
Meski Hans memintanya untuk menjauh, justru Rosemary malah semakin mendekatinya dan memeluk tubuh Hans yang gagah itu.
"mana ada bau masam? bahkan aroma harum bacarratmu masih tercium" ujar Rosemary seraya memeluk Hans dengan hangat.
Hans seketika memeluk balik kekasihnya itu. Kedua sudut bibirnya terangkat, diciumnya pucuk kepala Rosemary secara singkat.
Ditepuknya pelan punggung Hans. "kau ini, kenapa jadi sering menciumku" ucap Rosemary mulai kesal.
Hans kemudian melepas pelukannya secara perlahan, dibungkukkan lah badannya untuk menyamai tingginya dengan Rosemary. Wajah cantik gadis berambut pirang sepunggung itu ia pandang dengan kedua sudut bibirnya yang menaik. "memangnya tidak boleh?" balasnya.
Keningnya seketika berkerut, kedua matanya menyelisik. "tentu saja tidak boleh" ucap Rosemary. "kau harus menikahiku dulu, baru kau boleh menyentuhku!" gumamnya lagi, seraya memandang Hans dengan intens.
Ksatria pangeran pemegang gelar Black Knight itu sontak terkekeh. "baik, aku akan segera menikahimu" raut wajahnya mendadak berubah, Hans terlihat serius mengatakan hal itu.
Rosemary tak menyangka jika ucapannya dianggap serius oleh Hans. Kedua matanya seketika membelelak. "tidak! bukan itu maksudku. eh-eh maksudku.." belum selesai ia berucap, Hans memotong pembicaraanya.
"apa maksudnya?" menyeringailah seorang Hans itu, ketika melihat Rosemary yang sedang gugup.
"ah sudahlah!" pandangannya sontak ia palingkan, disendekapkan juga kedua lengannya di depan dada, dengan raut wajahnya yang terlihat begitu kesal.
Hans itu kembali terkekeh saat melihat kekasihnya merasa kesal. "iya iya, aku hanya bercanda" ujarnya seraya menenggakkan badan. "oh iya, boleh ku pinjam kamar mandi dalam mu?" merasa begitu gerah, Hans berencana untuk mandi di kamar mandi dalam milik Rosemary.
Masih dengan pandangannya yang berpaling, Rosemary menjawabnya dengan singkat. "tidak boleh" balasnya datar.
"yah, tidak boleh ya? ya sudah, kalau begitu aku pulang saja" merasa kekasihnya itu masih kesal, Hans kembali mencoba mengajaknya bergurau.
Mendengar kata pulang, Rosemary sontak menoleh ke arah Hans. Mana mungkin ia membiarkan kekasihnya itu pulang begitu saja, sedangkan dirinya sudah menunggu sejak pagi. "eh jangan! iya iya, pinjam saja. ayo ku antar" ujar Rosemary seraya mengulurkan tangannya untuk menggandeng Hans.
Diterimalah uluran tangan Rosemary itu dengan semangat. Kedua sudut bibirnya terangkat dan terciptalah sebuah senyuman bangga.
...**************** ...
Sementara itu, suasana di dapur masih begitu repot. Bibi Anna dan Auraline sedang menjalankan kesibukan mereka masing masing. Tapi meski begitu, seorang bibi dan ponakannya itu masih bisa saling berbicara.
"oh iya, bi. kenapa aku tidak melihat ayah, ibu, kak Bella dan kak Clark? kemana mereka?" tanya Auraline seraya menuangkan air ke dalam teko.
Sang bibi itu pun menoleh, meski dengan tangannya yang masih sibuk mengongseng. "loh, bibi kira kau tau kemana mereka" balas bibi Anna belum pasti.
Auraline sontak menggeleng. "tidak bi, kemana mereka?" tanya nya lagi.
"mereka pergi memeriksakan kandungan kakakmu. ayahmu bilang, mereka juga sekalian membeli sebuah barang" balas bibi Anna dengan pandangannya yang tertuju penuh pada tumisan di depannya.
Gadis berambut coklat sepunggung itu seketika menyelisikkan matanya. "barang apa bi?" tanya nya penasaran.
Sang bibi itu pun menaikkan bahunya sembari menoleh singkat. "entahlah, bibi juga tidak tahu" balas bibi Anna.
Mendengar jawaban sang bibi yang tidak mengetahuinya, Auraline hanya memangut mangut dan melanjutkan kegiatannya.
...**************** ...
Sepasang kekasih itu akhirnya sampai di kamar Rosemary, dibukanya lebar lebar pintu kamar tersebut. Menghindari adanya dugaan buruk apabila sang kakak atau bibinya mengetahui jika mereka berdua ada di dalam.
Ditolehnya sang kekasih itu sembari mengangguk pasti. "tentu saja. apalagi dengan bunga daisy yang kau berikan padaku tempo hari" Rosemary kemudian mendekat ke arah nakasnya dan mengangkat sebuah pot air berisi bunga daisy yang pernah diberikan oleh Hans.
Ksatria pangeran itu sontak membulatkan matanya. Ia tak menyangka jika bunga itu masih hidup sampai sekarang, meski hanya diletakkan didalam pot berisi air. "wah, bunga itu masih hidup" gumamnya sembari berjalan mendekati Rosemary.
"iya, bunga ini sepertinya bukan bunga daisy biasa. ini pasti bunga ajaib" ujar Rosemary dengan pandangannya yang tetap tertuju pada bunga daisy yang ia pegang.
Hans memangut mangut, seolah olah ia setuju dengan ucapan Rosemary. "luar biasa" gumamnya.
"luar biasa seperti kau" Rosemary itu tersenyum sembari memandang wajah sang kekasih.
Sebagai seorang Hans, ia tak mampu menahan kegirangannya saat Rosemary mengeluarkan pujian itu. Pria berbadan tegap dengan tinggi 185 cm tersebut seketika meleleh. Tersenyumlah dengan lebar seorang Hans itu. "yang seperti ini lah, yang membuat seorang Hans semakin mencintai sosok Rosemary" ujarnya sembari memandang penuh Rosemary.
Kedua insan itu saling pandang sejenak. Rosemary tak menjawabnya dengan sepatah kata pun. Hanya senyuman tulus yang ia ciptakan untuk Hans.
Tak lama dari itu, Rosemary pun meletakkan pot bunga daisy miliknya kembali ke atas nakas. Kemudian mengambilkan sebuah handuk baru yang ia ambil dari lemari. "ini handuknya" diberikanlah handuk tersebut pada Hans.
"terima kasih cintaku. aku mandi sebentar ya" ujar Hans dengan gurauannya. Sebab, bukan Hans jika tidak dengan gurauan.
Rosemary tersenyum geli, di doronglah pelan tubuh Hans itu untuk segera memulai kegiatannya. "iya sudah sana. cepat pergi mandi" balasnya.
Selepas memastikan Hans sudah memasuki kamar mandi, Rosemary pun keluar dari kamarnya untuk menghampiri Auraline dan bibi Anna yang masih sibuk di dapur.
...****************...
Disisi lain, di toko aromatherapy milik Jacob Arvent. Alisa sedang disibukkan dengan para pelanggan yang berdatangan di toko tersebut. Sebab, tidak ada yang membantunya untuk melayani pelanggan. Sang ayah yang biasanya membantu, sedang menjalankan projek bersama raja Rolland.
Alisa terus saja bergumam dalam hati. "aduh, kalau seperti ini terus aku bisa mati kelelahan" ujarnya.
"kenapa James tidak datang juga? kalau dia datang, pasti dia bisa membantuku untuk melayani mereka" gumamnya lagi dengan kedua tangan yang sibuk memasukkan beberapa produk ke dalam kotak.
Sejenak ia terdiam dan berpikir. "ah mana mungkin, dia kan seorang pangeran. tidak akan mungkin dia mau melayani para pelanggan!" ujarnya ketus dalam hati.
Sekitar 10 menit berlalu, Alisa baru sempat mendudukkan dirinya. Diusapnya pelan keringat yang membasahi dahinya seraya menghela nafas panjang.
"sebenarnya aku bersyukur toko ayah bisa seramai ini. tapi disisi lain, aku juga lelah jika melayani pelanggan sendirian" gumamnya.
Tanpa disadari, ternyata raja Rolland sedang berada di dekatnya dan mendengar gumaman tersebut. Dihampirilah sosok Alisa yang sedang kelelahan itu.
"Alisa? kau kelelahan ya melayani para pelanggan sendirian?" tanya beliau.
Alisa pun sontak menoleh, dirinya tertegun dengan kedatangan raja Rolland yang tiba tiba. "ah, tidak raja. aku hanya sedikit kewalahan" jawab Alisa sembari beranjak berdiri dari duduknya.
"aku tahu, kau pasti kelelahan. besok, aku akan merayu James untuk ikut" ucap raja Rolland.
Merasa begitu merepotkan, Alisa pun menolaknya. Meski sebenarnya, ia mau jika ada yang membantunya. "jangan raja, itu terlalu merepotkan pangeran James nanti" balas Alisa seraya melambai lambaikan kedua tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...