
Auraline senang mendengar ucapan William, ia bersyukur melihat hubungan baik kedua adiknya itu.
"Baguslah kalau begitu, Will".
"Kakak senang mendengarnya". Ucap Auraline.
"Tidak salah, jika Hans begitu mencintainya". Gurau Royland.
Auraline terkekeh.
"Kau ini bisa saja. Ada William loh". Balas Auraline dengan senyuman malu nya.
"(tertawa)".
"Santai saja kak". Gumam William.
****************
Disisi lain, Hans dan Rosemary kembali bercengkerama seusai pertengkaran yang tak mereka duga tadi.
"Oh iya Hans".
"Apa kau sudah bisa bangun pagi?". Tanya Rosemary dengan tatapan tulusnya pada sang kekasih.
Hans tersenyum dan menggeleng.
"Jika rekan satu kamarku tak membangunkanku, mungkin aku tak akan bisa bangun pagi". Jawab Hans.
Rosemary terkekeh.
"Kenapa seperti itu?".
"Sesusah apa sih bangun pagi bagimu?". Tanya Rosemary lagi.
"Sebenarnya mudah saja. Tapi, setiap malam, aku selalu susah untuk tidur dibawah jam 10". Jawab Hans.
"Ah begitu rupanya".
"Aku rasa kau benar benar membutuhkan aromatherapy, Hans". Ucap Rosemary.
Hans mengangguk pelan dengan bibir yang tiba tiba merengut.
"Iya, aku rasa juga begitu. Tapi aku tidak ada waktu untuk membelinya". Balas Hans.
Rosemary iba melihat kekasihnya yang sekarang amat sibuk itu karena pelatihan yang ia ikuti. Tapi setelah ia pikir lagi, hal itu juga sudah jadi konsekuensi yang harus Hans terima. Karena mengikuti pelatihan itu adalah pilihannya sendiri.
"(tersenyum)".
"Nanti kalau pelatihan ini sudah selesai, ku antarkan kau untuk membeli aromatherapy". Ucap Rosemary.
Hans tersenyum sumringah.
"Kau serius?". Gumam Hans dengan mata yang terbelalak gembira.
Rosemary tersenyum manis memandang wajah Hans.
"Serius, kenapa tidak". Balas Rosemary.
"(tersenyum)".
"Terima kasih, mawar". Gumam Hans.
"Sama sama". Balas Rosemary.
Sesaat setelah mereka sudah kembali terdiam, karena topik pembicaraan telah usai. Raja Charless mulai mengajak anak lelakinya itu berbicara.
"Oh iya Hans".
"Kapan pelatihanmu dimulai? dan bagaimana jadwalnya?". Tanya raja Charless.
"Karena hari ini hari sabtu, pelatihan dimulai dari jam 12 siang sampai jam 9 malam, ayah".
"Jika hari senin sampai jumat, pelatihan dilakukan lebih padat lagi. Tepatnya jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Dan kalau di hari minggu, tidak ada kegiatan. Alias libur". Jelas Hans pada sang ayah.
"Wah cukup panjang juga waktu pelatihannya". Ujar raja Charless.
"Iya, kau benar suamiku".
"Ku kira hanya sampai jam 3 sore". Saut ratu Elisa tertegun.
"Pelatihan ksatria di zaman kami dulu saja tidak sepanjang itu waktunya, Hans". Saut raja Handry juga.
Hans tersenyum meringis mendengar pendapat dari para orang tua itu.
"Setiap tingkat, punya waktu pelatihannya masing masing, ayah".
"Yang sedang ku jalani ini kan tingkat terakhir, pantas saja jika waktunya panjang". Jelas Hans.
"Apa kau tidak merasa lelah, saat menjalani pelatihannya, Hans?". Tanya ratu Mia ragu.
Rosemary mengangguk dan ikut bertanya.
"Iya Hans. Apa kau tak merasa lelah?". Saut Rosemary.
Mendengar semua anggota keluarganya sedang mengkhawatirkan dirinya, Hans meyakinkan mereka dengan senyum sumringah yang tertaut di bibirnya.
"Aku sudah terbiasa dengan pelatihan itu. Jadi kalian semua tidak usah khawatir. Lagipula, hanya tinggal seminggu lagi aku disini". Balas Hans.
"Yang terpenting, jaga kesehatanmu". Tutur raja Charless.
"Cobalah untuk tidur yang cukup, Hans". Tutur raja Handry juga.
Hans tersenyum dan mengangguk.
"Iya ayah, raja. Akan ku lakukan nasehat kalian". Balas Hans.
Rosemary kembali memandang kekasihnya itu dengan penuh sendu. Kantung mata yang mulai melingkar dibawah mata Hans, mambuatnya semakin khawatir dan meragukan ucapanya. Ia tidak yakin, jika Hans tidak kelelahan selama menjalani pelatihan itu.
"Hans". Panggilnya dengan mata yang tetap memandang sendu wajah kekasihnya.
"(menoleh)".
"Iya?". Jawab Hans dengan mata yang tertuju pada Rosemary.
Rosemary mendekatkan wajahnya ke telinga Hans.
"Aku mencintaimu". Ucap serius Rosemary dengan nadanya yang lirih.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang kekasih, Hans tertegun sejenak. Rosemary yang selama ini menjunjung tinggi sifat gengsinya itu, tiba tiba mengucapkan kalimat tersebut dengan serius. Sehingga, membuat Hans tak menyangka ucapan itu akan ia dengar.
Hans kembali memandang wajah Rosemary dan diiringi dengan senyum manisnya.
****************
Di Istana Ardarish.
Bibi Anna yang menyaksikan serta mendengar percakapan Clark dan Gloria itu merasa gusar. Ia ingin sekali memberitahu Bella. Tapi ia tidak yakin, Bella akan mempercayainya. Mengingat, Gloria sudah Bella anggap seperti adiknya sendiri.
"Apa aku tidak salah dengar?! perempuan itu, mencoba menggoda Clark. Jika aku memberi tahu Bella, apakah ia akan percaya?!". Gumam bibi Anna sembari berjalan mondar mandir.
Tiba-tiba Clark datang menghampirinya.
"Bibi? mengapa bibi berjalan mondar mandir begitu? apa ada masalah?". Tanya Clark.
"(terkejut)".
"Ah pangeran Clark. T-tidak aku hanya sedang memikirkan sesuatu". Balas gugup bibi Anna.
"(tertawa kecil)".
"Bibi tidak perlu berbohong, katakan saja padaku". Ucap Clark nampak tak percaya.
"(tersenyum)".
"Ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya padamu pangeran Clark". Jawab bibi Anna kemudian meninggalkan Clark pergi.
Clark bingung dengan tingkah bibi Anna yang nampak bingung itu.
"Apa maksudnya?". Guman Clark dengan nada yang lirih.
****************
Setelah Auraline, William dan Royland sudah puas berkeliling, mereka memutuskan untuk pulang.
"Sudah puaskah? jika sudah puas, lebih baik kita pulang". Ucap Royland.
"Sangat sangat puas kak, hehe". Balas William dengan bibirnya membentuk bulan sabit.
"Baiklah kalau begitu, kita pulang ya".
"Pak kita kembali ke istana ya". Ucap Royland sambil memberi tahu pak kusir kereta untuk kembali ke istana.
"Baik pangeran". Jawab kusir kereta.
"Oh iya Will".
"Bagaimana dengan pelatihan ksatria mu? kau jadi mengikutinya?". Tanya Auraline.
William mengangguk pelan.
"Aku pasti mengikutinya kak. Tapi, masih menunggu kak Hans pulang dulu. Aku ingin mempelajari basic ilmu darinya, sebelum mengikuti pelatihan itu". Jelas William.
"Bagus itu, Will".
"Kau mendapat guru yang tepat!". Saut Royland.
"Iya, kau benar. Mengingat, Hans begitu teguh mendalami ilmu ksatrianya". Ucap Auraline.
William terkekeh mendengarnya.
"Syukurlah kak. Aku bersyukur ada yang bisa membantuku untuk belajar". Balas William.
...**************** ...
Sementara itu, di tempat pelatihan Hans. Rosemary mulai memberitahu Hans tentang William yang ingin belajar ilmu ksatria bersamanya.
"Hans, jika kau sudah menyelesaikan pelatihan ini. Bisakah kau membantu adik sepupuku untuk mempelajari ilmu ksatria?". Tanya Rosemary.
Hans mengangguk pasti dan tersenyum dengan senang hati.
"Tentu saja. Aku pasti bisa". Balas Hans.
"(tersenyum)".
"Baiklah, kalau begitu terima kasih ya". Gumam Rosemary.
Kedua mata Hans menyipit karena senyuman yang terukir di bibirnya.
"Sama sama, cantik". Balas Hans.
Karena hari sudah semakin siang, dan Hans juga akan segera memulai pelatihannya, maka keluarga kerajaan memutuskan untuk kembali pulang ke istana.
"(menoleh ke arah jam dinding)".
"Sudah hampir jam 12, bagaimana jika kita pulang?". Tawar raja Charless.
Sontak, semua orang juga menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di tembok mewah tempat itu.
"Ah iya. Hans akan segera memulai pelatihannya. Kita pulang saja". Saut ratu Mia.
"Kau sudah puas bertemu dengan Hans kan, Rose?". Tanya ratu Elisa.
Rosemary terkekeh dan mengangguk pelan.
"Sudah, ratu". Balasnya dengan malu.
"Ya sudah. Kalau begitu kami pamit ya, Hans". Ucap raja Handry.
"Jaga dirimu, baik baik Hans". Tutur ratu Mia.
Sang ayah pun menepuk pelan bahu anaknya itu.
"Di balik semua kejayaan, pasti ada pengorbanan. Ayah yakin pengorbananmu tak akan sia sia". Ucap sang ayah dengan pandangan tulus pada anak laki lakinya tersebut.
Rosemary terdiam sendu memandang sang kekasih, hingga tak sadar bahwa sebuah air mulai mengisi sudut sudut matanya yang indah itu. Namun, ia berusaha untuk menahan air itu agar tidak jatuh ke pipinya.
"Iya ayah. Meski, pelatihan ini terlihat berat bagi kalian. Tapi, aku mampu menjalaninya. Kalian tak perlu khawatir. Terutama kau, Rose". Celetuk Hans dan tak lupa dengan senyum seringainya.
Celetuk itu, membuat air yang mengisi sudut sudut mata Rosemary kembali masuk. Pipinya mulai memerah karena malu pada para orang tua itu.
"(tersenyum malu)".
"Hmm iya, Hans". Balasnya dengan bola mata yang bergerak cepat ke kanan dan kekiri.
Raja Charless terkekeh.
"Baiklah, kita pulang". Ajaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...