I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
ALASAN BERUBAH



Sementara Rosemary telah rapi di pagi hari itu, justru tidak dengan Hans. Ia masih saja membaringkan tubuhnya malas di atas ranjang nyaman miliknya. Diraihnya sebuah gambar yang terletak di atas nakasnya itu.


"saking rindunya aku pada Rosemary, aku sampai lupa tidak menanyakan tentang gambar ini padanya semalam" Hans memadangi gambar yang Gloria berikan padanya itu. Raut wajahnya terlihat gusar, dengan bibir yang sedikit merengut.


"tapi, aku tidak pernah melihat pria ini sebelumnya" dipandanginya terus gambar itu. Hingga kedua matanya menyipit sinis.


"apa aku kesana saja ya sekarang?" gumamnya lagi. Ditaruhlah gambar itu di atas nakas. Tubuh gagahnya ia bangunkan. Kedua matanya ia usap pelan dengan tangan kanan. Dan juga rambut panjangnya ia sisihkan ke belakang.


Ia berniat pergi ke istana Ardarish pagi itu. Untuk menanyakan tentang gambar yang semalam membuat Hans menerka nerka.


...****************...


Ruang makan yang begitu sepi itu, James datangi secara terpaksa. Ia melihat sang ayah yang terduduk sendirian dengan lamunannya.


"James? kau kemari?" raja Rolland membuka matanya lebar lebar ketika melihat kedatangan sang anak, kedua sudut bibirnya menaik. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia. Mengingat, James sudah tidak pernah bercengkerama dengan sang ayah. Jangankan bercengkerama, ia melihat ayahnya saja sudah muak.


Selama ini, yang membuat James berubah adalah karena sang ayah. Ancaman bom yang pernah raja Rolland katakan pada raja Handry tempo hari, itu semua hanya akal akalannya saja. Beliau menawarkan bantuan pada kerajaan Ardarish tapi harus dengan imbalan pernikahan antara Rosemary dan James. Raja Rolland sengaja bergabung dengan sekutu untuk kepentingannya sendiri. Selain itu, beliau juga menjadi penyebab kematian ibunya. Karena sebuah taruhan bodoh, yang pernah raja Rolland lakukan dengan sekutu. Dari situ lah, James mulai menyadari betapa liciknya sang ayah. Berbeda dengan ibunya, yang selalu menuturkan banyak nasehat baik. Salah satunya yaitu, untuk tidak memaksakan kehendak diri. Semua yang terjadi telah memiliki jalan takdirnya masing masing. Mengingat nasehat sang ibu tercinta, James memilih untuk tidak mengejar Rosemary lagi. Dan merubah sifat buruk yang selama ini ayahnya turunkan padanya.


"aku lapar, makanya aku datang kemari" balas James dingin. Tak sedikit pun ia menoleh ke arah ayahnya.


"kapan kau bisa memaafkan ayah?" raja Rolland memandangi anaknya sendu. Raut wajahnya memelas.


James terdiam, ia tak menghiraukan ucapan ayahnya itu. Diraihnya piring makan yang terletak di atas meja makan tersebut dan diambilnya secentong nasi.


"semua yang ayah lakukan itu untuk kebahagiaanmu, James. kau bahagia kan jika Rosemary bisa menjadi milikmu" raja Rolland terus bergumam. Bahkan nasi yang sudah beliau ambil masih belum di sentuh sama sekali. 


Mendengar pernyataan itu James menggebrak meja makan, matanya tertuju penuh pada sang ayah. "aku tidak akan merasa bahagia, jika Rosemary tidak bahagia! dan aku tidak akan pernah memaksakan orang untuk bisa bersamaku, ayah! aku benci keegoisan!" ucapnya lantang.


Raja Rolland tertegun, beliau terdiam melihat kemarahan James.


"jika memang sekutu itu masih punya dendam pada Hans, biarkan mereka menyelesaikan dendam itu sendiri. ayah tidak perlu ikut campur! apalagi sampai mengancam kedamaian kerajaan lain!" James tak mampu menahan emosinya, ia mengeluarkan semua keluhan yang selama ini ia pendam.


"iya ayah akui, ayah salah. ayahlah yang selama ini membuat hidupmu berantakan ya" sang raja itu tertunduk pilu, seusai mendengar ucapan anaknya.


Emosi James seketika luntur melihat ayahnya tertunduk. Ia merasa bersalah telah membentaknya. Tapi jika James tidak melawan pendapatnya, sampai kapan pun raja Rolland tidak akan mengakui kesalahannya.


"sekarang, ayah sadar? tidak ingatkah engkau yah? ketika ayah tiba tiba memberikan ibu begitu saja kepada sekutu?!" meski emosinya telah luntur, tapi itu tidak membuat James menghentikan mulutnya untuk mengeluarkan keluh kesah yang telah ia pendam.


Seketika raja Rolland semakin tertunduk dan menangis. Pipi kirinya ter aliri air mata sesalnya.


"dari situlah, hidupku telah berantakan yah. ibu lah satu satunya harta paling berharga bagiku" air mulai membendung di kedua sudut mata James. Ia juga tak mampu menahan tangis ketika mengingat mendiang sang ibu.


Merasa suasana hatinya tidak baik, ia meninggalkan ayahnya itu sendiri di ruang makan. Ia berjalan keluar dengan kedua mata yang berkaca kaca.


Suasana gembira sedang Rosemary rasakan. Seusai sarapan pagi, ia kembali bersantai di ruang keluarga bersama William, bibi Anna dan Auraline. Sedangkan raja Handry, ratu Mia, Bella dan Clark sedang pergi keluar untuk membeli beberapa vitamim yang sudah hampir habis untuk Bella.


"kak, sepertinya kakak sudah jarang sekali merawat tanaman kakak ya" celetuk William dengan sudut bibi kirinya yang menaik.


"astaga Will! kakak lupa!" kedua matanya membelalak, ditepuklah pelan keningnya.


"ayo kak, rawat tanamannya sekarang!" ujar William.


"ayo ayo!" Rosemary segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju kebun istana.


Dipandanginya tanaman kesayangannya yang terlihat sedikit mengering, dedaunan hijaunya sudah banyak yang berubah menguning.


"yah, gue kelupaan nih. sampai banyak yang kuning begini daunnya" gumamnya sedih. Raut wajahnya terlihat gundah. Dipegangi daun daunan kering itu kemudian dicabutnya pelan.


"Rose? kau masih ada disini?" ujar seseorang.


Rosemary sontak menoleh dan melihat James yang sedang berdiri tegap di belakangnya.


"James?" sudah seminggu ia tak melihat teman baiknya itu, Rosemary berlari kecil menghampiri James.


"ku kira kau sudah kembali ke duniamu" James berucap halus. Pandangannya tertuju penuh pada Rosemary.


"tidak, aku juga bingung kenapa aku tak kunjung terbangun dari koma ku" Rosemary mendongak dan memandang wajah sendu James. Dilihatnya air yang masih membendung kedua sudut mata James. "kau kenapa? kau menangis?" tanya nya.


Tanpa aba aba, James memeluk tubuhnya dengan hangat. Ia menangis di pelukan itu. "Rose, maafkan aku. maafkan semua kesalahanku padamu ya" ucapnya sesenggukan.


Rosemary tak bisa menolak pelukan itu. Tapi, ia sendiri bingung dengan apa yang diucapkan James. Diusapnya pelan punggung James dengan kedua tangannya. "James? apa yang kau maksud itu? kau tidak pernah membuat kesalahan padaku" balas Rosemary.


"tidak! salahku banyak padamu, maafkan aku ya" James masih saja menganggap dirinya bersalah. Ia merasa sejak kehadirannya di kehidupan Rosemary, telah membuat banyak kekacauan. Andai ia tak datang, pasti Rosemary tidak akan sering bertengar dengan Hans. Dan juga, pasti mereka tidak akan mengenal Gloria. Karena jika James tidak memberitahu Gloria, tentang pernikahan Bella. Gloria tidak akan datang. Sehingga, sepasang kekasih itu tak akan bertemu dengan Gloria.


Kedua tangan Rosemary menaik ke atas kepala belakang James dan mengusapnya pelan. "iya, ku maafkan semua kesalahanmu padaku James" meski masih belum mendapat kejelasan, Rosemary meng-iyakan ucapan James agar ia bisa tenang.


Dilepasnya pelukan itu sembari sesenggukan. Wajahnya masih tertunduk pilu, kedua matanya tak berani memandang wajah Rosemary.


"James, lihat aku" diangkatnya pelan dagu James dengan ujung jari tangan kanannya. "kau kenapa tiba tiba menangis?" tanya Rosemary.


"sudah seminggu ini aku tak melihatmu. jujur saja, aku sangat merindukanmu" James tak mampu menahan ucapannya. Kedua matanya kembali tertuju pada Rosemary.


"kau ini. bisa bisanya" Rosemary menjawab seadanya, karena tak tahu harus menjawab apa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...