
Saat sedang mengemasi barangnya, Auraline berbicara pada dirinya sendiri.
"Ah kenapa situasi jadi kacau begini?".
"Apa Gloria yang memanggil Hans untuk datang kemari lagi, karena ada James?". Gumam Auraline sembari bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah semua pakaian dan perlengkapan lainnya sudah dikemas, Auraline keluar kamar dan memutuskan untuk menghampiri Rosemary. Tetapi saat masih dalam perjalanan menuju kamar Rosemary, ia bertemu dengan raja Handry dan ratu Mia.
"Auraline?".
"Kauu sudah mengemasi barang-barangmu?". Tanya ratu Mia.
"Iya ibu sudah".
"Apa kita akan berangkat sekarang?". Tanya Auraline.
"Tentu saja". Saut raja Handry.
"Tetapi ini masih siang, ayah bilang kita akan berangkat sore bukan?". Tanya Auraline.
"Baru saja, ayah mendapat telpon".
"Ternyata, sore nanti diskusi sudah di mulai nak. Untuk itu, kita akan berangkat sekarang". Jawab raja Handry.
Raja Handry kemudian memanggil pelayan untuk mengambil barang-barang Auraline yang tadinya sudah ia kemasi, untuk dimasukkan kereta.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? mari kita berangkat". Kata ratu Mia.
"Ah baiklah ibu". Jawab Auraline.
Mereka akhirnya berangkat dan meninggalkan istana. Di perjalanan, Auraline hanya melamun dan berharap ia masih memiliki waktu untuk menenangkan Rosemary yang sedang menangis.
...****************...
Di Istana Ardarish.
Bibi Anna dan anak laki-lakinya, William. Sudah sampai di istana. Rosemary mendengar suara mereka menekan bel, dengan segera ia mengusap air matanya dan keluar dari kamarnya.
"(membuka pintu)".
"Mohon maaf, ini dengan siapa ya?". Tanya Rosemary.
"Ah Rosemary?".
"Kau melupakan bibi mu ini?". Kata bibi Anna.
"Bibi?".
"Ah, maaf. Jika aku melupakan bibi. Bisa ku tahu siapa nama bibi?". Tanya Rosemary.
"(tersenyum)".
"Aku bibi Anna. Yang merawatmu sejak bayi hingga berumur 4 tahun". Jawab bibi Anna.
"(tersenyum)".
"Maafkan aku bi, bukannya mengingat jasa bibi, aku malah melupakannya". Kata Rosemary.
"Ah tidak apa-apa lagipula memang sudah bertahun-tahun lalu kita tidak bertemu". Jawab bibi Anna.
"Silahkan masuk bi, kita duduk dulu". Kata Rosemary mempersilahkan masuk.
Mereka kemudian duduk di ruang keluarga istana.
"Ada apa bibi kemari?". Tanya Rosemary.
"Begini Rose, ayah mu memintaku untuk menjaga istana ini selama beliau pergi". Jawab bibi Anna.
"Memangnya ayah pergi kemana bi? bukankah masih ada ibu?". Tanya Rosemary.
"Justru itu Rose".
"Ibu dan kakak keduamu, Auraline. Juga ikut pergi bersama beliau. Untuk kemana mereka pergi, Beliau bilang ada keperluan mendadak negeri". Jawab bibi Anna.
"Ah begitu? mereka sepertinya terburu-buru sekali sampai tidak memberitahuku".
"Oh iya bi, ini anak bibi kah?". Kata Rosemary.
"(tersenyum)".
"Iya, ini William". Jawab bibi Anna.
"(tersenyum)".
"Hai, aku Rosemary. Kakak sepupumu". Sapa Rosemary.
"Rose, apa kau bisa membantu bibi?". Kata bibi Anna meminta tolong.
"Bibi butuh bantuan? apa itu bi?". Tanya Rosemary.
"Dia (menunjuk William) sangat pemalu".
"Lihat saja, kau mengajaknya berbicara pun ia tak berkutik. Apa kau bisa mengatasinya?". Kata bibi Anna.
"(tertawa kecil)".
"Mungkin sedikit waktu untuk saling mengenal, bisa memudahkan aku untuk menasehatinya bibi". Jawab Rosemary.
"Ah begitukah?".
"Kalau begitu, bibi tinggal dulu ya. Kau disini saja William! bersama kakak mu!". Ucap bibi Anna sambil menyuruh William tetap berada disitu.
"(mengangguk)
"Iya ibu". Jawab William.
"Mau pergi kemana bi?". Tanya Rosemary.
"Bibi mau meminta pelayan suruhan ayahmu untuk menunjukkan dimana kamar tidur kami". Jawab bibi Anna.
"Ohh begitu baiklah". Kata Rosemary.
Bibi Anna kemudian meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga istana.
"William? boleh kakak bertanya padamu?". Tanya Rosemary halus.
"(mengangguk)".
"Menurutmu, mengapa kau bisa menjadi seseorang yang sangat pemalu seperti ini?". Kata Rosemary.
"(gugup)".
" A-aku tidak tahu kak. Yang ku rasa, aku selalu malu saat bertemu orang baru". Jawab William.
"(tersenyum)".
"Mungkin, kau merasa tidak percaya diri".
"Jika kau merasa gugup, tariklah nafas dalam-dalam lalu buang perlahan-lahan. Karena ketika kamu sudah merasa santai, kamu tidak akan merasa gugup ataupun malu lagi". Kata Rosemary.
"Begitukah?".
"Aku rasa, aku tidak bisa melakukannya semudah itu". Jawab William.
"(tersenyum)".
"Tidak apa apa, kau masih perlu belajar, tetapi kakak yakin kau pasti bisa. Sebab, suatu saat nanti kau akan menjadi seorang raja. Kau harus tegas dan percaya diri". Kata Rosemary memberi semangat.
"(tersenyum tipis)".
"Baiklah kak, terima kasih sudah menasehati saya". Jawab William berterima kasih.
"(tersenyum)".
"Iya sama-sama. Kalau begitu kakak tinggal sebentar ya, ada hal yang mau kakak kerjakan". Kata Rosemary.
"(mengangguk tersenyum)".
"Iya kakk". Jawab William.
Rosemary kemudian kembali ke ruang tamu, untuk mengambil buku yang tadi James pinjamkan padanya. Ia juga berniat untuk membaca buku tersebut di kamarnya, untuk segera mendapatkan petunjuk terkait masalah yang ia alami, tentang bagaimana bisa ia terbangun di istana itu.
...****************...
Sementara itu, Hans yang tadi kembali dari istana Ardarish itu tidak langsung kembali pulang ke istananya. Ia berhenti di air terjun Flowbie untuk menenangkan diri dan mendinginkan hatinya.
"Sialan!".
"Ternyata yang dikatakan bedebah itu hanya omong kosong!". Gumam Hans sembari melempar batu kerikil ke permukaan air sungai.
"Tidak ada kata berubah!".
"Yang dilakukannya tetap sama saja!".
"Tidakkah dia berpikir, Rose itu sudah punya pasangan!". Gumamnya lagi.
Tak disangka, tiba tiba James datang dan menepuk bahu Hans.
"(menepuk bahu Hans)".
"Hei, buanglah pikiran burukmu itu jauh jauh". Saut James.
"(menoleh)".
"Pergilah! aku tak ingin melihatmu!". Balas Hans.
"Tenangkan dirimu".
"Yang telah kau lihat, tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku hanya meminjamkan buku pada Rose". Ucap James.
"Diamlah kau!". Balas Hans.
"(menoleh)".
"Kan sudah ku bilang. Aku sudah merelakan Rose untukmu". Ucap James.
"(melirik)".
"Cih, omong kosong macam apa itu". Balas Hans.
"(tertawa kecil)".
"Kau tidak ingat, dengan hari harimu yang kau lalui bersama Rosemary?". Ucap James.
"(melirik)".
"Tentu saja aku mengingatnya!". Balas Hans.
"Nah, maka dari itu. Jaga Rosemary, kau sudah mendapatkannya. Jangan hanya karena kesalahpahaman, hubunganmu jadi terancam hancur". Ucap James.
Hans terdiam sejenak mendengar ucapan James kala itu. Ia sedikit merasa lega, dengan ucapan James yang dikatakan begitu yakin dihadapannya.
"Kau tau, Rosemary itu sangat menyayangimu".
"Bahkan, saat ancaman sekutu datang padamu. Ia rela mengeluarkan air matanya hanya untuk mengkhawatirkanmu". Tambah James.
"(mengangguk dan berkaca kaca)".
"Iya, aku mengingatnya". Balas Hans.
"(menoleh dan tersenyum)".
"Jadi, jangan buat dia kecewa. Tak semua wanita bisa seperti dia". Ucap James.
"(menoleh dan tersenyum)".
"Iya James. Kau benar. Tapi, aku masih belum bisa untuk mengatakan apapun padanya sekarang". Balas Hans mulai luluh.
"Tidak harus sekarang".
"Tapi secepatnya". Ucap James.
"Ah baiklah, terima kasih atas penjelasanmu". Balas Hans.
"(mengangguk tersenyum)".
"Iya, sama sama kawan". Gumam James.
...****************...
Raja Handry, ratu Mia dan Auraline sudah sampai di penginapan. Sesampainya disana, mereka bergegas untuk mandi dan berganti baju. Karena mereka akan berangkat lagi ke tempat yang sudah ditentukan untuk diskusi. Auraline tidak hentinya memikirkan adiknya. Dalam keadaan apapun, ia menyempatkan waktu untuk mendoakan Rosemary.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...