
Sekitar pukul 7 lewat 30 menit malam. James dan sang ayah akhirnya sampai di istana Endonie. Selepas mengembalikan kuda kesayangannya, James pun memasuki istana dan bergegas memasuki kamar untuk membersihkan dirinya.
Dilepasnya semua komponen pendukung pakaiannya itu di depan kaca. Sembari menghela nafas panjang, James menggumam. "haahh, hari yang cukup melelahkan" gumamnya.
"sepertinya sudah seminggu aku tidak bertemu Rosemary. makanya, sekarang aku rindu padanya" gumam James lagi, seraya melepaskan kancing kancing kemejanya.
Selepas menggumam, dan kancing kancing kemejanya sudah mulai terbuka semua. James pun melepas kemeja tersebut dan berjalan menuju kamar mandi dalamnya.
...**************** ...
Sementara itu, setelah Rosemary menyelesaikan makan malamnya. Sang ibu pun meminta putri bungsu tersebut untuk segera beristirahat.
"Aura, tolong antarkan adikmu ke kamar ya. ibu akan memanggil tabib" ujar beliau seraya beranjak dari duduknya.
Merasa dirinya masih kuat untuk berjalan sendiri, Rosemary pun menolaknya dengan halus. Selain itu, ia juga tak mau merepotkan sang kakak. "tidak usah ibu, itu tidak.." ucapnya terpotong.
"baik bu, aku akan mengantarnya. sudahlah, ayo adikku" dengan sigap Auraline itu menyaut ucapan Rosemary agar tidak menolak permintaan sang ibu.
Diantarnya Rosemary ke dalam kamar oleh sang kakak. Sembari berjalan, Auraline berucap halus pada Rosemary. "Rose? apa ada yang sedang kau pikirkan?" tanya nya.
"hmm?" Rosemary menggumam sembari menoleh ke arah Auraline dengan raut wajah bingungnya. "tidak ada kak. bahkan, aku sendiri juga bingung kenapa aku tiba tiba merasa kedinginan" raut wajah bingungnya ia sudahi, dijawablah pertanyaan sang kakak dengan apa adanya.
Merasa adiknya tidak selera berbicara, Auraline pun berniat menyudahi pembicaraan tersebut "emm, ya sudah. semoga lekas sembuh ya adikku" ucapnya.
"iya kak. aku juga tidak mau mengecewakan seluruh keluarga. kalau aku sakit, besok lusa pasti kita tidak jadi berangkat berlibur" jawab Rosemary panjang dengan pandangan yang seketika tertunduk pilu serta kedua kakinya yang terus melangkah.
Auraline yang melihat sang adik seketika bersedih itu, sontak tersenyum tipis dan mencoba untuk menanganinya dengan halus. "tidak apa apa, Rose. kau tenang saja. aku yakin besok lusa kau sudah sembuh" ujar Auraline.
Ditolehnya sang kakak sembari mengangguk dan tersenyum. "iya kak" jawabnya.
Pembicaraan kedua insan kakak beradik itu pun usai, setelah akhirnya mereka sampai di kamar Rosemary.
...**************** ...
Tak terasa, hari sudah semakin larut malam. Namun, James tak kunjung tertidur. Putra tunggal raja Rolland itu terduduk di sofa tunggalnya, sembari menatap langit malam yang bertaburan bintang gemerlap, dari balik jendela kamarnya yang terbuka. Berkali kali ia menyisipkan senyuman tipis, di kala ia menatap bintang bintang bercahaya tersebut.
"mereka indah sekali, seperti Rosemary" gumamnya dengan arah pandangnya yang tertuju rapi pada langit malam.
"besok, mungkin aku akan ke istana Ardarish. aku ingin bertemu dengannya meski hanya sebentar" sosok putra mahkota Endonie itu menggumam dan berencana untuk menghampiri Rosemary keesokan paginnya.
Ditatapnya lagi langit malam itu sembari menautkan senyumannya. Badan gagahnya ia sandarkan pada sofa dengan kedua kakinya yang ia naikkan ke atas sofa kecil khusus untuk sandaran kaki.
...**************** ...
Disisi lain, tidak hanya putra tunggal raja Rolland saja yang masih terjaga. Putra bungsu raja Charless juga masih membuka matanya lebar. Hans merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan raut wajahnya yang terlihat begitu bosan.
"ah aku bosan sekali. kenapa di hari yang sudah malam begini aku tidak bisa tidur" gerutu Hans seraya memukul mukul kasur dengan kedua tangannya yang mengepal.
Dibangunkannya tubuh pria itu secara tiba tiba sembari menghela nafas panjang. Ditengoknya juga seisi kamar luasnya itu untuk mencari sebuah hiburan. Namun malangnya, ia tak kunjung menemukannya.
"suasana hatiku tiba tiba saja tidak baik. kenapa aku jadi kepikiran Rose, ya?" ikatan batin antara Rose dan Hans mungkin begitu kuat. Hans merasa hatinya tiba tiba gundah, pikirannya dipenuhi oleh kecemasan yang tidak bisa diartikan tentang Rosemary.
"ah apa boleh buat. kau harus berpikiran positif, Hans. lagipula, besok kan aku kesana, kenapa harus cemas" ucapnya lagi. Hans tidak ingin berpikiran negatif, ia mencoba untuk menghapus fikiran fikiran buruk itu.
Tubuhnya kembali ia baringkan, posisi tidurnya ia buat menyamping kanan. Dimatikan lah juga lampu tidurnya, untuk segera memulai mengistirahatkan diri.
...**************** ...
Keesokan paginya, Rosemary terbangun cukup pagi. Seluruh badannya terasa sakit. Dibangunkannya badan itu dengan tertatih sembari tangan nya memegang kepala bagian kanan.
"aduh, badan gue kenapa sakit semua gini sih?" gerutunya seraya mengedarkan pandangan nya sayu ke sekeliling ruangan kamar.
Selepas melihat gorden putih jendela yang masih belum tersinari cahaya matahari pagi, gadis itu pun sadar bahwa dirinya terbangun cukup pagi. Dilihatnya pula, jam dinding kamar yang masih menujukkan pukul 5 pagi. "astaga, masih pagi banget. tumben banget gua bangun sepagi ini. apa karena badan gue kerasa sakit semua ini ya?" gumam Rosemary.
"padahal semalam, gue udah minum obat dari tabib. emang bener sih, panasnya hilang. tapi, kenapa malah badan gue sakit semua" gadis itu terus menggerutu, lantaran badannya yang terasa begitu sakit meski semalam telah beristirahat.
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Rosemary seketika menangis sembari memanggil manggil nama Hans. "Hans, gimana kalo gue sakit terus gue meninggal? terus gue ga bakal ngelihat lo lagi? atau ga, gue tetep bisa ngelihat lo, tapi bersanding sama cewe lain? aah gue ga mauu!" keluh putri bungsu itu sembari meneteskan beberapa tetesan air dari sudut mata kirinya.
"ya tuhan, tolong jangan rubah takdirku lagi. aku sudah kehilangan ibu dan kakakku. aku mohon jangan biarkan aku kehilangan Hans" Rosemary terus menangis dan menggumam. Gadis itu semakin terisak ketika dirinya mengingat sosok Hans.
Hati kecil Rosemary sudah benar benar terisi oleh ksatria pangeran Elevan itu. Bahkan, sosok gadis dengan gengsi tinggi tersebut sudah tidak lagi menunjukkan jati dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...