I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
MASIH RINDU



Perut kosong James telah terisi hidangan yang Rosemary berikan padanya itu. Sudah cukup lama ia terduduk disana sembari berbicara singkat dengan Hans dan William. Rasa rindunya pada sosok Rosemary pun juga telah terbayarkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk pulang. Selain sudah merasa lega telah melihat Rosemary kembali, James juga tak mau menyakiti hatinya dengan memandang sepasang kekasih yang sedang melepas rindu itu terus menerus.


"aku rasa aku harus pulang, kawan" ucapnya dengan badannya yang beranjak berdiri.


Hans mendongak dan menoleh ke arah temannya itu. "terburu buru sekali, James" balas Hans.


"iya, Hans. aku mau ada urusan" James mulai bersiap untuk melangkah, tangan kanannya ia sakukan ke dalam saku celananya.


"ya sudah. hati hati di jalan ya, James" wajahnya ikut mendongak, di ucapnya kalimat itu dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


James yang memandangnya pun ikut tersenyum. "iya, terima kasih atas hidangannya ya. aku pulang dulu" gumam James dengan kedua kakinya yang mulai melangkah pergi.  


Seusai punggung gagahnya sudah tak terlihat lagi, Hans kembali membuka suara.


"Will, kakakmu bilang kau mau belajar basic ilmu ksatria ya?" tanya Hans halus. Dagunya ia topang dengan kedua punggung tangannya. Arah pandangnya begitu dalam tertuju pada William.


William sontak membelalakkan matanya, ketika Hans memandangi seperti itu. Ia mengangguk pelan dan menjawab seadanya. "iya kak. tapi jika kakak tidak mau, aku tidak akan memaksa" ucapnya gugup.


Pertemuan pertamanya dengan Hans terkesan kurang baik. Ia menganggap Hans adalah orang yang keras, dan pemarah. Karena pertengkaran salah pahamnya dengan Rosemary yang ia saksikan tadi. Wajahnya telihat gugup ketika Hans memandanginya.


Rosemary yang melihatnya nampak gugup itu kemudian menyaut. "Will, kau tak perlu gugup. santai saja dengannya" ia terkekeh, suasana tegangnya seketika runtuh.


Sepintas, Hans menoleh ke arah Rosemary kemudian kembali pada William dan tersenyum. "ah kenapa kau gugup, Will?" tanya Hans juga terkekeh.


Mendengar ucapan mereka, William mencoba untuk ikut terkekeh meski rasanya terpaksa. Seketika, gugupnya menghilang dan merasa sedikit malu. "bukannya begitu kak" ucapnya sembari mengelus pelan tengkuk lehernya.


"dia memang begitu, Hans jika bertemu dengan orang baru" ujar Rosemary dengan sedikit tawanya.


Hans kembali terkekeh. Hingga kedua matanya menyipit. "oh ya? kau santai saja denganku, Will. aku bisa mengajarimu kapanpun yang kau mau" ucap Hans santai.


Pernyataan itu terdengar menyenangkan di kedua telinga William. Raut wajahnya seketika sumringah. "wah, terima kasih kak Hans!" balas William dengan semangatnya.


"iya sama sama, Will" senyumnya yang menawan seketika kembali terlihat. Hans senang bisa membantu calon adik iparnya itu. "kapan rencananya kau akan mulai belajar?" tanya Hans.


"besok pun, aku sudah siap untuk belajar kak" William meneggakkan badannya secara mendadak, kedua sudut bibirnya terangkat hingga nampaklah gigi putihnya itu.


"wah kau begitu semangat ya, baguslah kalau begitu" calon kakak iparnya itu tertegun melihat rasa semangatnya yang begitu membara.


"dia sudah menunggu mu sejak kau sedang menjalani pelatihan, Hans" saut Rosemary.


Hans mengangguk pelan disertai juga dengan senyuman manis, pandangannya tertuju ke arah Rosemary yang berada di sampingnya. "ah begitu rupanya. baiklah, besok pagi kita mulai belajar ya" ujar Hans.


"baik kak!" balas William.


Hans mengacungkan jempolnya di hadapan William. Seusainya, ia pun pamit untuk pulang. "ya sudah, kalau begitu aku pulang ya" ucapnya.


"loh, kenapa terburu buru? kau barusaja singgah sebentar" bibir mungilnya mendadak merengut. Rosemary tak setuju jika Hans kembali begitu cepat.


Dipandanginya Rosemary dengan tulus. Tangan kanannya mengusap pelan ujung kepala Rosemary. "besok kan aku kemari lagi. bahkan setiap hari pun aku akan kemari" ucapnya pelan.


Rosemary tak menjawab sepatah kata pun, bibirnya semakin merengut. Pandangannya ia alihkan dari Hans.


Hans terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu, ditangkupkannya kedua tangan itu pada wajah Rosemary. "kau jangan merengut seperti itu. aku diminta kak Royland untuk membantunya membereskan perpustakaan" ujar Hans.


"kenapa bukan pelayan yang membereskannya?" tanya Rosemary dalam tangkupan itu.


"ya sudah. kalau kau ingin pulang, pulang saja" masih dalam tangkupan tangan Hans, ia memperlihatkan muka masamnya. Sehingga membuat Hans semakin gemas.


Mulutnya terasa terkunci, ia terdiam sejenak dan hanya memandanginya dengan tersenyum. Ia begitu mencintai seorang Rosemary itu. "ayolah cinta. jangan begitu" gurau Hans.


William yang awalnya menganggap Hans adalah seorang yang keras dan pemarah, seketika pikirannya berubah. Ia melihat sendiri betapa halusnya seorang Hans ketika ia sedang berbicara pada Rosemary. Hans memang seorang yang penyayang dan halus. Tapi jika ia sedang marah, emosinya tak bisa terkontrol. Bahkan banteng pun akan kalah menakutkan.


"iya, Hans. kan sudah ku bilang, pulang saja tidak apa apa" ucap Rosemary.


"aku janji, besok aku pasti kemari" tangkupan tangannya ia lepas. Jari kelingkingnya ia acungkan di depan wajah Rosemary.


Rosemary meliriknya dan tersenyum tipis. Diterimanya acungan kelingking itu. "janji ya" gumamnya.


"janji" seusai berjanji, Hans bergegas pulang untuk segera membantu sang kakak membereskan perpustakaan seperti yang ia ucapkan tadi.


Setelah punggungnya sudah tak terlihat lagi di pandangan Rosemary. William si introvert kepo itu kembali membuka mulutnya.


"kak, ada yang mau ku tanyakan pada kakak" ucapnya.


"apa itu, Will?" ucapan William itu serentak membuat Rosemary penasaran.


"tadi, ku lihat sepertinya kak James juga menyukai kakak. apa itu benar?" tanya William.


Rosemary menghela nafasnya sembari tersenyum tipis. "iya, itu benar. kenapa memangnya, Will?" balas Rosemary dengan balik bertanya.


William menggeleng. "tidak apa apa. kalau boleh tahu, apa yang membuat kakak lebih memilih kak Hans daripada kak James?" pertanyaan itu lolos dengan santainya dari mulut William.


Rosemary terkekeh. "mereka berdua berbeda, Will. Hans itu orangnya punya selera humor yang tinggi, selain itu dia juga sangat teguh dalam membela kebenaran. Dan, ayah sudah memilih dia sebagai pasangan kakak" jelasnya halus.


"lalu, kak James? aku lihat, dia juga orang yang baik" rasa penasarannya masih belum habis, William masih menggali dalam dalam jawaban sang kakak.


"kalau James, dia dulu tidak sebaik sekarang. bahkan, dulu kakak sempat membencinya. dia orang yang angkuh dan culas, dia juga sempat bermusuhan dengan Hans. tapi, entah mengapa sekarang ia berubah" jelas Rosemary lagi.


"oh begitu ya rupanya kak" William mengangguk pelan setelah mendengar jawaban Rosemary.


"sebaik apapun James, hati kakak tetap tertuju pada Hans. Dari dia, kakak belajar banyak hal" sembari bergumam, Rosemary mendongak dan memandang langit biru berawan itu dengan tersenyum.


"semua insan, punya jalan takdirnya masing masing kak. mungkin, memang kak Hans lah insan yang dipilih oleh semesta untuk bersama kakak" ucap William bijak.


Rosemary menoleh ke arah adiknya itu sembari mengangguk dan tersenyum. 


...**************** ...


Seusai menempuh perjalan yang cukup jauh, James sampai di istananya. Turunlah ia dari kuda kesayangannya dan berjalan lemas memasuki istana. Baru saja ia sampai di halaman istana, ia melihat sebuah kereta kuda yang diyakini milik Gloria. Raut wajahnya seketika masam, ia mendengus kesal setelah melihat kereta kuda itu. Tapi meski begitu, ia harus tetap masuk ke dalam. istana.


Dan benar saja, ketika ia hendak masuk ke kamarnya, ia dihentikan oleh wanita licik itu.


"James? aku menunggumu dari tadi. darimana saja kau?" ucap Gloria.


Mendengar suara itu, James menahan rasa kesalnya. Dan mencoba untuk menjawab dengan tenang. "ada perlu apa memangnya sampai kau menungguku?" akan tetapi, bukannya menjawab ia justru balik bertanya.


"ya, aku ingin menemanimu" balasnya santai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...