I Love You

I Love You
Chapter 33



“Sial!”


Amel mengumpat saat Keanu mengatakan akan tinggal satu atap lagi dengan Bella di rumah mertuanya. Kesempatan untuk kembali bersama Keanu rasanya akan jauh dari kata berhasil.


Amel benar-benar tidak ingin sampai kehilangan Keanu. Karena Amel yakin hanya Keanu yang mampu melindunginya dari jeruji besi setelah apa yang sudah dilakukannya.


Beberapa kebohongan Amel simpan rapat-rapat di dalam dirinya. Amel tidak bohong jika dirinya diculik saat akan bertemu dengan Keanu. Setelah itu dirinya dipaksa menikah atau ibunya akan disiksa. Amel tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui pernikahan itu.


Saat malam pertama pria yang lebih pantas untuk menjadi ayahnya berniat memaksanya untuk melakukan hubungan suami-istri. Amel berontak dan menikam pria yang sudah resmi menjadi suaminya menggunakan gunting.


Amel sangat terkejut saat itu. Ia merasa ketakutan apalagi saat mengetahui jika pria itu tewas di tangannya. Amel berhasil kabur dan kembali ke kota. Ia berpindah tempat, dari tempat satu ke tempat yang lain. Setiap kali melihat polisi Amel merasa ketakutan.


Di kota Amel merasa bingung. Tidak mungkin dirinya akan terus-menerus hidup seperti itu. Dirinya ingin meminta tolong kepada Keanu, tetapi ia malu. Apalagi mengetahui jika Keanu sudah menikah. Namun, keberuntungan ternyata berpihak kepadanya, ia mengetahui Keanu masih mencarinya bahkan masih mencintainya. Saat ada kesempatan Amel akhirnya memberanikan diri untuk menemui Keanu.


Beberapa sandiwara Amel lakukan, termasuk menyewa beberapa orang untuk meneror dirinya. Semua rencananya berhasil membawanya kembali masuk ke dalam hidup Keanu. Kini Amel tidak akan membiarkan masalah sekecil apapun untuk menghalangi rencananya.


“Aku harus mempertahankan mas Keanu. Hanya dia harapan aku satu-satunya.” Amel berjalan mondar-mandir sambil berpikir langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.


Amel menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengambil ponsel di dekatnya. Ia ingin menghubungi Keanu namun ia urungkan. Amel tahu jika Keanu masih kesal padanya jika memaksa Keanu untuk datang yang ia dapatkan hanya kemarahan Keanu. Amel memutuskan untuk jalan-jalan berharap bisa menenangkan dirinya.


Amel memakai jaket, topi, dan juga masker, ia harus menutupi sebagian wajahnya karena tidak menutup kemungkinan dirinya sudah menjadi seorang buronan. Selesai bersiap Amel turun ke lantai dasar. Saat akan mencari taksi, dua orang laki-laki tidak dikenalinya mendekatinya dan mengancam menggunakan pisau.


“Diam dan jalan ke mobil merah yang ada di depan sana.” perintah salah seorang dari pria itu.


Amel yang ketakutan tidak bisa berbuat apapun selain menuruti apa yang dia pria itu perintahkan.


Langkah Amel berhenti tepat di samping mobil. Dua pria itu menyuruhnya untuk masuk.


“Siapa sebenarnya kalian?” tanya Amel.


“Bos kami ingin bertemu denganmu,” jawab salah satu dari pria itu.


“Bos? Kalian pasti salah orang,” ucap Amel.


“Aku tidak salah orang, Ibu tiri.”


Amel tersentak dan langsung menoleh ke bagian dalam mobil. Ada seorang pria yang sangat ia kenali. Pria itu adalah anak dari pria yang ia lenyapkan.


“Kau ... Rio?” ucap Amel.


“Ternyata ingatanmu masih lumayan,” ucap Rio setengah meledek Amel.


“Apa yang kau mau? Jangan tangkap aku. Aku tidak bersalah,” ucap Amel tergagap.


“Tenang saja, aku datang ke sini tidak untuk menangkapmu. Tapi ... menjalin bisnis denganmu,” ucap Rio.


“Apa yang kau inginkan?” Amel memasang wajah waspada.


“Kau akan tahu nanti,” jawab Rio. “Sekarang masuklah!”


Rio mengendari mobilnya, membawa Amel ke suatu tempat. Amel terkejut saat Rio membawa mobilnya masuk ke jalan tol. Amel berpikir jika Rio akan membawanya ke rumah terkutuk itu.


“Kau mengatakan tidak ingin menangkapku. Lalu kenapa kau membawaku ke luar kota?” tanya Amel yang sudah mulai ketakutan.


“Jangan khawatir! Aku tidak akan membawamu ke rumah itu lagi. Ada tempat yang lebih indah untuk kita kunjungi,” ucap Rio.


Benar kata Rio, pria itu memang tidak membawanya ke rumah orang tuanya melainkan ke sebuah vila di daerah puncak.


“Ayo turun!” ajak Rio.


“Kenapa kita ke sini? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, bukan?” tanya Amel.


“Kau akan tahu nanti,” jawab Rio.


Rio menarik tangan Amel membawanya masuk bagian dalam rumah. Rio membuka salah satu ruangan yang ternyata sebuah kamar tidur. Tubuh Amel dilempar ke atas tempat tidur lalu mengunci pintunya dari dalam.


“Apa yang kau lakukan?” Amel bangun dan ingin keluar dari tempat itu. Namun, Rio menahannya dan kembali melempar tubuh Amel ke atas tempat tidur.


“Aku tidak sengaja melenyapkan pria itu. Dia yang sudah berusaha menodaiku. Aku hanya melindungi diriku saja,” ungkap Amel.


“Aku tahu. Aku juga berterimakasih kau sudah membalas sakit hatiku kepada pria mesum itu. Pria itu sudah menodai kekasihku, membuatnya hamil, sampai akhirnya kekasihku bunuh diri,” ucap Rio.


“Kalau begitu biarkan aku pergi sekarang. Kita impas, 'kan?” ucap Amel.


“Belum, Sayangku. Kau masih berhutang budi padaku.” Rio mengusap sisi wajah Amel dengan punggung tangannya.


“Jangan menyentuhku!” tolak Amel.


Rasa kesal Amel justru membangkitkan tawa Rio.


“Jika kau berani pergi, maka selembaran ini akan aku pajang di seluruh kota ini.” Rio melempar banyak lembaran kertas ke arah Amel membuat kertas itu beterbangan di sekeliling Amel.


Amel bingung, ia mengambil satu dari sekian banyak lembaran kertas yang berterbangan itu. Matanya membulat saat melihat foto dirinya ada di kertas itu dengan tulisan 'Daftar pencarian orang' tertulis di bawah fotonya.


“Kau?” Amel tidak tahu harus bicara apa.


“Apa kau pikir kau bisa bebas setelah kau melakukan tindak kejahatan?” tanya Rio diikuti tawanya. “Jika bukan karena aku yang menyembunyikan semua ini dan menyuap petugas kepolisian untuk berhenti mencarimu, bisa dipastikan kau tidak akan bebas sampai saat ini.”


“Lalu apa yang kau mau dariku! Katakan sekarang juga.” Amel mengepal kertas di tangannya membuatnya menjadi sebuah gumpalan lalu melemparnya ke Rio.


“Slow, Baby,” ucap Rio.


“Jangan memanggilku seperti itu! Menjijikkan!” bentak Amel.


Rio kembali mendekati ke Amel dan berbisik di dekat telinganya. “Aku mau tubuhmu!”


Ucapan Rio jelas membuat Amel terkejut.


“Kau?” Amel menampar Rio, tetapi justru membuat Rio tertawa.


“Pilihan ada di tanganmu!” Rio melempar setumpuk selebaran berisikan foto Amel ke atas membuat kertas-kertas itu berterbangan.


Melihat tawa Rio, Amel mengepalkan telapak tangannya. Amel merasa hidupnya bagaimana buah simalakama.


“Jangan terlalu lama berpikir, Ibu tiri. Pilihannya sangat mudah,” ucap Rio.


“Mudah bagimu! Tapi tidak bagiku,” ucap Amel.


“Kau pilih saja sekarang, masuk penjara atau relakan tubuhmu untukku,” ucap Rio dengan tawa penuh kemenangan.


“Kau memang berengsek!” maki Amel yang makin membuat Rio senang.


Sore hari menjelang petang, kamar dengan minim cahaya menjadi saksi Amel yang kehilangan kesuciannya. Amel sudah tidak punya pilihan lain selain menyerahkan keperawanannya demi sebuah kebebasan.


Amel membungkam mulutnya membiarkan pria yang bukan suaminya menggagahinya. Amel berusaha keras mendorong tubuh Rio yang berada di atasnya. Namun, ancaman dari Rio melemahkan tenaganya.


Sakit!


Itu adalah rasa yang Amel rasakan. Bukan hanya sakit di area intinya, tetapi juga sakit batinnya. Mahkota yang harusnya ia berikan untuk Keanu sudah lebih dulu ia berikan kepada Rio.


“Tolong hentikan! Aku tidak kuat, sakit sekali,” mohon Amel diikuti air matanya.


“Kau akan terbiasa nantinya, Ibu tiri.” Rio menolak untuk cepat mengakhiri kegiatan panasnya itu.


“Kumohon.” Amel kembali memohon dengan air mata yang mengalir deras.


Rio tidak luluh dengan air mata Amel. Pria itu terus menggagahi Amel. Baginya tubuh Amel terlalu nikmat untuk ia lepaskan. Sampai saatnya ketika Rio merasakan kenikmatan itu sampai pada puncaknya.


Rio bangun dari atas tubuh Amel. Senyuman puas terlukis di bibir Rio saat melihat darah perawan milik Amel.


“Terima kasih, Sayang. Menjadikan aku laki-laki pertamamu.” Rio tersenyum miring seolah sedang mengejek Amel.


“Kau jahat!” Amel melempar bantal ke arah Rio dan memaki pria itu sebelum akhirnya tangisannya pecah.