I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
AKHIRNYA



"tapi, aku tidak janji ya kita bisa mengambil air telaga itu atau tidak" ujar James dengan tatapan penuh ragu.


"kalau kita tidak bisa mengambilnya, apa tidak sia sia perjalanan kita" Rosemary kembali tertunduk ragu. Kedua sudut matanya telah terisi air, ia kembali teringat dengan Hans. Tapi, disisi lain ia juga tidak ingin meninggalkan ibu dan kakaknya.


"kita coba saja dulu, siapa tahu kita menemukan petunjuk disana" raut wajah kecewa yang menyelimuti wajah Rosemary kembali membuat James iba. Ia berusaha untuk meminimalkan kekecewaan itu.


"kau tahu, aku kembali teringat Hans" kali ini air mata tidak hanya berhenti di kedua sudut mata Rosemary, tapi air itu sudah terjatuh dari kedua sisinya. Rosemary seketika menangis, saat mengingat kembali sang kekasihnya.


"kan sudah ku bilang. pikirkan dulu baik baik" James menghela nafas panjang. Dan terduduk bingung mendengar ucapan Rosemary. 


"tapi, James. aku memang harus kembali. aku yakin, jika aku memang ditakdirkan untuk bersama Hans. Suatu saat nanti, kami pasti akan bertemu kembali" ucapnya dengan kedua pipi yang telah basah.


"baiklah, jika itu yang kau mau"


"ya sudah. panggil William" keyakinan Rosemary untuk tetap kembali ke dunianya, membuat James juga yakin untuk berangkat.


"William? untuk apa?" tanya nya bingung.


"kau benar benar akan berangkat berdua saja denganku?" James terkekeh, membuat suasana sendu kala itu terpecahkan. Ia tak yakin, jika ia berangkat hanya berdua saja. Menghindari adanya rumor yang akan beredar, James meminta Rosemary untuk mengajak William.


"hmm, kalau begitu ku panggil dulu William ya" balasnya sambil beranjak dari duduknya.


Meski sempat menolak tawaran Rosemary, William akhirnya menerima tawaran itu.


"kakak yakin, akan berangkat selama 4 hari?" tanyanya ragu. Pandangannya bingung, semua jari jarinya saling terpaut mengepal. Seperti orang yang sedang ketakutan.


"tidak Will. aku tahu jalan lain yang lebih dekat, agar kita tidak terlalu lama di perjalanan" saut James.


"kau tahu? baguslah kalau begitu" Rosemary lega mendengarnya.


Mengingat hari sudah semakin siang, William dan Rosemary segera meminta izin pada orang tua nya. Sebagai orang tua, mana mungkin ada yang mengizinkan anaknya untuk bepergian jauh tanpa pengawal. Terutama sampai harus bermalam di kereta. Raja Handry dan ratu Mia, awalnya tidak mengizinkan anaknya itu untuk pergi.


"ayolah yah, ibu. aku butuh air telaga itu untuk menyuburkan tanaman yang ku tanam di kebun" ujarnya memohon dengan teguh.


"memangnya tidak ada komponen lain, yang bisa menyuburkan tanaman tanamanmu itu?" balas raja Handry yang nampaknya tak setuju anaknya itu berangkat ke telaga.


"iya, kau masih bisa mencari pupuk atau vitamin tanaman kan" saut ratu Mia dengan pendapatnya yang sama dengan sang raja.


"air telaga itu ajaib, ibu, ayah. aku benar benar membutuhkannya. aku janji, aku akan segera pulang jika aku sudah mengambil airnya" Rosemary masih saja memohon. Kedua tangannya mengepal erat menggenggam tangan sang ayah.


Raja Handry dan ratu Mia masih tidak bisa mengizinkan anaknya itu begitu saja. Kedua mata mereka saling pandang dengan raut muka pasrah.


"ya sudah. kau boleh pergi, tapi kau harus berangkat dengan pengawal" ujarnya pasrah.


"ah baiklah ayah. tidak apa apa, asalkan aku boleh pergi" kedua mata indah Rosemary terbelalak gembira, di iringi dengan senyuman yang terukir dari sudut sudut bibirnya. 


Meski harus berbohong, Rosemary harus tetap meminta izin pada kedua orang tua nya itu. Seusai mendapat izin, mereka mulai memasukkan barang barang yang hendak mereka bawa. Kemudian bergegas berangkat. 


...****************...


Suasana hari minggu kali ini dihiasi dengan hawa panas yang begitu terik. Hans dengan tubuhnya yang masih terasa lelah akibat pelatihan semalam, masih terbaring santai di ranjang asrama nya.


Hans tidak sendiri di dalam kamar itu. Seperti biasa, ia ditemani oleh rekannya yang bernama Brandon.


"padahal, tinggal seminggu saja. tapi aku sudah merasa tak kuat" saut Brandon dengan posisi yang sama seperti Hans. 


"kau tak boleh seperti itu! perjuanganmu sudah sampai sini, jangan disia sia kan" Hans sontak menoleh ke arah rekannya itu dan tak terima jika rekannya itu menyerah.


"bukannya begitu, Hans. tapi jujur, pelatihan ini memang begitu melelahkan" balasnya santai dengan pandangan masih tertuju pada langit langit kamar.


Hans membangunkan tubuhnya dan terduduk. Kedua matanya tertuju pada Brandon yang masih terbaring di ranjangnya.


"Bran, yang kau katakan itu memang benar. tapi, bukan berarti kau harus menyerah" ucap Hans.


"iya. mana mungkin seorang Brandon menyerah begitu saja" pandangan Brandon seketika tertuju pada Hans. Ia tersenyum dan menyetujui ucapan rekannya itu. 


Meski dengan badan yang terasa sangat berat dan lelah, bagai sedang memikul batu yang besar. Hans bukanlah pribadi yang mudah menyerah. Pelatihan yang ia ikuti untuk membuat kedua orang tuanya bangga, dan sekaligus ingin meningkatkan reputasinya sebagai seorang ksatria. Dengan begitu, ia tidak akan dipandang rendah ketika bersanding dengan Rosemary yang sangat di istimewakan oleh rakyat.


...**************** ...


Suasana keheningan menyelimuti se isi kereta. Tidak ada satupun insan yang membuka mulutnya untuk berbicara. Sepanjang perjalanan, Rosemary hanya diam mematung dengan pandangannya yang tertuju ke arah jendela dan juga dagu yang bertopang pada punggung tangannya. Begitupun sebaliknya dengan James. Sedangkan William, yang duduk diantara kedua insan itu juga terdiam dan menunduk sembari memainkan jari jemarinya.


Namun, keheningan itu musnah saat William dengan rasa penasarannya itu mulai membuka mulutnya untuk bertanya. 


"kak, memangnya untuk apa kakak mengambil air telaga itu?" tanya nya penasaran, meski wajahnya masih tertunduk kaku tanpa memandang wajah sang kakak.


"kakakmu membutuhkan air itu untuk..." belum selesai James berbicara, Rosemary menyaut ucapannya.


"untuk tanaman di kebun, Will. banyak sekali tanaman yang kering karena cuaca kemarau ini. konon katanya, air itu ajaib bisa untuk menyuburkan tanaman" saut Rosemary dengan raut mukanya yang panik.


"ah begitu, rupanya" balas William.


Meski dalam benak James alasan itu tidak masuk akal. Tapi mendengar respon William yang tak begitu menghiraukannya, membuat James, tidak menambahi kalimat apapun.


"oh iya, James. kau bilang, kita akan melewati jalan pintas?" seketika itu, Rosemary juga mulai bertanya.


"iya, aku sudah memberitahu kusirnya untuk melewati jalan itu" balas James dengan kedua matanya yang masih memandang arah jendela, dan kedua lengannya terlipat di depan dadanya, serta badan yang tersandar nyaman di bangku kereta. 


Sesaat setelah pembicaraan singkat itu usai, Rosemary kembali menyandarkan kepalanya di kaca jendela dan tertidur.


...****************...


Sebuah cahaya putih yang begitu terang tiba tiba menyolok dan menyilaukan kedua mata Rosemary saat membukanya. Namun, siapa sangka jika tiba tiba ia kembali terbangun di ranjang rumah sakit dengan badannya yang terbaring lemas menggunakan pakaian pasien berwarna biru tosca.


"ttutttt ttuttt" suara monitor EKG rumah sakit kembali terdengar di telinganya.


Kedua pupil matanya masih berkeliaran kesana kemari memandangi seisi ruangan ICU itu dengan pandangan sayu. Mulutnya masih tak bisa bergerak, kedua tangan dan kakinya juga masih terasa kaku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...