I Love You

I Love You
Chapter 85



Keesokan harinya Bella tiba-tiba saja terbangun. Ia kembali merasakan mual Bella bergegas ke kamar mandi tanpa memperdulikan tubuhnya yang polos. Bella segera mengunci pintu dan menyalakan kran air. Bella tidak ingin Keanu mendengar.


Bella membungkukan tubuhnya di depan wastafel. Dirinya berkutat dengan rasa mualnya. Cairan berwarna putih kekuningan yang terasa sangat pahit di tenggorokan keluar dari mulutnya. Setelah merasa lebih baik Bella membasuh bibirnya lalu menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Bella tidak tahu kenapa? Beberapa hari belakangan dirinya merasa kurang enak badan.


Beberapa saat kemudian Bella mendengar suara ketukan pintu. Ia sangat terkejut saat mendengar Keanu memanggilnya.


"Sayang, kamu di dalam? Kenapa pintunya dikunci?" ucap Keanu dari balik pintu.


Bella bergegas kembali mencuci mulutnya. Keanu terus saja mengetuk pintu, bahkan suaranya terdengar begitu cemas. Ia mengambil sikat gigi sebelum membuka pintu.


"Sayang, buka pintunya dong," ucap Keanu.


"Ya sebentar." Bella membuka pintu dengan sikat gigi berada di mulutnya.


"Astaga, Bella. Kenapa lama sekali membuka pintu?" Keanu merasa lega melihat Bella dalam keadaan baik-baik saja.


Akan tetapi yang tidak Keanu ketahui Bella hanya berpura-pura baik-baik saja.


"Kenapa kamu mengunci pintu?" tanya Keanu. "Apa kamu mual lagi?" tanya Keanu penuh selidik.


Bella menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arah wastafel. Bella berkumur sambil menahan rasa mual yang kembali ia rasakan.


"Jangan berbohong!" ucap Kenau.


"Sungguh. Aku hanya tersedak saat aku sedang menggosok gigi," ucap Bella.


Bella terpaksa berbohong. Jika dirinya jujur sang suami pasti akan memaksanya untuk istirahat di rumah. Hari itu Bella ada pertemuan dengan klien penting.


"Sebaik kamu mandi. Aku akan siapkan sarapan untukmu. Aku tidak ingin ada drama lagi." Bella mengecup pipi Keanu sebelum pergi.


"Bella, tidak usah. Kenapa repot-repot menyiapkan sarapan untukku. Biarkan bibi saja yang menyiapkan," ucap Keanu membuat Bella berhenti.


"Tapi aku yang istrimu, bukan bibi," ucap Bella.


Keanu menghampiri Bella menarik pinggang Bella untuk mengikis jarak di antara mereka.


"Aku tahu, Sayang. Tapi kamu juga harus ke kantor. Saat kamu berhenti bekerja nanti maka kamu bisa sepuasnya menyiapkan sarapan untukku," ucap Keanu.


"Baiklah. Aku akan menyiapkan pakaianmu saja," ucap Bella.


"Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu. Atau mau mandi bersama." Keanu mengedipkan satu matanya untuk menggoda Bella.


"Jangan menggodaku. Sudah sana mandi." Bella melepaskan pelukannya mendorong Keanu ke kamar mandi lalu menutup pintu.


Bella berjalan ke lemari, ia mengambil pakaian kerja sang suami juga miliknya. Setelah itu, ia menyiapkan berkas yang akan ia bawa. Saat sedang membaca file, Bella kembali merasa mual dan juga pusing. Ia mendaratkan bokongnya di sofa sambil menarik napas berulang-ulang.


"Kenapa aku merasa mual dan pusing?" batin Bella. "Mungkin hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran."


Rasa mual dan pusing sudah mereda, Bella pun kembali memeriksa filenya. Setelah dirasa cukup Bella memasukkan berkas itu ke tas kerjanya. Bersamaan dengan itu Keanu keluar dari kamar mandi.


"Sudah selesai? Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Aku akan mandi," ucap Bella dibalas anggukkan oleh Keanu.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 7, Bekla dan Keanu sudah bersiap untuk pergi. Keduanya berjalan bersama ke meja makan. Beruntung tidak ada Amel di saja sehingga tidak akan terjadi drama lagi.


Bella pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Keanu. Setelah itu ia kembali ke meja makan dengan membawa secangkir kopi panas.


"Kamu mau roti?" tanya Keanu.


"Boleh." Bella mengambil roti tawar tetapi Keanu mencegahnya.


"Kamu sudah menyiapkan kopi untukku. Jadi aku yang akan menyiapkan sarapan untukmu. Kamu mau selai apa?" tanya Keanu.


"Strawberry saja," jawab Bella.


Keanu mengoleskan selai strawberry di atas selembar roti tawar. Kemudian memberikannya kepada Bella.


"Terima kasih, Mas." Bella melipat roti tawar menjadi bentuk segitiga lalu mengigitnya.


Jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Keanu dan Bella bergegas menyelesaikan sarapan.


Saat Bella beranjak, ia melihat sekeliling mencari keberadaan Amel.


"Siapa yang sedang kamu cari?" tanya Keanu.


"Untuk apa mencarinya. Bagus dia pergi dari sini," ucap Keanu.


"Maaf, Bu saya menyela. Itu mbak Amel keluar rumah pagi-pagi sekali. Katanya mau menjenguk saudaranya yang sedang sakit," ucap Bibi.


"Saudara?" Bella melihat ke arah Keanu. Raut wajahnya seolah meminta penjelasan.


"Aku tidak mengenal baik keluarga wanita itu. Dia hanya memperkenalkan aku pada ibunya," jelas Keanu. "Ayolah, Sayang. Tidak udah membahas hal yang tidak penting. Ini sudah siang, nanti kamu bisa terlambat ke kantor."


"Iya, Mas." Bella menganggukkan kepalanya.


Keduanya berangkat bersama. Keanu lebih dulu mengantar Bella baru setelah itu ia pergi ke kantornya. Sampai di kantor Bella bergegas ke ruangan kerjanya untuk kembali memeriksa berkas-berkas yang akan ia tunjukkan kepada kliennya.


Sambil berjalan dengan menutup mulutnya. Bella kembali merasakan mual saat mencium wewangian. Bukan hanya itu, Bella juga merasa pusing. Sesekali Bella berhenti, ia berpegangan pada dinding sambil terus melawan rasa mualnya.


Sebenarnya Bella sudah tidak tahan dengan rasa mual dan pusing itu. Bella ingin sekali beristirahat, tetapi pertemuan itu sangat penting membuat dirinya harus bisa bertahan.


Bella kembali melangkah, berjalan ke ruangan meeting. Sampai di sana ternyata klien sudah datang. Bella mengucapkan maaf karena terlambat. Beruntung kliennya sangat baik.


Setelah semuanya siap Bella memberikan berkas yang sudah ia siapkan. Bella duduk sambil melihat kliennya sedang membolak-balikan file, ia kembali merasakan mual. Namun, saat itu Bella tidak bisa lagi menahannya.


"Hoek." Bella menutup mulutnya dan meminta maaf pada kliennya karena merasa tidak sopan.


"Anda baik-baik saja, Nak Bella?" tanyanya dibalas anggukkan oleh Bella. "Tapi wajah Anda telihat pucat."


"Saya baik-baik saja." Bohong jika Bella mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Perutnya kembali bergejolak dan Bella sudah tidak bisa lagi menahannya. "Maaf, saya permisi sebentar."


Bella keluar dari ruangan itu, ia sedikit berlari sambil memegangi perutnya juga menutup mulutnya. Beberapa karyawan menyapanya, tetapi karena tifak fokus Bella mengabaikan mereka. Bella berlari ke toilet yang ada di seberang ruangan meeting. Beruntung di dalam toilet tidak ada siapapun. Bella masuk dan langsung mengunci pintu.


Bella membungkukkan tubuhnya di wastafel. Lagi-lagi hanya cairan bening kekuningan yang keluar dari mulutnya. Rasanya sangat menyiksa.


"Ya Tuhan, sebenarnya aku sakit apa?" tanya Bella dalam hatinya.


Setelah merasa lebih baik, Bella keluar dari toilet dan kembali ke ruangan meeting. Ketika sampai di sana ternyata kliennya sudah bersiap untuk pergi.


"Pak Darmawan, Anda mau ke mana?" tanya Bella saat bertemu dengan kliennya di depan ruangan meeting.


"Saya rasa meeting kali ini sudah cukup. Saya harus pergi. Masih ada urusan lain," ucap Dermawan.


"Maafkan saya, Pak. Saya sudah membuat Anda merasa tidak nyaman," ucap Bella.


"Don't worry. Sebaiknya jaga kesehatan Anda, Nak Bella. Saya akan membawa berkas ini untuk saya pelajari lebih lanjut," ucap Dermawan.


"Sekali lagi tolong maafkan saya." Bella membungkukkan tubuhnya ke hadapan Dermawan.


"Jangan sungkan pada saya, Nak Bella. Saya sudah menganggap kamu seperti anak saya sendiri," ucap Dermawan.


"Terima kasih, Pak," ucap Bella.


"Baiklah, saya harus pergi. Sampai jumpa lagi." Setelah mengatakan kalimat itu Dermawan pun pergi.


Bella kembali masuk ke ruangan meeting diikuti oleh sekretarisnya. Mereka membereskan beberapa barang di meja.


"Bu, Anda benar baik-baik saja?"


"Ya, saya baik-baik saja. Tapi entahlah? Setelah pulang dari swiss aku nerasa tudak enak badan. Setiap pagi saya merasa sangat mual. Tapi sekarang malah semakin sering. Bukan hanya itu saja kepalaku juga terasa sangat berat," ucap Bella.


"Wah, ada kabar gembira nih. Jangan-jangan Ibu sedang hamil. Wah, kecebongnya bapak gerak cepat ya. Baru beberapa hari pulang bulan madu sudah ada hasilnya."


"Jangan ngaco."


"Coba saja periksa atau coba tes."


"Tidak usah. Aku tidak ingin berharap terlalu besar," ucap Bella.


"Sekarang Ibu coba ingat-ingat, kapan terakhir ibu datang bulan?"


Bella terdiam sambil mengingat-ingat kapan dirinya datang bulan. Bella terlambat datang bulan dua bulan. Harusnya tiga minggu yang lalu saat sebelum dirinya pergi bke swiss.


Hamil?


Masa iya?