I Love You

I Love You
Chapter 46



Bella berjalan mondar-mandir di depan pintu keluar bandara. Ia sedang menunggu kepulangan Keanu. Namun, ternyata bukan hanya ada dirinya, Amel ternyata juga datang. Bella merasa jengah dengan keberadaan wanita itu. Rasanya ingin sekali menghempaskannya, tetapi Bella tidak bisa melakukanya karena mereka berada di tempat umum.


“Sebaiknya kau pulang! Biar aku yang menunggu mas Keanu di sini,” suruh Amel.


“Siapa kau berani memerintahku?” Bella menolak untuk pulang.


“Kau sudah tahu aku ini siapa. Aku ini kekasihnya. Dan —” Ucapan Amel langsung dipotong oleh Bella.


“Dan kau juga tidak lupa aku ini istrinya, 'kan?” potong Bella. “Aku yang lebih berhak ada di sini. Di samping mas Kean,” lanjut Bella.


“Kau!” Amel menggeram, merasa tersinggung dengan perkataan Bella.


“Sttt, jangan berteriak! Ini di tempat umum. Atau ... kau ingin semua orang di sini tahu jika kau ini seorang pelakor.” Bella sengaja menekan kata-katanya.


“Kau memang wanita munafik, Bella! Apa yang sebenarnya ingin kau buktikan? Kau bilang akan melepaskan mas Keanu. Tapi aku merasa kau sedang berusaha menjauhkannya dariku,” ucap Amel.


“Ya, aku berubah pikiran. Aku ingin suamiku kembali padaku,” jawab Bella.


“Heh, jadi kau ingin bertaruh denganku sekarang untuk memperebutkan mas Keanu?” Amel tersenyum miring seorang sedang mengejek Bella. “Kau tidak akan bisa, Bella. Mas Keanu hanya mencintaiku.”


“Kalau begitu kita buktikan saja,” tantang Bella.


Amel tidak bisa membalas perkataan Bella, ia hanya mampu menggenggam telapak tangannya untuk menahan amarahnya. Tidak ingin dibuat malu lagi oleh Bella, Amel memilih menjauh dan menganggap tidak adanya keberadaan Bella.


Bella tersenyum penuh kemenangan melihat Amel bungkam. Sama seperti Amel, Bella juga tidak menganggap keberadaan Amel di tempat itu.


Setelah menunggu beberapa saat Bella melihat kedatangan Keanu. Dengan antusias Bella menghampiri Keanu.


“Hai,” sapa Bella.


“Hai, kau di sini?” Keanu sedikit terkejut melihat Bella datang menjemputnya.


“Kata Rangga kau pulang hari ini. Jadi ... aku datang menjemputmu,” jawab Bella.


“Thank you.” Keanu mengacak-acak rambut Bella.


“Mas Keanu,” panggil Amel.


“Hai,” sapa Keanu.


“Kita pergi sekarang?” tanya Amel yang langsung dianggukki oleh Keanu.


“Kalian mau pergi bersama?” tanya Bella.


“Iya,” jawab Amel. “Dia juga yang memintaku datang ke sini,” lanjut Bella.


“Mas ....” Bella menatap Keanu meminta penjelasan darinya.


“Iya, Bella. Aku yang memintanya,” jelas Keanu. “Kau pulanglah dulu,” imbuh Keanu.


“Tapi —” Ucapan Bella dipotong oleh Amel.


“Kau tidak dengar? Mas Keanu ingin pergi bersamaku. Jadi kau harus tahu diri,” ejek Amel.


“Bella ....” Keanu meraih tangan Bella dan menggenggamnya. “Pulanglah bersama Rangga. Aku akan menemuimu nanti.”


“Baiklah,” ucap Bella dengan wajah yang tertunduk.


Sebenarnya Bella sangat berat hati membiarkan Keanu pergi dengan Amel, tetapi Bella memilih mengalah karena tidak ingin terjadi keributan.


Bella masuk ke mobil duduk di bangku penumpang belakang. Wajahnya memberengut saat melihat Keanu masuk ke satu mobil bersama Amel. Bersamaan dengan laju mobil itu, cairan bening jatuh dari mata Bella. Lagi-lagi Bella merasa di saat dirinya mulai mendekat, Keanu justru menjauh.


“Bu, kita pulang sekarang atau mau ke tempat lain?” tanya Rangga yang membuyarkan lamunan Bella.


Bella langsung menghapus air matanya dan merespon pertanyaan Rangga.


“Antar saya ke rumah teman saya saja,” pinta Bella. “Kau jalan saja. Nanti saya kasih tahu alamatnya.”


Sepanjang perjalanan Bella berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar, tetapi sekeras apapun Bella berusaha cairan bening itu tetap lolos dari matanya.


Rangga bisa melihat itu dari spion di hadapannya. Sebenarnya ia juga merasa kasihan, tetapi dirinya juga tidak bisa berbuat apapun. Rangga tidak ingin ikut campur dengan masalah yang bukan urusannya.


“Bu, percayalah kepada bapak. Saya sudah bersama bapak cukup lama. Beliau pasti tidak akan mengecewakan Anda,” ucap Rangga.


Bella kembali mengusap air matanya sembari tersenyum. “Kenapa kau begitu yakin?” tanya Bella.


“Sebenarnya saya juga asal bicara saja, Bu. Tapi saya melihat sikap bapak berubah setelah bersama Anda.” Rangga menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Bella memaksakan dirinya tersenyum. Ucapan Rangga sedikit mengurangi moodnya yang memburuk.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, Bella sampai di rumah Anna. Bella turun dari mobil dan meminta Rangga untuk tidak menunggunya.


Bella masuk ke rumah Anna dengan berlari kecil. Ternyata Anna sudah menunggu kedatangannya. Keduanya langsung pergi ke kamar Anna untuk mengobrol.


“Katanya kau ingin pergi menjemput suamimu. Tapi kenapa kau justru datang ke sini?” tanya Anna.


“Aku sudah bertemu dengannya. Tapi ... dia lebih memilih untuk pergi bersama wanita itu,” ucap Bella.


“Hah? Masa?” Anna menjerit membuat Bella terkejut dan menutup kedua telinganya.


“Bisa tidak jangan berteriak?” ucap Bella.


“He he, maaf. Habis aku kesal,” ucap Anna.


“Sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku bingung sekarang. Otakku rasanya tidak bisa bekerja,” ucap Bella.


“Sebentar, aku pikirin dulu.” Anna berjalan mondar-mandir sambil berpikir mencari cara agar bisa mendekatkan hubungan Bella dengan Keanu.


Beberapa saat kemudian Anna menjerit kegirangan saat ia menemukan ide. Anna duduk di samping Bella dan mengatakan apa yang ada di pikirannya.


“Aku punya ide,” ucap Anna.


“Apa? Jangan aneh-anehya.” Bella menatap Anna dengan curiga.


“Iya, tenang saja,” ucap Anna.


“Oke, sekarang katakan apa ide yang kau punya?” suruh Bella.


Anna mengatakan kepada Bella untuk mencari pria lain. Jelas saja Bella menolaknya mentah-mentah. Jangankan memikirkan untuk berselingkuh, memikirkan pria lain saja tidak pernah Bella lakukan.


“Sudah aku duga idemu memang aneh.” Bella mendesah kecewa. Bukannya menemukan solusi, tetapi Bella justru merasa Anna membawa masalah baru untuknya.


”Ck, dengarkan aku dulu, Honey,” ucap Anna. “Ini kau lakukan hanya untuk melihat reaksi suamimu saja. Jika dia cemburu itu artinya dia memiliki perasaan padamu. Dan —”


“Dan jika reaksi mas Kean biasa saja, itu artinya dia tidak memiliki perasaan padaku,” sela Bella.


“Tepat sekali,” ucap Anna.


Bella terdiam mencoba mencerna semua ucapan Anna. Mungkin ide Anna ada benarnya juga. Selama ini Bella memang tidak mengetahui pasti perasaan Keanu terhadapnya. Kadang manis, kadang menjengkelkan, dan juga marah-marah tidak jelas.


“Jangan terlalu banyak berpikir! Makin cepat kau melakukan itu. Maka makin cepat kau akan tahu perasaan suamimu,” ucap Anna.


“Oke, aku akan mencoba melakukannya. Tapi ... siapa pria yang akan aku jadikan selingkuhan?” pikir Bella.


“Bagaimana kalau Aldo?” usul Anna.


“Itu ide yang sangat buruk dan pasti akan langsung gagal. Hanya melihat mas Kean saja Aldo sudah seperti kerupuk yang kena air. Melempem,” tolak Bella.


“Lalu menurutmu siapa?” tanya Anna.


Bella memutar isi kepalanya. Pria itu yang jelas harus memiliki keberanian untuk melawan Keanu. Dalam kebingungannya, ponselnya berdering memunculkan nama Azka di layar ponselnya. Melihat itu membuat bibir Bella melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


“Azka,” gumam Bella.