I Love You

I Love You
Chapter 62



Mata Bella yang tadinya terpejam mulai membuka. Namun, kembali terpejam dibarengi ringisan kecil di bibirnya. Kepalanya masih terasa berat hingga rasanya sulit bagi Bella untuk membuka matanya. Belum lagi rasa lemas tubuhnya membuatnya malas untuk bergerak.


"Bella, kau sudah sadar?"


"Sadar? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Bella bicara di dalam hatinya.


Bella mencari asal suara dan memaksakan matanya untuk terbuka. Samar-samar Bella melihat seseorang di dekatnya, tidak tahu siapa? Meskipun tidak melihat dengan jelas siapa orangnya, tetapi Bella yakin dari penampilannya orang itu seorang pria.


"Siapa?" tanya Bella lirih.


"Aku Azka, Kakak ipar," jawab Azka.


"Azka ... sedang apa kau di sini?" Suara Bella terdengar sangat lemah.


"Jangan banyak bicara dulu. Sebentar aku panggil Dokter," ucap Azka.


"Apa? Dokter? Di mana aku sebenarnya?" batin Bella.


"Azka ...." Bella mencoba memanggil Azka, tetapi tidak ada sahutan. Hanya kesunyian yang Bella rasakan.


Bella tidak tahu masih bertanya-tanya di dalam hatinya mengenai keberadaannya. Kenapa ada Azka dan juga Dokter?


Dengan sedikit memaksa Bella membuka matanya dan bangun mengambil posisi duduk. Bella baru menyadari jika dirinya berada di rumah sakit saat melihat selang infus menancap di pergelangan tangannya.


"Kenapa aku bisa sampai di sini?" Bella tidak ingat bagaimana bisa dirinya sampai di rumah sakit.


"Kakak ipar, kenapa bangun?" Azka dengan langkah cepat menghampiri Bella yang sedang duduk di tempat tidur.


Bella menoleh ke asal suara, Azka datang bersama seorang Dokter dan perawat.


"Azka ... kenapa aku bisa sampai di sini? Dan ... kenapa kau juga ada di sini?" tanya Bella.


"Aku akan menjawabnya nanti setelah kau diperiksa oleh Dokter." Azka menoleh ke arah Dokter. "Dokter, tolong periksa kakak ipar saya," suruh Azka.


"Baik, Pak," sahut Dokter wanita yang memiliki nama Amira.


Azka bergeser memberikan tempat pada Dokter Amira untuk memeriksa kondisi Bella.


"Bagaimana keadaannya? Tidak ada yang serius, 'kan, Dok?" tanya Azka.


"Kondisinya baik-baik saja? Hanya kelelahan dan anemia ringan saja. Dia


hanya perlu istirahat dan hindari stress," jawab Dokter.


"Jadi saya boleh pulang, Dok?" tanya Bella.


"Tidak boleh. Kau harus beristirahat di sini." Bukan Dokter yang menjawab, tetapi Azka.


"Kenapa kau yang memutuskan. Aku bertanya pada Dokter," ucap Bella.


Jika kondisi dirinya tidak lemah, Bella ingin memukul Azka.


"Yang dikatakan oleh adik ipar Anda benar, Bu. Meskipun tidak ada yang serius dengan kondisi Anda, tetapi kami masih harus mengawasi kondisi Anda," jelas Dokter Amira. "Istirahatlah untuk satu malam di sini. Jika kesehatan Anda pulih dengan cepat, besok Anda saya izinkan Anda untuk pulang," imbuh Dokter Amira.


"Sudah dengar itu, Kakak ipar. Sekarang jadilah anak yang penurut." Ucapan Azka membangkitkan tawa kecil semua orang yang ada di ruangan itu.


"Kalau begitu. Saya permisi dulu," ucap Dokter.


"Terima kasih, Dok," ucap Bella dan Azka secara bersamaan.


Dokter dan perawat pergi meninggalkan ruangan itu. Hanya tinggal Bella dan Azka berdua di ruang itu. Suasana masih hening sebelum Azka bicara.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Azka.


"Aku baik-baik saja," jawab Bella. "Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit? Apa yang terjadi?" tanya Bella.


"Harusnya aku yang bertanya padamu. Bagaimana kau bisa pingsan? Aku tidak sengaja melihatmu di sini saat sopirmu dan asisten pribadimu mengantarmu ke sini,"


Bella juga bingung bagaimana cara menjelaskannya. Bella terdiam sambil mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Setelah sedikit mengingat yang terjadi, cairan bening keluar dari matanya.


"Apa aku terlalu memaksamu dan kini kau menangis?" tanya Azka.


"Tidak," jawab Bella. "Aku hanya mengingat sesuatu yang membuat aku sedih," jawab Bella.


"Apa ini ada hubungannya dengan masalah suamimu?" tebak Azka dijawab anggukan kepala oleh Bella.


"Aku tidak perlu menjelaskannya karena aku yakin kau sudah tahu," ucap Bella.


"Jujur saja aku terkejut melihat berita itu. Aku tidak menyangka kakakku bisa berbuat hal seperti itu," ucap Azka.


"Kau harus bersabar. Aku sangat yakin kau wanita yang kuat," ucap Azka.


Azka menyodorkan tisue kepada Bella. Jujur ia sangat iba melihat kondisi wanita berstatus kakak iparnya.


"Azka, aku berterima kasih kau sudah menjagaku di sini. Bisa aku minta tolong sekali lagi?" tanya Bella seraya mengusap air matanya.


"Katakan saja. Jika aku bisa, aku pasti akan membantumu," ucap Azka.


"Tolong tinggalkan aku. Aku ingin sendiri," pinta Bella.


"Apa kau pikir aku akan membantumu kali ini, Kakak ipar? Jawabannya adalah tidak," tolak Azka.


"Tolonglah!" mohon Bella.


"Aku tidak akan akan meninggalkanmu sendiri dalam keadaan dirimu yang sadang kacau?" tolak Azka. "Aku tidak akan mendengarkanmu kali ini," ucap Azka.


"Kenapa kau keras kepala?" tanya Bella.


"Untuk kali ini aku akan keras kepala, Kakak ipar," ucap Azka diikuti tawanya untuk mencairkan suasana.


"Tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Aku tahu kau punya urusan lain," ucap Bella.


"Untuk yang lain aku bisa menundanya. Tapi untukmu tidak," ucap Azka.


Eh?


Azka mendadak gelagapan. "Maaf aku salah bicara. Maksudku ... sudah lupakan saja."


"Baiklah jika kau bersikeras. Terima kasih kau sudah mau repot-repot menjagaku," ucap Bella.


"Untukmu apapun akan aku lakukan," ucap Azka.


Eh?


"Ck, kenapa aku bisa bicara seperti itu," batin Azka.


Bella mengerutkan keningnya merasa bingung dengan semua perkataan Azka, tetapi tidak lama Bella tertawa kecil.


"Bicaramu sangat manis. Pantas para wanita tunduk padamu," ucap Bella.


"Baiklah, aku akan pergi setelah suami atau keluargamu sampai di sini." Azka menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Sekarang istirahatlah," ucap Azka.


Bella menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang penurut. Setelah itu Bella merebahkan tubuhnya kembali. Pandangannya melihat ke langit-langit ruangan itu bergantian melihat ke arah Azka yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ada rasa yang sulit untuk Bella pahami saat melihat Azka.


Jika boleh jujur Bella sangat berharap yang ada di dekatnya saat itu adalah Keanu, sang suami. Namun, entahlah? Sisi hatinya yang lain menolak kehadirannya.


"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Azka.


"Tidak apa-apa," jawab Bella seraya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah aku akan menebaknya, kau sedang membayangkan aku ini kakak sepupuku yang payah itu, 'kan?" tebak Azka.


Bella diam, hanya senyuman yang ditunjukkan oleh Bella.


"Diammu menjawab semuanya," ucap Azka.


Azka beranjak dari sofa berpindah duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur Bella. Pria itu menatap lekat wajah Bella seolah sedang mencari sesuatu di wajah Bella yang nampak pucat.


"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" Bella bertanya dengan kening yang mengerut.


"Tidak apa-apa," elak Azka.


Azka tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan untuk Bella. Azka merasakan jantungnya berdebar kuat setiap dekat dengan kuat.


"Makan ya. Aku akan menyuapimu," ucap Azka untuk mengalihkan rasa gugupnya.


"Aku tidak lapar," tolak Bella.


"Aku tahu kau sedang memikirkan masalah yang sedang terjadi. Tapi jangan menyiksa dirimu sendiri demi pria bodoh itu. Kau harus makan agar memiliki tenaga untuk memberikan pelajaran pada suamimu itu," bujuk Azka.


"Baiklah. Kau benar juga." Bella bangun mencoba untuk bangun. "Berikan padaku. Aku akan makan sendiri," pinta Bella.


"Aku bersikeras untuk menyuapimu, Kakak ipar," ucap Azka.


"Baiklah, terserah padamu saja," ucap Bella.