I Love You

I Love You
Chapter 50



Keanu sedang sibuk mengejar cinta Bella membuat ia melupakan Amel. Keadaan wanita yang tinggalkannya sangat tragis. Selama berhari-hari Amel terpuruk. Dia menghabiskan waktu di dalam kamar dengan ditemani minuman keras. Amel hancur se-hancur-hancurnya setelah ditinggalkan oleh Keanu.


Kamar yang Amel tempati nampak sangat kotor. Barang-barang berserakan di lantai bahkan ada yang pecah, tempat tidurnya pun tidak kalah kacau, seperti selimut, dan bantal tidak ada di tempatnya lagi. Di tempat itu pula tercium aroma minuman yang sangat menyengat.


Amel terbaring di lantai sambil terisak. Wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang terlihat basah karena air matanya.


“Ini semua karenamu, ibu!” teriak Bella.


Amel merasa hidupnya hancur karena kelakuan ibunya. Selama menjalin hubungan dengan Keanu, Amel menyembunyikan kenyataan tentang ibunya. Ibunya yang bekerja sebagai wanita penggoda membuatnya merasa malu dan ragu untuk menerima lamaran Keanu. Setelah keraguannya hilang Amel harus kehilangan Keanu karena ibunya terlilit hutang dengan seorang lintah darat.


Kehidupannya mulai baik-baik saja saat ia kembali bersama Keanu. Namun, kehancuran kembali menghampirinya saat kesuciannya direnggut oleh pria yang merupakan anak tirinya. Amel masih bertahan saat itu karena ada Keanu masih berada di sisinya. Kini Keanu sudah pergi meninggalkan dirinya, siapa lagi yang akan menjadi tumpuan hidupnya?


“Aaaaa, aku benci kalian semua! Aku benci!” Amel berteriak mengeluarkan semua amarah di dalam dirinya.


Amel bangun dan mengambil posisi duduk. Diraihnya botol minum di dekatnya. Amel mengarahkan botol itu ke mulutnya, ia ingin menghilangkan kesakitan dengan meminum minuman yang memabukkan itu, tetapi ternyata botol itu sudah kosong.


“Si***n.” Amel melempar botol kosong itu ke sudut ruangan menimbulkan suara yang nyaring.


Amel mencoba berdiri meraih botol lainnya. Namun, sama saja semua botol yang ada di dalam kamarnya tidak ada isinya. Wanita itu kembali berteriak, ia menjambak rambutnya merasa frustrasi. Amel butuh minuman itu, saat tidak mendapatkannya wanita itu bersikap seperti orang yang kehilangan akal.


Amel kembali melempar apapun benda-benda yang ada di dekatnya sambil berteriak-teriak. Bersamaan dengan itu Amel mendengar bel apartemennya berbunyi membuat ia menghentikan kegilaannya.


Bel apartemennya terus berbunyi. Suara berisik itu membuat kepala Amel rasanya ingin pecah.


“Siapa yang datang menggangguku?” Amel bertanya pada dirinya sendiri. “Apa mungkin itu mas Keanu?”


Amel berjalan keluar kamar. Pengaruh minuman keras membuat Amel berjalan sempoyongan. Ia berjalan dengan berpegangan pada tembok dan benda-benda lainnya agar tidak terjatuh. Bel masih berbunyi sampai Amel berada di depan pintu. Saat akan membuka pintu Amel menyadari sesuatu. Jika yang datang itu Keanu tidak mungkin akan menekan bel. Pasti Keanu akan langsung masuk karena mengetahui password-nya.


“Siapa yang datang? Tidak ada yang tahu aku di sini kecuali mas Keanu dan wanita itu,” batin Amel.


“Apa mungkin orang suruhan mas Keanu?” tebak Amel.


Rasa ingin bertemu dengan Keanu menghilangkan pikiran buruk Amel. Dengan tidak sabarnya Amel membuka pintu. Tubuhnya membeku, matanya membulat, dan jantungnya berdegup kencang saat ia melihat Rio berdiri di hadapannya.


“Kau?” Amel merasa sangat ketakutan.


Amel kembali masuk dan berusaha menutup pintu. Namun, ditahan oleh Rio.


“Dari mana pria ini tahu keberadaanku?” batin Amel.


Kedua orang itu saling mendorong pintu. Amel kalah karena yang sudah tidak memiliki tenaga. Rio mendorong pintu dengan sangat kuat membuat Amel ikut terdorong dan jatuh tersungkur ke lantai.


“Heh, kau mau main-main denganku?” Rio tersenyum sinis.


Rio masuk dan langsung menutup pintu. Ia berjongkok di hadapan Amel dan langsung mencengkram leher Amel.


“Kau berani bermain-main denganku? Apa kau pikir dengan mem-block nomorku aku tidak akan bisa menemukanmu? Jangan bermimpi!” gertak Rio.


Amel ingin membalas ucapan Rio, tetapi lehernya tercekik membuatnya tidak bisa bersuara bahkan sulit untuk bernapas.


“Apa kau pikir bisa lolos dariku?” Rio melepas cengkraman tangannya dari leher Amel.


Amel terbatuk-batuk lalu menarik napasnya dalam-dalam. Setelah napasnya kembali normal Amel berusaha bangkit. Dengan sisa tenaganya Amel berhasil sampai di sofa.


Rio tersenyum sinis tidak ada rasa iba sedikitpun melihat kesakitan di wajah perempuan yang merupakan ibu tirinya. Rio duduk dengan tenang sambil melihat sekelilingnya.


“Kau beruntung mendapatkan pria kaya itu. Kau bisa mendapatkan semua kemewahan ini,” ucap Rio. “Tapi apa pria itu tahu kau sudah tidak perawan?” Rio tertawa keras seperti sedang mengejek Amel.


Amel terdiam sebelum akhirnya terisak. Dadanya terasa sesak seperti terhimpit bebatuan besar.


“Kenapa kau menangis? Harusnya kau merasa bahagia. Atau kekasihmu itu sudah meninggalkanmu sebab dia tahu kau sudah tidak perawan? Ck, ck, ck, kasihan sekali nasibmu,” ejek Rio.


“Tutup mulutmu dan pergi dari sini!” teriak Amel.


Kemarahan Amel memuncak bahkan sudah menembus ubun-ubunnya.


“Sudah aku bilang, tutup mulutmu dan segera pergi dari sini! Tinggalkan aku dan jangan ganggu aku lagi!” teriak Amel.


“Aku tidak mau. Sepertinya aku akan tinggal sementara di sini. Tempat ini sangat nyaman,” tolak Rio.


“Aku tidak mengizinkanmu untuk tinggal di sini. Jadi cepat pergi dari sini!” usir Amel.


“Jangan berteriak! Lihat kondisimu yang sudah seperti orang tidak waras.” Rio beranjak dari tempatnya dan menghampiri Amel. Diraihnya dagu Amel sambil berkata, “Aku akan tetap di sini barangkali kau akan membutuhkan kehangatan dariku.”


“Tutup mulutmu!” Amel melayangkan tangannya ke wajah Rio, tetapi berhasil dicegah oleh Rio.


“Ck, kau ini galak sekali.” Rio mencium punggung tangan Amel lalu menatap Amel dengan napsu.


Amel yang merasa jijik langsung menarik tangannya dari Rio. Dengan sisa tenaganya Amel beranjak pergi. Amel berjalan ke kamarnya, tetapi Amel tidak tahu jika Rio mengikutinya. Sampai di dalam kamar Amel terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang. Tidak perlu bertanya lagi siapa yang memeluknya.


“Lepaskan aku!” Amel berontak untuk bisa meloloskan diri dari Rio.


Sekeras apapun Amel mencoba, tetap tidak bisa meloloskan diri dari Rio. Amel sudah tidak memiliki daya lagi membuatnya pasrah. Amel diam dengan cairan bening menetas dari matanya.


“Penampilanmu saat ini seperti wanita nakal. Aku suka,” bisik Rio. “Kau sungguh menggoda, Sayangku.” Rio menelusuri setiap inci tidak tubuh Amel dengan tangannya.


Amel makin terisak saat Rio menyentuhnya. Jelas Amel tahu apa yang akan dilakukan oleh Rio.


“Jangan.” Amel memohon kepada Rio untuk berhenti saat Rio berusaha membuka pakaiannya.


“Aku akan memberimu kenikmatan yang bisa membuatmu melupakan masalahmu,” ucap Rio dengan suaranya yang serak.


Amel menangis, ia tahu Rio tidak akan melepaskan dirinya. Tahu jika tidak bisa melawan, Amel pasrah dan membiarkan Rio melakukan apa yang dia inginkan.


Awalnya Amel merasa sakit, tetapi semakin lama Amel mulai menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Apalagi rasa nikmat itu membuatnya melupakan masalah yang sedang dihadapinya.


Tubuhnya terasa sangat lelah setelah melakukan pertempuran panas membuat Amel langsung tertidur. Saat ia bangun tubuhnya terasa lengket, kepalanya juga masih terasa sakit. Ia melihat sekelilingnya, pakaiannya juga berserakan. Amel ingat apa yang telah dilakukannya.


Amel menoleh, tidak ada Rio di sampingnya. Amel berpikir Rio sudah pergi, tetapi ia mendengar suara air mengalir di dalam kamar mandi yang artinya Rio mungkin sedang mandi. Amel mengambil kemeja milik Rio lalu memakainya. Setelah itu ia berjalan ke arah jendela. Dari tempatnya berdiri Amel melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Sebentar lagi dirinya harus meninggalkan tempat itu dan tidak bisa melihat pemandangan itu lagi.


Amel masih belum bisa menerima jika Keanu meninggalkan dirinya untuk wanita yang bernama Bella. Mengingat semua itu timbul kebencian di dalam diri Amel, ia tidak rela jika Keanu bahagia bersama Bella.


“Kenapa melamun? Apa tadi masih kurang?” tanya Rio.


“Tutup mulutmu!” ucap Amel.


“Ck, masih galak saja,” ledek Rio.


Amel menatap tajam Rio seperti ingin membunuhnya, tetapi justru membuat Rio tertawa.


“Jangan memberikan tatapan menakutkan itu,” ucap Rio. “Katakan apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rio.


“Aku butuh tempat tinggal yang baru. Tempat ini bukan milikku,” jawab Amel.


“Itu bukan masalah besar,” ucap Rio.


Amel kembali melihat ke arah jendela. Tangannya mengepal kuat seperti sedang menahan amarah yang begitu besar.


“Ada apa? Kenapa kau terlihat marah? Masih memikirkan pria kaya itu?” tebak Rio.


“Aku ingin menghancurkan mereka. Aku tidak rela jika mereka bahagia. Jika aku tidak bisa memiliki mas Keanu, maka wanita itu pun juga tidak boleh,” ucap Amel.


“Terserah kau saja. Aku tidak ingin ikut campur.” Rio tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Amel. Baginya Amel hanya untuk sekedar memuaskan hasratnya.


Lihat saja mas Keanu, aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama istrimu.