I Love You

I Love You
Chapter 65



Plak


Tamparan keras Felicia mendarat di pipi Keanu. Istri Kenzo itu murka mengetahui tindakan anaknya. Keanu sendiri diam tanpa ingin menjelaskan apapun. Rasanya ia sudah sangat lelah memberikan penjelasan karena pada akhirnya keluarganya tidak akan mempercayai dirinya.


"Mami kecewa dengamu, Keanu. Tidak pernah Mami ataupun papimu mengajari kamu untuk bersikap tidak bermoral seperti itu?" maki Felicia.


"Kau sudah memiliki istri, tapi kenapa kau masih saja berhubungan dengan wanita tidak tahu malu itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan istrimu dan kami?" teriak Felicia.


Keanu masih tetap diam sambil menundukkan kepalanya.


"Mami, jangan seperti ini!" Kenzo berusaha menenangkan istrinya.


"Mami kecewa sana anak ini," ucap Felicia penuh kekecewaan.


"Iya, Papi tahu. Papi juga kecewa. Tapi jangan marah-marah di sini. Ini rumah sakit. Teriakan Mami bisa mengganggu pasien lain dan juga Bella. Apa Mami tudak memperhatikan dia?" ucap Kenzo.


Felicia dia sejenak, ia melihat ke arah Bella sambil mencerna perkataan Kenzo. Melihat kesedihan di wajah sangat menantu membuat hati Felicia meleleh. Felicia menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam amarahnya sebelum berjalan ke arah Bella.


"Bella ...." Felicia mendekati Bella di tempat tidur. "Nak … maafin Mami yang sudah memaksamu untuk bertahan dengan anak Mami. Sekarang Mami tidak akan menahanmu jika kau ingin berpisah dengan Keanu," ucap Felicia seraya mengusap-usap kelapa Bella.


"Mami ... apa yang Mami katakan?" tanya Kenzo.


"Ini yang terbaik Papi. Keanu sudah sangat menyakiti Bella. Mungkin yang terbaik untuk mereka adalah perpisahan," ucap Felicia.


Bella merasa sangat terkejut mendengar perkataan ibu mertuanya. Sejenak Bella memandang ibu mertuanya bergantian dengan Keanu. Memang Bella merasa sangat marah kepada Keanu, tetapi mendengar kata perpisahan hati Bella merasa sangat sakit.


"Maaf aku harus pergi." Keanu pergi dari ruangan itu, tanpa bicara ataupun menoleh membuat hati Bella semakin sakit.


"Kenapa kau pergi tanpa melihatku," ucap Bella dalam hatinya.


Yang berasal kecewa bukan hanya Bella dan keluarganya, tetapi juga Keanu sendiri. Ia kecewa karena tidak mengingat apapun tentang kejadian itu. Keanu bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi agar dirinya bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah pada keluarganya, terutama kepada Bella.


Keanu berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan api amarah membara di dalam tubuhnya. Tangannya mengepal kuat menahan amarah yang siap meledak. Ia marah bukan karena tamparan dari ibunya juga bukan karena perpisahan yang ibunya katakan, melainkan marah kepada mantan kekasihnya. Wanita itu sudah benar-benar menghancurkan hidupnya. Sudah terlalu sering dirinya diam atas perbuatan Amel, kini Keanu merasa tindakan Amel sudah sangat keterlaluan.


"Pak Keanu."


Keanu berhenti berjalan saat ada yang memanggilnya. Di depan sana ada Rangga yang sedang berjalan ke arahnya. Telapak tangan yang mengepal perlahan membuka pertanda amarah dalam dirinya mulai mereda.


"Selamat pagi, Pak," sapa Rangga.


"Pagi," balas Keanu tidak semangat.


"Pak, Dokter Rena ingin bertemu dengan Anda. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan," ucap Rangga.


"Mengenai kecelakaan semalam?" tanya Keanu dibalas anggukkan kepala oleh Rangga. "Aku tidak ingin menemuinya. Ada hal yang lebih penting yang harus aku urus," tolak Keanu.


"Tapi, Pak —" Sebelum rangga menyelesaikan ucapannya Keanu lebih dulu memotongnya.


"Aku baik-baik saja. Ingat satu hal ini jangan beritahukan pada siapapun mengenai kecelakaanku semalam," perintah Keanu.


"Baik, Pak," sahut Rangga.


"Sekarang ikut aku! Ada tugas penting untukmu," ajak Keanu.


Keanu keluar dari rumah sakit diikuti oleh Rangga. Mereka berjalan menuju parkiran. Sampai di samping mobil Rangga membukakan pintu mobil untuk Keanu. Setelah itu Rangga menyusul masuk dan duduk di bangku kemudi.


Rangga melihat atasannya dari kaca spion yang ada di hadapannya, keadaannya sangat kacau. Ia merasa iba atas apa yang menimpa pada atasannya itu.


"Bapak baik-baik saja?" Rangga menoleh ke belakang melihat atasannya duduk bersandar sambil memejamkan matanya.


"Tadi Anda bilang punya tugas penting untuk saya. Apa yang harus saya kerjakan?" tanya Rangga.


"Pergi ke Bandung. Selidiki apa yang terjadi malam itu," perintah Keanu. "Aku merasa ada yang aneh. Bagaimana bisa aku tidak mengingat apapun dan bahkan mau melakukan hal menjijikkan itu bersama dia," ucap Keanu.


"Maksud Bapak ada yang menjebak Anda?" tanya Rangga.


"Itu yang sedang aku pikirkan. Aku minta kau selidiki dan jika benar ada yang mencoba mempermainkan aku bawa orang itu ke hadapanku!" perintah Keanu.


"Baik, Pak. Saya akan menyuruh orang untuk menyelidikinya," ucap Rangga.


"Aku mau kau yang pergi sendiri," ucap Keanu.


"Jika saya pergi bagaimana dengan keadaan di sini?" tanya Rangga.


"Saya bisa mengatasi masalah di sini sendiri. Lakukan dengan cepat! Aku sudah tidak sabar ingin menghabisi orang itu," ucap Keanu.


"Baik, Pak. Saya akan pergi hari ini juga," ucap Rangga.


"Tapi sebelum itu kau antar aku ke tempat wanita itu. Aku harus memberinya pelajaran," perintah Keanu.


"Jika boleh saya kasih saran, sebaiknya untuk sementara waktu Anda tidak bertemu dengan wanita itu. Meskipun berita itu sudah di take down. Tapi saya yakin masih ada wartawan yang mengikuti Anda," ucap Rangga.


"Aku sedang tidak peduli. Cepat antar aku ke sana. Jika kau tidak mau keluarlah! Aku bisa pergi sendiri," ucap Keanu.


"Tidak, Pak. Saya akan mengantar Anda," tolak Rangga.


Tidak ada perdebatan lagi, Rangga melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit. Jelas Rangga tidak bisa membiarkan Keanu untuk pergi sendiri ke tempat wanita ular itu. Dirinya masih merasa bersalah karena sudah membiarkan Keanu pergi sendiri ke Bandung. Jika saja waktu itu dirinya ikut mungkin kejadian seperti itu tidak terjadi.


Waktu sudah menunjukkan 11 pukul siang. Suasana hari itu mulai terik dan jalanan juga sudah mulai padat. Keanu duduk bersandar dengan mata terpejam mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Keanu terbangun saat merasakan laju mobilnya berhenti. Beberapa kali Keanu mengedipkan matanya lalu melihat sekitar. Ternyata mereka sudah ada di sebuah basmane. Tidak menunda lagi Keanu keluar dari mobil.


"Tunggu di sini!" perintah Keanu.


"Maaf, Pak. Kali ini saya menolak. Jika kemarin wanita itu bisa melakukan kelicikan, tidak menutup kemungkinan kali ini pun dia bisa melakukannya lagi," tolak Rangga.


"Terserah kau saja," ucap Keanu.


Keanu berjalan ke arah lift yang akan membawanya ke unit apartemen yang ditinggali oleh Amel. Langkahnya sangat cepat, seperti tidak sabar untuk bertemu dengan Amel. Jika dulu ia tidak sabar bertemu dengan Amel karena rasa rindu, kali ini Keanu tidak sabar bertemu dengan Amel karena kemarahan.


Sudah cukup Keanu menutup mata akan kesalahan yang Amel lakukan. Tindakan yang sudah Amel lakukan kini sudah tidak bisa dibiarkan. Keanu merasa harus memberikan mantan kekasihnya pelajaran.


Langkah Keanu berhenti tepat di salah satu pintu yang ada di lantai 10. Keanu menekan berulang-ulang bel agar Amel cepat keluar.


"Amel, keluar!" Keanu berteriak sambil menggedor-gedor pintu.


Tidak berselang lama pintu berwarna cokelat terbuka dari dalam memunculkan Amel dari baliknya.


"Hei, Sayang. Kau datang juga rupanya." Amel langsung memeluk Keanu dengan sangat erat.


"Lepaskan, aku!" Keanu menjauhkan Amel dari tubuhnya laku mendaratkan tamparan keras di pipi kirinya.


"Ini peringatan terakhir dariku, Amel. Jauhi aku dan keluargaku, jangan mengusik atau kau akan menyesal di kemudian hari!" ancam Keanu.


Setelah itu Keanu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Amel dalam kemarahan.