
Keanu menyeret Amel untuk keluar dari rumah sakit. Entah mengapa Amel yang ia cintai berubah sikap 180 derajat. Keanu terus mencengkram erat pergelangan tangan Amel membuat wanita itu meringis menahan sakit.
“Mas, lepas! Ini sakit!” pinta Amel.
Keanu tidak memperdulikan teriakan Amel. Bahkan ia juga tidak peduli dengan pandangan penuh tanya orang-orang di sekeliling mereka. Sampai di parkiran mobil, Amel kembali memberontak dan berhasil melepaskan diri dari Keanu.
“Kenapa kau sekarang kasar padaku!” tanya Amel saat mereka baru tiba di apartemen. “Kau berubah, Mas!”
“Bukan aku yang berubah! Kau yang berubah, Amel!” bentak Keanu. “Dulu aku mencintaimu karena kau baik, pengertian. Tapi kenapa sekarang kau bersikap seperti ini? Aku bahkan sampai tidak mengenalimu!”
“Aku seperti ini karena aku mencintaimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya,” ucap Amel. “Tapi semua orang menghalangi kita, terutama Bella.”
“Cukup! Berhenti untuk terus menyalahkan Bella,” ucap Keanu. “Apa kau tahu dia adalah orang yang paling mendukung hubungan kita.”
“Bagaimana aku tidak terus menyalahkan Bella. Dia adalah orang ketiga di antara kita,” ucap Amel.
“Kau terus menyalahkan Bella. Tapi kau tidak melihat dirimu sendiri. Jika saja kau tidak terus menolak saat aku ingin menikahimu dulu, kedua orang tuaku tidak akan menjodohkan aku dengan Bella.”
“Mas —” Ucapan Amel langsung dipotong oleh Keanu.
“Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar hal buruk lagi tentang Bella!” ucap Keanu dengan meninggikan volume suaranya.
Setelah mengatakan kalimat itu Keanu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Amel begitu saja.
“Sial,” umpat Amel.
*****
Sementara itu di rumah sakit Bella sedang mengobrol di luar kamar rawat ayahnya bersama kedua mertuanya. Bella menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebelumnya Bella selalu menutupi setiap tindakan Keanu dari kedua orangtuanya, tetapi rasanya Bella sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri.
“Keterlaluan sekali anak itu! Bagaimana bisa dia bertindak seperti ini?” Kenzo sama sekali tidak menduga dengan tindakan Keanu.
“Aku tidak apa-apa kok, Pi. Lebih baik terjadi sekarang daripada nanti. Ini belum terlambat,” ucap Bella.
“Tapi kalian sudah menikah,” ucap Felicia.
“Aku tahu itu, Mam. Tapi jika kami meneruskan pernikahan ini mungkin kami justru akan terus saling menyakiti. Lagi pula aku tidak ingin memaksa mas Kean. Jika dia memang lebih bahagia bersama Amel maka kalian juga harus menerimanya,” ucap Bella.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Felicia.
“Ini mungkin sakit, Mam. Tapi aku yakin suatu saat rasa sakit ini akan sembuh,” jawab Bella seraya mengusap air matanya.
“Mami sudah pernah mengatakannya, bukan? Mami hanya ingin kau yang menjadi menantu Mami,” ucap Felicia.
“Tapi mas Kean hanya menginginkan Amel yang menjadi istrinya,” ucap Bella.
“Mami ....” Kenzo memberikan isyarat kepada Felicia untuk tidak menekan Bella. Ia tahu menantunya sedang dalam kondisi emosi yang sedang tidak stabil.
“Ya sudah, lebih baik kamu makan dan istirahat. Mami sudah pesankan makanan untukmu.” Felicia memberikan paper bag berisi makanan.
“Aku belum lapar, Mam,” tolak Bella.
“Tidak apa-apa. Kamu bisa makan ini nanti. Mami sama Papi ada urusan penting,” ucap Felicia. “Kamu tidak apa-apa tinggal di sini sendiri?” tanya Felicia.
“Tidak apa-apa, Mam. Sebentar lagi ada bibi yang nemenin aku. Kalian pergi saja,” ucap Bella.
“Ya sudah. Nanti Mami usahakan untuk datang lagi,” ucap Felicia yang langsung dianggukki oleh Bella.
Setelah kedua mertuanya pergi, Bella masuk ke ruang rawat ayahnya. Bella melihat ayahnya masih tidur dengan nyenyak. Dipandanginya wajah sang ayah yang terlihat pucat. Bella sangat tidak tega melihat kondisi ayahnya.
“Pa ... tolong bertahan demi Bella. Kalau Papa tidak ada Bella akan sendiri,” ucap Bella lirih.
Cairan bening menetes dari matanya dan dengan segera Bella menghapusnya. Ia tidak ingin saat ayahnya bangun melihat matanya yang sembab.
Malam telah tiba, Bella duduk di dekat ayahnya yang sudah membuka matanya. Dengan penuh ketelatenan Bella menyuapi ayahnya. Bella berusaha menggoda ayahnya agar bisa membuat ayahnya tertawa. Bella tidak memberikan kesempatan kepada ayahnya untuk merasa sedih.
“Seandainya Papa dulu mau menikah lagi, Bella tidak akan repot-repot begini mengurus Papa,” ucap Bella.
Prayoga tertawa, ia jelas tahu anaknya sedang bergurau. “Tidak. Papa tidak mau menikah. Kasihan wanita yang nantinya akan menjadi istri Papa.”
“Tapi kalau Papa berniat untuk menikah sekarang itu juga belum terlambat. Papa masih gagah dan tampan, masih banyak wanita yang mengantri untuk menjadi istri Papa,” ucap Bella.
“Lalu apa yang menjadi masalah Papa?” tanya Bella.
“Papa merasa kasihan pada wanita itu karena harus mengurus anak Papa yang keras kepala ini,” gurau Prayoga.
“Papa ini jahat sekali.” Bella melipat kedua tangannya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Anak Papa jelek sekali saat merajuk,” goda Prayoga diikuti tawanya.
“Papa, berhentilah menggodaku,” rengek Bella.
Prayoga tertawa lalu menangkup kedua sisi wajah Bella. Kecupan Prayoga berikan di kening Bella sebelum memeluknya.
“Alasan Papa tidak ingin menikah lagi karena Papa sangat mencintai ibumu dan juga karena Papa ingin terus menghabiskan waktu bersama anak Papa ini,” ucap Prayoga.
“Bella minta maaf, Pa. Karena Bella Mama dan adik —” Ucapan Bella langsung dipotong oleh Prayoga.
“Sttttt, jangan terus menyalahkan dirimu. Mungkin ini sudah menjadi takdir mereka,” ucap Prayoga seraya mengusap air mata di sudut matanya.
Bella menganggukkan kepalanya sebelum menarik dirinya dari dekapan sang ayah.
“Sekarang Papa makan lagi ya.” Bella mengambil makanan yang ada di meja nakas, tetapi sang ayah mencegahnya.
“Papa sudah kenyang,” tolak Prayoga.
“Kalau begitu Papa minum obat dulu. Setelah itu istirahat,” ucap Bella yang langsung dianggukki oleh Prayoga.
Bella mengambil beberapa butir obat lalu memberikannya kepada ayahnya. Beberapa saat setelah itu ayahnya pun tertidur. Bella menyelimuti ayahnya sebelum ia keluar dari ruangan itu. Bella terkejut ternyata Keanu ada di sana.
“Mas ... kau di sini?” tanya Bella.
“Iya.” Keanu menganggukkan kepalanya.
“Sejak kapan?” tanya Bella lagi.
“Sudah cukup lama sampai aku bisa mendengar kau tertawa bersama papa,” jawab Keanu.
Setelah itu hening mengambil alih suasana di antara mereka. Keduanya sama-sama tenggelam dalam diam. Keanu tidak tahan dengan keheningan itu, ia pun memilih untuk membuka suara terlebih dahulu.
“Bella,” panggil Keanu.
“Hmm, ada apa?” tanya Bella.
“Aku minta maaf untuk yang terjadi hari ini. Aku tidak menduga hal ini,” ucap Keanu.
“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, Mas. Ini juga salahku. Harusnya dari awal aku bicara jujur kepada Papa, tapi karena aku takut sakit jantungnya papa kumat aku tidak berani melakukannya,” ucap Bella.
Suasana kembali hening dan canggung. Apalagi saat Bella menyandarkan kepalanya di pundak Keanu. Ada getaran aneh di dalam diri Keanu yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Entah sadar atau tidak, Keanu menggerakkan tangannya melingkarkan ke pundak Bella. Namun, setelah itu Keanu dikejutkan dengan isak tangis Bella.
“Mas ... aku takut kehilangan Papa. Hanya dia yang aku punya setelah Mama meninggal,” ucap Bella di sela isak tangisnya.
“Jangan bicara seperti itu! Papa pasti akan baik-baik saja,” ucap Keanu sambil mengusap pundak Bella.
Bella masih terisak dan masih bersandar di pundak Keanu. Perasaan nyaman membuat Bella lupa akan sesuatu hal. Namun, saat ia menyadari hal itu Bella segera menarik dirinya.
“Maaf, Mas,” ucap Bella.
“Tidak apa-apa. Jika kau memang butuh sandaran aku akan meminjam bahuku,” ucap Keanu.
Hati Bella meleleh mendengar perkataan Keanu. Namun, sebisa mungkin Bella menahan dirinya.
“Mas, kau mengatakan kepada Papa jika hubungan kita baik-baik saja. Jika Amel tahu dia pasti tidak akan terima,” ucap Bella.
“Jangan pikirkan hal lain. Kita fokus saja pada kesembuhan Papa dulu,” ucap Keanu.
“Terima kasih, Mas,” ucap Bella.
“Sama-sama.” Keanu mengusap sisi wajah Bella.
Bella dan Keanu saling memandang mempertemukan pandangan mereka pada satu titik yang sama. Keduanya saling berbalas senyum sebelum akhirnya berpelukan.