
Saat William mengambil teh hangat, Hans mulai mengeluarkan buku romansa yang ia temukan semalam di perpustakaannya dan berniat untuk meminjamkan buku tersebut pada Rosemary.
"oh iya, Rose. semalam aku menemukan sebuah buku" ujar Hans dengan tangan kanannya yang meraih sebuah buku di dalam tas.
"buku apa itu?" Rosemary membelalakkan matanya, ia terlihat tertarik dengan buku yang Hans bawa.
Diberikanlah sebuah buku yang berjudul 'dua insan istimewa' itu pada Rosemary. "ini bukunya, aku rasa ini buku kisah romansa" ucap Hans.
"wah, sepertinya bagus. boleh ku pinjam?" sesuai dengan perkiraan, Rosemary tertarik dengan buku tersebut dan berniat untuk meminjamnya.
Hans tersenyum menyeringai, ia terlihat seperti akan menjahili Rosemary. "boleh, tapi ada syaratnya" ujar Hans.
"apa itu?" ia bertanya dengan polosnya, Rosemary tidak menyangka jika Hans akan menjahilinya.
Ditunjuklah pipi kanannya seraya tersenyum. Ksatria pangeran pemegang gelar black knight itu mulai nakal, lantaran meminta Rosemary untuk mencium pipinya.
Rosemary seketika tersenyum kecut dengan kedua matanya yang membelalak. "kau mau aku mencium pipimu?" tanya nya tertegun.
Hans mengangguk pasti. "kau tidak mau ya? yasudah!" Hans menggurau. Dipalingkanlah pandangannya dari Rosemary sembari menggeser duduknya, kemudian kedua lengannya ia sendekapkan di depan dada.
Rosemary terkekeh, dirinya mendekat ke arah Hans yang sedang menyingkur. Kemudian, diciumnya lembut pipi kanan Hans. "sudah ya" gumamnya.
Hans tertegun sejenak, ia tak mengira jika Rosemary akan menciumnya begitu saja padahal dirinya hanya bergurau. Kedua matanya terbuka lebar. Bibir tipisnya tak mampu menahan senyum. Ia menolehkan wajahnya dengan pelan ke arah Rosemary. "Rose?" gumamnya.
"iya, Hans?" kedua sudut bibirnya terangkat. Ditunjukkannya juga raut wajah sumringah yang tercipta di wajah indah itu.
Suasana seketika menjadi canggung, ia hanya terdiam karena tak mampu menyembunyikan rasa tersipunya. Padahal ia sendiri yang meminta Rosemary untuk mencium pipinya itu.
"kau memintaku untuk mencium pipimu kan" Melihat Hans yang terdiam, Rosemary menjadi merasa bersalah telah menciumnya secara tiba tiba. Sehingga, ia pun memberanikan diri untuk memecahkan suasana canggung itu.
Raut wajah Rosemary yang terlihat sedikit panik, membuat Hans seketika terkekeh. "ku kira kau tidak akan melakukannya" ujar Hans dengan pandangannya yang tertuju penuh pada Rosemary.
"hmm, aku juga tidak sadar telah melakukan hal itu" kedua bola matanya tak bisa diam kesana kemari, demi menghindari pandangannya pada Hans.
Hans tersenyum dan nampak tak percaya dengan ucapan Rosemary. Diciumnya balik kekasihnya itu secara singkat, namun tidak di pipi melainkan di bibir.
Rosemary sontak menutup mulutnya, ketika Hans melepaskan ciuman itu. "Hans! kau ini tidak tahu tempat" ujar Rosemary terkejut.
Tertawalah seorang ksatria itu dengan kencang. Respon Rosemary ketika dijahili membuat Hans selalu terhibur. Itulah mengapa dirinya sangat suka menjahili Rosemary.
Untunglah, William datang di waktu yang tepat. Seusai peristiwa privasi antara sepasang kekasih itu selesai, William datang seraya membawa nampan berisi teh hangat.
"maaf kak, tadi aku makan dulu hehe. habisnya aku lapar. maaf ya kak Hans, jika aku tidak disiplin" ujar William dengan tangan kanannya yang sibuk meletakkan teh hangat di atas meja.
"untuk hari ini, kita santai saja dulu Will. kita pelajaran teori dulu ya" Hans mencoba menenangkan William setelah melihat raut wajahnya yang terlihat takut.
William terduduk selepas meletakkan teh hangat, pandangannya yang semula tertunduk saat ini terangkat memandang wajah sang kakak ipar. "ah baiklah kak. besok, aku janji aku akan disiplin waktu" melihat kesabaran Hans, William tak mau menyia-nyiakan itu. Karena ia sadar, setiap sabar pasti ada batasnya.
Hans tersenyum dan mengangguk, dirinya senang bisa membantu perjalanan William untuk menempuh pendidikannya. "Rose? kau tidak sarapan?" tanya Hans.
"iya kak, semua orang juga sudah ada di ruang makan. tadi, kak Aura juga mencari kakak. tapi, sudah ku bilang sih, kalau ada kak Hans di ruang tamu" saut William panjang.
"tak apa, kalau Hans belum memulai pelajarannya, aku tidak akan meninggalkan dia" dengan santai, Rosemary menjawab pertanyaan itu kemudian menyeruput teh hangat.
"baiklah, tapi jangan lupa makan ya" meski ia tak ingin Rosemary meninggalkannya, tapi Hans juga tak ingin Rosemary melupakan sarapan pagi.
Diletakkannya teh hangat itu. "iya, pasti kok. lagipula kau akan mulai jam 7 lewat 30 menit kan?" tanya nya.
Diacungkanlah jempol kanannya. "bagus!" gumam Rosemary.
...**************** ...
Disisi lain, diruang makan yang begitu sepi di istana Endonie itu James datangi dengan sukarela. Ia kembali melihat ayahnya sedang duduk sendirian disana.
Disapalah sang ayah dengan ramah. "selamat pagi ayah" tangannya melambai dengan badannya yang terus melangkah menuju meja makan.
Raja Rolland tersenyum sumringah melihat kedatangan putra semata wayangnya itu dengan ceria. "pagi, anakkku" dibalasnya sapaan tersebut oleh raja Rolland.
"hari ini kita jadi ke makam ibu kan?" tanya James halus seraya mendudukkan dirinya di bangku meja makan.
Tersenyumlah raja Rolland sembari mengangguk pasti. "tentu saja jadi. kita akan berangkat setelah sarapan pagi" balasnya.
"ah baiklah kalau begitu, ayah" seusai mendengar rencana sang ayah. James pun mengambil piring dan diletakkannya secentong nasi di piring tersebut.
"ah iya, kita juga akan mengunjungi toko aromatherapy milik Alisa" ucap raja Rolland dengan kedua tangannya yang sibuk mengambil lauk.
James sontak menghentikan kegiatannya, matanya seketika membelalak. "untuk apa ayah? tidak usah lah" balas James nampak tak setuju.
"memangnya kenapa? ayah ingin mengantarkan buah tangan untuk dia dan ayahnya" ujar beliau dengan yakin.
James menghela nafasnya panjang dan mendengus kesal. "sejujurnya, aku tidak suka dengannya" gumam James lirih, pandangannya berpaling dari sang ayah.
"tidak suka? kenapa James?" sang ayah tertegun, beliau tidak menyangka jika anaknya itu tidak menyukai Alisa yang baik.
"dia kaku, kasar dan bisa ku pastikan dia orang yang keras kepala" ucap James dengan pandangannya yang kembali tertuju pada raja Rolland.
Sang ayah tersenyum ketika memandang wajah James yang nampak masam itu. "kau tidak bisa menilai orang lain, hanya dari sekali bertemu. dulu, ayah juga begitu waktu pertama kali bertemu ibumu. dia terlihat dingin dan jahat, tapi setelah ayah mengenalnya lebih jauh, ternyata ibumu adalah orang baik" raja Rolland seketika bercerita tentang pertemuan beliau dengan sang istri di waktu lalu.
"ah tidak, ibu tidak bisa disamakan dengan Alisa" James sontak memalingkan pandangannya lagi dari sang ayah.
"ayah tidak menyamakan mereka, tapi dari situlah kita bisa mengambil pelajaran. kau tidak bisa menilai orang hanya dalam sekali bertemu" ujar raja Rolland dengan halusnya.
James hanya terdiam, dirinya bingung harus menjawab apa. Sedangkan di dalam benaknya, nama Alisa masih saja terasa ganjal.
"ya sudah, makanlah. nikmati saja hidangannya, nak" raja Rolland menyadari, James akan susah mengenal Alisa. Karena sifat mereka yang sama sama kaku dan keras.
Seusai sarapan pagi mereka laksanakan. James dan sang ayah akhirnya pergi berangkat menuju makam sang ibu.
...**************** ...
Semua produk aromatherapy telah Alisa masukkan ke dalam kardus. Ditatanya rapi dan ditumpuk kardus kardus tersebut di atas etalase kaca, karena akan segera diantarkan ke tempat tujuan pelanggan. Ayahnya masih sibuk mencetak lilin. Sedangkan, Alisa yang sudah merasa lapar itu pun mengadu pada sang ayah.
"ayah, aku sudah menyelesaikan semuanya" ujarnya seraya menyandarkan punggungnya pada dinding.
Sang ayah hanya menoleh singkat dan tersenyum. "ah baguslah, terima kasih ya anakku" balas sang ayah singkat.
"ayah, aku lapar" raut wajahnya seketika memelas dan bibirnya mulai terlihat pucat, keringat dingin juga mulai membasahi setiap sudut keningnya.
"astaga, ayah sampai lupa kau belum sarapan. belilah lauk dan nasi di warung samping, nak" saking banyaknya pesanan, Jacob Arvent sampai melupakan sarapan untuk anaknya itu. Dirogohnya saku untuk mencari selembar uang, kemudian diberikan pada Alisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...