
“Papa!” Bella terkejut saat ayahnya mengerang kesakitan sebelum akhirnya jatuh dan tidak sadarkan diri.
Tatapan tajam penuh kebencian langsung Bella berikan kepada Amel. “Apa yang sudah kau lakukan, hah?”
Bella mendaratkan tamparan keras di pipi Amel. Amarahnya meledek saat melihat ayahnya jatuh pingsan. Penyakit jantung yang diderita oleh ayahnya membuat sang ayah tidak kuat menerima kenyataan yang baru saja Amel katakan.
“Kenapa kau menyalahkanku? Aku juga tidak tahu jika ayahmu memiliki penyakit jantung?” Amel tidak terima saat Bella menamparnya.
Amel ingin menampar balik Bella. Namun, dicegah oleh Keanu. “Hentikan, Amel!”
“Mas, jangan menghalangiku!” ucap Amel.
“Sudah cukup, Amel!” bentak Keanu yang langsung membuat nyali Amel menciut.
“Bella, sebaiknya sekarang kita bawa papa ke rumah sakit,” ajak Keanu.
“Jangan sentuh papaku! Ini semua juga karena kau,” larang Bella.
“Oke, ini salahku. Kau boleh marah, memukulku, dan apapun yang ingin kau lakukan padaku untuk melampiaskan kemarahanmu padaku. Tapi kau bisa melakukannya nanti. Ayahmu harus segera mendapatkan pertolongan,” ucap Keanu.
Bella tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin juga ia membawa ayahnya sendiri ke rumah sakit. Dengan dibantu oleh Keanu, Bella membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan Bella tidak berhenti menangis dan terus meminta ayahnya untuk membuka matanya. Bella tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan ayahnya.
“Bella, tenanglah! Papa pasti akan baik-baik saja,” ucap Keanu.
Bella tidak merespon apapun. Bahkan Bella terkesan tidak peduli dengan keberadaan Keanu dan Amel di satu mobil yang sama dengannya. Saat itu Bella hanya peduli dengan kondisi ayahnya.
Sampai di rumah sakit, Bella segera meminta beberapa orang perawat untuk membantu ayahnya. Setelah dipindahkan ke brankar, perawat itu segera membawa ayahnya ke ruang UGD.
“Papa, tolong bertahanlah! Demi Bella,” ucap Bella.
Tiba di ruang UGD, seorang perawat tidak mengizinkan Bella masuk membuat Bella berdecak kesal.
Bella berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD dengan perasaan cemas. Cairan bening terus menetes membasahi pipinya. Bella terus berdoa, berharap ayahnya dalam keadaan baik-baik saja. Setelah ia kehilangan ibunya, Bella tidak ingin lagi kehilangan sang ayah.
“Bella, minumlah!” Keanu memberikan air mineral kepada Bella.
“Aku tidak mau,” tolak Bella. “Saat ayahku dalam keadaan seperti ini, bagaimana aku bisa minum?”
“Aku tahu itu. Tapi setidaknya kau minum supaya kau lebih tenang,” bujuk Keanu.
“Kenapa kau terus saja membujuknya, mas Keanu. Biarkan saja dia! Nanti jika dia merasa haus dia akan minum sendiri,” ucap Amel.
“Amel, kumohon diamlah!” ucap Keanu.
Sudah hampir satu jam Bella menunggu ayahnya yang masih diperiksa oleh Dokter. Bella sangat berharap Dokter segera keluar dan memberinya kabar baik.
Tidak berselang lama, pintu ruangan UGD terbuka, Bella langsung menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?” tanya Bella.
“Ayah Anda mengalami serangan jantung. Tapi syukurlah kondisinya sudah mulai stabil,” jelas Dokter. “Tapi saya sarankan jangan membuat ayah Anda syok. Jika kejadian seperti ini terulang kembali nyawa ayah Anda akan menjadi taruhannya.”
“Iya, Dok.” Bella mengangguk dengan wajah yang tertunduk.
“Boleh kami melihatnya?” tanya Keanu.
“Silahkan. Kebetulan beliau sudah sadar dan katanya tadi ingin bertemu dengan anak dan menantunya,” ucap Dokter.
“Iya, Dok. Saya menantunya,” ucap Keanu.
“Baiklah, tapi seperti yang saya sarankan, jangan buat bapak Prayoga syok,” pesan Dokter.
“Baik, Dok. Kami akan mengingat itu,” ucap Keanu.
“Baiklah! Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Dokter.
“Ayo kita masuk,” ajak Keanu yang langsung dianggukki oleh Bella.
Bella dan Keanu masuk bersama ke dalam ruangan UGD. Di sana mereka melihat Prayoga terbaring lemah dengan berapa alat medis terpasang di tubuhnya.
“Papa,” ucap Bella sambil menggenggam tangan ayahnya. “Papa baik-baik saja, 'kan?”
Prayoga menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan Bella. Meskipun keadaannya masih lemah, Prayoga berusaha keras untuk bisa menghapus air mata putri tunggalnya.
Keanu tidak tega melihat ayah mertuanya dalam kondisi yang sangat lemah. Rasa bersalah terus menghantuinya. Karena kebodohannya, nyawa seseorang menjadi taruhannya.
“Pa ...,” panggil Keanu. “Bagaimana kondisi Papa?”
“Saya baik-baik saja,” jawab Prayoga lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Bella dan Keanu.
Keanu melihat tangan ayah mertuanya bergerak. Mengisyaratkan dirinya untuk mendekat. Bella yang mengetahui itu bergeser memberikan tempatnya kepada Keanu.
“Ada apa, Pa? Papa butuh sesuatu?” tanya Keanu.
“Maafkan saya,” ucap Prayoga dengan suara yang terbata-bata.
“Kenapa Papa yang meminta maaf. Harusnya saya yang meminta maaf membuat Papa menjadi seperti ini,” ucap Keanu.
“Karena saya sudah memaksamu untuk menikah dengan anak saya,” ucap Prayoga lagi.
“Jangan bicara seperti itu, Pa. Hubungan kami baik-baik saja. Dan masalah tadi di apartemen hanyalah sebuah kesalahpahaman,” ucap Keanu. “Iya, 'kan, Bella?”
Keanu mengedipkan kelopak matanya mengisyaratkan kepada Bella untuk menyetujui ucapannya.
“Iya, Pa. Hubungan kami baik-baik saja. Apa yang terjadi di apartemen tadi tidak seperti apa yang Papa pikirkan. Hubungan kami baik-baik saja. Wanita itu yang tidak waras,” ucap Bella.
“Jangan bohong, Nak,” ucap Prayoga dengan suara yang masih lemah.
“Pa ... apa Papa lebih percaya dengan orang lain dari pada kami? Anak dan menantu Papa?” tanya Bella disambut senyum dan gelengan kepala oleh ayahnya.
Sebenarnya Bella merasa sangat bersalah karena sudah membohongi ayahnya lagi. Namun, saat itu yang terpikir oleh Bella hanyalah kesehatan ayahnya. Bella tidak ingin ayahnya bersedih atas keadaan rumah tangganya.
“Sekarang Papa istirahat ya? Jangan berpikir yang buruk-buruk. Papa hanya boleh berpikir yang baik-baik saja,” ucap Bella seraya mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Setelah melewati beberapa kali pemeriksaan, Prayoga sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Keanu juga sudah menyiapkan ruangan VVIP sebagai ruang perawatan ayah mertuanya. Satu hal yang Bella minta dari Keanu saat itu, Bella meminta agar jangan sampai ayahnya melihat keberadaan Amel ketika akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Keanu memenuhi keinginan Bella, saat ayah mertuanya akan dipindahkan ke ruang rawat, Keanu meminta Amel untuk lebih dulu pulang. Namun, ternyata Amel tidak pulang. Amel kembali dan ingin mengajak Keanu pulang bersamanya. Beruntung Prayoga sudah masuk ke ruang rawat dan dalam kondisi tertidur karena efek obat yang diberikan.
Bersamaan dengan itu Felicia dan Kenzo datang. Amarah dan kekecewaan terlihat jelas di raut wajah Kenzo maupun Felicia saat melihat keberadaan Amel. Kenzo awalnya tidak tahu akan hubungan gelap anaknya dan Amel, tetapi setelah Felicia menceritakan semuanya, Kenzo sangat kecewa kepada anak kandungnya sendiri.
“Bella, kenapa ini bisa terjadi? Kenapa papamu sampai terkena serangan jantung?” tanya Felicia.
Bella tidak menjawab secara langsung, tetapi Bella mengarahkan pandangannya ke arah Amel yang berdiri tidak jauh dari Keanu. Melihat itu Felicia tahu jika alasan dari Prayoga terkena serangan jantung adalah Amel.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Felicia.
“Saya hanya ingin menemani mas Keanu,” jawab Amel.
“Jika kau masih punya rasa malu maka pergilah dari sini!” usir Felicia. “Keanu! Mami minta tolong suruh wanita ini pergi! Jangan sampai Mami kehilangan kesabaran.”
“Amel, sebaiknya kau pulang!” suruh Keanu.
“Tapi, Mas —” Ucapan Amel langsung dipotong oleh Keanu.
“Tolong pergilah! Jangan makin memperkeruh keadaan di sini,” potong Keanu.
“Aku tidak akan pulang jika tanpamu,” tolak Amel.
Bella dan kedua mertuanya menatap Amel. Mereka heran dengan sikap Amel. Sepertinya wanita itu sudah tidak memiliki urat malu.
“Kau juga pulanglah, Mas. Aku tidak ingin ada keributan di sini,” ucap Bella.