
Hari yang Bella tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pengumuman kelulusan sudah ada di depan mata. Bella juga mendapatkan kabar baik jika dirinya lulus dengan nilai terbaik.
Bella tidak bisa mengendalikan rasa bahagianya saat itu. Setelah mendapatkan kabar baik itu Bella pergi ke kantor ayahnya untuk berbagi kebahagiaannya. Sampai di sana Bella membalas sapaan karyawan yang menyapanya.
Bella memasukki lift menuju lantai dimana ruangan kerja ayahnya berada. Pintu lift terbuka saat lift menunjukan angka 10. Bella keluar dari lift, ia melangkah melewati lorong-lorong menuju ruangan kerja ayahnya.
“Hai, Nia.” Bella menyapa perempuan yang merupakan sekertaris ayahnya.
“Hai, Mba bella.” Nia membalas sapaan Bella.
“Papa ada?” tanya Bella.
“Beliau sedang rapat. Silahkan menunggu di ruangan beliau saja,” ucap Nia yang langsung dianggukki oleh Bella.
Bella membuka pintu dan masuk ke ruangan kerja itu. Di dalam Bella mengedarkan pandangannya melihat seluruh sisi ruangan itu. Ada banyak perjuangan sang ayah yang bisa Bella lihat.
Pandangannya mengarah ke tempat dimana ada kursi yang biasa ayahnya dudukki. Bella mengingat betul ketika dirinya masih kecil Bella melihat ayahnya bekerja keras. Dua peran yang ayahnya ambil membuatnya sering terlihat lelah. Sejak saat itu Bella bersemangat mengejar pendidikan. Ia ingin bekerja menggantikan sang ayah agar beliau bisa beristirahat. Kini impiannya akan segera terwujud.
Bella menyentuh punggung kursi kepemimpinan perusahaan lalu berjalan memutari kursi tersebut sebelum akhirnya mendudukinya. Pandangannya mengarah pada bingkai foto berisikan foto dirinya, beserta ayah dan mendiang ibunya. Tanpa terasa cairan bening mengalir dan jatuh ke pipinya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan Bella segera mengusap air mata yang ada di pipinya. Setelah itu pandangannya berganti pada foto pernikahan dirinya dengan Keanu. Ngomong-ngomong tentang Keanu, Bella tidak bisa menahan tawanya. Pria itu mengatakan jika dia sangat tersiksa karenanya. Bagaimana bisa?
“Hei, tuan pemarah. Aku tidak sabar bertemu denganmu untuk menggodamu lagi.” Bella mengusap foto Keanu.
Jika mengingat malam dimana Keanu menciumnya, Bella sangat bahagia. Sentuhan bibir Keanu juga masih bisa ia rasakan. Saat itu Bella berpikir pernikahannya akan menjadi baik-baik saja. Akan tetapi kesedihan kembali Bella rasakan ketika ada wanita lain di antara dirinya dan Keanu.
“Ck, kenapa wanita itu harus datang. Akan lebih baik jika dia menghilang dari muka bumi ini,” gerutu Bella.
Setelah menunggu hampir setengah jam Bella melihat pintu ruangan itu terbuka. Dari balik pintu Bella melihat ayahnya. Bella berdiri berniat ingin memeluk ayahnya, tetapi niatnya Bella urungkan saat matanya menangkap sosok Keanu berada tepat di belakang ayahnya.
“Dia di sini?” batin Bella.
“Sayang, kau di sini?” tanya Prayoga yang membuat Bella tersadar dari lamunannya.
“Iya, Pa.” Bella berjalan pelan menghampiri ayahnya. Setelah itu Bella memeluk ayahnya sekilas. “Bella mau kasih kabar baik untuk papa,” ucap Bella.
“Kabar baik?” Kening Prayoga mengerut.
“Bella lulus, Pa. Dengan nilai terbaik,” seru Bella.
“Wah, selamat Sayang. Papa bangga padamu. Tidak sia-sia Papa bekerja keras untukmu.” Prayoga kembali memeluk Bella.
“Tentu saja, Bella tidak akan pernah menyia-nyiakan kerja keras Papa,” ucap Bella.
Bella menarik dirinya lalu menggenggam tangan ayahnya. “Mulai sekarang Papa tidak perlu bekerja keras lagi. Bella akan berusaha keras agar bisa layak untuk menggantikan Papa,” ucap Bella.
“Terima kasih, Nak. Tapi sekarang kau sudah menjadi istri. Prioritaskan suamimu daripada pekerjaan,” pesan Prayoga.
“Tapi, Pa ....” Ucapan Bella terhenti saat terdengar suara ketukan.
“Masuk!” suruh Prayoga.
Pintu ruangan itu kembali terbuka memunculkan Nia dari baliknya. “Maaf saya mengganggu.”
“Ada apa Nia?” tanya Prayoga.
“Tamu yang menunggu Anda di ruang tunggu,” jawab Nia.
“Baiklah saya akan segera ke sana,” ucap Prayoga.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Nia yang langsung dianggukki oleh Prayoga.
“Papa pergi dulu. Kalian tunggulah di sini sebentar. Papa akan segera kembali,” ucap Prayoga.
“Iya, Pa.” Bella dan Keanu menyahut bersamaan.
Setelah Prayoga pergi kini hanya tinggal Keanu dan Bella di ruangan itu. Susana menjadi sunyi dan sedikit canggung saat hanya ada mereka berdua di ruang itu.
“Hai.” Bella menyapa Keanu dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
Keanu melengos sengaja menghindari tatapan Bella.
“Jangan tunjukkan wajah bodohmu itu!” Keanu menutupi wajah Bella dengan telapak tangannya.
Setelah itu Keanu berjalan menjauh dari Bella. Ia duduk di sofa panjang bersama Bella yang ada tepat di sampingnya. Pandangannya mengarah ke arah lain. Ia masih belum kuat menatap Bella. Wajah istrinya seperti memiliki daya magnet yang bisa menarik dirinya.
Bella sendiri duduk dengan menopang dagu dengan tangannya. Ia merasa sangat bosan menunggu dengan hanya duduk berdiam diri. Matanya melirik ke arah Keanu yang nampak duduk dalam gelisah. Melihat itu ide jahil terlintas di kepalanya.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin mengucapkan selamat untukku?” tanya Bella.
“Iya, selamat." Keanu hanya menoleh sekilas ke arah Bella.
“Hanya seperti itu saja? Kau bahkan tidak mau melihatku.” Bella memberengut berpura-pura merajuk. “Kau jahat sekali!”
“Lalu aku harus apa, Bella?” tanya Keanu.
“Setidaknya ajak aku jalan-jalan. Paling tidak traktir aku makan,” jawab Bella.
“Aku sedang sibuk,” tolak Keanu.
“Kau jahat sekali. Sampai kapan kau akan menghindar dariku?” tanya Bella.
“Aku tidak tahu,” jawab Keanu.
Bella berdiri, tanpa diduga Bella menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Keanu. Apa yang dilakukan oleh Bella jelas membuat Keanu terkejut.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Keanu.
“Bella, bangunlah! Bagaimana jika papa melihat ini.” Keanu mencoba membangunkan Bella dari atas pangkuannya.
“Papa tidak akan marah. Dia memaklumi jika kita ini suami-isteri,” tolak Bella.
“Bukan masalah itu? Apa kau tidak malu saat ada orang lain yang melihatmu seperti ini?” omel Keanu.
“Tidak,” jawab Bella. “Kenapa aku harus malu? Kau suamiku bukan selingkuhanku,” lanjut Bella.
“Ya Tuhan. Aku rasa urat malu sudah putus.” Keanu menepuk keningnya sendiri.
Bella tertawa melihat wajah Keanu yang memerah. Apalagi dengan kulitnya yang putih membuat rona merah itu terlibat begitu jelas.
“Bella ... kumohon berdirilah!" suruh Keanu.
“Tidak mau. Biarkan saja semua orang melihat ini.” Bella mengalungkan tangannya ke leher Keanu.
“Ya Tuhan, Bella. Jangan seperti ini. Ini di tempat umum,” ucap Keanu.
“Jadi kalau tidak di tempat umum kita boleh seperti ini?” Bella mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Keanu.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Keanu saat itu yang jelas wajah Keanu sudah merah bak kepiting rebus. Melihat rona merah di wajah Keanu, Bella makin tertawa dengan begitu puas.
"Bella berdirilah! Apa kau ingin menyiksaku?” Keanu sudah sangat frustrasi.
“Tidak, aku hanya merasa penasaran saja. Aku ini tidak seksi, tubuhku juga kurus. Lalu bagaimana kau bisa tergoda olehku?” tanya Bella. “Aku juga masih ingat, saat malam pertama kita, kau menendangku membuat aku terjatuh ke lantai,” lanjut Bella.
Keanu terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Senyum terlihat di bibirnya. “Aku tidak tahu, Bella.”
“Kau ini lucu sekali.” Bella menjepit hidung Keanu lalu menggoyangkan ke kanan dan kiri. “Baiklah aku akan bangun. Aku sudah puas menggodamu.”
Bella bangun dari pangkuan Keanu. Saat akan pergi Keanu memegang pergelangan tangan Bella membuat langkahnya terhenti. Keanu menarik Bella membuatnya kembali duduk di atas pengakuannya.
“Setelah yang kau lakukan padaku kau ingin pergi begitu saja? Kau sangat tidak bertanggung jawab,” ucap Keanu dengan suara yang serak.
Keanu mengambil helaian rambut yang menutupi sebagain wajah Bella lalu menyelipkan ke belakang telinganya.
“A-ku ti-dak melakukan apapun. A-ku ha-nya ingin bermain-main denganmu.” Giliran Bella yang merasa gugup.
“Aku merasa tidak seperti itu.” Keanu berbisik di telinga Bella membuat tubuh Bella merinding.
“Mas, tolong biarkan aku pergi. Sebentar lagi papa akan datang. Bagaimana jika papa melihat kota seperti ini,” ucap Bella.
“Kenapa? Bukankah kau tadi mengatakan tidak apa-apa jika papa melihat ini,” ujar Keanu.
“Aku tadi hanya bercanda,” ucap Bella. “Sekarang tolong biarkan aku pergi.”
“Bagaimana jika aku tidak mau?” goda Keanu.
“Tidak, tolong jangan seperti ini,” rengek Bella.
Bella berusaha membebaskan diri dari Keanu, tetapi Keanu tidak memiliki niatan untuk melepaskan Bella.
“Bella, diamlah! Jika kau terus bergerak aku tidak yakin bisa mengendalikan diriku,” suruh Keanu.
“A-pa, maksudmu?” tanya Bella dengan kegugupan yang masih menguasai dirinya.
Keanu mengela napasnya. Kadang Keanu merasa heran di umur Bella yang sudah memasuki kepala dua istrinya itu masih polos.
“Turuti saja perintahku,” suruh Keanu.
Keanu menarik kepala Bella menyenderkan kepala Bella di dadanya.
“Ba-ba-iklah. Aku diam,” ucap Bella.
Hening mengambil alih suasana di antara Bella dan Keanu. Mereka masih berada dalam posisi yang sama. Saling diam tanpa ingin mengakhiri kebersamaan itu.
Bella sendiri masih betah bersandar pada dada bidang Keanu. Menikmati debaran jantung Keanu yang sama seperti debaran jantungnya.
“Mas ...,” panggil Bella.
“Hmmm, ada apa?” tanya Keanu.
“Apa kakimu tidak merasa pegal?” tanya Bella.
“Lumayan,” jawab Keanu. ”Badanmu kecil, tetapi berat juga,” imbuhnya.
“Kalau begitu biarkan aku berdiri.” Bella mendongakkan kepalanya mempertemukan pandangannya dengan Keanu.
Pandangan Keanu dan Bella bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya saling berbalas senyuman yang membuat debaran jantung mereka makin cepat.
Keanu menggerakkan tangannya mengusap sisi wajah Bella. Ada sesuatu yang menarik Keanu agar lebih dekat dengan Bella.
Melihat wajah Keanu makin mendekat membuat jantung Bella berdekat tidak karuan.
Apakah dia ingin menciumku?
Bella semakin gelisah, ia ingin menghindar, tetapi tubuhnya mengkhianati dirinya. Tangan Bella mencengkram lengan Keanu, matanya mulai terpejam tidak ingin melihat apa yang akan terjadi.
Wajah Keanu semakin dekat dengan wajah Bella. Harusnya bibir mereka menyatu jika saja pintu ruangan itu tidak terbuka.
“Opps, maaf. Kayaknya Papa masuk di waktu yang tidak tepat.” Prayoga berbalik, kembali keluar dari ruangan itu saat melihat anak dan menantunya sedang bermesraan.
Bella langsung mendorong Keanu lalu berdiri dari atas pangkuan Keanu. “Tuh, 'kan Mas, papa lihat.”
“Ck, Papa mertua ganggu saja.” Keanu berdecak kesal serta menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.