
Hari sudah sore menjelang malam, Rosemary merasa ia sangat lelah dan memutuskan untuk kembali masuk ke kamarnya, beristirahat sejenak. Setelah ia sudah membaringkan tubuhnya diranjang, ia mencoba untuk menutup matanya, tetapi ia tidak merasa mengantuk.
"Gimana ya. Gue capek, tapi gue juga nggak ngantuk". Gumam Rosemary pada dirinya.
Sejenak ia berpikir, apa yang bisa ia lakukan tanpa harus banyak bergerak.
"Gue gabut banget".
"Udah mana gada hp lagi! apa gue ngerajut aja kali ya. Yaudah dehh!". Gumam Rosemary memutuskan untuk merajut.
Rosemary kemudian mengambil jarum rajut yang berada di laci mejanya. Ia bingung setelah melihat surat yang ia berikan kepada pengirim surat tadi, tiba-tiba berada di laci mejanya.
"Lho, ini kan surat yang gue tulis tadi kenapa ada disinii? pasti ada yang nggak beres ini! gue harus tanyain ke bapak pengirim surat itu!". Kata Rosemary.
Rosemary kemudian bergegas menghampiri pengirim surat kerajaan sambil membawa surat yang ia buat itu. Sesampainya disana, ia sudah tidak menemukan pengirim surat itu lagi, karena pengirim surat tersebut sudah berangkat untuk mengirim surat ke tempat tujuan.
"Ya, terus gimana dong? kenapa suratnya dikembalikan? mana mungkin pengirim surat itu mengembalikan surat secara tiba-tiba seperti ini?".
"Ah, yasudah lah". Gumam Rosemary.
...****************...
Sebelum malam tiba, surat tersebut pun sampai kepada Hans. Betapa terkejutnya Hans ketika membaca isi surat tersebut.
"(membuka surat kemudian membacanya)".
"Astaga?! apa ini memang benar dari Rosemary!".
"Rosemary tidak mungkin berkata-kata kasar seperti ini!". Gumam Hans terkejut.
Dalam surat tersebut tertuliskan :
"Hai ksatria egois!, bagaimana kabarmu? ku kira, kau benar benar menyayangiku?! ternyata kau rela meninggalkanku demi gelar yang ingin kau raih itu. Tak kusangka juga kau sesombong itu! DAN BAHKAN, AKU MERASA SEKARANG AKU AKAN LEBIH MEMILIH BISA BERSAMA JAMES YANG TULUS MENCINTAIKU DARIPADA BERSAMA KSATRIA EGOIS DAN SOMBONG SEPERTIMU!".
Tertanda
Putri Rosemary
Hans tidak langsung percaya jika surat tersebut dari Rosemary. Tapi, di dalam surat tersebut sudah tertanda bahwa surat itu memang dari Rosemary.
"Kenapa harus ada nama James lagi!".
"Aku sudah tidak ingin bermusuhan dengannya". Gumam Hans.
Setelah menerima surat dari Rosemary. Meski dengan isi surat yang begitu mengejutkan itu, Hans tetap membalasnya dengan menanyakan apa maksud dari surat yang dikirimkan padanya itu.
...****************...
Keesokan paginya setelah makan pagi, Rosemary berniat untuk pergi ke sungai Flowbie untuk mengambil tanaman Indigofera Tinctoria dan mengajak adik sepupunya, William.
"Will, apa kau mau menemani kakak untuk mengambil tanaman Indigofera Tinctoria di sungai Flowbie?". Tawar Rosemary.
"(menoleh)".
"(mengangguk tersenyum) aku mau kak. Kapan? sekarang?". Balas William.
"(mengangguk tersenyum)".
"Iya, sekarang. Ayo". Ajak Rosemary.
Mereka pun, memulai perjalan mereka menuju sungai Flowbie.
Di perjalanan, William mulai bertanya mengapa Rosemary hendak mengambil tanaman itu lagi, sedangkan di kebun istana sudah tertanam sehat tanaman tersebut.
"Kak".
"Kenapa kakak mau mengambil tanaman itu? padahal di kebun istana sudah ada". Tanya William.
"(tersenyum)".
"Kakak kan pernah cerita, kalau kakak menyukai tanaman itu". Balas Rosemary.
"Ah, kusangka kakak mau membudi daya tanaman tersebut". Gumam William.
"(tertawa)".
"Mana mungkin, kakak mau budi daya". Ucap Rosemary tertawa.
"(tertawa kecil)".
"Ya ku sangka begitu kak". Gumam William.
Rosemary terpaksa berbohong pada William. Tak mungkin juga ia berkata jujur, tentang apa alasan ia mengambil tanaman tersebut.
Sesampainya di sungai Flowbie. William langsung mengantar Rosemary menuju tempat dimana Indigofera Tinctoria itu tertanam subur disana.
"(melihat sekeliling)".
"Wah. Banyak sekali, Will". Ucap Rosemary.
"(tersenyum)".
"Segeralah ambil kak. Apa perlu kubantu?". Tawar William.
"(mengangguk tersenyum)".
"Iya, bantu kakak ya". Balas Rosemary.
Seusai menemukan tempat tersebut. William dan Rosemary segera mengambil beberapa tanaman Indigofera Tinctoria untuk ditanam di kebun istana. Setelah sudah merasa cukup, mereka pun segera kembali pulang.
"Bagaimana kak?".
"Sudah cukup?". Tanya William.
"(mengangguk)".
"Sudah, Will. Kakak rasa ini sudah cukup". Balas Rosemary.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke atas". Ajak William sembari membawa beberapa tanaman tersebut di dalam polyback.
"Iya ayo". Balas Rosemary.
Sesampainya diatas. William memasukkan tanaman tanaman tersebut ke dalam kereta. Setelah semua tanaman sudah masuk ke dalam. Mereka berdua pun segera pulang.
...****************...
Sementara itu, di tempat pelatihan Hans.
"Sedari tadi, aku kepikiran Rose".
"Mana mungkin, Rosemary mengirim surat itu. Tapi, di dalam surat itu sudah ada tanda tangan Rosemary". Gumam Hans.
Hans terus saja melamun dan bergumam. Hingga kemudian datanglah rekan nya yang bernama Brandon, membuyarkan lamunannya itu.
"(menepuk bahu Hans)".
"Hei, kau melamun saja dari tadi". Gumam Brandon.
"(menoleh)".
"Kau ini, mengagetkan saja". Balas Hans tak bersemangat.
"Kau sudah sarapan?". Tanya Brandon.
"(menggeleng)".
"Belum". Balas Hans.
"Segeralah sarapan".
"Pelatihan akan dimulai 30 menit lagi". Ucap Brandon.
"(mengangguk)".
"Iya". Balas singkat Hans.
Mendengar balasan Hans yang tidak melegakan. Brandon pun pergi mengambilkan sepiring makanan untuk Hans, tanpa sepengetahuannya.
"(menyodorkan sepiring makanan)".
"Ayo makanlah, Hans". Tutur Brandon.
"(menoleh)".
"Bran? kau tak perlu repot repot. Aku bisa mengambilnya sendiri". Balas Hans.
"Kau saja sejak dari tadi melamun. Lalu, kapan kau akan mengambil makanan untuk sarapan". Ucap Brandon.
"(menghela nafas panjang)".
"(tersenyum) baiklah, terima kasih ya kawanku". Balas Hans kemudian mengambil sepiring makan tersebut untuk dimakan.
"(duduk)".
"(mengunyah makanan sembari tersenyum)". "Iya, kau benar". Balas Hans.
Karena ucapan Brandon, Hans pun sadar tidak ada gunanya ia terus memikirkan hal itu. Lagipula, ia juga sudah membalas surat tersebut, untuk menanyakan kepastian dari surat itu apakah memang benar dari Rosemary atau bukan.
...****************...
Disisi lain, Rosemary dan William pun sampai di istana. William mulai turun dari kereta sambil mengangkat polyback besar berisi tanaman Indigofera Tinctoria dengan dibantu Rosemary.
"Bisakah?". Tanya Rosemary.
"(mengagguk)".
"Bisa kak". Balas William.
"Biar aku turun dulu, nanti ku bantu saat menurunkan tanamannya". Ucap Rosemary.
"Baiklah kak". Balas William.
Rosemary kemudian turun, kemudian membantu William menurunkan tanaman tersebut dari atas kereta.
Sesaat sebelum mereka berjalan menuju kebun untuk meletakkan tanaman, tiba tiba datanglah James.
"Rose?".
"Kau darimana?". Tanya James.
"(menoleh)".
"Ah, James? aku barusaja pulang dari sungai Flowbie untuk mengambil tanaman ini". Balas Rosemary.
"Dengan siapa?". Tanya James.
"(menunjuk William)".
"Ini, William". Balas Rosemary.
"Ah, William".
"Oh iya, ada yang mau ku katakan padamu". Ucap James.
"Apa itu?".
"Ah sebentar, ku letakkan dulu tanaman ini ya. Setelah itu kita duduk saja di ruang tamu". Balas Rosemary.
Seusai meletakkan semua tanaman tersebut, Rosemary berterima kasih pada adik sepupunya itu karena sudah membantu. Dan segera duduk di ruang tamu untuk mendengarkan apa yang hendak James katakan padanya.
"(duduk)".
"Jadi apa yang mau kau katakan, James?". Tanya Rosemary.
"(tertawa kecil)".
"Untuk apa kau mengambil Indigofera Tinctoria sebanyak itu?". Tanya balik James terkekeh.
"(bingung)".
"Memangnya kenapa? aku rasa aku akan butuh banyak. Mangkanya aku mengambil sebanyak itu". Balas Rosemary.
"Mana ada banyak".
"Sedikit saja cukup, Rose. Lagipula, ekstrak daun Indigofera Tinctoria itu nanti akan dilarutkan dengan air telaga Hyris". Jelas James.
"Ah, benarkah".
"Ku sangka, aku hanya butuh ekstrak daun itu". Balas Rosemary.
"Kau lupa. Padahal, aku sudah mengatakannya waktu itu". Ucap James.
"(tertawa kecil)".
"Lalu, bagaimana aku bisa mengambil air telaga itu?". Tanya Rosemary.
"Nah, itulah yang hendak ku katakan tadi padamu".
"Telaga itu terletak di dekat menara Hyris, aku yakin telaga itu pasti juga akan dijaga oleh seorang pertapa tua sakti. Alhasil, aku ragu untuk kesana". Balas James.
"Memangnya kenapa, James?".
"Apa pertapa tua sakti itu jahat?". Tanya Rosemary.
"Bukan jahat, tapi aku yakin kita tidak akan boleh mengambil air telaga itu sembarangan". Balas James.
"Meski hanya sebotol?". Tanya Rosemary.
"(menaikkan bahu)".
"Aku tidak tahu. Tapi aku rasa kita harus cari cara untuk bisa mengambil air telaga itu". Balas James.
Rosemary terdiam dan bingung. Ia merasa harapannya untuk kembali telah pupus setelah mendengar ucapan James.
"Kita katakan saja pada pertapa sakti itu, kalau kita membutuhkan air telaga tersebut untuk pengobatan penyakit".
"Bagaimana?". Tawar Rosemary.
James pun mulai berpikir, apakah saran Rosemary bisa mereka gunakan atau tidak.
"(mengangguk)".
"Baiklah kita coba saja, Rose". Balas James.
"(tersenyum sumringah)".
"Kalau begitu, kapan kita bisa kesana?" Tanya Rosemary.
"Sebisa mu".
"Letak telaga itu sangat jauh, Rose. Kita butuh waktu 2 hari untuk menempuh perjalanan kesana". Balas James.
Rosemary yang mendengarnya tertegun.
"2 hari?!". Kejut Rosemary.
"(mengangguk)".
"Iya". Balas James.
"Jadi, kita akan menginap di kereta selama 2 hari?!". Tanya Rosemary.
"4 hari lah".
"2 hari untuk berangkat. 2 hari lagi untuk pulang". Balas James.
Rosemary menggeleng heran, ia tidak yakin bisa berangkat kesana. Tapi, ia benar benar butuh air telaga itu.
"Besok, aku akan mengunjungi Hans ke pelatihannya".
"Jadi, aku rasa kita bisa berangkat lusa". Ucap Rosemary.
"Ah, baiklah terserah kau saja".
"Kau juga bisa mengajak William, sebagai teman". Balas James.
"Memangnya, kau bukan teman?". Gumam Rosemary.
"(tertawa)".
"Memangnya, kau mau berpergian selama 4 hari hanya berdua denganku?". Tanya balik James.
"(terkekeh)".
"Asal kau tidak macam macam". Balas Rosemary.
"Jika aku macam macam, mungkin aku akan segera mati karena kepalaku terpenggal oleh Hans". Gumam James.
"Ah tidaklah".
"Hans tidak sekejam itu". Balas Rosemary.
"Hahaha, ya sudah. Kalau begitu, aku pamit dulu". Ucap James sembari beranjak dari duduknya.
"(mengangguk)".
"Iya, terima kasih atas informasinya". Balas Rosemary.
Sekitar 30 menit berlalu, James kemudian memutuskan untuk pulang. Setelah selesai berbincang panjang dengan Rosemary.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...