
Keanu melangkah terburu-buru sambil memakai jam tangan. Pikirannya terbagi membuatnya tidak fokus. Akibatnya ia terus mengomel kepada Bella. Keanu menganggap Bella adalah penyebabnya. Memang penyebab utamanya adalah Bella. Keanu tidak tahu bagaimana hasratnya terpancing. Alhasil Keanu harus berlama-lama mandi air dingin untuk meredam hasratnya itu.
“Ini semua karena kau!” omel Keanu.
“Berhentilah mengoceh! Kita akan semakin terlambat,” ucap Bella.
“Memang ini semua karenamu.” Keanu terus saja menyalahkan Bella.
“Kau yang mandi terlalu lama. Aku yang salahkan. Dasar pria aneh,” gerutu Bella.
“Kalau berani bicaralah yang keras! Jangan menggerutu seperti itu,” ucap Keanu.
Bella memutar bola matanya merasa jengah dengan sikap Keanu yang terus saja memarahinya. Padahal itu bukan sepenuhnya salahnya.
Keanu dan Bella sama-sama berjalan cepat. Mereka berlarian menimbulkan suara gaduh di dalam rumah. Belum lagi perdebatan yang terus terjadi di antara mereka makin membuat suasana bertambah berisik.
Mereka masih saling menyalahkan atas keterlambatan yang mereka alami. Kerasnya suara mereka sampai terdengar oleh Prayoga.
“Ada apa? Kenapa pagi-pagi kalian sudah bertengkar?” tanya Prayoga.
“Bella juga tidak tahu, Pa. Dia yang terlambat bangun, tetapi pria dingin ini terus menyalahkan Bella,” jawab Bella.
“Jika kau tidak terlambat bangun, aku juga tidak akan terlambat,” ucap Keanu. “Bukan hanya itu saja, kau juga tidak membiarkan aku untuk mandi lebih dulu,” lanjut Keanu.
“Jika aku tidak segera mandi, aku juga akan terlambat,” ucap Bella tidak mau kalah.
“Kau bisa mandi di kamar mandi yang lain, 'kan?” ucap Keanu.
“Lalu kenapa kau tidak melakukan itu saja?” balas Bella. “Lagi pula aku sudah mengajakmu mandi bersama. Salahmu sendiri kenapa tidak mau? Padahal itu bisa mempersingkat waktu.”
Prayoga melipat bibir untuk menahan tawanya.
“Papa lihat! Aku tidak tahu kenapa gadis ini bisa bicara seperti itu dengan entengnya,” ucap Keanu.
“Keanu, apa salahnya jika kalian mandi bersama? Kalian ini suami-istri, 'kan?” ucap Prayoga diikuti tawanya.
“Papa, kau memang yang terbaik.” Bella memeluk sang ayah karena mendapat pembelaan.
Keanu mendesah, ia merasa frustrasi. Jika dirinya tahu ayah mertuanya akan meledeknya, Keanu tidak akan meminta pendapat dari sang mertua.
“Aku tidak tahu kenapa kau bisa dengan entengnya bicara seperti itu padaku,” ucap Keanu.
“Bukan hanya itu saja. Aku bahkan berani menciummu di depan orang banyak,” ucap Bella.
“Benarkah? Kalau begitu buktikan!” tantang Keanu.
“Baiklah. Jika aku berani melakukan itu aku mau kau membelikan aku mobil keluaran terbaru,” pinta Bella.
“Setuju,” ucap Keanu.
Prayoga terdiam sambil berusaha menahan tawanya. Tidak ingin menganggu keseruan anak dan menantunya, Prayoga memilih untuk pergi.
“Baiklah, Papa pergi dulu. Papa tidak ingin terlibat dalam pertengkaran kalian,” ucap Prayoga sebelum pergi meninggalkan anak dan juga menantunya.
“Baiklah, hati-hati di jalan. I love you, Papa.” Bella memberikan kecupan di pipi ayahnya.
“I Love You too,” balas Prayoga.
Prayoga pergi. Namun, tanpa sepengetahuan Bella dan Keanu, Prayoga bersembunyi di balik dinding pemisah antara ruangan tengah dengan ruang tamu. Prayoga diam-diam memerhatikan anak dan menantunya. Sebenarnya ia sudah tahu apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga anaknya. Kedua besannya sudah mengatakan segalanya.
Awalnya Prayoga merasa sedih dan ingin agar Bella berpisah dengan Keanu. Namun, setelah mengetahui jika Bella mencintai Keanu, hatinya menjadi luluh dan memberikan hubungan Keanu dan Bella kesempatannya kedua. Maka dari itu dirinya membantu besannya yang berencana untuk mendekatkan keduanya dan Prayoga merelakan sakitnya dimanfaatkan. Pengorbanan Prayoga tidak sia-sia, ia melihat Keanu dan Bella makin dekat meskipun dengan perdebatan. Puas melihat kebahagiaan di wajah Bella, Prayoga pergi ke kantornya.
Sementara itu, Bella dan Keanu memutuskan untuk segera pergi dan menghentikan perdebatan yang justru akan membuat mereka semakin terlambat.
Sampai di garasi, keduanya masuk ke mobil masing-masing. Bella melajukan mobilnya setelah Keanu pergi. Namun, baru keluar dari gerbang, Bella melihat mobil Keanu berhenti.
“Kenapa pria menyebalkan itu berhenti? Apa ada yang tertinggal?” batin Bella.
Perlahan Bella melajukan mobilnya. Keningnya mengerut saat mobil Keanu tidak kunjung melaju. Bella pun menghentikan laju mobilnya tepat di belakang mobil Keanu. Setelah itu Bella turun dari mobil dan berjalan menghampiri Keanu.
Bella mengetuk kaca mobil Keanu dan tidak lama kaca mobil tersebut bergerak turun.
“Ada apa? Kenapa berhenti? Apa ada yang tertinggal?” tanya Bella.
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba mobil ini berhenti dengan sendirinya,” jawab Keanu.
Berulang kali Keanu mencoba menyalakan mesin mobil, tetapi tidak kunjung menyala.
“Coba kau periksa mesinnya,” usul Bella.
“Aku tidak sempat. Lagi pula jika aku mengecek mesin, kemungkinan pakaianku akan kotor. Aku sudah tidak punya waktu untuk berganti pakaian,” ucap Keanu.
“Baiklah. Kalau begitu ayo ikut! Aku akan mengantarmu ke kantor,” ajak Bella.
“Kuliahmu bagaimana?” tanya Keanu.
“Kau bisa membawa mobilku setelah aku sampai di kampus,” jawab Bella.
“Baiklah.” Keanu turun dan berpindah ke mobil Bella.
Sementara itu Bella menghubungi sopir di rumah untuk membawa mobil Keanu ke bengkel.
“Biar aku yang membawa mobilnya.” Keanu meminta kunci mobil kepada Bella.
“Tidak usah. Kau terlihat gelisah. Jika aku membiarkanmu mengemudi, kemungkinan kita tidak sampai ke kantormu, tetapi kita akan masuk rumah sakit dan aku tidak mau mengambil resiko,” tolak Bella.
Keanu mendengkus kesal. Dirinya tidak mungkin se-ceroboh itu, tetapi setelah dipikir-pikir tidak masalah jika Bella yang mengemudi. Setidaknya ia bisa bersantai sejenak.
“Baiklah, ayo berangkat! Tapi bawa mobilmu dengan cepat! Jangan sampai kita terlambat,” perintah Keanu.
“Baik, Bos.” Bella memberikan hormat kepada Keanu. Setelah itu masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi.
Bella mengendari mobilnya di tengah kemacetan. Saat masih tinggal di apartemen mereka tidak perlu khawatir dengan kemacetan karena jarak ke kampus dan kantor dekat, tetapi kini mereka sedang tinggal di rumah Prayoga jarak menjadi dua kali lipat. Dengan hati-hati dan penuh konsentrasi akhirnya Bella bisa meloloskan diri dari kemacetan.
“Syukurlah, rapatnya ternyata di tunda setelah makan siang,” ucap Keanu lega.
“Itu kabar yang sangat baik,” ucap Bella.
Keanu manggut-manggut menyetujui perkataan Bella. Setelah itu Keanu melihat sekitar, keningnya mengerut saat melihat kampus Bella sudah terlewat.
“Kampusmu terlewat. Kenapa tidak berhenti?” tanya Keanu.
“Aku sudah sangat terlambat. Dosen pembimbingku pasti akan menceramahiku sampai terlewat dari tema. Aku malas sekali mendengarnya. Lebih baik aku bolos saja,” jawab Bella.
“Ternyata kau ini sangat nakal ya,” ledek Keanu.
“Sekali-kali aku menjadi anak yang nakal,” ucap Bella diikuti tawanya.
“Lalu sekarang kau mau ke mana?” tanya Keanu.
“Ikut ke kantormu. Boleh, 'kan?” tanya Bella.
“Boleh saja. Tapi jangan sampai kau mengacaukan pekerjaanku,” ucap Keanu.
“Aku tidak janji,” ucap Bella diikuti tawanya.
“Kau ini! Kenapa selalu ingin menguji kesabaranku.” Keanu tertawa kecil lalu setelah itu mengacak-acak rambut Bella.
Tidak ada pembicaraan lagi. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Hingga suara dering ponsel Keanu memecah keheningan.
Keanu mengambil ponsel yang ada di saku jas-nya. Nama Amel muncul di layar ponselnya.
“Amel yang telepon?” tanya Bella dibalas anggukkan kepala oleh Keanu. ”Kenapa tidak diangkat?”
“Nanti saja,” jawab Keanu.
“Kenapa? Kau takut aku menguping pembicaraan kalian? Tenang saja aku akan tutup telingaku,” ucap Bella.
“Tidak perlu. Aku akan menghubunginya nanti,” ucap Keanu.
”Oke, terserah kau saja,” ucap Bella.
Bella kembali berkonsentrasi mengemudi. Sesekali matanya melirik ke arah Keanu. Terlihat suaminya sedang fokus pada ponselnya, sepertinya sedang menulis pesan.
Tidak berselang lama Bella mendengar Keanu berdecak, raut wajahnya juga terlihat cemas.
“Ada apa? Kau terlihat cemas?” tanya Bella.
“Amel sakit,” jawab Keanu.
“Kau mau menjenguknya?” tanya Bella.
“Aku tidak tahu. Beberapa hari ini aku sangat sibuk. Mungkin aku akan menyuruh seseorang untuk menjaganya,” ucap Keanu.
“Bagaimana jika aku saja yang datang ke sana untuk melihat keadaannya,” usul Bella.
“Apa kau tidak keberatan?” tanya Keanu.
“Tidak. Tapi ... ada syaratnya,” jawab Bella.
“Harusnya aku sudah bisa menduga ini,” ucap Keanu diikuti senyumnya. “Jadi ... apa syaratnya?”
“Kau harus ikut aku ke pesta perpisahan yang dibuat temanku secara pribadi,” jawab Bella.
“Pesta perpisahan?” Keanu bertanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
“Iya, sekitar satu bulan lagi setelah pengumuman kelulusan kami. Aku mohon ikutlah,” pinta Bella.
“Baiklah. Aku akan ikut,” ucap Keanu tanpa berpikir panjang.
“Hore,” seru Bella.
Bella tidak sengaja melepas kemudi untuk bertepuk tangan. Alhasil laju mobil itu sedikit oleng.
“Bella, awas!” Keanu terkejut saat mobil mereka hampir menabrak pengendara motor yang melaju di samping mobilnya. Beruntung Bella sangat tanggap, dengan cepat Bella kembali mengontrol laju mobilnya.
“Jika aku terlalu lama bersamamu aku bisa terkena serangan jantung dadakan,” ucap Keanu sambil menarik napas menetralkan rasa terkejut yang sedang dialaminya.
“Maaf.” Bella menunjukkan wajah tidak bersalahnya.
Tidak berselang lama mobil yang Bella kendarai masuk ke area gedung pencakar langit. Laju mobil berhenti tepat di depan lobi. Seorang penjaga membuka pintu. Keanu melepas seat belt.
Sebelum turun, Keanu kembali bertanya kepada Bella. “Kau yakin mau membantuku untuk melihat kondisi Amel?”
“Tentu saja, karena kau juga mau datang ke pesta bersamaku,” ucap Bella.
“Terimakasih banyak, Bella. Berhati-hatilah di jalan. Kabari aku jika terjadi sesuatu,” pesan Keanu dibalas anggukkan kepala oleh Bella.
Setelah Keanu masuk ke gedung kantornya, Bella melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Amel. Bella tidak sepenuhnya bersungguh-sungguh menjenguk Amel. Ia hanya ingin bersenang-senang dengan sedikit mengganggunya saja.
Maaf slow up. Lagi ada acara keluarga.