I Love You

I Love You
Chapter 47



Bella memulai rencananya saat ia memutuskan untuk bertemu dengan Azka. Ia ingin meminta bantuan pada sepupu iparnya. Bella berharap Azka mau membantunya.


Bella sampai di sebuah cafe, ia berencana untuk menemui Azka di tempat itu. Harusnya Bella turun setelah memarkirkan mobilnya, tetapi entah mengapa Bella menjadi ragu. Tidak pernah sekalipun Bella melakukan hal semacam itu.


“Apakah tindakan aku ini benar?” batin Azka.


Setelah berpikir cukup lama di dalam mobil, Bella memutuskan untuk melanjutkan rencananya. Sampai di dalam cafe Bella mengedarkan pandangannya mencari sosok Azka.


“Di mana pria itu? Dia bilang sudah sampai di cafe?” Bella terus mengedarkan pandangannya sampai ia menemukan Azka di sudut cafe. Langsung saja Bella menghampiri pria yang merupakan sepupu iparnya.


“Hai, Kakak ipar,” sapa Azka.


“Hai,” Bella balas menyapa Azka. “Bagaimana kabarmu?” tanya Bella.


“Kabarku baik,” jawab Azka. “Kau sendiri?” tanya balik Azka.


“Kabarku juga baik,” jawab Bella.


“Oh, iya ada apa? Tumben sekali kau mengajakku bertemu?” tanya Azka. “Kau tidak sedang merindukan aku, bukan?” goda Azka.


“Kau ini.” Bella memicik tajam ke arah Azka diikuti tawanya.


“Hehe, aku hanya bercanda,” ucap Azka. “Baiklah sekarang katakan ada apa?”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Aku harap aku tidak mengganggumu,” ucap Bella.


“Jangan khawatir, Kakak ipar. Aku akan selalu meluangkan waktu untukmu,” ucap Azka.


“Sebelumnya terima kasih, Azka. Sebenarnya aku butuh bantuanmu,” ucap Bella.


“Bantuanku? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanya Azka.


Bella merasa ragu dan malu menceritakan rencananya kepada Azka, tetapi demi mendapatkan kembali suaminya, Bella menghilang keraguan itu. Setelah berpikir cukup panjang akhirnya Bella menyetujui rencana yang dibuat oleh Anna dan ia tinggal menunggu persetujuan dari Azka.


“Hei, Kakak ipar kenapa kau malah diam? Semuanya baik-baik saja, 'kan?” tanya Azka disambut anggukkan kepala oleh Bella.


Bella mulai menceritakan kepada Azka. Jantungnya berdebar menunggu reaksi pria itu. Kening Bella mengerut saat melihat Azka tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memegangi perutnya. Apanya yang lucu? Itulah yang ada di dalam pikiran Bella.


Azka masih saja tertawa meskipun Bella sudah memintanya. Bella melihat sekeliling, melihat raut wajah pengunjung lain cafe yang menatap mereka dengan aneh.


“Azka, diamlah! Semua orang memerhatikan kita.” Bella mengerem sambil mendelikkan matanya.


“Ini sangat lucu, Kakak ipar,” ucap Azka di sela tawanya.


“Bagimu ini lucu.” Bella kesal saat Azka menganggap masalah rumah tangganya sebuah lelucon. “Berhenti tertawa! Jika tidak lebih baik aku pergi.”


Bella beranjak dan berniat pergi, tetapi langsung dicegah oleh Azka.


“Maaf, aku hanya bercanda.” Azka menahan pergelangan Bella untuk mencegahnya pergi. “Bella, duduklah. Kita bicara.”


Merasa membutuhkan bantuan Azka, Bella kembali duduk dengan wajah yang memberengut.


“Aku tidak habis pikir dengan kalian berdua. Kalian ini pasangan yang unik,” ucap Azka.


“Uniknya di mana?” Bella menggerutu, tetapi masih bisa didengar oleh Azka.


“Saling mencintai tapi tidak bisa mengungkapkan perasaan masing-masing. Aku tidak akan mengungkapkan hal ini pada mereka. Ini pasti akan seru,” batin Azka.


“Sudahlah, lupakan ini. Jadi kapan kita mulai?” tanya Azka antusias.


“Secepatnya,” jawab Bella.


“Oke. Tapi ....” Azka menatap Bella dengan tatapan nakalnya.


“Tapi apa?” Bella menatap Azka curiga.


“Apa imbalanku untuk melakukan ini?” tanya Azka.


“Imbalan?” Bella merasa bingung. Ia tidak memikirkan untuk memberikan imbalan kepada Azka. “Berapa yang kau minta? Maksudku aku harus membayarmu berapa?” tanya Bella.


Azka tertawa mendengar ucapan Bella. Tidak habis pikir Bella memiliki pikiran untuk membayarnya.


“Bella, kau tahu siapa aku dan kedua orangtuaku. Aku tidak kekurangan uang,” ucap Azka.


“Jadi ... kau mau apa?” tanya Bella.


“Apa? Berkencan?” Bella dibuat merinding saat Azka mengajaknya untuk berkencan.


Dalam pikiran Bella, berkencan dengan Azka berhubungan dengan ranjang di kamar hotel.


“Jangan berpikir yang macam-macam, Bella. Aku hanya akan mengajakmu jalan-jalan. Tapi jika kau mau kita berselingkuh sungguhan maka kita bisa —” Belum selesai Azka menyelesaikan ucapannya Bella lebih dulu menarik telinga Azka membuat pria itu memekik.


“Dasar sepupu nakal. Jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang selalu mengejarmu itu,” ucap Bella.


“Aww, Kakak ipar ini sakit. Oke, maaf aku tidak akan menggodamu lagi. Tolong jangan tarik telingaku lagi,” mohon Azka.


“Baiklah, aku melepaskanmu hari ini. Tapi lain kali jangan berharap aku akan mengampunimu,” ucap Bella di sela tawanya.


“Kau ini galak sekali. Aku merasa kasihan pada kakakku itu,” ucap Azka disambut tawa oleh Bella.


“Baiklah, kapan kau akan mengajakku berkencan?” tanya Bella.


“Bagaimana kalau weekend ini?” tanya Azka.


“Emm, baiklah aku setuju.” Bella dan Azka bertos dengan mengadu kepalan tangan mereka.


*****


Keanu sedang dalam perjalanan menuju apartemen bersama Amel. Ia mengendari mobilnya sendiri dan membiarkan Rangga untuk mengantar Bella pulang. Ia memang sengaja meminta Amel untuk datang menjemputnya, tetapi itu juga karena Amel yang memaksa. Namun, diluar dugaannya Bella ternyata datang. Kesempatan itu Keanu ambil untuk melihat reaksi Bella, apakah Bella merasa cemburu atau tidak.


Keanu berdecak saat mengingat raut wajah Bella. Istrinya terlihat kecewa, tetapi itu membuat Keanu merasa senang. Jika biasanya ia merasa senang saat Bella bersikap biasa saja, tetapi kini Keanu merasa lebih senang saat Bella terlihat kesal.


Keanu tidak berbohong saat mengatakan dirinya ingin memperbaiki semuanya. Ia hanya butuh waktu untuk memantapkan hatinya agar dirinya tidak salah mengambil langkah.


Bukan maksud Keanu untuk memanfaatkan Amel. Namun, ia hanya ingin meyakinkan dirinya. Masih adakah cinta di dalam hatinya untuk Amel? Dan apakah benar jika dirinya sudah mulai ada rasa untuk Bella?


Bukan hanya itu saja Keanu juga ingin tahu perasaan apa yang Bella rasakan untuk dirinya. Ia tidak mau jika saat ia memutuskan untuk bersama itu justru akan menyakiti Bella.


“Mas, kenapa melamun?” tanya Amel.


“Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja?” jawab Keanu. “Oh iya, kau mengatakan ada yang ingin dibicarakan denganku?”


“Iya, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi nanti saja setelah kita sampai di apartemen,” ucap Amel.


“Baiklah, terserah kau saja,” ucap Keanu.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Keanu fokus mengendari mobilnya dan Amel sibuk dengan ponselnya.


Tepat pukul empat sore, Keanu tiba di apartemen yang Amel tinggali. Keanu memarkirkan mobilnya di basemen. Keduanya keluar melalui pintu yang berbeda. Tidak lupa juga Keanu memakai topi berharap tidak ada yang mengenalinya.


Amel merangkul lengan Keanu dengan manja. Tersirat kebahagiaan di wajahnya, tetapi tidak dengan Keanu. Pria itu merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Amel.


“Amel, tolong jangan seperti ini. Bagaimana jika ada yang melihat kita.” Keanu mencoba menjauhkan tangannya dari Amel.


“Biarkan saja, Mas. Jika semua orang tahu tentang kita, itu akan lebih baik,” ucap Amel.


“Amel ....” Keanu menatap Amel tidak suka.


“Iya, baiklah.” Amel melepas tautan tangannya.


Sampai di dalam apartemen Amel langsung memeluk Keanu dari belakang membuat Keanu terkejut.


“Amel, lepaskan!” pinta Keanu.


“Di sini tidak akan ada yang melihat kita, Mas.” Amel menolak untuk melepaskan pelukannya.


”Amel ... please,” mohon Keanu.


“Aku tahu kau juga pasti menginginkannya. Sampai kapan kau akan bisa menahannya? Ayo kita menikah walaupun secara diam-diam. Aku rela menjadi yang kedua,” ucap Amel. “Setelah kita menikah kau bisa bebas melakukan apapun padaku,” lanjut Amel.


Ucapan Amel membuat Keanu terkejut dan bingung. Dulu Keanu kecewa saat Amel menolak lamarannya, tetapi entah mengapa saat kini Amel mengajaknya menikah Keanu tidak merasa bahagia. Mungkinkah memang benar perasaan cinta untuk Amel sudah tidak ada?


“Mas, kau setuju, 'kan?” tanya Amel tanpa melepaskan pelukannya.


Keanu diam sambil menahan sesuatu di dalam hatinya. Pikirannya seolah sedang bertarung membuat kepala Keanu hampir pecah. Keanu merasa sudah waktunya ia membuat keputusan sebelum semuanya menjadi bertambah sulit.


“Amel ....” Keanu melepaskan pelukan Amel kemudian berbalik menghadap ke Amel. “Amel, aku merasa kita harus mengakhiri ini. Aku tidak bisa bersamamu lagi, ucap Keanu.