I Love You

I Love You
Chapter 32



Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya ayahnya diperbolehkan untuk pulang. Bella sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Dengan antusias Bella mengurus kepulangan sang ayah, tetapi ternyata Keanu sudah lebih dulu mengurusnya.


“Kita pulang sekarang,” ajak Keanu.


“Tentu saja, aku sudah tidak betah terus berada di sini,” ucap Bella. “Ayo, Pa.”


“Ayo, Nak,” imbuh Prayoga.


“Biar aku bantu, Pa.” Keanu membantu ayah mertuanya turun dari tempat tidur.


Awalnya Keanu ingin membantu ayah mertuanya untuk duduk di kursi roda. Namun, Prayoga menolaknya.


“Papa bisa jalan sendiri, tidak perlu pakai kursi roda,” tolak Prayoga.


“Baiklah, terserah Papa saja.” Keanu mendorong kursi roda meletakkannya di sudut ruangan.


Setelah itu Keanu kembali ke tempat mertua dan istrinya, ia meminta kepada Rangga untuk pergi lebih dulu dengan membawa koper milik Prayoga dan juga Bella.


“Papa yakin sudah kuat berjalan?” tanya Bella.


“Tentu saja,” jawab Prayoga. “Karena senyum anak Papa ini adalah kekuatan untuk Papa.”


Ucapan Prayoga jelas membuat senyuman muncul di bibir Bella.


“Papa manis sekali,” puji Bella sambil merangkul lengan sang ayah dengan manjanya.


Sedangkan Keanu hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. Keanu baru tahu ternyata ayah mertuanya sangat pintar dalam hal meng-gombal.


“Bisa kita pulang sekarang?” tanya Bella yang langsung dianggukki oleh suami dan ayahnya.


Ketiganya keluar dari ruangan itu. Bella berjalan dengan merangkul lengan ayahnya. Di belakang mereka ada Keanu. Pria itu memerhatikan kedekatan Bella dengan ayahnya. Ada rasa bersalah yang masih menghantuinya. Jika waktu itu terjadi sesuatu dengan ayah mertuanya, Keanu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Bella.


Sampai di lobi rumah sakit mereka menunggu sejenak mobil yang akan mengantar mereka pulang. Beberapa saat menunggu mobil Alphard berwarna hitam berhenti di depan mereka. Setelah ketiganya masuk, mobil yang Rangga kendarai melaju meninggalkan area rumah sakit.


“Apa kau sedang tidak sibuk sehingga bisa mengantar Papa pulang?” tanya Prayoga kepada Keanu saat mereka dalam perjalanan pulang.


“Kebetulan pekerjaanku sudah selesai, Pa. Meskipun belum aku bisa mengerjakannya nanti,” jawab Keanu.


“Kalau begitu terima kasih untuk waktunya,” ucap Prayoga.


“Papa jangan membuat aku malu dengan mengucapkan kata terima kasih. Ini sudah menjadi tugasku,” ucap Keanu.


Selang satu jam dari rumah sakit mereka tiba di kediaman Prayoga. Rumah besar bernuansa putih dengan dua pilar terdapat di depan pintu masuk, terlihat berdiri kokoh di atas tanah yang lapang.


Mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah tersebut. Keanu turun lebih dulu dan membantu mertuanya turun dari mobil. Setelah itu Keanu bersama Bella menuntun Prayoga masuk ke bagian dalam rumah.


“Kenapa kalian memperlakukan Papa seperti orang sakit? Papa bisa jalan sendiri,” protes Prayoga.


“Jangan sok kuat.” Bella menolak untuk melepaskan sang ayah. Justru Bella semakin erat merangkul lengan ayahnya.


“Kau ini sudah memiliki suami kenapa masih manja sama Papa,” ucap Prayoga diikuti tawa kecilnya.


“Memangnya kalau Bella sudah memiliki suami, Bella bukan lagi anak Papa?” tanya Bella.


“Ck, kau selalu mengalahkan Papa saat berdebat.” Prayoga mencium ujung kepala Bella.


Keanu lagi-lagi memerhatikan kedekatan Bella dan ayahnya. Senyum tipis tergambar di bibirnya. Sifat periang Bella memang selalu membangkitkan kehangatan. Tidak dipungkiri Keanu juga merasakannya. Meskipun kadang Bella selalu membuatnya kesal.


“Keanu,” panggil Prayoga.


“I-ya, Pa.” Panggilan dari Prayoga membuat Keanu tersadar dari lamunannya.


“Kenapa berdiri di sana? Duduklah bersama kami!” ajak Prayoga.


Karena melamun memikirkan Bella, Keanu sampai tidak fokus dan tidak menyadari istri dan mertuanya sudah tidak berada di dekatnya.


“Iya, Pa.” Keanu menyusul istri dan ayah mertuanya yang sudah berada di ruang keluarga.


Ketiganya duduk di satu sofa panjang yang sama. Mereka kembali mengobrol. Di tengah obrolan, Prayoga meminta kepada Keanu dan Bella untuk sementara tinggal bersamanya. Sudah lama, semenjak Bella menikah dan pindah ke apartemen dirinya belum bertemu Bella. Pasalnya kala itu Prayoga harus pergi ke luar negeri mengurus bisnis di sana. Namun, ketika Prayoga kembali ia harus melihat kejadian yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.


“Bagaimana, apa kalian mau?” tanya Prayoga.


“Kami tidak keberatan, Pa,” jawab Keanu. “Iya, 'kan, Bella?”


Sontak Bella terkejut dengan jawaban Keanu, tetapi tidak dipungkiri Bella merasa bahagia.


“Sayang, kenapa kau diam saja? Apa kau keberatan jika kalian tinggal di sini?” tanya Prayoga.


“Tentu saja tidak,” jawab Bella dengan terus melihat ke arah Keanu.


“Baguslah. Kalau begitu Papa istirahat dulu. Kalian lanjut mengobrol saja.” Prayoga beranjak dari sofa dan pergi ke kamarnya.


Sementara itu Bella terus memandangi ayahnya sampai bayangan sang ayah menghilang di balik pintu. Bella memastikan lebih dulu jika ayahnya tidak keluar dari kamarnya lagi, barulah ia bicara dengan Keanu.


“Mas, kau yakin akan tinggal di sini?” tanya Bella.


“Iya,” jawab Keanu. ”Memangnya kenapa?”


“Kalau kau tinggal di sini, bagaimana dengan Amel? Maksudku apa kau bisa menjamin wanita itu tidak akan berulah?” tanya Bella.


“Aku tidak akan membiarkan itu,” jawab Keanu.


“Serius?” Bella memicikkan matanya, memastikan keseriusan dari ucapannya.


“Iya.” Keanu menganggukkan kepalanya.


“Thank you.” Bella memeluk Keanu.


“Sama-sama. Kita fokus pada kesehatan papa dulu. Jangan pikirkan hal yang lain.” Keanu membalas pelukan Bella dan mengusap-usap kepalanya.


“Terima kasih sudah memikirkan papaku.” Bella mendongakkan wajahnya memperlihatkan senyumnya.


“Kau sudah banyak membantuku. Ini saatnya aku membalas semuanya,” ucap Keanu.


*****


Malam telah tiba, Keanu datang ke apartemen bersama Rangga. Ia akan mengambil beberapa pakaiannya. Setelah menekan tombol passcode, Keanu masuk ke apartemen dengan diikuti oleh Rangga. Di dalam Keanu melihat Amel. Wanita itu langsung memeluknya.


“Mas, kau sudah pulang.” Amel memeluk Keanu. Namun, baru sebentar Keanu langsung menjauhkannya membuat senyum Amel luntur dari bibirnya.


“Kau cepat bereskan barang-barangmu. Malam ini kau akan pindah ke apartemen yang baru,” suruh Keanu.


“Benarkah?” tanya Amel yang langsung dianggukki oleh Keanu. “Akhirnya aku bisa pindah dari sini. Aku sudah merasa hampir mati karena bosan.”


Amel segera berlari ke kamarnya dan membereskan barang-barangnya. Selesai dengan itu, Amel kembali untuk menemui Keanu. Sampai di lantai dasar Amel bingung saat Keanu juga sudah siap dengan kopernya. Amel merasa senang, ia berpikir Keanu akan ikut tinggal bersamanya.


“Kau sudah siap?” tanya Keanu.


“Sudah, Mas,” jawab Amel.


“Kalau begitu pergilah bersama Rangga! Dia yang akan mengantarmu ke sana,” suruh Keanu.


“Apa? Aku pergi bersama asisten pribadimu?” Amel mengerutkan keningnya. Antara bingung dan kesal.


“Iya. Lain waktu aku akan datang. Sekarang aku harus pergi.” Keanu menyeret kopernya sendiri meninggalkan Amel dan Rangga.


“Mas, kau mau ke mana?” Ucapan Amel menghentikan langkah Keanu.


“Aku akan tinggal rumah mertuaku. Beliau memintaku dan Bella untuk tinggal di sana sementara waktu,” jawab Keanu.


“Tapi, Mas —” Amel belum umenyelesaikan perkataannya, tetapi Keanu sudah lebih dulu memotongnya.


“Ini semua juga karena kau. Aku harus mau tinggal di sana untuk menjaga kondisi papanya Bella. Aku tidak mau sampai beliau terkena serangan jantung seperti kemarin,” potong Keanu.


“Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” tanya Amel.


“Aku minta tolong bersabarlah! Kita harus pelan-pelan menjalani hubungan ini karena situasiku sekarang sangat sulit. Kumohon mengertilah!” Setelah mengatakan itu, Keanu pergi dari apartemen mengabaikan panggilan dari Amel.


Di bab selanjutnya aku akan beritahu alasan kembalinya Amel.