
"jangan raja, itu tidak perlu. lagipula saya harus pulang sekarang. ayah saya pasti mencari saya" ucap Alisa dengan tubuhnya yang sudah siap untuk melangkah pergi.
"lain kali, kami akan mengunjungi toko milik ayahmu untuk mengantarkan buah tangan" merasa berhutang budi, raja Rolland masih mendesak Alisa untuk menerima kebaikannya.
Alisa mengangguk dan tersenyum. "baiklah raja, silahkan saja. kalau begitu, saya pamit". dibungkukkannya pelan badan kurusnya kemudian segera beranjak keluar dari istana.
James kembali memandangi ayahnya yang tengah berdiri di hadapannya itu. "ayah, jangan lakukan hal itu lagi ya" ujarnya halus.
Ucapan itu membuat raja Rolland tersenyum bahagia. Akhirnya James kembali menganggapnya sebagai ayah. "iya nak, ayah juga berjanji akan menjadi ayah sekaligus raja yang baik" balas raja Rolland.
Badan gagah James seketika mendekat dan memeluk ayahnya begitu hangat. "terima kasih ayah, sudah mau berubah" ucapnya dalam pelukan itu.
Raja Rolland mengusap pelan punggung besar anaknya itu sembari mengukirkan senyuman dibibirnya. "besok pagi, ikut ayah ke makam ibumu ya. sudah lama ayah tidak mengunjunginya" pinta raja Rolland.
James sontak melepaskan pelukannya dan memandang wajah sang ayah dengan raut wajah tertegun. "ayah serius?" tanya nya.
Mengangguklah sang ayah itu seraya tersenyum. "iya ayah serius" jawab raja Rolland.
"baiklah, aku pasti ikut mendampingi ayah kesana" ujarnya semangat, diangkatnya tangan kanannya didekat pelipis layaknya orang yang sedang berhormat.
Raja Rolland terkekeh melihat putra semata wayangnya kembali tersenyum bersamanya. Setelah sekian bulanan, mereka tidak mengisi waktu bersama, akhirnya sekarang hubungan baik itu kembali terjalin antara sang ayah dengan anak.
...****************...
Di sisi lain, Alisa terus bergumam di perjalanan pulangnya seraya menunggangi kuda. Alisa merupakan anak perempuan yang mandiri. Ia lebih memilih kemana mana sendiri dengan menunggangi kuda kesayangannya daripada diantar dengan kereta. Meski dirinya bukan anak dari keluarga bangsawan, tapi Jacob Arvent selaku ayahnya itu merupakan seorang saudagar besar. Sehingga beliau masih mampu membeli kereta dan memperkerjakan seorang kusir untuk menjadi kendaraan pribadi anak perempuannya.
"aku heran dengan putra raja Rolland" ujarnya dengan raut mukanya yang masam dan bibir tipisnya yang merengut.
"ia tampan dengan mata birunya. tapi sayang, dia tidak menghargai keberadaan ayahnya. sampai sampai raja Rolland hampir bunuh diri!" ujarnya lagi seraya mempercepat laju berkudanya.
Terdiamlah sejenak gadis berambut coklat sepunggung itu. Namun di dalam diamnya, ia terus terbayang bayang dengan wajah James. "ah kenapa aku malah memikirkan dia!" Alisa mengeram kesal setelah menyadari bahwa pikirannya terus membayangkan pria tersebut.
Dipercepatnya lagi laju kuda yang ia tumpangi agar segera sampai ke tempat tujuan.
...****************...
Keesokan harinya tiba. Matahari terbit begitu terang meski waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi. Rosemary dengan jiwa semangatnya itu telah terbangun.
"hmm sudah pagi rupanya" Direnggangkannya tubuh mungil itu diatas ranjang seraya melirik ke arah jam. "sudah jam 6, gue harus segera bangun. siapa tahu Hans bakal datang lebih pagi" gumamnya dengan diiringi senyum senyum tipis di bibirnya.
Merasa masih rindu dengan kekasihnya itu, Rosemary begitu semangat ketika Hans hendak datang ke istananya. Dibangunkanlah pelan pelan tubuhnya kemudian segera berdiri dan membuka gorden jendela. Seketika wajah cantiknya bersinar ketika cahaya matahari dengan sudinya menerangi gadis tersebut.
Dilihatnya burung burung yang terbang, dan para rakyat yang sedang menjalani kegiatan mereka masing masing. Pemukiman rakyat Ardarish terlihat begitu asri dan bersih. Bahkan tidak ada satupun rumah yang dibiarkan berdiri dengan status tidak layak huni. Raja Handry membangunkan para rakyat rumah yang terbukti aman dan kokoh, sehingga layak untuk di tempati. Mengingat hal itu Rosemary mengguman dan memuji kehebatan ayahnya dalam mengatur serta memimpin para rakyat.
"ayah sungguh hebat, rakyat Ardarish hidup begitu nyaman dan aman" gumamnya sembari tersenyum. Pandangannya tertuju rapi ke arah pemukiman tersebut.
Ia keluar dari kamar mandi dengan berbalut pakaian mandi dan disertai dengan aroma harum mawar dari sabun mandinya. Di bukanya lemari baju, kemudian mulai memilih gaun mana yang hendak ia pakai.
"hari ini, gue bakal terlihat lebih cantik daripada biasanya. jadi, gue harus milih gaun yang lebih bagus" gumamnya.
Rosemary berniat menunjukkan penampilan terbaiknya pada Hans hari itu. Dipilihnya sebuah gaun berwarna dusty pink dengan motif abstrak emas. Rambut panjangnya ia kuncir setengah, serta poni cantik yang menutupi kening kecilnya. Dipakai pula riasan wajah natural dan juga semprotan parfum aroma harum mawar disetiap inci tubuh mungil itu.
"nah ini baru Rosemary. kalo gini kan cantik" gumamnya seraya memutar mutar tubuh di depan kaca besar.
Rosemary melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 lebih 45 menit. Karena hari itu ia menambah riasan dan juga memilih baju, Rosemary sedikit menambah waktu bersiap siapnya.
"wah, gue sangka masih jam 6 lebih 30. gue harus keluar nih sekarang" meski dirinya belum tahu, Hans sudah datang atau belum tapi Rosemary tetap kekeh untuk keluar dari kamarnya.
Dipandanginya sekeliling istana yang nampak masih sepi. Ia tak melihat seorang pun disana. Ayahnya, ibunya, kakak - kakanya pun belum terlihat. "orang orang ini pada kemana sih" bukannya ini udah pagi ya" gumamnya lirih.
"William udah bangun belum ya? kayaknya gue harus ke kamarnya" merasa tidak menemukan satupun insan. Ia berniat menghampiri William.
...****************...
Sementara itu, di istana Elevan. Hans sedang menyiapkan bekalnya untuk dibawa ke istana Ardarish. Dibawanya juga buku yang semalam ia temukan ke dalam tas kecil.
"buku sudah, bekal makan sudah" gumamnya.
Melihat sang adik sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya, Royland datang dan menepuk pelan bahu sang adik.
"hei, sedang sibuk ya pak guru" ujar Royland sembari terkekeh kecil.
Hans sontak menoleh dan tersenyum meringis. "apa pula pak guru, hahaha" gumamnya.
"ini bisa jadi awalan, Hans. siapa tahu, suatu saat kau bisa menjadi guru sekaligus raja Ardarish" ucap Royland dengan yakinnya.
"kalau raja Ardarish itu pasti. karena aku suatu saat akan menggantikan raja Handry, selaku suami dari Rosemary. tapi, kalau guru sepertinya tidak kak" balas Hans panjang.
Dicubitnya pelan hidung Hans dengan tawa ejeknya. "kau ini dek. suami, suami. biar aku dulu yang menikah" kedua matanya menyipit, suara tawa nya semakin terdengar mendengar ucapan Hans.
Kedua pipi Hans seketika memerah. Ia tersenyum seraya menahan rasa malunya. "tapi kan memang benar. aku akan menjadi suaminya nanti" gumam Hans pelan. Nyalinya seketika menciut ketika sedang berhadapan dengan sang kakak.
"iya iya. ya sudah, berangkatlah. ini sudah hampir jam 7" Royland menghentikan tawanya. Dan menyuruh Hans untuk segera berangkat.
"iya kak. aku berangkat dulu ya" ucap Hans sembari menyangklong tas kecilnya dengan tubuhnya yang sudah siap melangkah pergi.
"iya Hans. hati hati" dilambaikannya tangan kanan itu dengan lehernya yang terus memutar mengikuti arah Hans melangkah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...