
Sudah satu minggu Keanu di rawat dan akhirnya diizinkan untuk pulang. Akan tetapi selama beberapa minggu dirinya harus bolak balik ke rumah sakit untuk memeriksa tangannya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya tangannya terbebas dari penyangga.
Pulang dari rumah sakit keduanya pulang ke rumah. Keduanya pun langsung masuk ke kamar. Keanu memilih untuk membersihkan dirinya, sedangkan Bella duduk di sofa di kamar itu dan berkutat dengan berkas-berkas pekerjaannya.
Tidak lama Keanu keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Ia menoleh melihat Bella sibuk dengan pekerjaannya. Melihat keseriusan di wajah Bella Keanu ingin sekali menggoda istrinya.
Keanu berjalan ke sudut ruangan lalu duduk tepat di sebalah Bella.
"Akhirnya aku bebas juga." Keanu merenggangkan tangannya dan melakuan olahraga raga kecil untuk melemaskan tangannya.
"Tapi ingat, Sayang. Kamu masih belum boleh mengangkat beban berat," ucap Bella tanpa melihat ke arah Keanu.
"Iya, Sayang. Artinya aku belum boleh mengangkatmu." Keanu mengusap sisi wajah Bella.
"Kamu kenapa jadi mesum sih?" Bella menoleh ke arah kain untuk menyembunyikan rona merah di wajannya.
"Kamu sedang apa?" tanya Keanu.
"Aku sedang memeriksa berkas-berkas ini, Sayang. Kemarin aku lupa dan ini harus aku selesaikan sekarang." Bella menjawab sambil membolak-balikan berkas di tangannya.
Keanu mulai nakal, ia memeluk Bella, menggoda sang istri dengan menciumi pipi, leher, serta pundak Bella.
"Sana mandi." Keanu berucap seraya membuka satu persatu kancing kemeja Bella.
Awalnya Bella membiarkan sang suami dengan kelakuan nakalnya, ia tetap memeriksa pekerjaannya hingga ia mulai terganggu saat Keanu membuka kaitan kancing bajunya dan juga mencium bibirnya.
"Mandi sana ini sudah malam," ucap Keanu dengan suaranya yang serak.
"Baiklah, tapi aku bisa membuka bajuku sendiri." Bella menjauhkan tangan Keanu dari bajunya sambil tertawa kecil.
"Aku sangat merindukan dirimu." Keanu kembali membuka kaitan kancing baju Bella yang masih tersisa.
"Tangan kamu sudah sembuh dan mulai nakal ya." Bella beranjak dari sofa, tetapi Keanu justru menariknya membuat Bella jatuh di pangkuannya.
Keanu langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Bella untuk mengunci pergerakan sang istri.
"Ya ampun, Mas. Kamu ini …." Bella terdiam saat menyadari jika suaminya bertelanjang dada. Rona merah langsung muncul di kedua sisi wajah Bella.
"Apa kamu pikir bisa lolos dariku?" Keanu kembali menggoda sang istri.
"Mas, aku bisa jatuh," ucap Bella.
"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh," ucap Keanu.
Keanu mempertemukan pandangannya dengan Bella. Meskipun sering bertemu, tetapi mata keduanya memperlihatkan kerinduan.
"Aku mau mandi, Mas." Bella ingin cepat pergi karena tidak tahan menahan debaran jantungnya.
"Mau mandi bersama?" goda Keanu.
"Jangan bercanda. Kamu baru saja mandi," tolak Bella.
"Ayolah, Bella. Aku sangat merindukanmu," rengek Keanu.
Bella tertawa kecil, ia tahu arah pembicaraan Keanu. Tidak dipungkiri Bella pun sangat merindukan sentuhan suaminya, ia hanya ingin menggoda sang suami. Makin lama menahan hasratnya, justru hasrat itu semakin bergelora.
"Apa kamu pikir aku tidak merindukanmu." Tanpa rasa malu Bella mengalungkan kedua tangannya lalu mengecup pipi sang suami.
Keduanya kembali mempertemukan pandangan mereka sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka. Ciuman yang awalnya lembut kian lama berubah lebih menuntut. Karena rasa tidak sabar keduanya bercinta di atas sofa. Mereka mengangap tempat tidur sangat jauh.
Entah berapa lama keduannya bergulat di atas sofa. Keringat sudah mengucur dari tubuh mereka padahal suhu kamar itu sangat dingin, tetapi mereka belum ingin mengakhiri pergulatan panas itu. Sampai akhirnya rasa lelah memaksa mereka untuk segera mengakhirinya.
Erangan panjang keluar dari mulut keduanya saat mereka sampai pada puncak kenikmatan itu. Tubuh mereka terasa ringan seperti semua beban hilang dari tubuh mereka.
Keduanya terdiam masih di tempat dan posisi yang sama. Mereka berlomba meraup udara sebanyak mungkin dan memasukannya ke dalam paru-paru mereka.
"Terima kasih, Bella." Keanu mengecup kening Bella saat mereka selesai dengan pertarungan panas itu.
"Hmmm." Bella mengangguk dengan mata yang masih tertutup, napasnya juga masih tidak beraturan.
"Aku mau mandi. Badanku terasa lengket," ucap Bella.
"Ayo mandi bersama. Ini akan mempersingkat waktu." Keanu mengusap sisi wajah Bella. "Tapi maaf aku tidak bisa menggendongmu."
"Tidak masalah." Bella tertawa kecil.
Keduanya masuk ke kamar mandi dan di dalam sana mereka kembali bercinta. Pasangan suami istri itu seakan haus bercinta. Selesai mandi panas keduanya kembali ke kamar. Setelah berganti pakaian mereka masuk ke dalam selimut yang sama.
Bella merebahkan kepalanya di dada sang suami memainkan kancing baju sang suami karena rasa gelisahnya. Padahal sebelumnya ia merasa tenang seperti tidak ada beban, tetapi entah mengapa saat ia mengingat hari esok kegelisahan itu menguasai dirinya.
Keanu menyadari diamnya Bella, ia juga merasakan kegelisahan yang sama. Ia mengusap-usap pundak Bella berharap bisa meredakan kegelisahan sang istri.
"Bella," panggil Keanu.
"Hmmmm, ada apa Mas." Bella mendongkakkan wajahnya untuk melihat wajah saat suami.
"Apa kamu tidak bisa merubah rencana untuk mengajak perempuan itu tinggal bersama kita?" tanya Keanu.
"Untuk sekarang hanya itu saja yang bisa kita lakukan, Mas. Seperti yang aku bilang kemarin, kita tidak bisa menyuruh dia untuk menjauh, jadi biarkan dia mendekat agar kita bisa terus mengawasinya," jelas Bella.
"Tapi, Sayang. Aku khawatir dia akan mengacaukan hubungan kita," ucap Keanu.
"Tidak jika mas dan aku bisa mengendalikan diri," ucap Bella.
Ucapan Bella membuat Keanu terdiam. Memang selama bermasalah dengan Amel dirinya yang paling tidak bisa mengendalikan diri.
"Bella … bagaimana jika anak itu benar anakku?" tanya Keanu.
Bella merasa sakit mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat kepalanya dan melihat ke wajah Keanu.
"Jika itu benar, apa kamu tega menelantarkan darah dagingmu?" tanya Bella.
"Ck, Bella … aku tidak bisa hidup tanpamu. Lebih baik aku mati jika harus menikahi perempuan itu." Keanu membawa Bella ke pelukannya.
"Dulu kamu begitu mencintainya, kenapa sekarang kamu begitu membencinya." Bella tertawa kecil.
"Jangan membahas itu lagi. Kita bicarakan hal yang lain saja," ucap Keanu.
"Tentang apa?" tanya Bella.
"Kita harus bersiap untuk besok." Keanu mengusap sisi wajah Bella.
"Siap atau tidak aku harus bersiap, Mas," ucap Bella sedih.
Keanu melihat perubahan raut wajah Bella dan ia tahu alasannya.
"Bukan itu, Sayang. Bukan bersiap untuk bertemu dengan Amel," ucap Keanu.
"Lalu apa?" tanya Bella.
"Sebelumnya aku pernah berjanji padamu, jika tanganku sudah sembuh kita akan pergi berbulan madu. Karena tanganku sudah sembuh jadi bersiaplah. Kita akan pergi ke Swiss," ucap Keanu.
Wajah sedih Bella berubah menjadi bersinar mendengar mereka akan pergi ke Swiss, tempat yang ingin ia kunjungi.
"Benarkah? Kamu sedang tidak berbohong, 'kan?" tanya Bella.
"Tentu saja tidak, Sayang. Harusnya kita berangkat malam ini, tapi semua tiket penerbangan ke sana sudah habis. Jadi kita akan berangkat besok malam," jawab Keanu.
"Thank you, Baby." Bella mencium pipi Keanu berulang-ulang.
Keanu tertawa dan merasa senang melihat kegembiraan di wajah Bella.
"Sayang, kamu tidak ingin memberiku hadiah untuk ini." Keanu menggoda Bella dengan membuka kancing piyama Bella.
"Isssh, hentikan." Bella menepuk tangan Keanu. "Aku sudah memberimu dua kali."
"Aku hanya bercanda, Sayang. Tapi ingat, saat kita sampai di Swiss aku tidak akan membiarkanmu turun dari tempat tidur," bisik Keanu membuat tubuh Bella merinding.