I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
SEMBUH



Setelah menunggu sekitar 5 menit. Bukannya Rosemary yang datang menghampiri, tapi justru Auraline lah yang datang. Disapalah kemudian James dengan sopan oleh sang kakak dari Rosemary. "pagi pangeran James" sapa Auraline.


Melihat kedatangan Auraline, James sontak berdiri dari duduknya. "ah iya, pagi juga putri Auraline" balasnya.


"silahkan duduk, pangeran James" sembari mendudukkan dirinya pelan, Auraline pun juga mempersilahkan James untuk duduk. "ada perlu apa kau kemari?" seusai mendudukkan diri, sang kakak dari Rosemary itu mulai bertanya mengenai tujuan James mendatangi istana Ardarish.


Duduknya yang sudah nampak nyaman, dengan kedua tangan yang mengepal longgar, James akhirnya menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang dan sopan. "jadi, kedatanganku kemari hendak bertemu dengan Rose, putri. apa dia ada di istana?" jelas sekaligus tanya dari James.


Mendengar penjelasan dari James yang sudah terduga olehnya, Auraline sontak tersenyum. "dia ada di istana, tapi dia sedang sakit. dia juga belum keluar dari kamarnya. bahkan pagi ini pun dia belum sarapan." ujar Auraline halus.


Kata sakit terdengar begitu rancu di telinga James. Kedua mata birunya sontak terbuka lebar dengan dada bidangnya sedikit membusung. "sakit?! sejaka kapan, putri?" tanya nya.


Mengangguklah pelan Auraline sembari berucap. "iya, sejak kemarin dia sakit. tadinya aku hendak menghampiri ke kamarnya, tapi tiba tiba pelayan datang dan memintaku untuk menemuimu. mungkin, dia sudah lama mengetuk pintu kamar Rosemary namun tak ada jawaban" ucap Auraline panjang.


Pandangannya beralih. Tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. James terdiam sejenak, tak tahu harus menjawab apa.


Melihat James yang nampak gundah, Auraline tersenyum pilu. Banyak sekali keibaan yang mengisi hati kecilnya. Auraline tak pernah menyangka, jika James masih begitu mencintai adiknya. Ia pikir, James telah merelakan sekaligus menghapus perasaannya pada Rosemary untuk Hans. Namun, nyatanya tidak. James hanya merelakan, tapi perasaan cintanya tetap terukir indah di hati itu.


"tunggu sebentar ya, aku akan mencoba melihat keadaannya sekarang. kau jangan pulang dulu" sembari membangunkan diri dari duduknya, Auraline berucap sopan pada James untuk mengecek keadaan Rosemary.


Diangkatlah wajahnya secara spontan kemudian mengangguk. "baiklah putri, akan ku tunggu disini" balas James.


Tak lama dari berdirinya, Auraline pun kemudian segera menuju ke kamar Rosemary. Hingga pada akhirnya, sampailah putri kedua Ardarish itu depan pintu kamar sang adik. Diketuk lah pintu tersebut berkali kali, namun tak ada jawaban. "dugaanku benar, pasti pelayan beralih padaku untuk menemui James karena Rosemary tak kunjung membukakan pintunya" gumam Auraline usai menyudahi kegiatan mengetuk pintu kamar adiknya.


Meski tak menerima jawaban, Auraline tetap bersikeras memasuki kamar Rosemary. Guna memastikan perkembangan kesehatan adiknya itu. Dibukalah pintu tersebut pelan pelan. Serta dilihatnya lampu lampu yang masih menyala, dari situ ia menduga bahwa Rosemary memang belum terbangun dari tidurnya semalam. Padahal, gadis itu sempat terbangun jam 5 pagi.


Dihampirilah badan mungil yang tertidur lemas itu diatas ranjang. Sembari mengusap rambutnya dengan halus, Auraline pun mencoba membangunkannya. "Rose? ayo bangun. ini sudah waktunya sarapan" ucap Auraline.


Meski sudah mencoba membangunkan, Rosemary tak kunjung bangun. Gadis berambut pirang bercahaya itu masih tertidur lelap. Disentuhnya kemudian kening sang adik, untuk memastikan panasnya telah menurun atau belum. "syukurlah, kau sudah tak lagi panas" gumamnya singkat.


"Rose, Rosemary. ayo bangun, dek" dipanggilnya lagi Rosemary sembari di tepuk tepuk pelan pundaknya.


Tak lama kemudian, 3 detik dari panggilan tersebut, Rosemary pun terbangun. Badannya seketika ia renggangkan sembari menoleh pelan ke arah sang kakak. "ah kakak? kenapa kak?" ucap sekaligus tanya Rosemary.


"ayo bangun. aku ambilkan sarapan ya?" balas sekaligus tawar sang kakak sambil menyunggingkan senyum tipisnya.


Sebelum menjawab ucapan sang kakak. Rosemary terlebih dahulu membangunkan diri dan menyandar ke heardbord ranjang. Menggelenglah kemudian gadis itu. "tidak kak, aku tidak selera makan" balasnya.


"jangan begitu, kau harus tetap makan kemudian minum obat. ku ambilkan makan ya." tawar Auraline lagi.


Bibir tipisnya sontak merengut. Dengan terpaksa Rosemary pun mengangguk. "ya, baiklah" balasnya.


Seusai mendapat persetujuan dari adiknya, Auraline pun beranjak berdiri untuk segera mengambilkan makanan. Namun, tiba tiba ia teringat dengan James. "ah iya aku lupa. di bawah juga ada James yang sedang mencarimu" ujar Auraline tiba tiba.


"oh ya? hmm boleh tidak ya? jika dia menemuiku di ruang masuk depan kamar? aku masih merasa lemas untuk berjalan ke bawah kak" mendengar James sedang menacrinya, Rosemary pun meminta sang kakak untuk memberitahu James agar menemui dirinya di ruang masuk depan kamar, yang memiliki sekat pintu dengan kamar utamanya.


Melihat kakaknya yang sedang terdiam dan berpikir. Rosemary pun kembali membuka suaranya. "kakak jangan khawatir, aku akan membuka lebar lebar pintu keluar dan menutup rapat rapat pintu masuk kamar utamaku. lagipula, aku yakin dia tak akan lama disini" ujarnya lagi.


Mendengar ucapan Rosemary yang meyakinkan, Auraline pun mengiyakan permintaan adiknya itu. "baiklah, akan ku sampaikan. tunggu ya" balas sang kakak.


Sang kakak itu pun kemudian menjalankan pinta adiknya. Sementara Rosemary mulai membersihkan dirinya.


*


*


Tak lama kemudian, setelah Rosemary sudah siap dan terlihat rapi. Terdengar ketukan pintu dari ruang masuk depan, yang bisa dipastikan itu adalah James. Dihampirilah pintu tersebut sembari menutup pintu kamar utamanya.


"Rose? kau sakit apa?" seusai pintu terbuka dan menampakkan diri seorang Rosemary, James langsung menyuguhkan pertanyaan dengan raut wajah paniknya.


Rosemary seketika terkekeh kecil. "aku sudah mendingan, hanya saja masih belum cukup kuat untuk berjalan ke bawah" balasnya.


Tanpa mengutarakan apapun, James mengedarkan pandangannya ke seluruh inchi tubuh dan wajah Rosemary.


"kau kenapa James? aneh sekali" seru Rosemary yang merasa mulai tak nyaman. "sudah ku bilang aku tak apa apa" sambungnya.


Perkataan Rosemary kala itu terdengar meyakinkan, sehingga pria bermata biru itu sontak tersenyum sembari mengarahkan pandangannya pada wajah cantik Rosemary. "ah syukurlah kalau begitu" gumamnya.


"ya sudah, masuklah" pinta Rosemary seraya membuka lebar kedua sisi pintu ruang masuk kamarnya.


James hanya mengangguk ketika Rosemary mempersilahkan dirinya untuk masuk. Tanpa menunggu lama, putra mahkota tunggal tersebut masuk dan duduk di sofa, begitu juga dengan Rosemary.


Kedua insan bersahabat itu berinteraksi dengan senang dan nyaman. James merasa lega telah bertemu dan memandang Rosemary dengan jelas. Ia juga menceritakan terkait projek yang sedang ia jalankan bersama Jacob Arvent. Mendengar projek tersebut, Rosemary pun merasa bangga dam memberi dukungan penuh pada James.


"oh ya? kau hebat, James! ah tapi, produk apa yang kau produksi?" meski telah memberi dukungan, namun gadis itu belum mengetahui sepenuhnya tentang projek yang dijalani oleh James itu.


"aromatherapy, apa kau tau produk itu?" balas sekaligus tanya James.


Rosemary sontak membelalakkan matany ketika mendengar kata aromatherapy. "aromatherapy? tentu saja aku tau!" gumamnya senang.



..."cinta tak harus memiliki kan? bahkan dia bersama orang lain pun, aku tetap mencintainya"...


...-JAMES ENDONIE AFENDERR-...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...