
Istri mana yang tidak marah saat ada wanita lain dalam hidup suaminya. Apalagi wanita itu sangat tidak tahu diri. Bella sudah kehabisan kesabaran menghadapi wanita dari masa lalu suaminya, ia bertekad untuk mengakhiri hari itu juga.
Bella sudah sampai di apartemen yang ditinggali oleh Amel sebuah apartemen mewah. Bella bisa saja marah karena sang suami memberikan apartemen mewah itu untuk wanita dari masa lalunya. Namun setelah Rangga menjelaskan jika Amel memasaknya Bella meredam amarah itu.
Langkah Bella terhenti ketika sampai di unit apartemen yang Amel tinggali. Dengan tidak sabarnya Bella menekan bel dan itupun tidak dengan pelan-pelan. Tidak berselang lama pintu di hadapannya terbuka dari dalam membuat dua pasang mata saling memandang memperlihatkan kebencian masing-masing.
"Hai, kenapa melihatku seperti itu? Oh aku tahu, kau pasti mengira suamiku yang datang, 'kan?"
"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?"
Amel terkejut melihat Bella berdiri di hadapannya.
"Kenapa? Gedung ini sebagian milik suamiku. Jadi ... aku bebas melakukan apapun."
Jika boleh jujur Bella sangat benci ketika bertemu Amel, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang.
"Pergi dari sini!"
Amel mencoba untuk menutup pintu, tetapi Bella berhasil menahannya. Tanpa permisi, Bella langsung masuk.
"Apa kau tidak memiliki sopan santun masuk ke dalam rumah orang tanpa izin?"
Bella masih bersikap santai dan tidak memperdulikan ucapan Amel. Ia justru terkesan menantang Amel dengan menjatuhkan dirinya di sofa duduk seperti yang memiliki tempat itu.
"Suamiku sepertinya sangat memanjakanmu dengan memberikan apartemen mewah seperti ini."
"Tentu saja. Karena sampai sekarang mas Keanu masih sangat mencintaiku."
"Ck ck, ck, ck, jangan mengkhayal terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit." Bella berucap dengan senyuman mengejek.
"Cepat keluar! Aku tidak suka ada tamu tidak diundang masuk ke rumahku!"
"Rumahmu? Jangan mengkhayal! Kau sama sekali tidak berhak atas tempat ini. Jangan mengira aku tidak tahu, kau pasti sudah memaksa suamiku untuk membelikan apartemen ini, 'kan?"
Ucapan Bella seperti anak panah yang melesat dan menancap tepat di hadapannya.
"Diammu menjawab semuanya!"
"Sebenarnya apa yang kau mau, Bella?"
"Yang aku mau kau menjauh dari kehidupanku dan mas Keanu. Jangan ganggu kebahagiaan kami."
"Kebahagiaan? Apa kau masih belum sadar setelah melihat video itu. Dia masih mencintaiku!"
"Kau yang tidak sadar!" Bella berdiri dengan api kemarahan yang menyala di matanya. "Apa kau pikir aku dan mas Keanu tidak tahu jika kau menjebaknya dengan obat? Orang suruhanmu sudah mas Keanu tangkap. Jika kami mau kami akan memperkarakan ini lewat jalur hukum. Dan kau tahu akibatnya apa, 'kan?"
Mata Bella terbelalak mendengar perkataan Bella. Jelas tindakan yang dirinya lakukan akan mengantarkannya ke penjara. "Apa? Mereka sudah tahu."
"Aku tidak tahu kau bicara apa. Sekarang pergi atau aku —"
"Kalau aku tidak mau bagaimana. Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kalau kau tidak mau aku akan memanggil security ke sini untuk mengusirmu secara tidak hormat."
"Silahkan saja. Kau juga boleh panggil semua penghuni apartemen ini, agar mereka tahu ada wanita perusak rumah tangga orang."
"Kau—"
"Stttt, kau jangan berteriak atau nanti seluruh penghuni apartemen ini datang."
"Sebenarnya apa maumu?"
"Sudah aku bilang sebelumnya, tinggalkan aku dan suamiku! Biarkan kami hidup dengan tenang."
"Tidak akan. Aku harus mendapatkan apa yang aku mau."
"Kalau begitu jangan salahkan aku jika harus memperkarakan apa yang sudah kau lakukan pada mas Keanu."
"Kau tidak akan bisa."
"Tentu saja bisa. Tentu kau tahu siapa keluarga Pramuja, 'kan? Keluarga Pramuja bisa dengan mudah melumpuhkan musuh-musuhnya. Apalagi semut kecil sepertimu."
Jelas Amel sangat tahu kekuasaan keluarga Pramuja. Sekali membuat masalah dengan mereka maka kehancuran yang akan didapat.
"Tapi kau tenang saja. Aku masih berbaik hati." Bella mengeluarkan selembar kertas cek dari dalam tasnya. "Ini cek 500 juta. Pergi dariku kehidupanku dan mas Keanu."
"Heh, rasa cintaku pada mas Keanu tidak sebanding dengan uang 500 juta itu."
"600 juta."
"Tidak mau. Sebanyak apapun yang yang kau berikan tidak ada nilainya dibanding dengan mas Keanu."
Padahal Amel tergiur dengan tawaran Bella, tetapi jika ia langsung menerimanya maka Bella akan tahu jika dirinya hanya menginginkan uang bukan keanu.
"Baiklah, ini tawaran terakhir. Satu miliyar."
Orang bodoh jika menolak tawaran sebesar itu, tetapi Amel mencoba untuk tetap menahan diri karena harga dirinya menjadi taruhannya.
"Tidak."
"Baiklah, jika kau masih menolaknya. Aku harap kau tidak menyesal sudah menolak ini."
Bella kembali memasukan cek itu ke dalam tasnya.
"Kau sudah selesai? Kalau sudah, pergi dari sini sekarang juga! Aku muak melihatmu!"
"Tidak akan."
"Baiklah, aku harap kau tidak akan menyesal."
"Aku tidak akan menyesal. Karena hanya Mas Keanu yang mau."
"Benarkah? Tapi aku melihat ada keraguan dalam dirimu."
"Jangan banyak bicara! Kau harus ingat ini mas tidak pernah mencintaimu sama sekali jadi jangan pernah berharap lebih mungkin itu."
"Mungkin aku yang lebih tepat untuk mengatakan ini. Dan kau harus ingat, aku tidak akan pernah membiarkan suamiku jatuh di tangan wanita sepertimu! Karena kau suamiku selalu saja berada dalam bahaya."
Tidak ada pembicaraan lagi, Bella berjalan melewati Amel dengan tatapan yang dipenuhi dengan kebencian. Sampai di depan pintu Bella berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang melihat ke arah Amel. Bella tersenyum melihat kemarahan dan kekalahan di wajah Amel.
"Ayo, Rangga kita pergi dari sini!"
"Baik, Bu."
Bella berjalan dengan jantung yang masih berdebar. Jujur Bella sama sekali tidak mengira bisa se tegar itu bertemu dengan Amel. Apalagi dengan scandal yang terjadi dengan suaminya.
"Hufff."
Bella masuk ke mobil duduk bersandar sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa kita langsung ke rumah sakit?"
"Iya, Rangga. Mas Keanu pasti sudah menunggu."
"Baik, Bu."
Rangga melajukan mobilnya meninggalkan baseman gedung itu. Dalam perjalanan ke rumah sakit Rangga mencuri pandang ke arah Bella melalui kaca spion yang ada di hadapannya. Ada rasa kagum kepada ibu bosnya bisa bersikap tenang padahal bertemu dengan wanita yang ingin merebut suaminya. Pantas saja bosnya yang terkenal dingin sampai bertekuk lutut di hadapannya.
"Rangga, kenapa melihatku seperti itu?"
"Maaf, Bu. Saya hanya salut sama Ibu bisa tenang berhadapan dengan wanita itu."
"Saya tidak seperti yang kau lihat Rangga. Aku juga gelisah tadi. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang untuk mempertahankan apa yang menjadi hakku."
"Pantas saja Bapak cinta mati sama Ibu. Ada keistimewaan dalam diri Ibu."
"Jangan terlalu memujiku. Jalankan mobil ini dengan cepat. Aku sudah sangat merindukan suamiku."
Di tempat lain dan di waktu yang sama
Setelah Bella pergi, Amel menutup pintu dengan cara membantingnya. Bukan hanya itu saja Amel melempar barang-barang yang ada di dekatnya demi melampiaskan amarahnya.
"Dia pikir dia siapa? Apa karena dia berasal dari keluarga kaya dia bisa seenaknya mengancamku? Lihat saja nanti saat aku mendapatkan Keanu akan aku buang dia seperti sampah."
"Kita yang akan terbuang seperti sampah, Amel. Kenapa kau tidak terima uang dari miliyar itu?"
Amel menoleh ke asal suara, ada Rio tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa kau keluar? Bagaimana jika ada yang melihatmu?" Amel menjatuhkan dirinya di sofa sambil memijit kepalanya yang terasa berat.
"Siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali kita."
Rio berjalan mendekati Amel lalu duduk di sebelah Amel. Rio juga memandang barang-barang yang yang berserakan di lantai.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Tentang apa?"
"Tentang tawaran yang wanita itu berikan. Kenapa kau tidak menerima uang satu miliyar itu?"
"Apa kau gila? Kau tidak berpikir saat aku menerima uang dari wanita itu apa tanggapannya? Lagipula setelah aku mendapatkan Keanu aku bisa mendapatkan lebih banyak uang darinya."
"Astaga, Amel." Rio berdiri lalu menggeram kesal. Ia tidak tahu cara berpikir Amel. "Di mana akal sehatmu, Sayang? Apa kau tidak dengar mereka sudah tahu tentang apa yang sudah kita lakukan. Jika kita tidak segera pergi dari sini, kita akan masuk penjara."
"Dia tidak akan bisa melakukan itu padaku."
"Sayang ...." Rio duduk menekuk kedua lututnya di hadapan Amel lalu menggenggam tangannya. "Sayang, ayo kita mulai hidup yang baru. Hanya ada kau dan aku."
"Apa? Kau jangan gila, Rio? Aku ini masih berstatus ibu tirimu."
"Dan aku akan merubah status itu. Aku akan menjadikanmu istriku."
"Heh, apa kau ingin menghancurkan semua rencana yang aku buat. Jangan gila, buang jauh-jauh perasaanmu itu."
"Tidak bisa, Amel. Aku juga tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Aku merasa sudah lelah. Aku pikir dengan uang itu kita bisa pergi dari kota ini dan memulai kehidupan baru bersama."
"Aku tidak mau, Rio."
"Kenapa? Apa karena kau masih mencintai pria kaya itu."
"Bukan, karena aku belum menghancurkan mereka."
"Astaga, Amel. Hentikan kegilaan ini! Apa kau tidak lelah dengan semua ini?"
"Sampai aku melihat Keanu bertekuk lutut di hadapanku aku tidak akan pernah puas."
"Amel —"
"Cukup! Jika kau masih ingin membantuku kau boleh di sini. Tapi jika kau sudah tidak ingin membantuku, kau boleh pergi!"