanu bertambah khawatir.
“Bella, kau baik-baik saja?” tanya Keanu sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dari dalam Bella hanya menyumbulkan kepalanya saja.
“Kau baik-baik saja?” tanya Keanu lagi.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Bella. “Aku ... hanya ....”
“Hanya apa?” tanya Keanu.
“Datang bulan.” Bella tersenyum bodoh dengan menunjukan deretan giginya.
Jelas Keanu merasa terkejut dengan jawaban Bella. Malam pertamanya gagal karena Bella datang bulan. Rasa khawatir Keanu berubah menjadi rasa kesal.
“Kenapa datangnya sekarang?” tanya Keanu kesal. “Atau kau memang sengaja mengerjaiku?”
“Siapa yang ingin mengerjaimu. Aku benar-benar lupa.” Bella mengerucutkan bibirnya.
Keanu mendengkus kesal, tetapi ia mencoba untuk menahan rasa kesalnya.
“Maaf, aku sungguh tidak ingin mempermainkanmu,” ucap Bella penuh penyesalan.
Keanu meredam rasa kesalnya. Melihat wajah Bella yang imut mana mungkin ia bisa marah terlalu lama.
“Baiklah, ayo keluar,” suruh Keanu.
“Aku tidak bisa,” ucap Bella membuat kening Keanu mengerut. “Mas, aku boleh minta tolong?” tanya Bella.
“Minta tolong apa?” tanya Bella.
“Tolong tanyakan pada Anna, apakah dia membawa roti lapis atau tidak,” jawab Bella.
“Roti lapis? Apakah kau kelaparan sekarang?” Keanu merasa bingung.
“Ck, aku biasa memakainya saat aku datang bulan,” jelas Bella.
“Kau memakai roti lapis saat datang bulan?” Keanu sudah benar-benar bingung.
“Ck, kau tidak akan mengerti. Tanyakan saja pada Anna. Dia pasti tahu,” suruh Bella. “Cepatlah! Ini darurat.”
“Iya, iya.” Keanu keluar kamar.
Keanu melangkah menuruni anak tangga menuju kamar Anna. Sepanjang perjalanan Keanu masih memikirkan sesuatu.
“Apa hubungannya roti lapis dengan datang bulan?” gerutu Keanu.