
Pesawat yang ditumpangi oleh Bella dan Keanu sudah mendarat di Jakarta beberapa menit yang lalu. Setelah mendapatkan instruksi dari para pramugari para penumpang pun turun.
Bella dan Keanu juga sudah keluar dari pesawat. Keduanya berjalan dengan menyatukan tangan mengisi setiap ruang di sela jari-jari mereka. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah keduanya. Terlihat dari senyuman yang selalu menghiasi bibir keduannya.
"Mas, kapan-kapan kita ke sana lagi ya," ucap Bella.
"Iya, Sayang." Keanu menarik tangannya berpindah ke pundak Bella. Keanu melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Ayo ambil barang-barang kita," ajak Keanu.
Keduanya berjalan ke tempat pengambilan koper. Sepanjang perjalanan itu pula Keanu tidak menjauhkan tangannya dari pundak Bella.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan mengambil barang-barang kita," ucap Keanu yang langsung dianggukki oleh Bella.
Bella menunggu Keanu berdiri dengan bersandar pada dinding dengan bermain dengan benda pipih kesayangannya. Sesekali Bella melihat suaminya sedang menunggu koper mereka. Awalnya Bella tenang dan sabar menunggu Keanu, tetapi saat ia Keanu mengobrol dengan wanita berpakaian mini membuat hati Bella memanas.
"Siapa wanita itu?" tanya Bella dalam hati. "Kenapa mereka terlihat akrab?"
Rasa kesal Bella makin bertambah saat wanita itu berani menyentuh pundak Keanu. Bella sudah tidak sabar melihat pemandangan itu, ia segera menghampiri sang suami sambil menggerutu.
"Mas, kenapa lama sekali?" Bella menjauhkan tangan wanita itu. Ia juga sengaja berdiri di tengah-tengah agar menjauhkan wanita itu dari Keanu.
Jelas tindakan Bella mengejutkan wanita berpakaian mini itu.
"Keanu, siapa wanita ini? Tidak sopan sekali sikapnya?" tanya wanita itu kesal.
"Dia —" Belum Keanu menjawab pertanyaan wanita itu, Bella lebih dulu memotongnya.
"Mas, kalian saling kenal?" tanya Bella sambil mendelikkan matanya.
Keanu mengela napas sebelum mengangguk. Melihat ekspresi wajah Bella, Keanu bisa menebak jika sang istri merasa kesal.
"Iya, Sayang. Dia Imelda, teman kuliahku dulu. Dan … Imelda, dia Bella, istriku." Keanu langsung merangkul pinggang Bella sengaja memperlihatkan kemesraannya dengan Bella kepada Imelda.
"Istri? Kamu sudah menikah?" Imelda merasa terkejut.
"Ya, apa kamu tidak tahu jika Mas Kean sudah menikah?" Bella tersenyum sinis. "Mas, apa kamu tidak mengundangnya?" tanya Bella.
"Tidak, Sayang. Aku lupa," jawab Keanu. "Bahkan aku tidak ingat dengannya, Sayang." Keanu berbisik di telinga Bella.
"Oh, kami minta maaf untuk itu. Tapi bagaimana kamu tidak tahu? Padahal acara pernikahan kami saat itu menjadi trending topic loh," sindir Bella.
"Aku sangat sibuk mengejar karier jadi tidak pernah membaca ataupun menonton berita," ucap Imelda.
"Ohw, sayang sekali," ucap Bella diikuti senyuman mengejek.
"Aku sudah mendapatkan koperku. Aku harus pergi," ucap Imelda. "Keanu, aku pergi dulu. Aku berharap kita bisa kembali bertemu."
Keanu hanya merespon dengan senyuman yang ia paksakan.
Setelah Imelda pergi, Bella berbalik menatap Keanu dengan tatapan tajam. Melihat ekspresi Bella membuat Keanu melipat bibir untuk menahan tawanya. Keanu selalu senang jika sang istri berada dalam mode cemburu.
"Kenapa tertawa?" tanya Bella.
"Tidak apa-apa?" jawab Keanu masih dengan menahan tawanya.
"Koper kita sudah terkumpul. Ayo kita pulang. Rangga sudah menunggu kita di depan."
"Hmm," gumam Bella.
Keanu mendorong troli yang berisi barang bawaan mereka. Sesekali dia melirik ke arah Bella yang masih terlihat kesal.
"Untung saja tadi kamu datang. Jika tidak Imelda tidak akan pergi," ucap Keanu.
"Siapa Imelda itu?" tanya Bella.
"Fans," jawab Keanu dengan santainya.
"Sepertinya akan bertambah daftar pelakor di dalam rumah tangga kita," ucap Bella. "Yang satu sudah masuk ke dalam rumah kita dan yang satu berada di luar rumah," tambah Bella.
"Inilah resikonya memiliki suami setampan aku," ucap Keanu dengan bangganya.
"Ayolah, Sayangku. Aku masih ingin hidup. Jangan menatapku seperti itu," ucap Keanu seraya menahan tawanya. "Tunjukkan ekspresi seperti itu hanya saat kita berada di kamar saja." Keanu berbisik di telinga Bella.
"Astaga, bagaimana kamu bisa bicara seperti itu di depan umum." Bella menoleh sekelilingnya dengan tersenyum canggung berharap tidak ada yang mendengar apa yang dikatakan oleh Keanu.
"Jika kamu berani macam-macam lagi. Jangan berharap aku akan mengampunimu," ancam Bella lagi.
"Jangan lakukan hal itu, Sayangku. Bagaimana aku bisa jauh darimu. Satu detik saja aku tidak melihatmu duniaku seperti akan runtuh." Keanu mengedipkan satu matanya untuk menggoda Bella.
"Dasar tukang gombal." Ucapan Bella mengundang tawa kecil dirinya dan sang suami.
Bella dan Keanu sudah sampai di area penjemputan. Mereka mengedarkan pandangannya untuk mencari Rangga.
"Mas, Rangga di sana." Bella melihat Rangga terlebih dahulu.
"Ayo ke sana," ajak Keanu.
Keduanya kembali berjalan ke tempat Rangga dan berhenti di samping mobil.
"Mas, aku masuk dulu ya," ucap Bella disambut anggukkan oleh Keanu.
Keanu berjalan ke belakang mobil memasukkan barang-barang bawaannya ke bagasi dibantu oleh Rangga. Selesai dengan itu Keanu masuk ke mobil lebih dulu untuk menyusul Bella. Keanu membuka pintu ia melihat Bella duduk bersandar pada punggung kursi. Keanu masuk dan langsung duduk di samping Bella.
"Capek?" tanya Keanu yang langsung dianggukki oleh Bella.
"Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba kepalaku pusing dan aku merasa mual," jelas Bella.
"Kamu sakit?" Keanu menempelkan punggung tangannya ke kening Bella untuk mengecek suhu tubuh Bella. "Tidak panas."
Bella menarik tangan Keanu lalu mengecup punggung tangannya. "Aku tidak apa-apa, Mas."
"Tapi wajamu pucat. Kita mampir ke dokter setelah ini," ucap Keanu.
"Tidak mau. Kita langsung ke pulang saja. Dengan istirahat besok juga sudah sembuh," tolak Bella.
"Baiklah, tapi jika kamu merasa tidak enak jangan ditahan. Aku tidak mau jika kamu sakit," ucap Keanu seraya mengusap sisi wajah Bella.
"Iya, Mas." Bella menganggukkan kepalanya.
Obrolan keduannya terhenti saat Rangga masuk ke mobil. Setelah itu mobil melaju meninggalkan area bandara.
"Tidur saja dulu. Nanti aku bangunkan setelah kita sampai di rumah," ucap Keanu.
"Baiklah." Bella menyandarkan kepalanya di dada Keanu dan perlahan mata Bella terpejam.
Hening mengambil alih perjalanan itu. Bella sudah tidur, Rangga berkonsentrasi mengemudi, sedangkan Keanu duduk menatap keluar mobil dengan pandangan kosong. Meskipun terlihat tenang, tetapi Keanu merasa sangat gelisah dan alasan dari kegelisahannya itu adalah keberadaan Amel di rumahnya.
Keanu menarik napas sangat berat seolah semua beban di dunia berada di pundaknya. Keanu menoleh melihat Bella tidur, nampak sangat tenang. Bibir Keanu melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Setiap kali rasa gelisah datang hanya melihat wajah sang istri bisa menghilangkan rasa gelisah itu.
"Rangga, apa selama kami pergi wanita itu berulah?" tanya Keanu memecah keheningan.
"Sangat, Pak." Rangga melihat ke kaca spion di depannya, ia bisa melihat keresahan di wajah bosnya. "Jika boleh jujur dia sangat menyebalkan, Pak."
"Ck, kenapa wanita itu tidak lenyap saja dari dunia ini," ucap Keanu.
Rangga terkejut mendengar perkataan Keanu.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Saya merasa dia tidak seperti dulu. Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat," ucap Rangga.
Bukan tanpa alasan Rangga bisa berbicara seperti itu, sebab Rangga adalah saksi kisah cinta antara Keanu dan Amel dulu.
"Ya, itu memang benar. Aku tidak tahu kenapa dia menjadi seperti itu," ucap Keanu.
"Mungkin karena dia masih mencintai Anda, Pak," ucap Rangga.
"Mas."
Keanu dan Rangga langsung terdiam saat mendengar suara Bella. Tiba-tiba susana menjadi tegang saat Bella bangun. Kedua pria itu sudah berharap-harap cemas, mereka khawatir jika Bella mendengar obrolan mereka mengenai Amel.